TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
JADE DIMITRI


__ADS_3

Hallo semuanya, sudah pada kenyang gitulah ya ceritanya pada buka puasa. Yaiyalah pada kenyang, yang tadi sholat taraweh paling ujung sambil nyesepin sirop diplastik hayooo loo? Dijewer Mamang-mamang Malaikat ntar kupingnya dower sebelah tuh. Yuk ah Abang lanjut lagi yak ceritanya yang tadi siang. Pas Hikashi sama Neng Praijahnya lagi mau mantap-mantap. Pasang posisi paling enak buat ngebaca ya, yuk simak langsung. Eh tapi dulu ya, Abang mau ngingetin nih buat Pembaca Abang yang Empok2,Eneng2 dan Ciwik2 seantero Nusantara buat ketik2 manja kolom komentar napa, pelit amat ya! Hehehe Abang kan suka keributan, yuk diramein Novel Abang ini, ajak temen-temennya baca juga kalau perlu.


#LANJUTAN,


“Kemarilah,” ia mendudukan Frayza membelakanginya dan menempatkan miliknya agar terpasang pada tempatnya secara tepat dan pas.


“Ahhhh,” desah Frayza merasakan sesuatu yang memenuhi dirinya.


“Baru separuh sayangghhhh ehhh ehhh... “ Hikashi membenarkan pinggul Frayza hingga habis kedasarnya.


“Ssssaaaa.. Sangattt ahhhhh,” mulai meracau kerasukan pedang.


“Embn tunggu sebentar,” Hikashi teringat sesuatu.


“Sayang kitakan baru mulai kenapa tiba-tiba kau beginiiii,” rengek wanita yang sudah keenakan manjanya nongol tuh.


“Sabar sayang, aku baru ingat sesuatu. Sebentar ya, aku mau mengecek email.” Hikashi keluar dan membuka laptop kerjanya. Ada beberapa laporan kerja yang masuk.


Didalam kamar mandi Frayza mulai jenuh dan main solo. Setelah terpuaskan dia berganti baju serba panjang dan tertutup. Lalu tengkurap macam kura-kura hendak bertelur, asekkk. “Sayang, jangan tidur dulu ya. Aku kerjakan perintah Tuan Matsumoto dulu ya.”


“Hemmmmb,”


“Jangan ngambek gitu ah, aku kan pegawai biasa. Wajar kalau atasan mengejarku untuk bekerja lebih cepat, oke.”


“Hemmmmb,”


“Aku sayang kamu, muaaccchhh.” Mencium kepala Frayza. Tapi wanita kalau sudah ngambek, mau didongkrak pake buldoser kagak bakalan mempan.


Usai bekerja, Hikashi melanjutkan mandinya lagi. Saat ia keluar, bunyi notifikasi email masuk lagi. Artinya pekerjaannya sudah mengantri banyak untuk diperiksa.


“Hemmmbb sayangg, jadi tidak?” menggelayut manja.


“Sebentar ya Sayangku, Tuan Matsumoto sedang mengirimkan laporan kepadaku. Aku harus mengeceknya lagi, kalau kau lapar di dapur ada stok makanan. Buatkan juga untukku yah, cuph.”


“Hembb baiklah, aku turun dulu ya.”


“Iya sayang, masak yang enak ya. Aku Cinta kamu Frayza!” melambangkan hati pada kedua tangannya.


“Ah kau,” tertawa malu sambil menutup pintu.


Hikashi : Apa kau yakin?”


Matsumoto : Benar Tuan Muda.


Hikashi : Sangat memalukan dan tercela, kalau begitu aku minta seluruh saham di perusahaan Frank ditarik semua. Dan beli saham orang-orang yang menjadi rivalnya dengan harga yang tinggi.


Matsumoto : Apa ini tidak terlalu cepat Tuan Muda?


Hikashi : Kau kerjakan perintahku, besok seluruh Pimpinan beritahu jangan mengirim laporan dulu. Aku ada acara pribadi sehari. Setelah itu kau atur rapat terbuka yang akan aku hadiri sendiri.


