
Hari ini Ramon sengaja bangun lebih awal, dia memilih mengenakan baju yang paling cocok untuk dikenakan. Krrruuuuuukkk... Perutnya sudah kelaparan. Tercium aroma masakan yang lezat menusuk lubang hidungnya.
“Aroma ini menggiurkan.” Air liurnya menetes.
Frayza yang memasak di dapur mengenakan celemek warna putih. Sedang sibuk mempersiapkan hidangan untuk mereka sarapan.
“Apa kau akan pergi sepagi ini?”
“Emmb, iya.”
“Sarapanlah dahulu, jika kau mau.”
“Aku tidak kenyang, eh lapar.”
“Baiklah kalau kau kenyang, aku akan membungkusi saja makanan ini.” Ramon tertawa dalam hati kecilnya karena masakannya dimasukkan ke dalam kotak makan.
“Kenapa kau memasukkan semuanya, lihatlah kotaknya sudah berapa susun. Aku kerepotan nanti membawanya.”
“Apa maksutmu?”
“Ya maksutku, masakanmu tidak enak rasanya hambar bagaikan air tawar. Jangan bawakan banyak-banyak, aku tidak sanggup menghabiskannya. Cukup nasi putih saja, aku tidak mau perutku mulas makan masakanmu.” Gaya jual mahalnya sudah melewati urat malu.
“Hemmmbbb... Hemmmbb, aku menyiapkan hidangan ini bukan untukmu. Jika kau ingin nasinya, bungkus saja sendiri. Daaaaa.” Ramon sudah besar kepala jika makanan itu untuk dirinya.
“Hai kau wanita! Aku pemilik Villa ini, semua yang ada didalam isinya milikku. Apa lau tidak tahu balas Budi dengan memasakkan aku untuk sarapan?”
“Heeessssss...mulut siapa yang bilang tadi kalau tidak lapar, mulut siapa lagi yang bilang kalau masakannku tidak enak. Perut siapa yang suka sakit kalau makan masakanku?”
“Kau... Kau... Kenapa lebih galak dari aku, aku kan hanya mengingatkanmu saja. Tapi kenapa kau membentak pemilik rumah...”
“Dan kau, juga lupa bahwa selama ini akulah yang mencuci baju kotormu, merapikan kamar tidurmu, menyikat kamar mandi, memberi makan ikan cupangmu. Hayoo apa lagi!” Frayza menekuk kedua lengannya di pinggang.
“Iyaaa, kau yang melakukannya. Kau serba bisa, aku serba berantakan, bahkan rumah ini tidak akan rapi. Dapur ini tidak bersih tanpa dirimu, dan ikan-ikanku akan mati kelaparan jika bukan kau yang mengasuhnya. Tapi kau-kau harus tahu, bahwa tanggungjawabmu bukan itu melulu. Aku adalah temanmu, dan kita hidup seatap seharusnya kau bersimpati dan tenggang rasa. Apa perlu aku buat petisi berbunyi ‘badan kurus kurang perhatian dan makan’ begitu?”
“Haiii kau Raja Ikan ******, tidak bisakah kau berpikir kalau tanganku ini kasar. Dan rambutku kusut begini, lihat kulitku ini yang kusam karena memakai sabun yang murahan. Jika kau tahu kerugianku ini, pasti Dokter Kelvin akan menuntutmu telah merusak Maha Karyanya. Kau mau dlberurusan dengan dia lagi?”
“Aku tidak takut dengan siapapun, apalagi Dokter gadungan macam dia. Dia hanya Dokter yang mempunyai hobi wanita. Huh apa itu, hobi kok melukis. Memalukan saja hehehehehe.” Ramon petentang petentengan melawan Frayza.
“Baik, kau tidak takut apapun bukan. Kalau begitu kau tidak boleh takut kelaparan selama sebulan, karena aku akan beli bahan sendiri dan masak sendiri. Jika kau masih menggangguku lago mengatakan kalau aku tidak tahu balas budi, karena kau sudah berucap tak akan takut oleh apapun.” Ramon mengunci rapat mulutnya.
