
Persiapan Istana sudah mulai dilakukan. Para Dayang dan Pengawal bertugas gladi resik. Suasana dilingkungan istana yang mulai dihiasi ornamen khas Jepang. Mulai nampak mempercantik dekorasi saat peristiwa penting Pangeran Hiroshi. Semuanya nampak bahagia dan penuh keceriaan. Beberapa kado sudah datang silih berganti. Barisan karangan bunga memenuhi bahu kiri jalan. Dipenuhi kalimat doa dan harapan untuk calon pasangan yang akan berbahagia.
“Kau kenapa gelisah?”
“Bajunya ada yang kurang.” Merasa tidak nyaman dibagian badannya. Entah apa yang menyebabkan rasa tidak nyaman tersebut. Rasanya Hiroshi begitu tidak pas saat mengenakannya.
“Jangan buat alasan, baju ini dirancang khusus oleh istri sepupu tertua kita.”
“Daripada kau terus mengomel, lebih baik kau undang saja kemari dia!”
“Aku tidak bisa, karena akan sulit meminta persetujuan Hikashi. Kau tahu sendiri bukan, ia begitu protektif dengan istrinya. Watak Hikashi tidak akan pernah berubah, walaupun kita saudaranya sendiri. Ia pasti akan ikut menemani istrinya, walaupun harus menunggu didepan pintu toilet.”
“Kalau begitu panggilkan Yuki saja.”
“Eh nama siapa yang baru saja kau sebut?”
“Yuki, Yuki!” teriak Hiroshi jelas.
“Sejak kapan kau hapal nama gadis di Butik Frayza?”
“Sejak kau tidak menyadari bahwa gadis itu juga menarik.” Menjentikkan jarinya didada Takeshi.
“Jangan main-main dengan gadis biasa, mereka sangat rapuh. Kepolosannya bisa menjadi kelemahannya, karena mereka berbeda dengan gadis bangwasan.”
“Karena gadis biasa itulah yang menurutku normal. Apa kau pikir perhatian yang diberikan padaku itu palsu? Hanya karena aku putra mahkota, bicara mereka dibuat-buat.”
“Ingat, kau sudah dijodohkan dengan Aiko. Dialah calon ibu dari anak-anakmu, perhatikan sikapmu agar tidak menimbulkan masalah.”
“Dalam aturannya, pria boleh memiliki lebih dari satu orang wanita. Sebagai selir misalnya.”
“Jaga bicaramu! Ini sudah jaman modern, kau jangan asal bicara.”
“KAU CEREWET!” kutuknya.
“KAU HIDUNG BELANG!”
“USIL!” tambha Hiroshi.
“Hissshhh cepat pakai pakianmu, kau terlalu lamban untuk urusan baju. Kau akan memberikan pidato secara resmi. Jangan sampai tidak tepat waktu, karena peliput berita sudah mulai hadir di Aula. “
“Aku benar-benar gugup fiuhhh.” Menghembuskan napasnya dengan bebas.
“Kau sudah biasa memberikan pidato, anggap saja kau sedang membacakan kisah Cinta orang lain. Yang kebetulan mirip denganmu hihihihi.”
“Leluconmu tidak lucu sama sekali!”
“Bukan badut, wajar.”
“Dasar cerewet!”
“Sudah jangan banyak mengataiku, tanpaku kau akan berada disini sepanjang waktu!”
Didampingi Takeshi, Hiroshi mengenakan set pakaian warna gading. Dengam bros dari mutiara di taburi kristal swarovski. Ia duduk menunggu pembawa acara selesai memberikan sambutannya. Disebelahnya duduklah Takeshi dengan tenang. Banyak orang yang menyorot pangeran yang cacat, sudah sembuh. Tidak ada lagi kursi roda yang membawanya pergi kemana oun. Sekarang ia sudah menjadi menusia normal. Menggunakan kakinya sendiri untuk berjalan, tidak menjadi bahan olok-olokan atas kekurangan fisiknya.