Matsumoto : Baik, akan saya kerjakan. Tapi ngomong-ngomong kapan saya bisa ke Swiss?


Hikashi : Aku tidak menyuruhmu adakan rapat di Swiss. Memang kau pikir aku akan mengadakan rapat disini?


Matsumoto : Baik Tuan Muda, aku rasa kehadiranku di Swiss kau nantikan.


Hikashi : Jangan macam-macam ya, aku ini Bosmu!


Akhir pembicaraan Hikashi dengan Matsumoto. Sekitar satu jam dia berkutit dengan pekerjaannya. Perutnya mulai lapar, dia mencari dimana Frayza berada. Ternyata di dapur Kenzo tengah asik bercengkrama dengan Frayza. Pria itu mengambil tepung di anak rambut Frayza yang menempel.


“Ehhheeeerrmmmbb,” batuk buatan.


“Sayang, kau sudah turun.” Sambut frayza.


“Jangan biarkan lalat menemplok ditubuhmu, bisa timbul penyakit. Hanccciiuuu!” bersin dimuka Kenzo.

__ADS_1


“Berrrbbbhhh asem, Tuan Muda wajahku ini bukan tampat sampah.”


“Habisnya bau sih, tanganmu ngapain tadi pegang-pegang itu! Kau kan tahu dia itu wanitaku, kenapa. Kau lancang menyentuh bagian tubuh wanitaku!” Hikashi marah.


“Tuan Mudaaaa, anu itu tepung di rambut Nona. Jadi aku ambilkan, aku tidak punya niat mesum kok.”


“Apa mulutmu tidak bisa merangkai kata dengan benar, hingga tanganmu lancang menyentuhnya? Kenzo, kau mengenakan aku. Malam ini kau tidur diluar.”


“Tapi diluar sedang hujan salju Tuan Mudaaaaa,” memelas dia wajahnya.


“Sayang, maafkan aku yang tidak melarangnya menyentuh rambutku. Aku minta maaf sudah membuatmu marah.”


“Yakin begitu?”


“Iya sayang, tadi aku membuat mie untuk kita. Dan butiran tepungnya bertebaran, lain kali aku akan meminta tolong dirimu.”


“Nah itu baru benar, nah sekarang kau harus tahu batasan kepemilikan. Dan kau Kenzo, kapan kau akan meminta ampun padaku?”


“Baik Tuan Muda, saya berjanji akan menjaga jarak dan tidak melakukan kontak fisik selama hikayat dikandung badan.”


“Bagus,” duduk dikursi dan memantau Frayza masak. Sedangkan Kenzo bagian mengambil barang yang diperlukan Frayza.


“Kenzo, apakah pekerjaan utamamu sudah benar. Jangan sampai kau membuat kesalahan lagi, aku akan membuangmu ke Indonesia.”


“Astagah, bayi Tuan Muda!” Kenzo panik dan berlari. Frayza mematikan kompor dan ikut berlari. Namun Hikashi santai duduk-duduk saja.


Sebelumnya Kenzo sedang menidurkan bayi Hikashi di kamar. Dia lupa mamasang pembatas kotak bayi. Bersyukurlah ada Dokter Kelvin yang menggendong bayi menggemaskan itu.


“Bayi terbang.... Siuuuuuu... Siuuuu.... Ciuuu... Ciuuuu...” bermain pesawat-pesawatan.


“Haiiii, kau jangan sembarangan. Bayi ini baru selesai mainum susu, kalau muntah kau ku suruh mengepel!”


“Oh maaf aku tidak tahu, aku hanya melihatnya terbangun dan bermain sendiri. Jadi aku terbangkan dia biar senang.”


“Kalian kenapa tidak menyebut namanya saja. Akan lebih enak didengar daripada menyebutnya bayi, kemarikan. Biar aku timang-timang anaknya.” Frayza menggendong bayi yang memegangi pipinya. Jari jemarinya seperti sosis yang berisi. Kulitmu lembut dan putih seperti Hikashi. Mata, hidung dan korneanya sama. Benar-benar menarik bayinya ini, hingga Frayza tak percaya ini adalah anak mereka berdua.


