
~~ BALI,
Rumah tinggal ini sangat imut dan modern. Letaknya di lereng pegunungan yang sejuk, setiap pagi udaranya sangat sejuk dan segar. Membuat pikiran tenang, biasanya Frayza menghabiskan waktunya di taman kecil. Ia menanami bunga dan sayuran untuk penghias Villanya.
“Apa kau betah tinggal disini?” Ramon menyapa Frayza yang sedang menyiram tanaman.
“Hehehe seperti inilah kehidupan yang aku inginkan.”
“Kau terlihat baik,” Ramon berjalan mendekati Frayza dan berjongkok.
“Kertas apa itu?” menanyakan lembaran kertas yang dibawa Ramon.
“Oh ini surat kesehatan dari Dokter Kelvin, bacalah.”
“Untukku?” matanya berkaca-kaca ketika membaca surat keterangan pemeriksaan kesehatannya.
“Selamat ya, akhirnya kau akan menjadi seorang ibu yang seutuhnya. Sekarang kau bisa menjadi wanita yang sempurna, kau hamil.”
“Hiks... Hiks... Hikss... Benarkah aku hamil?” Frayza bergetar tubuhnya mendapati janin dalam rahimnya.
“Sekarang kau sudah bisa tidur nyenyak, tidak perlu khawatir lagi. Kandunganmu sudah sehat dan janinnya berkembang degan baik. Walaupun ini telat, tapi aku ucapkan selamat ya atas kehamilanmu.”
“Terimakasih Ramon,”
Beberapa hari tiba di Bali ini, Frayza masih bisa ditemani Ramon. Untuk kedepannya, Ramon harus kembali ke Thailand mengemban tugas militernya lagi. Dengan berat hati Ramon harus menitipkan Frayza kepada penjaga sekaligus pengawal.
“Mereka adalah sepasang suami-istri, Tiara dan ben. Mereka berdua akan membantumu selama kau tinggal disini.”
“Hai, senang bertemu dengan kalian. Aku Frayza,” menyapa kedua tamunya.
“Talud, aku akan kembali ke Thailand lagi untuk berdinas saat cuti liburan tiba. Aku akan menjengukmu kemari dan membawakan banyak oleh-oleh.”
Frayza menahan tangan Ramon yang hendak mengusap perutny, hal ini begitu asing baginya untuk disentuh pria lain. “Maaf, Ramon jangan berlebihan. Ini adalah anak Hikashi, aku tidak mau kau gegabah.”
“Oh iya, aku lupa jika kau masih resmi istri Hikashi. Maafkan aku, karena aku sangat antusias menyambut kehadirannya.”
“Ku harap kau tidak tersinggung, tapi bayi dalam kandungan bisa merespon.”
“Aku mengerti, kalau begitu kau tunjukan kamar dan tugas mereka. Barang-barangku harus segera aku kemasi.”
Betapa malunya Ramon kala tangannya ditepis oleh Frayza. Dia berpikir dengan membawa lari Frayza ke Bali. Dapat sedikit menggeser posisi Hikashi. Namun, kenyataannya tidak sedikitpun ada tempat istimewa Ramon di hati Frayza.
Usai menyambut kedua pelayannya, Frayza hendak duduk-duduk sejenak di teras. Begitu waktunya tepat, Ramon datang mendekati Frayza.
“Frayz, apa kehamilanmu ini sangat berat?”
“Hemmb, tidak. Apakah kau sudah selesai berkemas?”
“Seoalah kau tidak nyaman dengan keberadaanku saja. Begitu ya?”
__ADS_1
“Hehehe tidak begitu Ramon, kau kan elit militer. Harusnya kau tidak boleh sesantai ini kan?”
“Jujur aku sangat merasa bersalah menyeretmu dalam operasi ini.”
“Operasi?”
“Iya, dulu secara rahasia Tuan Muda Hikashi pernah menemuiku. Dia bilang ingin merebut kembali tahtanya sebagai Putra Mahkota. Dengan cara seperti inilah orang berpengaruh dan berkuasa memainkan taktiknya. Kita akan kehilangan orang-orang yang berharga dalam hidup kita seiring misi ini akan selasai. Hingga akhirnya, Tuan Hikashi jatuh hati padamu dan memilih mengabaikan ambisinya.”
“Jadi, kau sudah tahu sejak awal?”
“Hu’um, kau hadir disaat yang tepat. Dimana kami sedang mencari wanita korban kekerasan. Dan kau orang yang cocok untuk tugas ini. Identitasmu menjadi baru dan hidupmu dimulai lagi dari awal.”
“Ya Tuhan, ternyata kalian?”
