TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
BIAR AKU SAJA YANG KERJAKAN


__ADS_3

Suara bergemuruh dari dapur membuat telinga penghuni rumah terganggu.


“Sayang, apa kau perlu bantuan?”


“Tidak Sayang, kau tenang saja.”


“Apa kau yakin!” teriak Frayza lagi.


“Mama, apa tidak sebaiknya kau melihat Papa. Aku akan menjaga Seven disini.”


“Papamu bilang tidak ada masalah, artinya sekarang Papamu sedang berusaha keras untuk membuatkan sarapan.”


Cisss... Api langsung menjalar diwajan teflon yang kepanasan. Karena Hikashi panik, ia menyentuh bagian enamelnya. “Jiaaaaa panasss panaaassss! “ terpekik kesakitan.


Blummm api membesar membakar telur dadar. Bluuuurrrrrr spprrrooootttt, menyemprot apar dengan sigap.


“Aihhu panasss... Panasss...” pria itu meringkuk ketakutan melihat api membakar kompornya.


“Sudah padam, tidak apa-apa Suamiku.” Menepuk pundak suaminya yang meringkuk.


“Fray!” memeluk istrinya erat-erat.


Swooosshhhhhh!!! Keran air mengeluarkan air karena asap kebakaran. Mereka berdua basah kuyup didapur.


“Mama, ada apa dengan bajumu?”


“Bajuku?” usai mengganti bajunya yang basah dengan kaos.


“Hikashiiii, apakah kau yang mencuci bajuku?!”


“Embbb,” mengatupkan kedua jarinya ketakutan.


“Ckh, ayo Seven kita pergi ke halaman belakang.” Menarik apolo adiknya untuk menghindari percekcokan dipa


Frayza melihat tumpukan baju yang tercampur didalam mesing cuci. Semua baju kelunturan, sehingga warnanya sudah seperti pelangi.


Kejadian ini bukan sepenuhnya salah Hikashi. Karena sejak dalam bayi pria itu terlahir sebagai pangeran. Semua kebutuhannya dilayani pelayan khusus. Dirinya meredam emosinya, menarik dalam-dalam udara masuk ke paru-paru.


“Mulai sekarang, biar tugas memasak dan mencuci aku saja yang kerjakan.” Berbalik badan.


“Ssssa-sayang, itumu terbuka.”


“Apa?” meraba resleting belakang roknya.


“Naik lagi, itu punyamu tampak.” Gagap.


“Hah apasih.” Meraba-raba mencari tahu apa yang dimaksut.


Kenapa tangannya merasa sangat hangat ketika menyentuh bagian punggung? Dia mencari cermin, dan membelakanginya.


“Tidakkkkkkkkk.”


Suara Frayza benar-benar keras sampai terdengar dihalaman belakang.


“Lebih baik kau dengarkan musik saja.” Menyumpal telinga Seven dengn alat pendengaran.


“Hambbbbbrrrrrssss hammbbberrrsss.” Bayi itu berceloteh seperti mengikuti suara musik yang didengarnya.


Kembali kedalam rumah lagi. Frayza mengeluarkan seluruh isi cucian. Ternyata baju Jade dan Seven tak lupun juga. Bahkan seragam sekolah Jade jadi korban juga.


“Sayang, maafkan aku.”


“....” terus mengorek baju-baju yang teronggok.

__ADS_1


“Sayang, biar aku cuci lagi bajunya. Dan membawanya ke binatu.”


“Tidak! Tidak usah!”


“Tapi Sayang, ini semua salahku. Seharusnya aku...”


“....” frayza menciba berpikir jernih agar hatinya tidak ikut kalut. Wajah Hikashi penuh dengan penyesalan yang amat dalam.


Hikashi pergi meninggalkan ruang binatu dan menyusul ke halaman belakang. Ia menanggalkan celemek yang dipakainya sebagai baju dinas.


“Papa hampir saja membuat kami menjadi gelandangan.”


“Maaf,” menunduk sesal.


“Papa sudah merusak baju kami seperti gembel.”


“Iya, Papa minta maaf.”


“Sekarang Mama sibuk mengurus kekacauan. Lalu kanapa Papa berada disini?”


“Diamlah Jade,” meringkuk. Matanya menatap kedua kakinya.


“Coba saja jika Papa bekerja saja, mungkin sekarang Mama dirumah mengurus kami dengan baik huh.”


“Bekerja?”


“Iya, ketika Papa bekerja kehidupan kami pasti tidak seperti sekarang sulitnya. Kasihan Mama, harus bekerja dan mengurus rumah. Dia pasti lelah.”


Keduanya melihat Frayza sibuk seorang diri membereskan rumah. Wanita itu hanya diam saja memegang alat kebersihan. Ia tidak mengomel atau mengeluh sedikitpun. Malah sesekali melemparkan senyuman kepada Hikashi.


“Apakah dia akan mengusir Papa?”


“Tidak, Mama bukan orang sekejam itu. Waktu Papa berada di kantor Polisi ia bahkan memperlakukan Paman Andreas dengan baik. Walaupun sebenarnya haru aku akui jika Paman Andreas lebih cocok jika bersama Mama.”


“Aku bukan orang selemah ini!” ia bangkit dan masuk kedalam rumah lagi.


“Papa mau kamana? Jangan membuat kekacauan lagi!” Jade memperingatkan ayahnya.