“Nona, biar aku yang menjaganya. Sudah saatnya dia mendengarkan musik untuk senam sebelum tidur.”


“Waw, dia kan seorang bayi?”


“Bayi Bangsawan berbeda dengan bayi pada umunya. Saya sudah memiliki jadwal harian untukkkkk...” Dokter Kelvin mencubit pipi Kenzo agar tidak meneruskan omongannya yang hampir keceplosan.


“Bayi Bangsawan siapa? Hikashi seorang pegawai biasa, kalian ini terlalu banyak berfantasi.”


Hikashi melotot muncul dari belakang Frayza. Memperingatkan keduanya agar tidak banyak bicara sembarangan.


“Sayang, temani aku makan yah.” Mengigit daun telinga.


“Auh geli ya, aku malu.”


“Aku mau makan dikamar saja, ayo layani aku.”


Akhirnya Hikashi berhasil membawa pergi Frayza. Selanjutnya mereka akan menghabiskan waktu dikamar lagi. Meneruskan pekerjaan berat bercocok tanam dan mengolah adonan menjadi suguhan yang nikmat dan legiiittt.


“Kenapa hanya masak mie saja?”


“Aku lihat didalam lemari dan kulkas hanya bahan sederhana ini saja. Jadi aku berhemat untukmu hehehe. Maaf ya sayang, aku hanya mampu memberimu makanan ini. Semoga perutmu tidak kaget, akkhhh...” menyuapi Hikashi.


“Sayang, aku tidak bisa makan ini. Buatkan aku susu dan salad buah saja. Tolong tambahkan mayonis diatasnya. Aku tidak bisa makan mie pada malam hari.”


“Iya sayang, aku akan buatkan.” Ketika frayza keluar untuk membuatkan pesanan Hikashi. Kesempatan ini digunakan Hikashi untuk memberitahukan bahwa dia sedang pura-pura menjadi sekretaris Matsumoto. Karena Frayza trauma mentalnya, Hikashi terpaksa menghapus kenangan pilunya beberapa saat. Serta Kenzo mengungkapkan soal nama untuk bayi. Karena Frayza bertanya siapakah namanya.


“Aku sulit mencarikan nama yang tepat untuknya. Sementar panggil saja J.D nanti aku pikirkan lagi. Besok pagi siapkan bayi JD untuk pergi bersama kami.”


“Baik Tuan Muda.” Kenzo sudah mendalami perannya sebagai ibu pengganti sekaligus pengasuh JD. Naluri keibuannya sudah terpancar ketika merawatnya bayi JD.

__ADS_1


Sebelum Frayza datang, Hikashi sudah berada di kamar lagi. Menyalakan lilin aromaterapi dan menaburkan bunga-bunga dilantai.


“Waw romantis sekali,” puji Frayza membawa nampan berisi makanan.


“Makan dulu, biar bertenaga.” Ucap Hikashi dengan menangkat segelas susu hangat.


Frayza tampaknya mulai mengantuk menunggu kesempatan emas malam ini. Dia merebahkan kepalanya dibantal yang empuk.


“Hai, aku belum mulai Sayang. Ayo terlentang jangan membelakangiku.”


“Hemmbb aku sudah mengantuk Sayang, kapan-kapan saja yah hemmmb.”


“Baiklah, jika kau maunya miring. Aku bisa memberikanmu sensasi yang baru.”


Satu per satu bajunya ia lucuti, dan Frayza sudah terbuai dengan suasan romantis. Hikashi mulai menciumi punggung hingga leher. Dia tidak membongkar pembungkus tubuhnya. Tangannya melingkari tubuhnya yang berada didalam dekapan.


“Kenapa tidak jadi?”


“Aku mau melakukannya setelah kita resmi saja. Suatu kesalahan yang pernah aku lakukan bila kita tidak saling terikat.”


“Jadi selama ini kita belum menikah?”


“Itu karena kau, jika kau tidak kabur mungkin bayi kita sudah memiliki nama dan akta lahir. Kau itu wanita kejam, tahu tidak?” mengatakannya jelas ditelinga Frayza.