Usai perselisihan di dapur, kotak makanan diletakkan di meja makan. Sedangkan Frayza manda dan berdandan yang pas. Celana panjang dan jaket kupluk menjadi andalannya.
“Enak saja dia mau mengancamku, aku tidak akan takut apa pun. Berani-beraninya dia mengancamku terhadap lapar, huh dasar wanita tidak mau mengalah.” Dengan iseng tangannya membuka kota makanan dan mulai menyantapnya dengan rakus. Khawatir jika Frayza keluar melihat kelakuan usilnya. “Aaaarrrrggghhhh, kenyang sekali.” Seluruh isi kotak bekal itu menjadi kosong lagi persis seolah tak ada tanda-tanda masakan yang tertinggal. Lalu dia segera keluar Villa untuk memanaskan mobilnya.
Frayza yang sudah siap berangkat itu kaget seketika melihat bekal makanan yang ia buat susah payah sudah dibongkar dan habis isinya. Tidak mungkin juga dia mengais sisa makanan di alat memasak yang masih tersisa. Padahal bekal makanan ini disiapkan untuk Julian. Namun, waktunya sudah mepet bilan ditunda lagi untuk pergi.
“Haiisss, benar-benar aku memberi makan gajah. Rakuanya minta ampun, katanya tidak nafsu makan kenapa dilahap habis semua. Dan parahnya ini. Wadahnya tidak dicuci dibiarkan begitu saja berantakan. Benar-benar lelaki tidak punya etika sama sekali. Ckckckckck hemmmbb Ramon-Ramon. Bilangnya tidak suka, tidak sudi tapi nyatanya dilahap habis semua. Untuk wadahnya dari plastik, coba kalau dari tepung. Sudah habis juga sampai tak bersisa, benar-benar keterlaluan.”
Didepan Villa sudah berdiri seorang pria yang sedang tersenyum cerah ceria dipagi hari. Dia bersandar pada mobilnya dan memakai kacamata. Memasang senyumannya seolah tak berdosa di pagi hari ini.
Takkk, Frayza mendang kaki Ramon. “Hatahhh... Hatahhh... Hatahhh.”
“Rasakan!”
“Hai kau mau kemana?”
__ADS_1
“Bukan urusanmu, ini adalah urusanku.”
“Hai, aku ikut urusanmu biar kau mengurusku juga.” Mengejar Frayza yanh hendak pergi memaki kendaraan roda dua.
“Ah, gini baru mantap.” Sudah membonceng di belakang memeluk erat pinggang ramping Frayza.
“HHHAAAAA geli, turunnnn.” Gadis itu menggeliat kegelian dengan perlakuan Ramon.
“Ayo bawa aku kemana saja kau mau,” dia berbisik lembut di daun telinga Frayza dan menyandarkan kepala dipundak Frayza.
“Hissss sok manja sekali, kebanyakan micin ya otakmu geser?”
“Jalan, menuju bahagia atau masa depan asal bersama mu aku mau.” Ramon tak mengindahkan Frayza sedikitpun.
Kemana tujuan Frayza sebenarnya sudah bisa ditebak, yaitu di Rumah sakit bersalin. Nimas beberapa kali merasakan kontraksi dalam perutnya. Tampak Julian memegangi perut buncit Nimas yang mulai kesakitan.
“Sepertinya adikmu sudah mencintai wanita itu, sikapnya seperti suami dan calon ayah yang baik.”
Jiiittttt...menginjak kaki Ramon agar diam tidak memberikan komentar. “Bicara lagi, akan aku usir dari Villa.” Ancam Frayza.
“Ahhhh... Iyayaya kapok tidak banyak bicara lagi.” Akhirnya Ramon mengikuti kemauan Frayza.
“Coba cari tahu, kenapa wanita itu belum ditangani Dokter?” Ramon mengangguk dan menggali-gali informasi sebanyak-banyaknya tentang Nimas.
