
Ketika diperjalanan mereka menerima susu kemasan kotak dan meminumnya. Tak berselang lama, seluruh ageng penjaga keamanan tertidur pulas. Dan ketika Bis berhenti disebuah tempat asing. Matsumoto membingunkan mereka, dan menyuruhnya agar lekas turun.
“Kalian sangat menikmati perjalanan hingga tertidur pulas, oleh karena itu. Waktu istirahat kalian yang sudah terpakai dapat memulihkan tenaga kalian. Sekarang perhatikan baik-baik isi ransel kalian. Didalam ransel itu hanya ada alat pertahanan diri dan perlindungan tidur kalian akan melewati hutan di pegunungan ini. Misi kalian ialah mencari Wihara yang dihuni Biksu, didalam Wihara tersebut ada pedang yang dikeramatkan. Jika kalian berhasil mengambilnya, maka akan keluar sebagai pemenangnya.”
“Kalau boleh tahu hadiahnya apa Ketua?”
“Apa yang tidak mampu diberikan oleh Tuan Hikashi?” Ramon terperanjat dengan hadiah itu, dia ingin memperoleh bantuan dari Hikashi untuk menangkap pembunuh Digna.
“Tapi Ketua misi ini berlangsung berapa lama?”
“Pertanyaan bagus,Fred. Misi ini hanya berlangsung selama 3 hari saja. Jadi pergunakan perbekalan kalian sebaik mingkin ya. Masing-masing diantara kalian akan bertanggung jawab atas diri sendiri masing-masing. Jadi pergunakana kesempatan ini dengan baik.” Matsimoto menutip wejangannya.
Semuanya mengecek perlengkapannya masing-masing dengan seksama lalu berjalam memasuki hutan. Mereka tidak dibekali peta,karena Wiharanya berada di Puncak gunung. Oleh sebab itu, atap bangunannya dapat terlihat dari kaki gunungnya.
“Fred, jika kau takut menjalankan misi ini. Aku tidak masalah jika kau mengekor denganku. “ Ramon yang khawatir kalau Frayza mengalami hal buruk.
“Jangan khawatirkan aku, tujuan kita sama. Semoga aku bisa sampai sana lebih dahulu daaaa...” Frayza menggendong ranselnya lalu berlari masuk kedalam hutan. Sedangkan Ramon nampak ragu melakukannya. Tampaknya Frayza sangat bersemangat mengikuti tantangan ini.
Ramon mengejar Frayza yang masuk lebih dalam dahulu ke hutan. Matsumoto membawa mobil tenda dan menikmati fasilitas didalamnya. Beberapa Koki sengaja dia bawa untuk memasakkan hidangan yang lezat sembari menunggu agen yang datang.
“Cepat-cepat siapkan malam malamnya, hah sepertinya aku sudah lama tidak menikmati masa liburanku di alam.” Matsumoto mensejajarkan kakinya diatas meja.
Senja ini langit tampak mulai mending dan sepertinya akan turu hujan. Para agen yanh sudah masuk dalam hutan hanya dibekali alat-alat seperlunya. Jika yanh menyatakan menyerah pada sesi ini. Maka menyalakan kembang api sebagai penunjuk lokasinya, dan akan dijemput oleh tim Matsumoto yang mengawasi dari mobil tenda tadi.
“Ash! Kemana perginya bocah tengik itu, jangan-jangan dia dimakan beruang hutan!” Ramon benar-benar kehilangan jejak Frayza dalam gelapnya malam.
Beberapa suara teriakan minta tolong dan dan kembang apik bergiliran meminta pertolongan kembali. Ramon masih berambisi untuk menuntaskan misinya membalaskan dendamnya. Begitu juga Frayza yang mememiliki keinginan yang serupa. Hikashi ialah orang terkuat dan mampu menciptakan segalanya melalui kekuasaan dan uangnya. Walaupun sekarang dia bukan menjabati tahta putra mahkota kerajaan.
Glleegggaaaarrrr... Suara dentuman petir menyambar salah satu ranting pohon yang tinggi. “Akhhhhhh... Tolonggg!” suara teriakan meminta pertolongan yang tak jauh dari lokasi Ramon berjalan dibawah rintikan gerimis.
