
Baru saja ia sampai, ponselnya sudah berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Rose yang sudah menunggunya di Butik.
“Kak, sepertinya aku tidak bisa lama-lama disini. Karena ada temanku yang menungguku di Butik sekarang. Aku tinggal dulu ya...” Julian pergi berpamitan dengan tergesa-gesa.
“Isshh dasar bocah nakal,” menggerutu kesal.
Bibi Fang memapahnya dan mengurut kakinya yang bengkak. Sedangkan Seven sedang bermain gigit gusi. Hari ini Frayza bisa seharian menemani Seven dirumah. Ia ingin memanjakan putranya yang tumbuh dengan sehat. Bibi Fang sebenarnya menendang banyak pertanyaan tentang siapa ayah Seven. Tapi ia urungkan, karena mengingat pesan Julian jika Frayza mengalami kerusakan memori.
“Jika aku memiliki seorang putra pasti akan aku jodohkan kepadamu.” Mengelus rambut Frayza yang tergerai.
“Bibi Fang, aku seorang ibu yang tidak jelas siapa ayahnya Jade.” Tiba-tiba mulut Frayza menyebut nama yang seolah tak asing terucap dari bibirnya. Ia menutup bibirnya rapat-rapat.
“Fray, baru saja kau sebut nama siapa?”
“Bibi Fang, siapa itu Jade? Bukankah anakku hanya Seven.”
Bibi Fang ketakutan bila perkataannya ada yang menyinggung Frayza baru saja. Dan hal buruk dapat mempengaruhi kesehatannya yang baru saja pulih.
*
*
*
Julian bergegas menemui Rose yang sudah menunggunya diparkiran halaman Butik. Wanita itu langsung berhamburan memeluk Julian dan mengatakan hal yang menjadi rahasia selama hidupnya.
“Maafkan aku Julian, sudah membohongimu selama ini. Sebenarnya aku pergi darimu karena menyembunyikan kehamilanku hiks hiks huhuhu.”
Julian melepaskan pelukan Rose yang ia rasa aneh saja.”Kau bicara apa Rose?”
“Aku menyembunyikan kehamilanku, karena aku takut kok menolak bayi dalam kandunganku. Dan akhirnya aku menikahi pria yang sekarang menjadi suamiku.”
Memori kelam masa lalu ibunya seolah terulang pada dirinya kini. Ia memiliki anak tapi harus terpisah. “Tidak Rose, kau mungkin salah. Jika kau ada masalah dengan suamimu jangan jadikan aku kambing hitam dalam rumah tangga kalian. Aku tidak ingin terlibat masalah keluarga kalian, maafkan aku Rose.” Julian tak kuasa mengatakan hal ini, karena ia takut nasib buruk terjadi padanya juga.
“Juliaaannnn, Juliaaannn dengarkan aku dulu!” Rose mengejar Julian yang masuk kedalam mobil. Ia melajukan mobilnya pergi. Sedangkan Rose dipergoki keberadaannya oleh Andreas yang mendatangi Butik.
“Apa yang aku dengar baru saja itu benar?” tatapan matanya seolah hakim yang akan menjatuhi hukuman pada terdakwa.
“And... Andreas tolong rahasiakan ini dari Frank. Aku tidak mau dia tahu dari orang lain. Berikan aku waktu untuk mengatakannya.”
__ADS_1
“Dengan cara mendatangi seorang pria lajang begitu?”
“Andreas, hubunganku dengan Julian tidak berjalan baik. Kami waktu itu sama-sama tidak sengaja dan akhirnya aku hamil.”
“Tidak mungkin, Frank selalu memujimu sebagai wanita yang baik. Ternyata kau lebih buruk daripada Franda. Sebaiknya aku beritahu Frank agar segera melakukan tes.” Tapi tiba-tiba Andreas membatalkannya. Karena iba dengan Rose yang memohon kepada dirinya.
“Baiklah Andreas, kita bicarakan ini dengan keadaan yang tenang. Saat ini aku harus menemui kakaknya Julian.”
“Siapa?” Jangan-jangan wanita pincang yang datang bersama Julian.
“Frayza, sekarang ia sedang sakit. Jadi aku akan menemuinya dan mengatakan perihal masalah ini. Hanya ia yang bisa membujuk Julian dengan baik.”
“Aku akan pergi bersamamu, karena aku mau jadi saksinya juga.” Selain itu Andreas juga penasaran dengan wanita yang baru saja disebut namanya.
Keduanya sepakat untuk menemui keluarga Julian, karena Rose didukung oleh Andreas. Sedangkan Frayza baru saja menidurkan Seven usai bermain dengannya. Bibi Fang terdengar menerima tamu, dan Frayza kesulitan untuk keluar menengok siapa yang datang.
“Saya adalah temannya Julian dan ini pengacara keluarga kami, namanya Andreas.”
“Senang berkenalan dengan anda, saya Bibi Fang pengasuh Julian,” Rose kaget karena inilah wanita tua yang ia lihat dirumah sakit bersama Julian membawa bayi. Yang selama ini Rose pikir sebagai wanita tua penggoda pria muda.
