TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
DIPERTEMUKAN ORANG YANG TEPAT


__ADS_3

Tok... Tok.. Dokter Kelvin hari ini baru saja kembali dari belanja bulanan.


“Taraaaa... Hadiah untukmu.”


“Wah, besar sekali.” Menerima kado bertumpuk-tumpuk kotak yang berita putih.


“Ini hadiah dariku karena kau sudah pulih, selamat atas usaha kerasmu selama setahun terakhir ini ya.”


“Hehehe, Dokter Kelvin kau yang terbaik.” Mengacungkan jempolnya.


“Nah, sekarang kau pergilah mandi dan kenakan barang yang aku bawa ini.” Dokter Kelvin mengambil kuas dari tangan Frayza. Lalu manganhkat bahunta agar berdiri dari kursi kayu.


“Hai, tunggu-tunggu aku belum selesai melukisnya.”


“Sketsanya bisa menunggu nanti, sekarang kau bersiaplah. Aku akan mengajakmu pergi makan di Restoran Thailand.”


“Hah, mana ada Restoran Thailand. Ini Amerika, kalau ada pasti sulit menemukannya.”


“Sudah jangan banyak protes, masuklah ke kamarmu dan berhiaslah dengan cantik.”


Klik, Dokter Kelvin mengunci dari luar Frayza. Brak.. Brakk... Dokter Kelvin, apakah harus begini menyuruhku bersiap-siap?”


“Tentu saja, aku mau kau buat aku takjub dengan penampilanmu setelah sembuh.”


“Hohoho baiklah jika ini kemauanmu, aku turuti.”


Satu per satu kotak kado, ditarik ujung pitanya. Gaun panjang dengan hiasan permata, sepasang perhiasan berlian dan sepatu berhak sedang. “Cantik sekali,” Frayza terpana melihat gaun yang dibawakan oleh Dokter Kelvin tadi.


Selama berjam-jam ia sibuk bersolek didalam kamar. Entah sudah berapa kali Frayza memadu padankan riasan wajah dan rambutnya agat tampak elegan dan sopan. “Usiaku sudah tua, jadi kalau memakai riasan alami tidak cocok. Aku akan mencoba memakai riasan sedikit tebal saja.”


Dan terakhir, Frayza mencoba tetap tenang memakai sepatu berhak tinggi. “Fiuh, menjadi wanita memang sulit.” Tangannya bertumpu pada tembok agar tidak terjatuh. Setelah memantaskan penampilannya yang baru, Frayza menyemprotkan minyak aroma mint yang segar. Dan terakhir,ia menggerai rambutnya yang sudah panjang bergelombang pada ujungnya. Serta sudah merubah warna rambutnya menjadi merah kehitam-hitaman. Sangat cantik, Frayza benar-benar semakin cantik.


“Dokter Kelvin, apakah kau bisa membuka pintu kamarku?”


“Tentu saja,” klik, pintu akhirnya terbuka. Matanya melihat sepasang kaki mungil yang imut, lalu kakinya yang jenjang semampai menyelinap diantara belahan diatas lutut. Mamakai lengan buntung dan selendang bulu yang melingkar ditubuhnya. Frayza nampak mempesona dengan belahan dada yang agak kebawah, sehingga bagian indah itu menarik. Punggung mulus Frayza juga terekspose karena bagian belakangnya terbuka. Walaupun tertutup oleh gerai rambut panjangnya sepinggang.


“Apa aku terlalu menor?” menyelipkan anakan rambutnya kebelakang telinga.


“Aku, aku mau mengambil kunci mobilku dulu.” Wajahnya panas dingin kala Frayza muncul dengan perbedaan yang mencolok. Ia terus meraba dadanya yang was-was.