“Fred!! Apa itu kau?” Ramon menerebos gelapnya malam dengan senter kecil sebagai penunjuk jalan.
“Toloooongggg... Tolonggg...!!!” Suara minta tolong itu semakin dekat. Namun Ramon berhenti ketika dia menyadari bahwa itu tebing yang curang.
“Fred?” teriak Ramon menyebut nama yang ia pikir Frayza.
“Ra-Ramonnn apakah itu kaaauuuu?” suaranya menggema di tebing yang curam.
“Fred! Apakah kau dibawah sana?” Ramon meniarapkan tubuhnya dan memberikan penyinaran kepada objek di kegelapan.
__ADS_1
“Ramon... Tolong bantu aku huhuhuhu. Aku takut mati huhuhuhu.” Rengek Frayza yang sudah bergelantungan di ranting yang tersangkut akar pohon.
“Bertahanlah Fred, aku akan menarikmu.” Ramon membongkar isi tasnya mencari tali yang bisa ia gunakan. Namun sayang, panjangnya kurang memadai. Akhirnya, Ramon menambahkan beberapa akar dan serabut yang kuat untuk menambah panjangnya.
“Ramon, dengarkan aku. Jika ini menjadi hari terakhirku untuk hidup. Aku ingin mengatakan bahwa, terimakasih sudah memberikan kehidupan keduaku lagi.” Frayza sudah pasrah karena merasa waktunya tak lama lagi.
“KAU INI BISA DIAM TIDAK!!! KAU ITU BICARA APA, HANYA KARENA TERJEBAK HUJAN DAN KESULITAN MUDAH SEKALI MENGUCAPKAN PERPISAHAN. JIKA KAU INGIN MATI LAGI, MATILAH DENGAN TERHORMAT. BUKAN SEBAGAI PECUNDANG, DASAR BODOH!” Ramon yang sedang mengikat tali dan akar serabutan itu kepayahan, namun Frayza malah merengek ingin berpamitan.
“Maafkan aku Ramon, jangan menolongku lagi. Kau harus temukan Wihara itu dan berhasil mencuri pedang suci itu. Hanya Tuan Hikashi ya yang bisa membantumu mencari siapa yang menjadi pembunuh Digna dan menyerang markas.”
“TUTUP MULUTMU ATAU AKU AKAN MENGHAJAU!!!” Ramon mulai kesal dan menyalakan kembang api keatas. Berharap bala bantuan segera datang.
Dan para penjaga yang melihat kembang api milik Ramon itu melihat lokasinya lewat satelit.
“Gawat, sepertinya ada yang berada di tebing.” Salah seorang melihatnya melalui kamera drone yang sengaja di terbangkan.
“Benarkah?” Matsumoto kaget melihat salah satu agennya dalam bahaya.
“Ketua, saat hujan seperti ini tidak mungkin bagi Kru penyelamat menaiki gunung. Kita perlu helikopter untuk menyelamatkan Agen itu.” Matsumoto berpikir keras jika misi ini mendatangkan petaka.
“Segara minta dikirim akan helikopter regu penyelamat sekarang!” perintah Matsumoto kepada anak buahnya yang sudah kembali.
“Kalian mau kemana?” Hikashi memberhentikan seorang pengawalnya yang kerepotan membawa barang-barang muatan.
“Tuan, kami ijin untuk pergi ke gunung tempat para Agen melakukan misi. Ada seorang Ageng yang tersangkut di tebing yang curam. Kondisi lapangan saat ini tengah hujan deras, kalau kami telat menolongnya bisa berakibat fatal.”
“Siapa Agen tersebut?” tanya Hikashi sekali lagi.
“Agen Fred, Tuan Muda.” Yang terlintar di benak Hikashi ialah pemuda yang selalu bersama Ramon kemanapun perginya.
“Bocah yang bermain pedang bersamaku?” ucapnya panik.
“Betul Tuan Muda.” Hikashi langsung beralih di helikopter yang hendak pergi ke gunung tempat latihan.
“Apa yang kau lakukan, cepat naik!” perintah Hikashi.
“Baik, Tuan muda.”
