
“Aasshhhh nyerii sekali ya Tuhan, aku ini seperti memiliki 3 suami hishhh.” Kewanitaannya terasa linu dan kebas.
“Aku gendong saja, berjalan saja terseok-seok.” Membopong istrinya untuk berganti baju bersama.
“Aku bisa pakai baju sendiri.” Menutup area dadanya.
“Kau hanya boleh mengenakan baju yang aku suka!”
“Itu terlalu terbuka.”
“Selama setahun kau memakai baju kerja, membuatku merasa hidup dengan sekertaris Kim Min Soo.”
“Dan kau tidak selembut Park Seo Joon!”
“Setidaknya alisku tidak sulam!”
“Kau brutal dikamar!”
“Garang diranjang!” jawab Hikashi slengekan. Ia memakaikan gaun warna putih panjang tanpa lengan.
“Kenapa makai baju Bagus? Biasanya aku hanya memakai kaos dan celana kolor?”
“Disini kau tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Rumahku sudah banyak pelayan, istriku hanya perlu menyenangkan punyaku!”
Nyuuttt... Frayza mencubit paha Hikashi. “Auwhh sakit Sayang!” meringis.
“Punyamu brutal, membuatku susah berjalan!”
“Ada kursi roda, kau tak perlu repot berjalan.”
“Jangan bercanda, aku tidak sakit.”
Slenbb, tangan Hikashi menerobos segita berenda.”Awhhh sakit!” rintihnya.
“Sakit kan, makanya jangan sol kuat. Digendot 3 ronde saja protes.”
“Itu tadi pagi, yang tadi malam tidak kau hitung?”
“Aku mana bisa menghitungnya dengan jelas. Kau selalu merintih, menjambak rambutku. Belum lagi kau menggigiti leherku, lihat!”
“Hah!”
Plakkk... Memukul bokong istrinya yang sewotan.” Terima saja Sayang, aku kecanduan jepitanmu. Auwhh Hikashi... Ini sangat nikmatt... Teruss... Lebih cepat lagi, aku sudah tidak tahan! Aku mau keluar hahahah.” Menirukan gaya Frayza saat bercinta.
Patrick yang sudah membawa kursi roda ini tersenyum. Melihat Hikashi menggoda istrinya.
“Selat pagi Nyonya Alexander, silahkan duduk dikursi roda.” Serius ini pakai kursi roda. Tapi nyatanya Patrick memang membawanya sampai ke kamar.
“Duduklah Sayang, jangan khawatir. Seminggu kedepan aku tidak akan masuk kesana.”
“Hikashiiii!!!” menutup kedua telinganya karena ucapan cabul suaminya.
“Hahahaha lihatlah dia Patrick, lucu sekali bukan.” Mengusap bibirnya dengan jari telunjuk.
“Anda sudah membuatnya tak berdaya.”
“Karena dia tidak memberiku jatah. Para hanya lagi, dia cemburu karena aku dekat mantan Bintang film dewasa.”
“Anda seharusnya tahu, jika tidak ada wanita yang sudi berbagi pria yang ia cintai. Kepada siapapun itu!”
“Apa kau bilang?” Hikashi berhenti memakai dasinya mendengar pembelaan dari Patrick.
“Dia tidak akan tahu hal itu menyakitiku hatiku Patrcik. Ayo kita keluar saja!” ungkapan hatinya sudah dikatakan secara langsung oleh kepala pelayan.
Dirinya duduk lemas, seharusnya Frayza tidak perlu cemburu dengan Dannis. Karena dirinya hanya berteman saja, tidak lebih.
Usai sarapan, Frayza membaca buku di perpustakaan. Terhampar meja panjang dan lebar. Yang sangat nyaman digunakan untuk membaca buku. Frayza sangat menyukai buku seni dan kerajinan.
“Sayang, dapatkah kita bicara serius.”
“Tidak!” menutup buku bacaannya.
“Fray, apa kau takut aku jatuh hati kepada dannis?”
__ADS_1
“Kau sudah tahu, untuk apa kita membahasnya. Lagipula aku juga sudah meretas ponselmu. Jadi kedekatan kalian seperti orang yang mabuk Asmara. Seolah kau pria lajang yang bebas. Padahal aku banting tulang demi keluarga. Sekarang kau menculikku, dan memperkosaku. Tidakkah kau lupa, jika Dannis ingin kau setubuhi juga!”
“Sssa-sayang jangan bicara begitu, aku tidak tahu jika pertemananmu menjerumuskanku terlalu jauh.” Menangkup wajah Frayza yang mulai memerah.
“Aku membencimu Hikashi!”
“Aku mencintaimu Fray! Sungguh aku tidak berminat bercinta atau berpikir mencari penggantimu. Itu karena kami sama-sama memiliki tujuan yang sama.”