Setelah menunggu beberapa saat, Dokter Kelvin membawa Frayza keluar. Sepanjang perjalanannya menyetir mobil, Dokter Kelvin tidak bisa santai. Ia gugup dan grogi untuk memulai percakapannya. Sepertinya Dokter Kelvin mulai salah tingkah, karena kesehariannya. Frayza begitu berpenampilan cuek dan tomboi.


“Sayang sekali, aku tidak punya ponsel.”


“Kau belum butuhkan benda itu juga, kok.”


“Paling tidak aku kan bisa membawa tas kecil untuk aksesoris tambahan.”


“Oh iya, tas. Aku lupa, besok kita belanja kalau begitu.”


“Hemmb, tidak usah.”


“Kenapa?”


“Karena besok aku mau menyerahkan hasil rancanganku di rumah mode.”


“Aku antar ya, jangan naik bis.” Memberikan penawaran.


“Baiklah, besok lagi jam 7 kalau begitu.”


“Dan mengenai lukisanmu, apakah sudah ada yang minat membelinya?”


“Sepertinya akan aku titipkan di galeri seni saja, bagaimana menurutmu Dokter?”


“Itu bagus, aku akan mencari informasi tentang galeri seni.”


“Dokter Kelvin, entah bagaimana aku harus membalasamu.”


(Itu tidak sepadan dengan penderitaanmu, Fray. Syukur-syukur kita hidup seperti ini saja, aku sudah bahagia) gumam dalam hati Dokter Kelvin. “Jangan risaukan,” tutup Dokter Kelvin mengakhiri pembicaraan.


Tibalah mereka disebuah hotel berbintang 5, tangan Dokter Kelvin menggandeng erat frayza. Mereka berjalan beriringan seperti pasangan yang tengah berkencan.


“Makan ditempat begini sama seperti menghabiskan gajiku sebagai pelukis amatir selama sebulan ya?”


“Ini hadiah kok, jangan menilai dari harganya.”


Mereka memasuki restoran mewah ini dengan beberapa tamu ekslusif didalamnya. Karena Frayza pertama kali makan ditempat ini, banyak hal yang asing bagi dirinya.


“Itu meja kita.” Menunjukkan meja yang sudah dipesan.


“Kenapa ada tiga kursi, siapa satunya lagi. Dan sudah ada gelas terisi diatasnya, berarti sudah ada orang yang menunggu kita kan?”

__ADS_1


“Ayo, dia sudah menunggumu lama karena dandananmu.”


Mereka memesan makanan dan sedikit membahas kesehatan Frayza paska komanya. Dokter Kelvin mengatakan ada beberapa ingatannya yang hilang. Efek dari koma tersebut, dan terjadi sedikit trauma pada memori otaknya.


Sebuket bunga tiba-tiba muncul dari belakang, mengagetkannya. “Astagah, cantik sekali bunganya.”


“Teristimewa untukmu seorang,” pria memakai jas hitam menyapanya.


“Ramon?” kejut Frayza melihat Ramon datang.


Frayza langsung memeluk Ramon dengan erat, sehingga orang-orang yang berada didalam sana sedikit memperhatikan. Mereka berpelukan, setelah sekian lama. Akhirnya Ramon punya kesempatan untuk mengunjunginya. Selain sibuk urusan militernya. Ramon tengah mempersiapkan kenaikan pangkatnya.


“Eheemmmbb,” dehem Dokter Kelvin mencari perhatian. Lalu Frayza melepaskan pelukannya dan duduk dengan tenang.


Mereka bertiga makan bersama dengan tenang. Setelah selesai mereka mulai berbincang-bincang ringan. Sambil menikmati makanan penutupnya.


“Kenapa tidak langsung datang ke apartemen kami?”


“Aku sengaja mau membuat kejutan untukmu, bukan begitu Dokter Kelvin?”


“Hemmb,” mengangkat gelasnya.


“Aku sungguh tidak percaya kau kemari,” tambah Frayza.


“Aku memperoleh kabar dari Dokter Kelvin jika kau siuman, menjalani terapi dan sembuh.”