Saat helikopter itu hendak terbang, mendadak pilot helikopter semula bertanya “ Tuan, bagaimana kunjungan anda ke Inggris?”. Wajah Hikashi memalingkan dan tak menggubrisnya. Lalu pilot itu dicampakkan begitu saja tanpa kejelasan kapan Tuannya akan kebali lagi.
__ADS_1
Sedangkan Ramon terus mengulur talinya agar bisa menjangkau tangan Frayza, namun kondisi tanah sangat rawan.
“Bertahanlah, aku akan mencari tambahan akar lagi.” Frayza sudah putus asa karena kedalaman jurangnya.
Sementara itu hujan sudah mulai sedikit reda, dan awan gelap mulai menyingsing. Cahaya bulan mulai memberikan sinarnya ditengah kegelapan malam. Kraaakkkkkk... Suara patahan kayu yang menopang tubuh Frayza mulai rapuh. Ramon yang mendengar itu, segera kembali ke jurang.
“Jika kau celaka, maka aku akan ikut mencelakakan diriku!” Ramon mengikatkan tubuhnya dengan akar dan ranting yang ia sambungkan. Lantas dia menuruni tebing dengan mengaitkan pada pohon yang sekiranya memiliki akar yang kuat. Ramon memakai tubuhnya untuk meraih tangan Frayza.
“Akkkkhhhhh.... Tidakkk...” teriakan Frayza semakin kuat karena dia bergelantungan di dahan yang sudah merosot tergerus air hujan.
“Sial, kurang sedikit lagi padalah.” Ramon tak bisa meraih tangan Frayza yang semakin jauh.
Dari tempat pengawasan Matsumoto ketakutan karena ada dua Agen yang sedang bertaruh nyawa ditebing. Dirinya tidak menyangka jika misi ini membawa petaka.
“Lihat! Tim bantuan datang.” Teriak anak buah Matsumoto yanh melihat harapan datang.
“Kesanaaaaa.... Kesanaaaa....!!” matsumoto menunjuk arah dimana lokasinya.
Helikopter itu mengikuti drone yang menuntun mereka di jurang yang dimaksut tadi. Dan benar saja, Ramon tengah berada di jurang mengulurkan tangannya. Sedangkan Frayza sudah tergantung, kakinya tersangkut dahan yang patah tadi.
“Sial!!!” Hikashi menggerakan giginya kemudian melompat keluar Helikopter.
Kejadian dramatis ini sangat berbahaya, mengingat ini adalah bukan tugas Hikashi.
“Raih tanganku!!” Hikashi berbicara pada Frayza yang sudah memejamkan matanya.
“Tuan Hikashi?” Ramon kaget melihat pria yang bergelantungan di tali adalah bos besarnya.
Karena Frayza sudah memucat dan sepertinya terluka, maka Hikashi langsung memerintahkan agar meraih tubuh Frayza. Lalu mengikatkan tali yang terhubung di heli tersebut. Setelah itu, Hikashi menggergaji dahan kayu yang menjepit kedua kaki Frayza. Dan mengayunglah tubuh Frayza di tebing yang curam.
“Tarik keatas! Aku sudah berhasil meraih tubuhnya!” komando Hikashi agar segera menarik keduanya kedalam helikopter.
Saat Frayza dan Hikashi sudah masuk kedalam helikopter, Ramon menitikan airmatanya. Bukan tanpa sebab. Karena Frayza adalah tanggungjawabnya sekarang. Jika suatu hal buruk terjadi, maka dirinya pantas mati.
“Tuan, bagaimana dengan agen yang satunya itu?”
“Jika dia bisa turun ke tebing, maka dia bisa naik lagi. Cepat kita bawa bocah ini ke Rumah sakit.” Hikashi melihat darah segar mengalir dan khawatir.
Beruntunglah Ramon berhasil naik dari jurang tadi tanpa bantuan. Dirinya terkapar diatas tanah yang basah. Dirinya tak lagi peduli dingin dan letih tubuhnya. Asalkan Frayza sekarang selamat, maka semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
Pagi harinya Ramon sudah ditemukan kru Matsumoto. Dan mereka menyarankan agar Ramon ikut turun yang membatalkan misinya. Namun Ramon menolak, dia ingin berhasil membawa pedang suci Wihara. Kesempatan ini tak akan kedua kalinya, karena Ramon ingin mengetahui siapa dalangnya.