
“Helena?”
“Iya aku, kenapa Matsumoto?”
“Tidak, aku tidak nyaman saja kedatangan tamu. Erghem...” mengendorkan kerah dasinya.
“Aku beberap minggu ini seperti orang gila!”
“Periksa ke Dokter, itu saranku.” Memutar kursi kerjanya.
“Matsumoto, kau sudah menguras rasa sabarku. Keterlaluan sekali kau!”
“Aku tidak memintanya, jadi kau bisa lakukan hal yang lebih berguna.”
“Kau mengusirku? Apa pantas kau mengusirku?”
“Helena...”
“Lihat aku sekali saja, Matsumoto!”
“Aku mau memeriksa laporan, pekerjaanku banyak.”
“Lihat aku, Matsumoto!”
“Keluar,” jari telunjuknya menuju pintu.
“Kau jahat.
“Memang aku jahat, lantas kau mau apa?”
“Akan menyesali perbuatanmu ini suatu saat nanti.”
“Helena, apakah kau sudah jatuh Cinta kepadaku? Sehingga obsesimu untuk memiliki tubuhku terlalu besar?”
Memang harus di akui, Matsumoto sejak kembali dari Korea dulu. Ia merombak total penampilannya menjadi maskulin dan gagah. Rambutnya tak lagi plontos, namun sekarang mulai gondrong. Kesan yang sangat menggairahkan bagi tipe wanita seperti Helena. Tidak ada lagi kepala plontos dan permen lolipop. Yang ada sekarang Matsumoto seperti model pakaian merk mahal.
“Baiklah jika itu mau mu, aku hanya sekedar ingin memberitahumu bahwa aku akan menjadi apapun. Asal kau mau denganku.”
“Helena, jangan bicara begitu. Itu sama halnya kau merendahkan martabat kaum wanita lain. Dalam kepercayaan yang aku peluk sekarang, tidaklah wanita baik untuk pria yang baik. Aku mau menerima mu.” Bibir Helena tersungging mendegar kalimat ini. Tapi Matsumoto berhenti sejenak mengucapkan kata-katanya.
“Benarkah?”
“Tapi aku seorang pria muslim yang taat, tidaklah aku mau menaruh hatiku kepada wanita lain yang tidak memiliki kepercayaan yang sama denganku. Oleh karena itu, jagalah martabatmu agar tetap terjaga dengan baik. Kelak kau akan dapatkan jodoh yang menjagamu dengan baik.”
“Lalu kau sendiri bagaimana?”
__ADS_1
“Matsumoto akan menikahi wanita yang seagaman dengannya.” Potong Hikashi yang sedari tadi menyender di pintu.
“Oh Tuan Hikashi, maaf saya tidak melihat kedatangan Anda kemari.”
“Hemmmb jadi begini kesibukanmu?”
“Silahkan duduk Tuan Hikashi.”
“Apa aku mengganggu diskusi kalian?” duduk di kursi kerja Matsumoto dengan santainya.
“Tidak, Helena kemari untuk menanyakan kenyamanan bajunyang aku pakai.”
“Owh begitukah? Sepertinya tidak.
Lelehan air matan mengucur deras di pipi Helena. Wanita itu masih berdiri membatu tak berkutik.
“Aku beritahu kalian berdua, suka tidak suka di Perusahaan ini. Kalian tidak boleh bertemu di jam bekerja untuk keperluan pribadi. Dan kau Helena, bukannya kau harua di Korea?”
“Saya ada sedikit urusan di sini Tuan Alexander.”
“Huft... Sekalian kau laporkan kegiatan istriku ketika bekerja. Aku melihatnya semakin cantik saja, apa karena sudah lama kami berjauhan ya? Uhh aku jadi gemas kepada istriku. Nyusul kali ah ya ke Butik, ini mau jam istirahat. Enak juga kali bawain bekal makan siang dan disuapi. Oh romantis sekali, kalau begitu aku harus bergegas berangkat; Ingat, kalian jangan memakai waktu kerja untuk urusan pribadi. Itu tidak profesional.”
Padahal dirinya sendiri yang tidak profesional wahai Hikashi. Sementara itu, ia membawakan buket bunga besar. Khusu dipersembahkan untuk Frayza Lee. Wanita yang ia pantau dari luar Butik.
“Tuan kenapa tidak masuk?” ucap pengawal memayunginya.
“Tuan,” pengawalnya malah tersipu malu.
“Kau, kau ini kelainan ya. Aku sendang memperhatikan istriku, kenapa pipimu yang merona merah hah!”
“Aku tersentuh taukkm.”
“Hiii kau ini aneh,” Hikashi jijik dan berjalan pergi.
Sementara Yuki masih dirawat di Rumah sakit. Semua pekerjaan di Butik Frayza rangkap tugasnya. Ia mengatur karyawan lain untuk mendekorasi Butik.
“Nyonya Lee Alexander, bunga ini tampaknya minder diserahkan padamu.”
“Hikashi?”
“Ah istriku.” Memeluk istrinya dengan buket bunga besar melingkari tubuh Frayza.
“Tidak bekerja?”
“Aku mau sibuk membuat urusan rumah tangga bersama mu. Muach.”
__ADS_1
“Ah jadi mau, eh malu.”
“Ku gigit ya kau, dasar menggairahkan!”
“Aishh.” Menggigit bibir bawahnya.
“Jangan begitu, nanti aku bisa khilaf Sayang.”
“Ada angin apa kemari?”
“Suami mu datang kok gitu sih bicaranya, ayo segera ambil tasmu.dan tutup lebih awal Butiknya.”
“Sayang, apakah kau akan kembali ke Inggris?”
“Oh Inggris? Itu pasti, tapi aku mau membawamu ke sana juga.”
“Tapi sekolah Seven bagaimana?”
“Biarkan dituntaskan sampai selesai, aku akan menyuruh Pengasuh merawatnya.”
“Jangannn.” Tolak manja Frayza.
“Kita akan punya bayi lagi Sayang. Kedua anak kita semuanya laki-laki, kau tidak boleh memanjakan mereka. Kelak Jade dan Seven akan mencari pasangan hidupnya. Tinggal kita berdua, coba bayangkan betapa sunyinya hari-hari kita tanpa suara tangis bayi?”
“Suamiku, apakah kau serius ingin bayi lagi?”
“Aku mau anak berapa pun kau mampu Sayang. Aku ingin selalu bercinta dan dekat tubuhmu.”
“Tidak peduli aku melahirkannya dari rahimku atau bukan?”
“Aku tidak peduli, selama kau mau dan suka. Aku akan turuti segalanya.”
“Jadi tidak harus hamil lagi kan?”
“Iya Sayang, aku akan setuju persyaratanmu.”
“Hikashi, aku berterimakasih kepadamu. Awalnya aku pikir kau akan menyuruhku melahirkan anak sebanyak-banyaknya. Mengandung adalah masa melelahkan, dan aku trauma.”
“Cup cup... Ada aku Sayang, kita bisa adopsi anak terlantar sebanyak yang kau mau. Mau mendirikan panti asuhan atau mengadopsi anak silahkan. Asal kau tidak tertekan Sayang.”
“Hikashi, aku mencintaimu.”
“Benarkah?”
“Iya.”
__ADS_1
“Aku juga memiliki rasa yang begitu dalam untukmu Frayza Lee. Kau lah nyawa hidup dan matiku, muach.”