“Awal dari perselingkuhan itu bermula dari ketidak sengajaan. Akhirnya timbul rasa nyaman karena cocok dan terbiasa. Kau lebih buruk dari Frank!”
“Jangan sebut mantan pacarmu itu dihadapanku. Kau seribu kali lebih baii darinya!”
“Kalian sama-sama pria yang mudah tergoda dan menyepelekan aku!”
“Frayza jaga ucapanmu Sayang. Bukan berarti aku tidak bisa berbuat kasar kepadamu!”
“Kenapa? Kau ingin menamparku, tamparlah!” daripada hatinya yang sakit saat melihat pesan-pesan dari Dannis. Lebih baik sakit badannya yang bisa hilang rasanya.
“Sayang, detik itu juga aku putuskan untuk keluar dari pekerjaanku. Dan memilih bekerja seperti dahulu. Sekarang kita tidak perlu bersusah payah lagi. Kekayaanku sudah kembali pulih.”
“Persetan dengan semua ini Hikashi! Sikap asli seorang pria ialah ketika ia miskin. Saat ia kaya, perasaan wanita sepertiku tidak ada harganya. Bahkan dulu kau begitu mudah membeli harga diri wanita.”
“Ssayaaanggku Frayza, tolong hentikan percekcokan ini. Oke!”
“Hikkksss hiksss hiksss... Kau tahu apa yang membuatku tidak tahan bersamamu? Karena kau selalu berada disekitar wanita. Dan aku benci kau melakukan itu, aku muak Hikashi. Tidakkah kau sadar, titik terendahku apa? Aku memilih kabur daripada batinku tersiksa.”
“Sayang, hentikan airmatamu aku mohon. Aku menyerahkan seluruh hatiku sampai tidak bersisa. Jangan lakukan ini kepadaku, aku berlutut kepadamu jangan tinggalkan aku.” Hikashi berlutut dikaki Frayza yang duduk dikursi roda.
“Kau sudah sering menyakitiku, kau pikir dengan menghukumku begini keren? Ayolah Hikashi, hubungan badan bila untuk pelampiasan emosi hambar rasanya!”
“AKU SALAH! AKU SALAH! PLAKKK PLAKKK PLAAAKKKK.” Bergiliran menampar pipinya. Hikashi tak kuat jika melihay Frayza menangis. Karena itu sangat menyakiti dirinya sendiri.
Terdengar suara segerombolan orang-orang menuju tempat mereka berada sekarang. Sebelumnya Patrick mengetuk pintu meminta ijin. Frayza yang menjawab untuk meminta waktu. Karena ia tidak ingin suaminya kehilangan wibawanya karena menangis. Pria itu bersimpuh dikaki Frayza sekarang.
“Seka airmatamu sekarang Hikashi.” Pria itu mengambil sapu tangan dari dalam jasnya. Ia membasuh wajahnya dengan air putih digelas.
“Jangan pergi, tetaplah disini bersamaku?”
“Tapi kau bagian terpenting untukku, jika kau pergi. Aku tidak mau memulai rapat ini sampai kapanpun.”
“Hai, kau tidak biasa begini kan sebelumnya. Jangan mendadak menjadi aneh, ini bukan gayamu.”
“Fray, sejak kau menjadi Fred. Aku pernah berjanji, jika kau adalah wanita akan aku pamerkan kepada dunia. Bahwa kau lah wanitaku, saat itu aku pikir jika Fred lelaki tulen. Maka aku akan mengakui perasaanku. Hampir saja aku menjadi gay karenamu.”
“Kau bicara melantur Hikashi, lebih baik aku pergi saja sebelum kau ngaco lagi.”
“Sayang, aku mohon duduklah dipangkuanku selama rapat. Kumohon padamu Sayang.” Kali ini tatapan Hikashi benar-benar putus asa. Ia bahkan tak mau memindahkan kepalanya dipahanya.
“Baiklah, aku akan disini.”
“Duduk dipangkuanku ya sepanjang rapat.”
“Hikashi itu memalukan!”
“Aku tahu kau akan malu, tapi ini keinginan suamimu!” rengeknya.
“Baiklah, tapi jika aku membuatmu malu. Ini hal terkahir yang aku patuhi darimu.”
Semua staff diijinkan masuk untuk melakukan rapat pimpinan perusahaan. Orang-orang tidak nyaman dengan sosok wanita yang duduk dipangkuan Hikashi.
“Palingkan wajahmu dan belakangi mereka.” Frayza menurutinya.
“Apakah rapat ini lama?”
“Tidak Sayang, aku akan mempercepat rapat sialan ini.”
“Jangan, bekerjalan secara profesional.”