“Iya, Dokter Kelvin memanglah yang terbaik.” Memuji Dokter kesayangannya.


Mereka bertiga bernostalgia dan sedikit membicarakan perjalanan hidup mereka dimasa lalu. Tetapi, mereka sepakat untuk tidak menyebut nama Hikashi dan klannya. Karena bagi Ramon dan Dokter Kelvin, Hikashi tidak pernah ada. Mereka sudah bercerai secara sah, jadi artinya tidak ada ikatan lagi diantara mereka. Sekarang ini, kebahagian mereka ialah bisa saling mendukung karir masing-masing. Dan tidak menjadi agen bayaran.


“Aku dengar kau sudah banyak menghasilkan karya rancangan baju yang berkelas.”


“Siapa yang bilang?”


“Dia,” melirik Dokter Kelvin.


“Dokter Kelvin?” Frayza menatap Dokter Kelvin keheranan.


“Hehe maaf, aku menyakin karyamu dan diam-diam mengirimkan ke Ramon. Ternyata Ramon sepakat kepadaku, kami akan mengikutkanmu sekolah merancang busana.”


“Aku tidak bisa,” tolak Frayza.


“Ayolah Fray, ini tidak lama. Hanya beberapa bulan saja. Untuk mematangkan teori dasarnya, kay butuh guru pembimbing yang tepat.”


“Bagus, ini yang aku suka darimu. Mari bersulang.”


Ketiganya larut dalam pembahasan rencana Ramon untuk mengenalkan Frayza kepada Helena. Dia adalah pemilik rumah mode, merk terkenal dari Amerika. Yang rancangannya sudah sering dipakai oleh kalangan selebritis dan pesohor dunia. Beberapa negara sudah terdapat gerai butiknya.


Beberapa hari setelahnya, Frayza pergi bersama Ramon untuk menemui Helena di New York. Gedung pusat rumah mode Helena ini ada di pasar tengah hiburan dan bisnis. Semua orang yang bekerja di kantornya tampak sibuk.


“Kau harus terbiasa dengan suasana riuh disini. Karena memang, Helena adalah orang yang sangat sibuk.”


“Aku benar-benar takjub melihat tempat ini, mengesankan sekali.”


“Kau yang jauh mengesankan, disana Helena sedang menunggu kita.”


Ramon ditemui oleh sekertaris pribadi Helena. Seorang wanita berkulit hitam yang modia. “Silahkan masuk, Nona Helena sudah menunggu kalian.” Ketika pintu kantor Helena dibuka, seorang wanita berambut cepat dan beruban tengah melihat sketsa gambar.


“Helena,” sapa Ramon.


“Oh Ramon, selamat datang.” Mereka memberikan sapaan dengan mencium pipi.


“Ini adalah Frayza, sahabatku yang gambarnya ku kirimkan kepadamu.”


Helena melihat dengan teliti Frayza dari atas sampai bawah. Ia menilai penampilan Frayza saat ini,” Gadis ini memiliki selera berpakaian yang unik. Perkenalkan, namaku Hellzia Cazova panggil saja Helena.” Mereka saling berjabat tangan.


Frayza baru saja berjabat tenaga dengan Helena yang bertangan dingin didunia mode busana. “Aku sangat menyukai baju rancanganmu, mulai dari yang santai sampai reami. Aku suka semuanya, pelangganku sangat menyukai detil yang rumit. Maukah kau magang disini?”


“Apa?” Frayza menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


“Iya, aku menawarkan kau kerja magang ditempatku ini. Sebagai tim desain rancangan?”


“Hai, Helena langsung menawarimu pekerjaan. Ayo jawab.”


“Kenapa secepat ini?”


“Karena aku sudah lama mengagumi karyamu, Ramon menahanku. Karena kau sakit, jadi aku tidak bisa merekrut orang sakit.” Jelas Helena.