Rose dipersilakan masuk dan dibuatkan teh hangat. Mata Andreas menelisik melihat dinding rumah yang tidak memiliki foto penghuninya. Mereka duduk di kursi teras saja, karena apartemen mereka belum ada sofa. Kegiatan mereka banyak dilakukan diatas karpet dan matras busa. Karena Seven mulai belajar merangkak. Lalu Andreas menerka bila Julian ditinggalkan Rose karena tidak mapan.
“Glekk,” Rose membenarkan tebakan Andreas yang ditujukan kepada dirinya. Ia menelan salivanya dengan berat karena memang awal merintis butiknya, Julian serba kesusahan.
Dibantu oleh bibi Fang, Frayza berjalan menemui kedua tamu yang duduk diteras. Andreas terperangah karena itu benar wanita yang ia lihat.
“Duduklah dikursi ini, kakimu kenapa? Harusnya memakai kursi roda biar tidak tambah lukanya!” Bibi Fang dan Frayza melenggong diperlakukan oleh tamu yang baru saja datang di apartemen mereka.
“Maaf Tuan ini siapa?” pertanyaan Frayza ini membuat Andreas sadar jika sikapnya berlebihan.
Rose kemudian berdiri untuk menyapa Frayza. “Kak, maaf aku datang mendadak kemari. Ia adalah pengacara keluarga kami namanya Andreas.”
“Hallo Tuan Andreas,”
“Hai iya hallo juga, aku Andreas.” Grogi.
“Kak, kedatanganku kemari bersama Andreas karena ini mengatakan sebuah kebenaran mengenai status Julian.”
“Apakah adikku terlibat kriminal?” Bibi Fang memeluk Frayza gang bergetar tubuhnya.
__ADS_1
“Bukan Nona, tenanglah dulu.” Andreas menenangkan Frayza agar duduk terlebih dahulu.
“Baiklah, akan aku perjelas Kak Fray. Sebenarnya aku dan Julian pernah melakukan kesalahan fatal hingga akhirnya hamil. Karena saat itu aku tahu posisiku sebagai teman. Oleh karena itu aku memutuskan untuk merahasiakan hal ini darinya. Kemudian aku menikah dengan suamiku yang sekarang ini. Aku melahirkan anak Julian yang bernama Cecilia.”
“Bibi Fang, bisa kau hubungi Julian sekarang dimana? Suruh dia kembali pulang.” Pinta Frayza yang terpukul berat.
Rose khawatir jika Julian tidak mau pulang dan memilih kabur. “Kak, itu percuma kau lakukan. Tadi aku baru saja menemuinya dan mengatakan hal yang sama. Dia langsung menolakku dan pergi.”
“Aku akan coba membujuknya dahulu, setidaknya jika ia ada disini. Kita semua bisa menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin.”
Julian yang sedang curhat dimakam ibunya pun menuruti perintah kakaknya untuk segera pulang. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama. Sembari menunggu kedatangan Julian, Andreas dan Rose dijamu makan bersama.
“Kak Fray, kalau boleh tahu kenapa kau bisa kecelakaan?”
“Semalam ketika aku menyabrang dijalan, ada pengemudi brandalan menyalakan klakson. Aku yang berjalan memakai sepatu hak tinggi gugup dan gontai. Akhirnya kakiku terkilir dan tidak patah saja.”
“Lalu siapa yang menolongmu?”
“Sopir bis yang aku tumpangi, beliau baik sekali kepadaku.”
“Tunggu!” potong Andreas yang ceritanya ini cocok dengan yang semalam ia lakukan.
“Kau ini kenapa sih mengagetkan orang saja.” Rose terkejut karena Andreas tiba-tiba memotong pembicaraan mereka.
“Apakah kau gadis yang semalam menyabrang di lampu merah? Dab pulangnya naik bis ****?” menatap serius Frayza.
“Ia,” jawab polis Frayza.
“Ya Tuhan, ini sepertinya bukan kebetulan.” Andreas seolah beruntung menemukan calon kekasihnya sedihnya lagi. Ialah yang sudah menyebabkan kakinya Frayza terluka. Ia harus merahasiakan keberadaan Frayza yang sudah ia ketahui lebih dahulu dari Frank. Semoga saja Frank tidak menemukan Frayza secepatnya. Karena tadi pagi sepertinya Frank tidak menyadari jika Frayzalah gadis yang ia cari.
Plakkk, Rose memukul keras paha Andreas agar tidak bicara ngawur lagi. “Hawwwwe sakit!” pekiknya kesakitan.
“Diam dulu kenapa sih!” bentak Rose.
Memang sikap Andreas ini sedikit aneh dan santai, tidak kaku seperti pengacara kebanyakan. Ketika Julian menampakkan Batang hidungnya dirumah. Semuanya menjadi diam dan membatu. Ia menyadari jika Frayza menyuruhnya kembali karena ada Rose dan Andreas. “Julian, mereka mencarimu.” Sebut Frayza yang ikut duduk lesehan diatas karpet.
“Baiklah Kak, aku akan mandi dahulu kalau begitu.” Julian ingin mendinginkan kepala dan tubuhnya sebelum membahas hal yang membuatnya emosi.
Pada kesempatan ini, Andreas memberanikan diri untuk mengakrabkan diri dengan Frayza. Ia tidak ingin menampik perasaan sukanya kepada kakak Julian ini. Tapi Rose yang bisa membaca gelagat aneh Andreas akan ia manfaatkan untuk kepentingannya nanti.
__ADS_1