TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
SUAMI SEMPURNAKU


__ADS_3

FRAYZA POV,


Hatiku merasakan sakit, yang teramat perih. Bahkan aku tak bisa lagi iba melihatnya, andai sekarang waktu yang tepat untuk berpisah. Aku rela sungguh rela!


Kaki berjalan pergi meninggalkan lelaki yang amat disegani. Tapi perbuatan dan ucapannya sudah membunuhku untuk kesekian kalinya. Bukan wanita atau dunia, tapi Cinta ini sudah menjadi racun hidupku. Jade-Steven, maafkan aku yang terlalu buruk menjadi ibu ideal bagi kalian.


Sesosok tangan mengulurkan sapu tangannya, ku lihat pria itu tak asing lagi.


“Menangislah, mungkin sapu tangan ini bisa menyeka air matamu. Tapi setidaknya beban dihatimu berkurang sedikit.”


“Andreas,” ucapku lirih.


“Aku tidak tahu pasti apa penyebabnya apa, hanya kalau boleh jujur. Sebenarnya aku sangat senang jika kau kembali ke sisiku Fray. Namun, aku tidak akan bertindak sebagai pengecut untuk menggantikan posisi William Hikashi.”


“Kau masih memiliki perasaan kepadaku?”


“Kau tahu persis pria, seumur hidupnya akan trus mencintai Cinta pertamanya. Walaupun kelak aku menemukan wanita lain dan kemudian jatuh Cinta. Ada tempat khusus yang aku sediakan untukmu.”


Jika bertanya siapa Cinta pertama Hikashi, jawabannya sama dengan Andreas. Apakah semua pria itu sama? Mereka bisa mudah menyukai wanita, tapi cintanya hanya untuk seorang wanita. Mereka jauh lebih lihai menyembunyikan perasaannya. Karena pria tahu, jika sudah lepas tidak mungkin kembali.


“Kau menahan air matamu yang terjatuh, andai ada bom dihatimu. Pasti sekarang dadamu akan meledak.”


“Tidak usah,” mengembalikan sapu tangan milik Andreas.


Tanpa aku sadari Hikashi berjalan mengawasiku yang tengah bicara dengan Andreas. Pria yang pernah menjadi tunanganku. Aku merasa tidak baik menerima perhatian dari pria lain. Mengingat otakku masih bisa berpikir dengan baik. Maka aku putuskan untuk menoleh kebelakang.


“Fray, ijinkan aku bicara padamu.” Ucap Hikashi putus asa.


“Baiklah.” Tangannya meraih pinggangku membawa pergi.


Aku menyadari jika Hikashi tidak menyukai keberadaan Andreas sebagai kuasa hukum ku. Dia tidak menyukai siapa pun yang dekat denganku. Termasuk kedua putraku kami, dia juga mengekangnya. Ini membuatku iba terhadap putra-putraku yang memiliki sedikit kasih sayangku.


Ia membawakan ke tempat semula kami berdiskusi. Seketika ia memelukku, membuatku kaget. Apa lagi yang hendak kau perbuat pada tubuhku ini hai Hikashi!


“Jika kau belum bisa menerima permintaan maaf dan penyesalanku. Kau kuijinkan untuk melakukan hal yang sama. Tapi satu hal yang tidak aku suka, kau mengabaikanku, mengacuhkanku, menemui orang tanpa seijinku, melakukan hal tanpa pantauanku dan menemui orang lain tanpa kehadiranku.”


“Hikashi, kau memelukku terlalu erat.”

__ADS_1


“Biarkan aku memelukmu erat, aky benar-benar ingin merasakan keberadaanmu.”


“Tapi aku susah bernapas.” Aku merasa pelukannya seperti belitan ular anakonda menerkam mangsanya.


“Kau hanya milikku, sampai mati pun akan menjadi wanita kesayanganku.” Ucapannya seperti candu.


Jika aku berharga baginya, kenapa ia mencekikku dan memaki kasar! Hikashi selama ini dirimulah yang banyak membuat kesalahan fatal. Dan aku harus memaklumi, serta bersabar? Minumlah obat waras, agar otakmu tidak sakit.


“Hikashi, aku tidak pernah melakukan hal diluar norma. Aku selalu menjaga kesucianku untukmu. Tapi kali ini, kau benar-benar keterlaluan.”


“Thomas yang mengarang ini semua, agar aku terpancing.”


“Jika kau belum lega, ini leherku. Cekik aku, cekik!”


Orang ini gila apa, ia menyuruhku mencekiknya. Lantas kalau aku jandi, bisa-bisa arwahnya gentayangan menggangguku. Oh tidak, dia pasti akan menyuruh Matsumoto untuk menguburku bersamanya juga. Dia kan otoriter, mana mungkin ia rela aku menjadi janda. Bicara dengan orang lain saja, tabiatnya sudah buruk.


“Cukup, hentikan. Aku tidak mau berkelahi.”


“Aku menyesal Sayang.”


Akhirnya aku luluh dengan bujukannya. Kami kembali kedalam kamar, Seven dirawat. Tampak Bibi Fang tidur seranjang bersama Seven. Hanya tersisa ranjang jaga yang ukurannya kecil. Hikashi menarikku untuk merebahkan badan disana. Kulihat ia masih sibuk menggulirkan layar ponselnya. Tatapan matanya serius melihat topik dilayarnya. Mataku mulai berat serta kantuk pun datang menyergap.