Ternyata dari keterangan perawat disimpulkan bahwa Nimas ingin melahirkan normal saja. Selain itu, Julian juga tidak memiliki uang kontan, semuanya masih dalam bentuk barang dan kargo paket yang dikirimkan. Nimas, selama inilah yang menjadi beban hidup Julian.
“Benar-benar wanita tidak tahu malu!” Frayza geram adiknya diperlakukan seperti budak cinta.
“Aku sudah membayar biaya operasi dan paska operasi wanita itu, jadi paramedis sedang menyiapkan operasi untuknya. Bersiaplah, sebentar lagi kau akan menjadi Bibi tua Frayza hahahahaha.”
“Fray, kenapa kau marahi aku. Aku adalah seorang pria yang patut diacungi empat jempol. Ada wanita yang aku tampung hidupnya, adik iparnya mau lahiran aku biayai semuanya. Masih kau mengejekku?”
“Aku tidak menyuruhmu bodoooooh!”
“Kau tuli ya, apa jangan-jangan telingamu memang benar-benar sudah perlu dikorek lagi ke Dokter biar bersih heh!”
“Siapa yang menyuruhmu melakukan itu, aku tidak menyuruhmu untuk mengeluarkan uang untuk wanita yang tidak mengandung darah dagingnya adikku!” Frayza marah kepada Ramon.
“Ups... Apa?”
“Iya, kau sudah pikun apa jangan-jangan idiot? Aku baru saja bicara tapo kau hanya bilang ‘Apa’, makanya pergilah ke Antariksa belajar lagi ilmu kehidupan.”
“Frayza, aku temui wanita itu usai melahirkan. Dan kau alihkan adikmu yang bodoh itu agar sibuk dengan dirimu. Kita akan urus wanita tikus itu agar kembali ke habitatnya.”
“Dia manusia, bukan tikus ataupun binatang lainnya. Sekalipun perbuatannya salah, aku juga menyalahkan adikku kenapa dia begitu bodoh menerima wanita yang merugikan hidup dan masa depannya. Sejak kecil baik Franda maupun Julian, mereka menjadi prioritas orang tuaku. Aku tidak mau jika adikku berakhir menjadi pria biasa dan tak berguna.”
“Baik, aku mengerti sekarang. Setidaknya kau masih punya pria yang bisa diandalkan dan bertanggungjawab sepertiku ini.” Mencoba mencuri kesempatan untuk memeluk Frayza.
“Jangan meletakkan tanganmu dibahuku!”frayza tahu akal-akalannya Ramon yang curi kesempatan.
“Ups aku pikir kau sandaran kursi, habisnya sih nyaman.”
“Senyaman sinar matahari pagi dan slip gaji bukan hehehe.”
“Males aku, malessss kalau bahas uang lagi. Apa kau tahu, aku ini adalah pria yang sangat diidam-idamkan. Bayangkan saja ummmbbb... Umbbb.” Tangan frayza membungkam mulut Ramon yang mulai nyerocos.
__ADS_1
Operasi berjalan lancar, bayinya terlahir sempurna. Dan ibunya selamat, sekarang beristirahat untuk masa pemulihan kembali. Ketika tahu ada orang yang membayar biaya kelahirannya, Namira tersentuh dan tak percaya ada yang mau mengulurkan tangan.
“Ibu Namira, beliau yang membayar tagihan rumah sakit anda ingin bertemu.”
“Si-silahkan, Sus.” Tenaga Namira sudah kembali pulih ketika hendak dijumpai orang yang berhati malaikat itu.
Dengan gaya sok kerennya, Ramon masuk dan langsung berdiri dengan mentereng. Namira yang dasarnya lupa habis lahiran tersihir oleh gaya Ramon yang sok asik.
“Tuan, terimakasih ya sudah menolongku. Memang benar aku memiliki pria yang miskin, tapi dia baik. Maka, aku menerimanya sebagai pasanganku. Entah apa jadinya kalau tanpa Tuan, mungkin aku bisa mati kesakitan mau melahirkan hehehe.”