“Aku dan Kelvin adalah tim, sedangkan Digna hanya wanita tim cadangan. Yang kebetulan menjadi pacarku, aku menolak keinginannya untuk menggantikan posisimu. Dan sikap keras kepalanya tiada duanya. Dia nekat mencobanya dan akhirnya berakhir seperti itu (mati konyol ).”
“Aku masih ingat, dan kejadian itu sangat menyedihkan.”
“Dan aku turut berduka cita atas meninggalnya ayah-ibumu. Semoga mereka bisa tenang.”
“Apakah kedua orang tuaku meninggal ada kaitannya dengan Hikashi?”
“Aku tidak tahu, tapi setahuku jika Tuan Hikashi sudah mencintai seorang wanita. Maka ia akan habis-habisan membelanya, dan itulah kau. Wanita yang berhasil dinikahinya.”
“Aku tersanjung sekaligus kecewa. Pada akhirnya dia mengabaikanku. Setelah kejadian hadirnya Ayako kembali. Padahal aku sudah menyelamatkannya, dan memberi pelajaran kepada Selir Ayako.”
“Sikap seorang lelaki bisa berubah, entah kapan tepatnya. Sebaiknya kau jangan mengemis perhatiannya lagi. Itu saranku,”
Pembicaraan itu selesai saat Tiara selesai menyiapkan makan malam. Mereka makan bersama dimeja yang sama, tiada batasan antara majikan dan pelayan. Mereka saling mengakrabkan diri satu sama lain, suasana hatinya tak bisa dipungkiri. Batinnya mulai terbelenggu rindu kepada Hikashi, namun Frayza sudah terlanjur pergi lagi. Semoga Ayako adalah wanita berbahaya yang pernah ia temui.
“Aku sudah selesai, selamat malam.” Frayza beranjak dari kursinya.
“Fray, jangan lupa minum obatmu sebelum tidur.”
“Iya Ramon.”
Perhatian Ramon ini dilihat Tiara dan Ben, walaupun terlihat kaku. Tapi wajah Ramon sangat sedih melihat Frayza pergi dari pandangannya.
“Jika kau Cinta, katakan saja.” Tegur Ben.
“Dia sedang hamil muda, jadi wajar jika aku lebih perhatian.” Jawab Ramon menyudahi makanannya.
“Aku rasa suaminya seorang pria yang buruk!” tebak Tiara.
“Betul, wanita secantik dan selembut Frayza saja sendirian tinggal disini.” Imbuh Ramon lagi.
“Sebaiknya kau jadi suaminya saja, betulkan?”
“Ck, kalian ini bicara apasih. Aku tidak setaraf dengan suaminya yang hebat. Jadi aku tidak berani memilikinya, apalagi dia sedang hamil. Aneh-aneh saja komentar kalian ini.” Ramon tidak nyaman menanggapi omongan keduanya.
__ADS_1
Ben dan Tiara yakin jika Ramon menaruh hati kepada Frayza, hanya saja keadaanya sedang tidak mendukung. Dan hari-hari terakhir Ramon di Bali tidak ditemani Frayza. Sampai akhirnya dia kembali ke Thailand tanpa berpamitan.
“Nona, kami mau pergi jalan-jalan sore.”
Frayza membuka pintu mendengar Tiara pamit hendak pergi keluar. “Kemana?”
“Kami hanya berkeliling daerah sini saja Nona, pemandangannya sangat bagus.”
“Bolehkah aku ikut?”
“Tentu saja, ayo kita berangkat.” Sahut Ben.
Usia mereka sepantaran dan tidak perlu panggilan formalitas yang kamu. Dengan memakai mobil kuno bak terbuka, mereka melewati hamparan sawah yang hijau. Dan aliran sungai yang panjang nan jernih.
*
*
*
---- INGGRIS ----
“Akhirnya proses pengobatanku selesai juga hemmb,”
“Tuan Hikashi sudah melewati masa sulit, sekarang kita bisa bekerja dengan baik.”
“Bukannya aku sudah menyuruhmu untuk mengatur pekerjaanku!”
“Tapi ada beberapa dokumen yang perlu diperiksa lagi. Dan beberapa persetujuan dari anda sendiri Tuan Hikashi.”
“Baiklah, baiklah akan aku lembur nanti malam.”
Begitulah kegiatan Hikashi, usai mengobati mental dan raganya yang sakit. Semua urusannya membuatnya lupa memperhatikan Frayza. Ketika Hikashi bekerja dia tidak ingat lagi tentang kehidupan pribadinya. Namun, ketika pekerjaannya selesai. Barulah ia memiliki waktu untuk keluarganya. Yang terjadi pada Jade yang sengaja dijauhkam dari Frayza. Karena Patrick tidak mau Nyonya besar sibuk mengasuh anak. Tugas Nyonya besar tidak harus mengasuh anak, tapi menggali potensinya lagi. Ketika Hikashi selesai dengan segala urusannya, maka urusan Frayza yaitu harus mengurusi Hikashi. Begitu aturannya setelah mereka menjadi suami istri.