Diatas mimbarnya, Hiroshi membacakan teks pidatonya yang berisi perjalanan cintanya dengan Putri Aiko. Gadis yang santer digadang-gadang sebagai calon Ratu di Negeri matahari terbit. Dandanan Putri Aiko tak kalah cantik, walaupun riasan yang dipoleskan pada wajahnya tipis. Tampak kesan alami dan segar terpancar menyatu dengan auranya.
__ADS_1
“Kau sangat hebat.” Puji Takeshi usai memberi dukungan kepada adiknya, usai pidato.
“Ah biasa saja, aku tadi pura-pura gugup saja supaya kau perhatian kepadaku hehehe.” Membenarkan jasnya.
“Sialan!” kesal.
“Kalian tampak harmonis sekali.” Kejut Hikashi dibelakang aula.
“Hai sepupu tertua, akhirnya kau datang juga.”
“Tidak usah sok akrab dengannya Pangeran Hiroshi, selama ini Hikashi hanya dekat denganku.” Takeshi memeluk Hikashi awal pertemuan mereka.
“Okeh, aku hanya selingan dan anggota cadangan saat kalian asik bergosip. Oke, aku menyerah.” Mengangkat kedua tangannya diatas kepala.
“Ayolah dia adikmu jangan meledeknya, dia sudah mau menjadi pria beristri. Sebaiknya kau malu dilangkahi adikmu, Payah.” Ledek Takeshi yang masih menjomblo.
“Aku tidak masalah jika Hiroshi menikah lebih dahulu dariku. Bukankah kau menikah diatas usia 30 tahunan juga. Sekarang umurku sudah 29 akhir. Jadi santai-santailah aku, sebelum dijajah wanita. Hahahaha.
“Maksudmu apa dijajah wanita hey?” tepis Hikashi.
“Ups, dia dalam masalah.” Tunjuk Takeshi yang menutup mulutnya. Hiroshi pindah berdiri disebelah Hikashi.
“Wanita akan merasa menjadi Bo ketika sudah menikah, seenak jidatnya menguras dompet kita. Mengatur hidup kita, melarang kesukaan kita. Serta mereka mahkluk yang cemburuan, yang aku katakan ini benar kan Hikashi?”
“Sebaiknya kau jangan iyakan pendapat buaya itu, aku tahu Frayza istri yang baik.” Menepuk pundak Hikashi.
“Tak apa dia bilang begitu, aku rasa dia belum merasakan memiliki sebuah keluarga yang sebenarnya.”
“Kau kenapa tidak emosi dengan kalimatnya yang memancing kontroversi ini Hikashi?”
“Apakah aku boleh membawa selirku?’ ucap Takeshi.
“Kau ini, kalau ketahuan pihak Istana bisa kelar hidupku besok!” celetuk Hiroshi.
“Hahaha iya-iya ma’af.”
Ketiganya meninggalkan aula istana udai perjamuan pers soal pesta peresmian pertunangan Hiroshi – Aiko. Bisa dikatakan malam ini akan ada pesta khusus yang mengundang kerabat dekat kerajaan dengan pemerintahan. Untuk beramah-tamah mengenalkan calon pemimpin masa depan.
Sementara itu, ponsel Hikashi berdering ada telepon masuk dari Kenzo. Mengenai perkembangan kasus penembak misterius itu. Isi dari peluru itu tidak sama dengan tipe yang dipakai kru Matsumoto. Jadi hari ini juga, Matsumoto bisa bebas.
“Ada apa?”
“Matsumoto di kantor Polisi, ada salah paham.”
“Kenapa dia bisa ceroboh?”
“Sudah teratasi, sekarang Kenzo yang mengurusnya.”
“Kalau begitu ayo berpesta sobattt...” Takeshi membawa botol anggur dan gelas sloki bersiap minum sampai mabuk.
“Maaf, tapi aku sudah berhenti minum anggur. Aku minum soda saja ya.”
