TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
STRATEGI AGAR LEBIH DEKAT


__ADS_3

Suami-istri itu telah sampai di sebuah gedung tertinggi yang berada di kawasan bisnis Tokyo. Menara ini sangat tinggi untuk sekelas gedung perkantoran. Didalamnya ada beberapa fasilitas penunjang dan pusat perbelanjaan yang dibuka. Frayza begitu takjub melihatnya dari luar saja, betapa luar biasanya tempat yang ia datangi.


Klak, pintu mobil dibuka dari luar. Ternyata suaminya yang membukanya. Frayza masih terperangah melihat lobi gedung super modern ini. Tak lama setelah itu, datanglah tukang parkir membawa mobil mereka.


Ternyata Hikashi melewati lorong khusus untuk kalangan tertentu. Ada lift pribadi yang memakai akses sidik jarinya saja. Sekarang Frayza harus menahan rasa takjub dan penasarannya dahulu.


“Aku ada beberapa diskusi dengan pegawaiku, jika kau tidak keberatan aku akan lebih senang kau ikut juga.”


“Aku?”


“Hmmm.” Artinya mengiyakan.


“Aku awam dalam hal bisnismu Sayang.”


Hikashi merapatkan tubuhnya dan menciumi bibir manis bibirnya.


“Aku ingin memanfaatkan waktu sempit ini untuk sekedar menciummu saja.”


“Hikashi...” terperanjat kaku bibirnya yang masih basah diusap.


“Kenapa kau terlihat aneh, aku kan suami mu.” Kekehnya.


“Kau seolah tidak berciuman denganku sangat lama saja.” Ketusnya.


“Aku sibuk Sayang, tidak lama lagi Hiroshi akan menikah. Mau tidak mau aku harus membantunga mengurus Negara. Makanya aku mau adakah rapat dadakan kemari.”


“Dengan pakaian santai begini?” kemeja lengan pendek dan celana joger dibawah lutut.

__ADS_1


“Heheheh ayolah Fray, aku tidak harus memakai setelah jas rapi bukan. Aku Bos mereka, wajar jika memakai pakaian senyamanku. Daripada aku tidak datang menganalisa kinerja mereka.”


“Jila tahu kau akan rapat, akan ku bawakan baju dari Butik.”


“Tidak perlu Sayang, aku nyaman memakai baju santai seperti ini.”


“Tapi aku melihat dirimu tidak terurus dengan baik. Padahal aku merancang baju untuk orang lain. Sedangkan Suamiku memakai baju alakadarnya.”


“Kalau begitu, aku akan mengajukan tawaran. Mulai sekarang kau bekerja untukku sebagai asisten pribadiku?”


“Kau memiliki 10 asisten masih kurang?”


“Kecuali kau mau aku membayar orang lain melihat anggota tubuhku saja sih.”


“Eh kok gitu, awas saja ya!”


“Ya kan asisten itu dibutuhkan sesuai tugasnya, bukan dari jumlahnya.”


“Sudah sampai, ayo kita keluar dari lift.”


Hikashi tidak main-main mengajak istrinya untuk lebih mengenal kantornya. Dia awalanya hanya ingin mengajaknya makan siang saja di sekitaran Butik. Tapi ia ingat tentang Ryul si pemuda kurir yang berani mengajak istrinya berkenalan. Selera makannya tiba-tiba hilang dan tak mau istrinya di goda pria yang lebih muda darinya.


Didalam ruangan rapat ini, Frayza harus menanggung malu dan canggung. Malu, karena suaminya yang berpakaian santai seolah tidak menghargai pegawainya berpakaian dinas rapi. Canggung, sebab dirinya ikut menjadi pusat perhatian orang-orang. Ia tidak mengerti istilah-istilah sulit dalam hal bisnis. Yang ia tahu, adalah angka-angka yanh menjadi acuan nominalnya. Diperhatikannya, suaminya yang duduk disebelahnya begitu akurat meneliti setiap angka yang dilaporkan. Jangan-jangan di otaknya Hikashi ada mahkluk mikro chip komputer. Suaminya begitu lugas memberikan arahan kepada pegawainya. Agar menyelesaikan tugas darinya. Berdasarkan analisa pasar yang sedang berkembang. Akan mengatrol laba untuk perusahaan.