“Berhelayutlah ditubuhku Sayang, aku sangat mencintaimu. Jangan menangis lagi. Aku berjanji demi Jade dan Seven tidak akan berhubungan dengan wanita. Selain milikmu seorang.”
“Kau!” melotot.
Sudah barang pasti yang dimaksut Hikashi ya itu tempat favoritnya melangsek masuk. Dirinya tak bisa lahi menahan onaknya yang diubun-ubun. Rasanya mau pecah bila hasratnya tidak tersalurkan.
__ADS_1
Orang-orang penting itu sesekali ingin melihat sosok wanita bertubuh ramping. Yang duduk dipangkuan Hikashi, sejak awal membelakangi mereka saat rapat.
Tampak Hikashi memimpin rapat sambil memainkan rambut si wanita yang sudah pasrah di pangkuannya. Jari begini ya memimpin rapat sambil memanjakan istri. Jika pada umumnya membawa anak, ini Hikashi membawa istri di pangkuannya untuk rapat.
“Hasil kerja kalian kurang memuaskanku selama setahun ini. Besok kalian akan menerima evaluasi dariku. Sekarang rapat selesai dan bubarlah!”
Satu per satu dari mereka mengundurkan kursi dengan raut wajah mendung. Ia pikir Bos besar tidak akan tahu kinerja mereka merosot. Patrick menutup pintu perpustakaan sesuai arahan Hikashi.
Tangannya mengangkat tubuh Frayza sehingga terlentang diatas meja. Tangan berotot itu menyusup masuk kedalam gaun putih. Menarik segi tiga berenda keluar.
“Jangan Hikashi!” menutup pahanya.
“Aku mohon Sayang, dia ingin masuk secara damai.”
“Tadi pagi kan sudah, pangkalku sangat linu.”
“Percaya ya, aku mainnya santun dan lembut kok. Kamu tinggal merem melek saja ya Sayang plisss...” membuka ikat pinggangnya.
Sudah barang pasti itu tongkat ajaib bakal mengetuk-ngetuk surgawi milik Frayza lagi.
“Hikashi, apa kau tidak lelah usai memimpin rapat?”
“Otakku berpikir ngeres saat kau duduk dipangkuanku sayang. Benda ini berdiri terus minta dibebaskan. Ia ingin bergerak didalam milikmu, aku mohon. Ini sangat menyiksaku Sayang...”
“Masuklah dengan kelembutan, jika kau main kasar. Kutendang tanpa ampun!” menelan Salivanya, karena milik suaminya begitu waw ukurannya. Karena sering dipakai jadi bertambah diameternya sekarang.
“Ahhhh...”
“Sakit?”
“Hmmmbb teruskan.”
Ia bergerak dengan santai dan pelan, karena bayangan kesedihan Frayza masih jelas. Hikashi ingin memberikan yang terbaik setelah beberapa kali permainan kasar.
“Sayang, mulai sekarang bekerjalah untukku?”
“Aku tidak enak dengam Helena jika keluar.”
“Kau boleh kesana beberapa kali dalam sebulan.”
“Bahkan aku bisa selamanya tidak kesana iya, hahaha.”
“Aku mau kau bersamaku terus.”
“Sekarang kau lebih egois memilikiku. Jade dan Seven saja tidak kau pertemukan denganku.”
“Mereka sudah masuk sekolah asrama istana. Setiap akhir pekan mereka bisa bersamamu.”
“Kau bohong!”
“Hehehe kau bisa membaca pikiranku.”
“Sudah pasti aku tahu isi kepalamu.”
“Aku akan memberikan waktumu saat jam tidur siang. Selebihnya bersamaku lagi hehehe.”
“Hai, kenapa kau ini menjadi bocah?”
“Sudahlah Sayang, aku sudah melengkapi kamar mereka masing-masing dengan kebutuhannya. Kurang baik apa aku coba jadi ayah heh!”
“Jangan dominan memilikiku. Kita wajib memberi mereka kasih sayang juga.”
“Tidak, aku belum siap membagimu dengan anak-anak kita. Mereka hanya alat pengikatmu agar tidak lari-lari lagi dariku!”
“Oh begitu ya, jadi Jade dan Seven jadi jaminan ya?”
“Hu’um, siapa suruh aku mencintaimu.”
“Benar-benar tidak waras!”
“Ahhh.... Akhirnya lepas juga.” Permainan yang lembut disertai bincang-bincang akhirnya selesai.
Ruang perpustakaan ini ditinggalkan keduanya usai memadu kasih. Sekarang Hikashi menjadi lebih paranoid sejak kejadian si Dannis. Hikashi hanya mencintai Frayza seorang, sejak awal bertemu sampai hembusan napas terakhir.
__ADS_1