
“Woi berisik! Dasar kucing kawin tidak tahu adab!!”
Frayza mengambil botol minuman untuk menyiram kucing yang berisik diluar. Suara berisik yang timbul menggangu Frayza yang mengantuk karena kelaparan. Byuuurrrr... Air itu membasahi tempat yang menjadi sumber kebisingan.
“A-ku dirampok, to-tolong...” rintih seorang pria memakai topi.
“Ya Tuhan, maaf aku pikir kucing kawin. Mari aku bantu,” Frayza menolong pria malah yang tertimpa musibah. Dia mengobati pria itu dengan perlahan.
“Awh sakit, mereka meninju perutku.”
“Peganglah kompres ini agar sakit diperutmu berkurang. Apakah kita perlu ke Kantor Polisi untuk melapor?”
“Tidak usah, mereka hanya mengambil uangku. Dompetku dikembalikan kok, aishhh sakit sekali.”
“Sepertinya kau harus berobat ke Dokter, aku temani ya.”
“Apa kau punya uang?”
“Hehehe tidak punya, aku wisatawan miskin. Kemari saja dimodali temanku.”
“Teman pria?”
“Kau jangan salah paham mengenai pertemuan kami. Aku memiliki teman pria dan dekat seperti saudara. Kami tidak terikat perasaan. Oiya siapa namamu, dan dimana kau tinggal?”
“Namaku Alexis, panggil saja Alex. Aku seorang pelancong dan miskin juga hehehe.”
“Jila kau pelancong kenapa kulitmu lebih mulus dan halus daripada aku?”
“Ini faktor genetik, iya genetik.”
“Apa kau tidak bisa bela diri, seharusnya kau menguasai ilmu bela diri jika hendak bepergian. Kau kan tidak tahu akan bertemu orang jahat kan. Contohnya sekarang, aku ada sedikit uang. Pakailah untuk berjaga-jaga hehehehe.”
“Kau baik sekali, aku memang payah dan tidak terampil. Aku ingin bisa belajar ilmu beladiri, tapi mana mungkin. Hal konyol.”
“Eh siapa bilang, aku seorang guru Aikido sekolah dasar. Kau hanya perlu tekhnik kuncian dasarnya, setelah itu kau akan menguasai jurus-jurusnya.”
“Hai, apakah namamu ‘Hai Wanita? ‘ siapa namamu?”
“Oiya, aku hampir lupaaaaa. Perkenalkan namaku Frayza, senang menyelamatkanmu hahahaha.”
“Kau sombong sekali baru menyelamatkanku.”
“Alexs, jika lukamu sudah sembuh lalu kau akan pergi kemana? “
“Entahlah, aku seorang pelancong. Tidur dimanapun tidak masalah bagiku, menyatu dengan alam adalah hal biasa.”
“Aku disini bersama temanku, kau boleh menginap disini semalam jika kau mau.”
“Dimana dia sekarang?”
“Dia sedang pergi mencari makanan tapi belum juga kembali, padahal sudah ada suara Guntur gemuruh. Aku khawatir jika nanti dia kehujanan. Mana perutku lapar juga, hemmm.”
“Dia tidak akan pulang dalam waktu yang cepat, mungkin dia sedang berbincang dengan kawan lamanya.”
__ADS_1
Ketika Dokter Kelvin hendak kembali ke kostel huniannya dihadang beberapa pria berbadan tegap. Lalu muncullah pria botak plontos dengan gaya khasnya mengenyot permen loli.
“Dokter Kelvin, si kutu Laboratorium yang berwana wisata dengan wanita.”
Gleeekkkk (menelan ludahnya) “Eh anu Ketua Matsumoto, aku mengajak Frayza pergi dari masalah. Margaretha menemuinya dan mencoba menyabotase Frayza. Oleh karena itu aku membawanya pergi ke Bangkok untuk liburan.”
“Bukankah Margaretha sudah meninggal?”
“Iya itu, Margaretha sudah meninggal. Polisi sedang mendata penduduk disekitar lokasi kejadian. Jadi kau paham bukan alibiku mengajak Frayza pergi.”
“Kau pikir aku bodoh atau tolol! Kau pergi ke Thailan tidak memberitahuku lebih dahulu, sekarang kau tahu kalau keberadaanmu sudah terlacak oleh Tuan Hikashi!”
“APAAAA! “ Telat untuk kaget Dokter Kelvin.
“Apa, apa, apa, apakabar!” bentak Matsumoto kesal.
Dari belakang datanglah Julian membawa bingkisan makanan dan minuman boba. Sambil menghentakkan kakinya melangkah dia berdendang penuh suka cita hendak ke Kostel.