Sebenarnya Frayza mulai lapar, tapi Suaminya orang paling sering dimintai pertimbangan proyek. Padahal ia sudah membayangkan makan siang dengan nikmat. Duduk dan menikmati pandangan salju yang turun. Tapi apalah daya, Frayza harua menahannya sampai selesai rapat. Kepalanya mulai pusing melihat layar plasma besar memaparkan grafik. Matanya berkunang-kunang seperti angka itu berputar-putar diatas kepalanya.


“Jangan ketiduran,” bisik Hikashi ditelinga istrinya.

__ADS_1


“Ekh...” ia terbangun dengan kepala tersender dibahu suaminya.


“Mereka akan pikir, aku sedang mempekerjakan pemalas.” Sembari tersenyum kecil.


“Aku bisa keluar kalau begitu.”


“Sssttt, aku tidak ijinkan. Duduk saja, sebentar lagi mereka akan ku suruh bubar.”


“Tapi aku sungkan.” Bisik Frayza.


“Tidak apa-apa, nanti mereka akan berhenti penasaran.”


“penasaran?”


“Sssttt...” mengakhiri obrolan berbisik.


“Baik,” mengangguk.


Tadi Hikashi menyuruh Frayza diam, karena sudah memasuki tahap akhir dari diskusi proyek pembangunan mereka.


“Perkenalkan wanita disampingku ini adalah istriku Frayza Lee Alexander. Mulai sekarang dia akan masuk di tim desain.”


Kenapa Hikashi tidak minta ijin Frayza. Inikan bukan masalah sepele, seperti memindahkan biskuit ke toples. Pegawai yang berpengalaman pasti keberatan, karena bukan majukan justru memundurkan kinerja mereka. Terlebih lagi Hikashi suka menggenjot pertumbuhan perusahaan dengan tenggat waktu yang singkat. Bisa pusing kepala Frayza kalau bergabung dengan devisi desain. Selama ini bakatnya ada di busana dan menggambar, tidak merakit dan membangun bangunan. Ini konyol sekali.


Karena yang bicara adalah Bos, jadi pegawai mengangguk saja. Frayza berputar agar seret lehernya. Ia menatap dalam suaminya yang.masih sumpringah tersenyum. Mungkin bagi Hikashi mudah, tapi ini adalah dirinya. Yang biasa membuat pakaian, bukan orang yang berkompeten di bidan ini.


Selanjutnya Hikashi mengajak istrinya makan siang di kantornya. Seumur hidupnya ia baru melihat kantor yang lebih mirip rumah tinggal. Luas dan memiliki pemandangan yang Indah. Dan tunggu, ini apa? Ada tempat biliard dan golf mini? Ini hanya sebagian kecil yang dipakai suami mu Frayza. Jangan mengaga seperti itu mulutmu. Takjub ya takjub, jangan membuat dirimu merasa melihat kepunyaan orang asing saja. Itu semua milik suami mu, orang yang sudah mencintaimu dengan membabi buta. Dia yang memiliki segalanya, tapi menyerahkan seluruh hidupnya untukmu. Kau harus bangga memiliki Hikashi, Frayza. Walaupun sebenarnya kau merasa tidak layak untuk menyandang Nyonya Alexander.

__ADS_1


Matsumoto mengundur jadwal kembali ke kantor. Untuk membantu Helena membersihkan bekas kekacauan di kantor Helena. Ruangannya tidak besar maka cepat beres. Helena berniat menahan botak imut kesayangannya. Tapi usahanya gagal, pria botak itu lebih penurut dengan Hikashi. Loyalitasnya terlihat saat Hikashi meneleponnya. Padahal saat itu Hikashi tengah selesai makan siang. Ingin melanjutkan tidur siang sembari olah raga kecil di bilik kantornya. Ada Frayza disana, mau dimanfaatkan untuk menguji ketahanan per ranjang yang baru ia beli. Sanggup tidak untuk menampung beban polahnya diranjang. Begitulah otak Hikashi, kalau surah berhubungan yang berbau ranjang.


Awalanya Matsumoto takut kalau Hikashi menanyakan keberadaannya. Tapi faktanya, Hikashi bilang bahwa Matsumoto harus memintakan ijin kepada Helena. Agar Frayza di ijinkan magang beberapa minggu di perusahaan Hikashi. Sontak hal ini tidak jadi masalah, namun menjadi alibi Helena agar lebih intens dengan Matsumoto. Ia bertekat mulai sekarang akan membuka lebar-lebar kesempatan emas ini. Untuk merebut hati Matsumoto.


__ADS_2