Dia membalikkan tubuhnya untuk menanyakan perihal pernikahan. “Sayang, kenapa bisa begitu?”


“Dulu aku adalah pria polos yang suci, kau datang bagaikan preman. Kau menarik perhatianku, hingga kau gunakan keluguan dan keperjakaanku kau renggut.” Memalingkan wajahnya.


“Jadi aku kriminal ya?”


“Iya, kau itu setelah meniduriku hingga berkali-kali lalu kau hamil. Aku sebagai pria bermartabat tentu ingin bertanggungjawab dengan benar. Ketika aku menawarkan diri untuk melamarku, kau sewenang-wenangnya pergi meninggalkanku. Huffttt betapa malangnya nasibku ini, sudah tampan, rupawan dan memiliki bibit. Seorang kutu rumput sepertimu mencampakkanku.”


“Apa benar yang kau ucapkan, biasanya kan wanita yang mengalami hal itu. Kau mengarang cerita ya?”


“KAU INI SUNGGUH KETERLALUAN FRAY! AUTHOR SUDAH MENGARANG CERITA INI SEDEMIKIAN RUPA. PEMBACA SUDAH MENJADI SAKSINYA, TANYA PADA PEMBACA NOVEL INI. KALAU KAU YANG MENODAIKU, KAU SUDAH MERENGGUT KESUCIANKU HUHUHU.”


“Sayang, maafkan aku ya. Aku tahu diriku kadang ingin bebas seperti gadis pada umumnya. Karena aku sudah memberimu seorang putra, apakah kau bersedia merekrutku menjadi anggota keluargamu?”


“Hu’um, beneran ya Sayang. Kamu tidak boleh menyesal loh.”


“Hehehe tidak sayang, walapun kau pegawai biasa dan aku tidak bekerja. Aku akan merawatmu dan bayi kita.”


“Fray, aku sungguh sangat mencintaimu muaachhh.”


“Hai Hikashi, kau menciumku baru saja. Kenapa? Kan hanya mencium tidak lebih.”


“Hehehe kalau mencium aku mau yang lebih kalau begitu, ayo kita habiskan malam ini.”


“Ya Tuhan kenapa kau berikan aku wanita yang berani ini. Ya sudah malam ini aku berbuat dosa, besok malam jadi pahala.” Hikashi melucuti baju Frayza dan melakukan hubungan dalam diri. Mengasah ketrampilan berolah raga diatas ranjang. Menyanyikan desahan sesuai ritme permainan yang penuh gairah.


“Sayaaanggg, auhh capek. Akuu pegaalll ahhu.”


“Ganti posisi,” Hikashi mengarahkan gaya senam yang sudah ia pelajari.


“Ahhh... ahhhh... Hikashjiiii kauuuu terlalu cepat mengetuk-ngetuknya. Akuuhh kewalahannnn... Yasshhhhhhh ahhhhhh.”


“Hehehe salah sendiri, sekarang tahu rasanya kan. Ayo geser sedikit, enak saja mau minta berhenti. Kau sudah masuk permainan. Kita harus menjajal kemampuan fisikmu hahaha. Asshhh... Aasshhh Frayyyy... Aku sedikit lagiiii huufftttt...” keringat Hikashi mulai bercucuran menetess.


“Awwhhhhhh... Syudahh Sayang, aku menyerah huuuhhhh.” Melambaikan tangan.


“Sekali lagi sayang, kurang satu gaya lagi. Besok kita ulangi lagi yang begini ya ahhh ahh hasshhhh arrghhh.” Akhirnya penutupan olah raga pekan ini dimenangkan oleh Hikashi dengan skor lawan Nol.


“Fiiuuuhhh,” melenguh lemah.


“Sayang, besok dandan yang rapi ya. Kita akan pergi ke suatu tempat, oke?” Frayza mengangguk dan menarik leher Hikashi. “Aku puas karena kau buas Sayang hehehe.” Pria itu tersipu malu dipuji sedemikian hebatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2