“Sibudu-sibudu.. Ta-teripapa... Yeyeyeye ayee-ayeee yes!” Julian nampak riang hendak menjumpai Frayza.
Slep! (Membentangkan tangannya menghalau langkah Julian) “Hai bocah tengil, bawa makananmu itu untuk menonton opera!” ejek Dokter Kelvin.
“Urus saja makananmu yang sudah dimakan anjong itu!”
Ternyata makanan Dokter Kelvin yang daging bakar dimakan oleh anjong jalanan. “Tidakkkkkk makanankuuuuu!” menangisi menu makan malamnya.
“Lebih baik kau pergi, jangan mengganggu jalanku.”
“Bereskan benalu ini, taruu ditempat yang jauh supaya sulit kembali!”
“Siap Ketua,” jawab anak buahnya.
Matsumoto memang ditugaskan Hikashi untuk berjaga didepan kostel tempat Frayza menginap. Sebenarnya yang menghajar Alexs ialah Matsumoto dan anak buahnya. Mereka awalnya takut atas perintah Hikashi, namun akhirnya mereka terpaksa melakukannya dengan setengah hati dan setengah takut mati.
“Tuan muda Hikashi, didalam sedang apa ya. Apa dia dan Nona Frayza tidak kelaparan? Dua bocah tengil ini membawa makanan, dia datang membawa diri saja. Aku harus bagaimana ya agar Nona Frayza tetap makan dan tidak kelaparan tanpa dicurigai. Ahemmbbb... Kepala botakku, berpikirlah... Berpikirlah... “ Matsumoto berpikir kerasa agar bisa mengirimkan makanan tanpa kecurigaan.
“Hoammmbb, Alexs jika kau mengantuk aku tidur dulu ya hmmmmbb.” Frayza tertidur karena sudah mengantuk berat.
“Hemm ckckckckc, dasar ceroboh.” Memangku kepala Frayza dipahanya.
Hikashi memandangi wajah Frayza, awalnya dia hanya ingin tahu sosoknya seperti apa. Kenapa Julian sampai antusias untuk mencarinya. Ternyata pribadi Frayza benar-benar hangat. Dan muncullah pengawal menyamar sebagai petugas kebersihan memberikan layanan kamar berupa makanan.
“Sajikan dengan baik di meja, dan jangan berisik!” masih memangku kepala Frayza yang tidur pulas di pangkuannya.
Pengawal itu tak mengeluarkan suara dan mengangguk saja. Dia menata dan menyajimam hidangan untuk disantap saat Frayza sudah terbangun. Seolah tangannya bergerak otomatis mengelus pipi mulus Frayza. Dan Hikashi membungkuk sembari membisikkan kalimat ditelinga Frayza “milikku” dengan nada lembut. Cupppp, sebuah kecupan dari bibir Hikashi mendarat di pipi yang usai dibelainya. Dia ketagihan lagi dan menciumnya dipipi sebelahnya. Frayza yang merasakan kenyamanan dan kehangatan pria mulai terlena. Belaian dan ciuman yang Hikashi hujamkan mendidihkan darahnya yang bergejolak panas.
“Ehhhh, Alexs apa yang kau lakukan,” Frayza mencoba menghentikan cumbuan maut Hikashi ditubuhnya.
Cup... Cupp... Hemmmbb... Ciuman demi ciuman, belaian lembut menjadi remesen kasar mulai menjalar diseluruh tubuh Hikashi. Dia mulai terangsang oleh geliat tubuh Frayza yang mulai terangsang oleh cumbuannya. Pelan tapi pasti keduanya saling berpagutan dan menikmati hasrat manusia dewasa. Rintik hujan, lama-lama menjadi deras dan Guntur tak terhelakkan. Mereka berdua sudah beradu napas dan kenikmatan yang tiada taranya. Hikashi trus memainkan posisinya yang agresif, karena Frayza sudah terkulai lemas karena permainan yang lama. Hikashi sudah mencair berkali-kali akibat pemanasan yang berulang-ulang ia lakukan.
“Alexs, henttikaann aku mohon.” Pinta frayza yang sudah kehilangan kesadaran karena keenakan.
“Belum, belum cukup! Aku masih mau lanjutttt ahh.” Sepertinya Hikashi hendak menuju puncaknya kesekian kalinya.
__ADS_1
Didalam kamar ini terasa pengap dan panas karena ulah mereka berdua. Hikashi kehilangan kesadaran penuh atas dirinya saat mulai mencumbui Frayza. Dan ternyata bak gayung bersambut, Frayza bertekuk lutut dibuatnya tak berdaya.
Anak buah yang berjaga didepan pintu kostel itu melaporkan kepada Matsumoto perihal yang ia dengar.