“Tidak perlu ganjen-ganjen ria, biasa sajalah. Kayak orang menjilat ludah sendiri, kau itu yang seharusnya bersyukur. Menjebak lelaki polos untuk kepentinganmu. Kau bisa menyakinkan dia bahwa bayimu adalah darah dagingnya. Tapi kau lihat ini, hasil tes darah mereka sudah keluar dan jeng-jeng. Hasilnya tidak cocok hahaha, sebentar lagi hasil tes DNA dan RNA akan menyusul. Carilah uang dengan tekun, karena aku akan memasukkan gugatan di pengadilan.”
“Penjahat apa kau ini!” menggerakkan giginya.
“Sssstttt, aku ini orang baik dan peritungan ya. Jangan sampai aku menambahkan pasal-pasal dalam penggugatanku. Ingat, kemana aliran uang yang selama ini kau larikan aku sudah tahu semuanya. Lekas sembuh ya, biar aku bisa menyakitimu lebih dari kontraksi dan operasi. Cau...”
Sakit yang dirasakan ditubuhnya masih ia tahan, tapi sakitnya ditekan mental membuat Nimas ingin menjadi gila. Gara-gara keserakahannya ingin memiliku Julian dan mengeruk harta James. Kini Nimas menuai karma yang begitu cepat. Sedangkan dirinya kini bermain solo, Wayan yang sudah ditendang dalam hidupnya sudah menghilang karena sakit hati dicampakkan.
“Bagaimana ini, kepalaku pusing.” Nimas sangat kacau memikirkan nasibnya setelah ini, padahal dia baru saja melahirkan dan masa pemulihan.
*
*
*
Dengan alih-alih komplen barang yang dipesannya, Frayza menemui Julian dengan wajah yang penuh kekecewaan.
“Baiklah Nona, saya akan mengganti dengan yang baru. Saya jamin hal serupa tidak akan terjadi lagi.”
“Baiklah kalau begitu, oh iya. Tempo hari siapa itu wanita yang hamil, meninggalkan ponselnya dirumahku. Aku kembalikan kepadamu ya.”
“Oh iya, terimakasih Nona. Dia memang ceroboh sejak hamil, harap maklum.”
“Tak apa, aku mengerti. Tapi ponselnya berdering terus, sepertinya kau mengkhawatirkannya. Ada banyak pesan masuk sepertinya, sampai-sampai batrenya lemah. Kalau begitu aku permisi pulang. Mengenai ganti rugi barang yang salah jangan pikirkan lagi, aku tidak memintanya. Cukup kembalikan uangnya saja, aku mau berpikir lagi bila ingin membeli barang disini.” Frayza sengaja mengkloning data dari ponsel Nimas dan menyadapnya. Dia sengaja melakukan ini untuk memancing rasa penasaran Julian kepada kekasihnya.
Sebagai saudara paling tua, naluri orang tua Frayza untuk menjaga dan melindungi adiknya adalah tugasnya. Dia inginkan hal yang terbaik untuk Julian dimasa yang akan datang.
*
*
*
JEPANG,
Laporan transaksi keuangan dari kartu Ramon dan Fred terlacak oleh Matsumoto. Setelah mengetahui ternyata mereka kabur di Negara yang sama.
“Apakah Ramon memiliki wanita? Apakah wanita yang melahirkan ini gadis yang kabur pada malam itu?” Hikashi berpikir keras melihat data laporan keuangan.
“Dan ternyata Agen Fred sudah melakukan kegiatan operasi ilegal. Akhir-akhir ini dia banyak melakukan kegiatan belanja, seprtinya juga dia memiliki wanita juga Tuan Hikashi.”
“Tangkap gadis itu, aku mau Fred yang menjemput kekasihnya kemari. Jadikan umpan kalau perlu, berani-beraninya dia mengencani wanita lain!” Hikashi cemburu dengan sosok wanita yang dikencani Fred.
Terimakasih pembacaku, jangan lupa tap hati dan kirim vote untuk novel ini. Semoga kalian selalu sehat dan bahagia
__ADS_1