“Hai, kau tidak menghargai kami ya. Ini anggur tua Hikashi.”
“Aku sudah pindah keyakinan, dalam kepercayaanku dilarang keras minum anggur yang memabukkan.”
__ADS_1
“Ini pasti karena Frayza bukan, hahaha. Sudah nanti aku rahasiakan darinya kalau kita pesta anggur. “
“Itu benar Hiroshi, kita harus menghormati keputusannya. Hikashi berhak memilih apa yang dianggapnya benar. Kita sebagai saudara jangan mengucilkannya. Atau merendahkan ajaran agama lain.”
“Baiklah, ayo kalau begitu kita habiskan saja anggur ini.”
Saat mereka bertiga sudah bersiap menggelar pesta bersama. Tiba-tiba datanglah Frayza ke Istana milik Hikashi. Dengan berdandan ala bangsawan memakai gaun mahal dan perhiasan mewah. Riasannya lebih mempesona dari hari biasanya. Bisa dikatakan inilah penampilan terbaik Frayza selama pernikahan.
“Uhuukkkk!”
“Kau sudah mabuk ya?”
“Putar kepalamu ke belakang!”
“Hiroshi, anggurnya di depan bukan dibelakang. Memangnya ada ap dibelakang?”
“Sssaaa-saaa-Praissaaa!”
Saking mempesonanya Hiroshi dengan istri Hikashi ia berhenti minum anggur. Mungkin dipikirnya ini halusinasi efek anggur. Tapi tidak, Takeshi juga melongo melihat Frayza yang masuk. Mereka berdua menyuruh duduk Frayza. Karena tadi Hikashi masih sibuk bicara dengan Kenzo di kamarnya. Rupanya kesempatan ini dimanfaatkan kedua bujang memandangi boneka hidup.
“KALIAN SEDANG APA!” teriakan Hikashi membuyarkan fantasi saudara sepupunya melihat istrinya.
“Ah tidak, aku tadi hanya menyapanya.”
“Aku sudah mabuk, kepalaku pusing hufh.”
“KALIAN PERGI!!!”
Oke, kali ini si Singa sungguhan mengamuk. Sebaiknya Takeshi pergi menyeret Hiroshi yang mulai teler. Dia tidak ingin dicabik-cabik oleh Hikashi. Tahu kalau ketahuan mereka menahan istri kesayangan Hikashi. Sekarang Hikashi pasti marah dan cemburu berat.
“Sayang,” langsung memeluk suaminya yang terbakar amarah.
“Sudah berapa lama kau tiba?”
“Baru setengah jam lalu.” Menempelkan pipinya ketubuh depan suaminya.
“KENAPA TIDAK SEKALIAN 31 MENIT!” Teriak Hikashi lantang.
“Ya ampun Suamiku, tadi mereka bilang kau sedang dalam panggilan telepon. Jadi aku memilih duduk menunggumu, mereka menanyaiku tentang Yuki.”
“PERSETAN DENGAN ALASANNYA, MAU YUKI, SUKI, TUKI, NUKI, MUMI!”
“Muacchhhh.” Sebuah kecupan mendarat dipipi.
“Apa ini?” mengelus bekas ciuman istrinya.
“Aku merindukanmu ditempat ini.”
“Jika kau mau, malam ini kita menginap saja disini.”
“Benarkah, lalu...”
“Jangan pikirkan anak-anak, sudah ada pengawal dan Polisi yang berjaga. Menginaplah disini Sayang, aku juga mau mengulang kenangan kita.” Memeluk istrinya erat.
“Hmmbbb baiklah Suamiku.”
__ADS_1
“Kalau begitu tolong perbaiki penampilanku wahai Istriku.” Mempersilahkan Frayza mendandani Hikashi. Karena sejam lagi pesta keakraban akan dimulai, ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri. Istrinya berdandan secantik mungkin, tapi dirinya sudah mulai lusuh.