“Ketua, Tuan muda sedang dicekik wanita dikamar!”
“Dasar Pengawal bodoh, Tuan Muda bukan sedang dicekik, tapi terjepit oleh keadaan. Kau berjaga dengan benar, sumpal telingamu pakai ini!” Matsumoto memberikan alat pendengar musik pada Pengawal yang melapor.
“Hah untuk apa ini?”
“Untuk kesehatan jasmani dan rohani, ya menyumpal telingamu itulah supaya tidak mendengarkan hal yang tidak-tidak!” geram Matsumoto kepada Pengawalnya yang masih polos.
Pengawal itu kembali berjaga, dia memakai payung meneroboh hujan yang derasa. Dia memilih lagu-lagu favoritnya kemudian mendengarkan musik. Suara berisik didalam kamar sudah tk didengarnya lagi.
Setelah selesai melepaskan hasratnya, Hikashi memakai bajunya lagi. Dia melihat Frayza yang tertidur pulas memeluk bantal. Cup, sebuah kecupan dikening Frayza. Didepan pintu sudah ada pengawalnya yang bersiaga.
“Tuan Muda,” Hikashi diam tak merespon. Sepertinya tenaganya sudah habis, begitu pula keperjakaanya sudah sirna semalam. Dirinya kelelahan dan tak berdaya akibat ulahnya semalam. Matsumoto memberikan minuman energi agar Hikashi pulih kembali tenaganya, namun kembali tertidur pulas sepanjang perjalanan ke Hotel.
*
*
*
Selera makan Franda berkurang, dia semalaman menangis karena sikap Hikashi yang dingin kepadanya. Dia ingat perkataan Hikashi yang tidak ingin menyentuh Franda setelah resmi menjadi istrinya. Akhirnya Franda melampiaskannya kepada pelayan yang tengah merapikan kamar tidurnya.
“Jika kalian tidak bisa melayaniku dengan baik, maka aku akan meminta Manajer Hotel ini memecat kalian!” franda membentak pelayan yang sedang merapikan barang yang berserakan.
“Nona, Tuan William sudah tiba. Sebaiknya anda kembali ke kamar anda, beliau kecapekan semalam bekerja keras.” Matsumoto mengusir Franda secara halus.
“Aku kan calon istrinya, jadi aku berhak ada disini!” bantah Franda.
“Jika Nona mau tetap disini maka Tuan William,”
“Sudah jangan diteruskan, aku mau tidur.” Hikashi tidur tengkurap dan lelap.
Matsumoto membuka sepatu dan kaos kaki Hikashi, serta pelayan menyemprotkan aroma terapi yang terbaik. Franda akhirnya kesal diacuhkan Hikashi yang semalaman tak menyentuhnya. Padahal dirinya memakai baju yang seksi dan tembus pandang.
Mungkin dirimu asing bagiku, tapi tubuh kita seolah sudah akrab satu sama lain. Napasmu begitu merdu seperti nyanyian seriosa yang lantang ketika menjerit dibawahku. Maafkan aku yang sudah merengguh manismu tanpa mengakui siapa diriku sebenarnya. Aku memang sudah mendahuluimu tanpa ijin, tapi jujur aku tak bisa munafik menjadi pria. Aku tergoda padamu dan bertekuk lutut saat tubuh kita saling menyatu.
*
*
*
Saat bangun tidur Frayza merasakan tubuhnya sakit bagaikan terbelah-belah. Dia mendapati baju yang dikenakannya sudah terkoyak. Kepalanya sangat pusing dan berat, rasa kantuk yang menyergap tak mampu ia tolak. Sampai suara Dokter Kelvin mengingatkannya untuk segera sarapan. Dan Frayza merasakan linu dan perih disekujur tubuhnya.
“Saking lamanya aku tidak berhubungan badan dengan pria, mimpi saja seolah menjadi nyata hufttt...” Frayza mendengus tidur lagi hingga siang. Dan hikashi pun masih tidur dan memimpikan hal Indah semalam bersama Frayza. Franda kesal melihat senyum nakal Hikashi yang menjulurkan lidahnya. Dia berpikir untuk kebur pulang lebih awal ke Singapura.
×××××××××××× AUTHOR×××××××××××××
Hahahaa kena prank ya? Iyalah, Author kan yang mikir alurnya kan biar beda tidak sama dengan novel pada umunya. Yah, walaupun Author yakin pasti Kalian gregetan mau lempar sendal hahaha. Maaf ya sudah buat kalian kesal sebagai gantinya bab ini aku buat sweet deh. Selamat membaca dan tulis di kolom komentar ya!😁😁😁
__ADS_1