Kesalahan Frayza ialah ia tidak sabar dan terbawa emosi. Merasa diabaikan suaminya dan dijauhkan dari anaknya Jade. Apalagi didukung dengan hormon hamil muda yang menggebu-gebu. Sedangkan Hikashi juga salah, yaitu terlalu sibuk berobat tanpa campur tangan istrinya. Padahal Frayza sebagai istri akan sukarela merawatnya. Tapi, Hikashi memiliki prinsip dialah pelindung dan penjaga bagi keluarganya. Jadi ia enggan untuk merepotkan istrinya bila terjadi pada dirinya. Dia ingin Frayza hidup tenang dan nyaman dengan segala yang Hikashi punya. Mengenai hal ini, Hikashi sudah salah perhitungan tentang kemauan Frayza yang ingin bersama suaminya saat suka dan sedih.
Sekarang Frayza memilih pergi tanpa berpamitan dengan Hikashi, bahkan Pelayan yang mengirim makanan dan membersihkan kamar tidur Frayza tidak berani melaporkannya pada Patrick selaku Kepala pengurus rumah tangga. Sampai pada akhirnya, Hikashi bermain bersama Jade. Dia memondong putranya yang menggemaskan tersebut. Untuk memberikan kejutan di kamar Frayza, rencananya. Tapi kekecewaan segera datang saat Matsumoto membawa ponsel milik Frayza yang terjatuh dijalan.
“Dari rekaman kamera pengintai Nona pergi dijemput oleh pria ini.”
Tiaaarrrr (membanting ponsel hingga hancur berkeping-keping) “Panggil Patrick dan seluruh penghuni Kastil ini!” Hikashi menahan amarahnya dengan menggerakkan gigi-giginya. Ada Jade dalam dekapannya saat ini, ia tidak mau membuat putranya takut.
Setelah pengasuh pribadi Jade masuk barulah Hikashi menyerahkan putranya dan dibawa ke kamarnya. Semua pelayan yang bertugas melayani Frayza datang dengan menundukkan kepalanya. Mereka meremas jemarinya dan ketakutan sangat. Tuan besar mereka murka istrinya kabur dari Kastilnya. Patrick kecolongan kini mendapati hukuman yang berat. Matsumoto mendisiplinkan Patrick diruangan rahasia. Sedang hukuman untuk pelayan pribadi Frayza juga menunggu giliran setelah Patrick selesai.
“Jika kalian memperlakukan istriky dengan baik, pasti dia tidak kesepian. Apakah kalian tidak bisa menghargai wanita pilihanku? Hanya karena istriku bukan dari kalangan atas hhhhaaahhh!!” Hikashi memaki seluruh pelayannya yang ceroboh.
“Ampuni kami Tuan Hikashi, ampuni kamiiii.” Mereka terus mengatakan hal yang percuma, sekarang Frayza sudah pergi jauh.
Janji terakhir Frayza tak bisa dia tepati kepada Hikashi, oleh karena itu Hikashi mengeluarkan franda dari penjara. Dan mengancam Julian agar segera mencari keberadaan Frayza bila ingin Franda kembali hidup-hidup. Sontak saja Julian yang mendapati kabar demikian kalang kabut. Salah satu orang yang bisa membantunya melacak Frayza ialah Rose. Sahabatnya yang sudah ia nodai sebelumnya. Sekarang Rose tidak diketahui dimana keberadaannya. Jadi usahanya untuk mencari tahu keberadaanya Frayza ini buntu.
__ADS_1
Sampai suatu malam saat Julian selesai mengecek email miliknya ada sebuah pesan masuk. Yang tidak lain diduga milik Frayza. Pengirim tersebut menggunakan nama samaran yang sama dengan nama panggung Julian. Mereka memakainya nama The Stars Winter, yang artinya hanya orang tahu tentang karya paten Frayza. Julian membuak buku catatan Frayza dan mencoba mencocokan beberapa contoh gambarnya. Dan hasilnya akurat, Julian semakin yakin saat frayza bersedia mengirimkan alamatnya sekarang yang berada di Bali. Selain dia bisa bertemu kembali dengan Frayza, ia juga bisa menyelematkan Franda yang disandra Hikashi. Tanpa pikir lama, Butik dititipkan Bibi Fang karena Julian harus segera ke Bali. Guna menemui dan memastikan bila benar ialah Frayza. Orang yang mengirim gugatan atas plagiat karya.