“Tapi, aku tidak memiliki latar belakang akademis dalam merancang busana.”


“Semuanya yang berada disini karena tangan dan cita rasa mereka yang menyatu. Lihatlah,” Helena memperlihatkan kerja tim yang kompak. Serta para pegawainya disana sangat cekatan dalam mengerjakan tugasnya.

__ADS_1


“Menakjubkan,” Frayza terperangah.


“Jadilah murid magangku jika perlu, maka akan ku warisi ilmuku.” Memegang pipi Frayza penuh keyakinan.


“Baiklah,” jawab Frayza mantap. Ramon mengacungkan dua jempol kepadanya.


Helena tersenyum dan memeluk Frayza sebagai tanda selamat bergabungnya dirumah mode rancangan Helena. Selesai bertamu dari kantor Helena, Ramon mengantar Frayza untuk berbelanja kebutuhan kerjanya. Ia sangat menikmati acara belanja ini dengan semangat. Saat jam makan siang tiba, Ramon mengajak mereka makam disebuah restoran Asia. Tak lupa Dokter Kelvin menyusul acara tersebut.


“Maaf, aku terlambat. Jalanan macet hehehe.” Ia duduk dengan tergesa-gesa dan membuka buku menu.


“Lupakan, kau pasti akan memesan makanan sehat kan. Aku sudah memerankannya.” Ramon menutup buku menu yang sudah hapal menu favorit sahabatnya.


“Dokter Kelvin, kemaren kau menjanjikan aku untuk mencarikan aku tas bukan?”


“Ah iya, aku lupa.”


“Tidak usah, aku tadi sudah membelinya bersama Ramon. Sebagai tanda terima kasihku karena merawatku. Tolong terima kado ini, persembahan tulus dariku.”


“Apa ini?” membuka tas yang berisi kotak kecil dan mantel. “Waw Bagus sekali mantelnya, dan jam tangan inikah sangat mewah.”


“Itu tidak seberapa daripada kau menjagaku selama ini. Entah seperti apa dulunya aku merepotkanmu, kedepan aku akan menjadi lebih sendiri.”


“Hai, kenapa kau bicara seolah kita akan berpisah.”


“Dokter Kelvin, tadi Ramon membawaku menemui Helen. Dan dia merekrutku untuk magang disana. Dan untuk memantau bakatku, Helena ingin aku tinggal bersamanya.”


“Jadi, kau akan tinggal dengan Helena?”


“Helena sangat menyukai Frayza, jadi ia ingin Frayza selalu berada didekatnya. Karena aku kenal Helena sudah lama, dia adalah perancang busana yang penuh misteri. Ketika dia menentukan pilihan, pasti ada hal menarik darinya.” Imbuh Ramon.


“Jadi, ini seperti perayaan perpisahan kita tinggal bersama ya?”


“Iya hihihihi.” Frayza menjawab dengan polos sambil tersenyum.


“Kau sudah lama membujang, bawalah teman wanitamu pulang kerumah. Jangan lagi membawanya ke hotel, itu menghabiskan uang saja.” Sindir Ramon.


“Hisss bisa saja kau,” kesal disindir Ramon.


“Apa, ternyata selama ini Dokter Kelvin diam-diam berkencan rahasia ya. Haduh, betapa aku merepotkanmu selama ini. Aku minta maaf ya, karena aku terlalu lama tinggal bersamamu. Kau jadi tidak leluasa menjalani kehidupan pribadimu.” Tutur Frayza merasa bersalah.


“Ah kalian ini bicara apasih, ngawur semua. Ayo kita rayakan perpisahan kita hari ini. Nanti malam aku akan pulang cepat untuk membantumu mengemasi barang.”


“Oh tidak usah, kau bekerja saja dan lanjutkan kencanmu. Ada Ramon semuanya beres.”


“Beritahu pacarmu kalau pasienmu sudah sembuh, kalian bisa memulai kehidupan yang baru. Aku akan mengurus Frayza, sekarang tugasmu sudah selesai.”