Tubuhku terasa berat, seperti tertindih dosa berton-ton. Ternyata disampingku ada Hikashi masih tertidur pulas. Kakinya mengunci kedua kaki pendekku, tangan kirinya melingkar di pinggang. Serta tangan kanannya menjadi bantalku. Kurasakan lengan suamiku ini keras karena otot-ototnya yang berisi. Dalam tidurnya, gurat wajahnya sangat tegang. Seolah ora g sedang tidak tenang dan gusar. Lalu aku berinisiatif untuk membalikkan tubuhku mendekatkan wajah kami berdua. Bibir lembutku menyapu bibirnya yang ranum.


Perlahan guratan wajahnya menjadi lemah dan santai. Aku membalas pelukannya agar ia tidak gusar lagi. Sekarang aku berada dalam dekapannya. Walaupun diluar salju tebal menyelimuti bumi. Sekarang ini aku mendapatkan kehangatan dari selimut bernyawaku, Hikashi.


“Selamat pagi Istriku, muach.” Manis sekali perlakuannya.


“Hmmmbb,” berada di dekapannya membuatku terbuai dalam kehangatan dan kenyaman.


Aku tertidur lagi, karena Hikashi memelukku begitu erat. Membuatku nyaman seperti merasakan suasana pengantin baru hihihi. Ia menopang kedua tangannya, sedangkan aku berada ditengah bawahnya.


“Mau mandi bareng?”


“Kau ini.” Membuat wajahku tersipu malu.


“Aku menawarkan diri untuk melayanimu Ratuku.”

__ADS_1


Waduh-waduh, sejak kapan aku menjadi Ratu. Hikashi, kau ini sedang bermimpi. Aku adalah wanita biasa, bukan Ratu untuk siapa pun.


“Papa-Mama, apa yang kalian lakukan.”


“Astagah!” kami terperanjat kaku.


Ada sepasang mata yang sedang memperhatikan kami sedari tadi. Kami lupa kalau sekarang dikamar pasien. Bisa-bisanya kami bermesraan didepan anak, serta Bibi Fang. Inu memalukan sekali.


“SELAMAT PAGI SEMUA!” sapa Jade yang masuk kamar tanpa mengetuk pintu.


Kebiasa putra pertama kami tidak pernah sembuh. Pasti menjadi pengacau suasana diantara kami, terutama Hikashi. Ia sangat sebal jika sedang bercumbu denganku, diganggu. Akhirnya kami salah tingkah dan membenarkan baju lecek. Hikashi beranjak ke kamar mandi, sedangkan aku menyisiri rambutku berantakan.


Hari ini Seven boleh dibawa keluar dari Rumah Sakit. Yang artinya sudah sembug dari demamnya. Hal ini adalah kabar baik tentunya. Sekarang kami semua berkemas untuk kembali ke Hotel tempat menginap. Semua urusan Hikashi sudah selesai, tapi tidak denganku. Helena masih mengupayakan agar pemilik gedung mau menjualnya. Tapi harganya dinaikkan lagi, karena ada calon pembeli yang menawar harga lebih tinggi.


Saat ini aku masih memakai ponsel milik Hikashi, jadi semuanya bisa ia periksa. Dia tahu aku sedang banyak pikiran, memikirkan lokasi baru kami. Namun, sebagai wanita yang ingin mandiri. Aku tidak boleh meminta kemudahan kepadanya. Aku sudah menjebolkan kartu miliknya untuk berfoya-foya. Bahkan Helena juga mengeluh, sebab semua belanjaannya akhirnya dilimpahkan menjadi hutang.


“Huffttt...”


“Kenapa?”


“Hmmbb mengantuk saja.” Aku memeluk pinggang suamiku yang duduk disebelah. Tubuhnya seperti Bank kekuatanku, aku merasa bisa menyerap auranya hehehe.


“Katakan kenapa?”


“Aku rindu rumah.” Ku rasakan tangannya memainkan kulit kepalaku. Ternyata ia memijat kepalaku, lumayan juga mengusir pening.


“Coba aku lihat ponselmu!” lagi-lagi ia menyerobot ponsel yang sudah aku pakai.


“Jangan, aku mau hapus riwayat obrolanku dulu!”


“Hissttt!” ia menolaknya.


Dan semua percakapan kami dibacanya teliti, betapa malunya aku membahas uang dengan Helena. Tapi ia menyeringai kecil menatap layar ponsel.


“Matsumoto coba cek Gedung dialamat yang aku kirim. Aku berencana tinggal beberapa hari disini.”


Dia membuatku kaget, rasanya aku sudah senang mendengarnya. Ternyata suamiku orang yang peka terhadap kemuan istrinya. Ia langsung menyurug Matsumoto turun tangan mengurusnya. Asikkk, sebentar lagi masalah kami mencari lokasi bisnis dapat terselesaikan. Jika gagal pun tak apa, karena harga yang ditawarkan juga tinggi. Aku juga tidak mau terlilit hutang besar. Bisa kurus kering nanti kalau kerja bayar cicilan Bank.

__ADS_1


__ADS_2