Tangannya merebut kain lap dari tangan Frayza. Ia menggosok lantai agar tidak licin. Lalu ia memasukkan pakaian kelunturan kedalam kantong binatu.


“Hari ini aku akan ke binatu untuk membersihkan baju keluarga kita. Dan belilah beberapa potong baju untuk kalian.”


“Tapi... Bagaimana denganmu?”


“Serahkan urusan rumah kepadaku, jangan meremehkanku.”


“Eheeemmbb, Papa kau tidak cemburu kan karena aku menyebut nama Paman Andreas?”


Ngoing, rasanya kepala Hikashi kejatuhan berat puluhan ton menimpanya. Bukan main malunya.


“Jade, hari ini kau bolos sekolah. Aku akan telepon wali kelasmu untuk meminta ijin.”


“Sayang, jangan berlebihan. Jade masih bisa berangkat sekolah memakai baju bebas.”


“Sudah ku putuskan, hari ini kalian pergilan berbelanja dan makan keluar. Biar Papa membereskan pekerjaan rumah. Dan ingat jangan kembali kerumah sebelum aku menyuruh kalian. Kalau perlu menginaplah diHotel!”


“Sayang, aku tidak marah kepadamu kenapa kau menjadi sangat sensitif seperti ini?”


“Tidak! Aku tidak marah, aku hanya merasa rendah menjadi suami dan ayah. Masalah pekerjaan rumah tangga ini harus segera aku kuasai!”


“Apa Papa menyuruh kami pindah tempat tinggal lalu meledakkan rumah ini?”


“Kau bicara apa Jade, Papamu tidak akan sampai sebegitunya.”

__ADS_1


“Apakah Mama lupa, papa menyalakan keran air dibak mandi hingga meluber. Papa juga lupa menutup jendela sampai larut malam. Bahkan Papa tidak membuang popok bekas Seven, tapi meletakkannya di pojokan. Papa bahkan tidak tahu cara memanggang roti atau membedakan susu dan tepung. Apakah Mama mau percayakan rumah ini kepada Papa?”


“Ya ampun Jade, kau terlalu menyepelekan aku!” Hikashi ngos-ngosan.


“Papa tidak lihai dalam mengurus rumah, sebaiknya Papa bekerja saja.”


“Jade! Aku adalah pemimpin keluarga ini. Jadi Papa berhak melakukan apapun yang ku hendaki.”


“Sayang, kau jangan bicara kasar. Dia hanya mengungkapkan pendapatnya saja. Kan selama ini aku memaklumi. Kecerobohanmu.”


“Istriku, tapi aku mau menjadi sosok yang berguna bagi keluarga kecil kita.”


“Aku hargai pengorbananmu Suamiku, maafkan aku ya jika sudah membuatmu tertekan.”


“Mama, kapan kita pergi?” potong Jade lagi.


“Pergilah bersama Jade dan Seven, kalian nikmatilah waktu bersenang-senang. Sementara itu aku akan membereskan kekacauan ini.”


Akhirnya mereka bertiga meninggalkan rumah dan menginap disebuah Hotel. Mereka makan dengan baik hidangan yang disajikan. Setelah selesai mereka pergi ke pusat perbelanjaan membeli pakaian. Karena baju mereka sudah koyak. Dan luntuk warnanya, tidak pantas dipakai kecuali menjadi lap.


“Jade, bangun Nak.”


Mengerjapkan matanya, melihat jam sudah pukul 12 dini hari.


“Kita harus pulang Nak, Papamu baru saja menelepon.”


“Tapi aku sudah mengantuk Mama. Kita pulang besok?”


“Tidak bisa Nak, adikmu Seven sudah rewel. Mungkin Seven sudah terbiasa bersama Papamu.”


“Huh Seven yang Malang, kenapa dia harus rindu Papa.”


Frayza tersenyum melihat Jade merapikan barang bawaannya. Mereka pulang ke kediaman dengan naik taksi. Sepanjang perjalanan pulang Jade kepikiran, sudah menjadi apa rumahnya kini. Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan tidurnya kembali. Semoga ia siap mental melihat kondisi rumahnya yang benar-benar sudah ditebak.


“Hah!”


“Hahhhhh apa?”


“Haemmmmbbb bbbbrrrrr!”


“Selamat datang dirumah keluarga Alexander.” Hikashi menyambut ramah anggota keluarganya.


“Sayang, kenapa dengan rumah kita?”


“Ah tidak apa-apa, sekarang kau berikan Seven kepadaku.”


“Papa, kau tidak membayar orang bukan?”


“Jade, kau bisa lihat tangan Papamu ini yang penuh dengan plester!”


“Owh aku pikir.” Menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Sedangkan Frayza pergi meletakkan barang belanjaannya. Setelah berganti baju tidur, ia membentangkan kasur lantai. Ia merapikan bantar dan selimut. Saatnya tidur dan meraih mimpi.


“Apakah Jade sudah tidur?”


“Sudah, bocah itu tidur dengan tenang tanpa hambatan.”


“Baguslah, sekarang giliran Seven tidur.” Menurunkan kancing bajunya.


“Haiiitt haitt kau mau apa ?”


“Menyusui Seven agar lelap tidurnya.”

__ADS_1


“Sudah aku beri makan susu formula, ini jatahku!” ia langsung menyambar jatah asi untuk anaknya. Dasar Hikashi mesum! tidak mau mengalah.


__ADS_2