Dokter Kelvin merasa sedih ketika tahu Frayza akan pindah tempat tinggal. Selama ini dia sudah terbiasa dengan keberadaan Frayza, mulai dari masakannya sampai kebiasaan Frayza dirumahnya. Semuanya itu akan menjadi kenangan, karena Frayza sudah sembuh dan harus melanjutkan hidupnya.


Setelah makan siang bersama, Dokter Kelvin kembali ke rumah sakit tempat ia bekerja. Dan Ramon mengantar Frayza pulang untuk mengemasi barang-barangnya. “Hampir setahun ini aku disini,” memperhatikan huniannya.


“Kau akan memulai hidup baru,” potong Ramon.


“Benar, dengan memiliki penghasilan dan pekerjaan tetap. Aku pasti bisa membiayai hidupku dan Seven.” Menyebut putranya.


“Putramu tumbuh dengan baik, dia diasuh oleh Bibi Fang yang baik.”


“Aku sangat merindukannya hiks hiks hiks.” Memeluk photo bayi Seven.


“Kau akan segera menemui setelah urusanmu disini selesai. Ayo kita berangkat.”


Perjalanan karir Frayza akan segera dimulai dari Helena. Seorang wanita paruh baya yang memilih hidup melajang. Ia tinggal disebuah rumah yang mewah dan besar. Memiliki banyak pelayan yang siap membantunya. Ketika masuk dihalaman rumah Helena, Ramon disambut baik oleh pengurus rumah Bibi Claudia. Wanita ini berperawakan semampai dan kurus. Rambutnya disanggul dan wajahnya kaku.


“Selamat datang di kediaman Nyonya Helena.” Begitu ia menyambut kedatangan Ramon dan Frayza.


“Terimakasih Claudia, dia adalah tamu istimewa Helena.”


“Selamat datang Nona, perkenalkan namanya saya Claudia.”


“Nama saya, Frayza. Senang berkenalan dengan anda.”


Ramon sudah akrab dengan penghuni rumah Helena. Bahkan Claudia sudah tidak sungkan dengan Ramon. Karena Ramon adalah sahabat dari Helena, mereka sudah selayaknya keluarga.


Beberapa hari Ramon menemani Frayza di Amerika, sudah saatnya dia kembali ke Thailand untuk mengurus pekerjaannya. “Sekarang, Helena akan menjagamu. Jadi tolong, bekerjalah dengan baik ya.” Ramon menasehati Frayza ketika berada di Bandara akan terbang.


“Iya, aku janji akan bersungguh-sungguh. Semoga selamat sampai tujuan ya.”


“Sampai berjumlah kembali, Frayza.” Melambaikan tangannya.


Setelah Ramon kembali ke Thailan dan meneruskan karir militernya. Frayza mulai menyibukkan diri untuk memperdalam ilmunya. Ketika dikantor ia menjadi tim perancang busana. Dan saat Helena dirumah, Frayza menjadi asisten pribadinya. Jadi semua pekerjaan Helena sudah ia pelajari. Helena sangat menyukai kepribadian Frayza yang hangat dan tenang. Selama ini dia memang bersikap dingin dan arogan, tapi kesabaran Frayzalah yang membuatnya luluh.


“Besok kau wakili aku meninjau kesiapan pameran tahunan.”

__ADS_1


“Tapi, karyawan lain yang lebih kompeten dariku banyak.”


“Aku sudah memilihmu, jadi kau yang berangkat. Bawalah tiket undangan ini, dan pakailah baju yang terbaik.” Begitulah pesan Helena ketika pertama kalinya Frayza menghadiri acara penting. Sejak saat itu, Frayza menjadi wakil Helena yang sering menghadiri acara-acara penting. Tak jarang dirinya terekspos di pemberitaan sebagai wajah baru dunia fashion.


__ADS_2