TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
BANDEL SEKALI KALIAN, NAK


__ADS_3

Menjelang hari-hari terakhirnya, Seven lebih intens bersama Xirion di kandang. Anak kecil itu bahkan sudah berani mengambil stok daging segar. Terkadang ia tak segan meminta para koki untuk lebih banyak belanja daging.


Pagi ini suasana tidur Hikashi dan Frayza terganggu auman Xirion. Tidak seperti biasanya hewan buas ini suaranya nyaring.


“Sayang bangun.”


“Hemmbb,” menyipitkan matanya.


“Suara gaduh.” Menggoyangkan tubuh suaminya agar segera bangkit.


“Aku lihat sebentar ya.”


“Kembali tidur, ini masih terlalu pagi. Biar aku saja yang lihat, muacchh.” Tak lupa mengecup kening istrinya, mendorong agar berbaring melanjutkan tidur paginya.


Ia turun memakai sendal slop blundru warna hitam. Mengaitkan tali kimononya dan menenggak air putih menyegarkan kerongkongan. Hikashi melihat para pelayan memberikan hormat kepada dirinya. Tampaknya sepagi ini mereka tengah sibuk bebenah rumah.


“Jade, ayo bantu aku menarik selang!”


“Aku tidak berani Seven!” berjinjit dipojokan.


“Ayolah Jade, ini akan seru. Seperti memandikan berang-berang saja.”


“Hiii tidak, kau saja Seven. Aku ngeri melihat taring dan kukunya yang tajam.”


“Ini akan mudah Jade, kita tinggal memberinya makan sampai kenyang agar ia tidak berontak.”


“Kau ini tidak takut apa, suaranya menggelegar seisi rumah. Aku tidak mau ikut-ikutan!” tolak Jade yang memang sudah panas dingin.


Kedua bocah itu berada dalam kandang Xirion. Betapa kagetnya Hikashi melihat putranya bersama hewan buas. Kemana pawang mereka? Kenapa bisa kecolongan menerobos masuk kesana? Ini sangat berbahaya!”


“Kau kalian berdua!”


“Celaka kita Seven!” melirik adiknya.


“Jade, kenapa Papa datang?”


“Apa yang kalian lakukan didalam kadang singa! Ayo keluar!” teriak Hikashi marah.


Seven meletakkan potongan daging dan menggandeng Jade dari pojokan kandang. Mereka berdua bergandengan dan tertunduk layu. Seperti tahanan yang terciduk oleh sipir penjara.


Hikashi sudah mencak-mencak, pagi-pagi sudah melihat adegan sirkus. Parahnya lagi, mereka berdua tidak didampingi oleh pawang Xirion. Pantas saja Xirion mengaum keras. Orang kedua anak itu menyemprotnya dengan air dingin.


“Papa, Seven yang mengajakku.” Menoleh adiknya.


“Papa, Jade yang memberikan idenya kepadaku.”


Menarik kedua telinga anaknya, hingga mereka berdua berjinjit. Suara ringik rintihan kedua bocah itu terdengar Frayza yang menuruni tanggan. Wanita itu penasaran dan memutuskan untuk bangun saja. Melihat situasi apa yang sedang terjadi.


“Kenapa kau menj...”

__ADS_1


“Mereka ku hukum karena masuk kandang singa tanpa ijin dan pengawasan!” Hikashi berdiri diantar kadua anaknya.


“Mama... Papa menjewerku huaaaa...”


“Menangislah kau Jade, ini karena kau menjadi kakak yang tidak berguna!”


“Sayang,” Frayza memelas melihat kedua anaknya dihukum.


“Jangan ikut campur ketika aku mendisiplinkan mereka Fray! Kau masuk kembali ke kamar!” perintah Hikashi.


“Seven, ini salahmu. Cepat bujuk Mama agar membebaskan kita!” Jade menyuruh adiknya.


Dengan santainya Seven dijewer telinganya hanya bersikap biasa saja. Sesekali menyeringai ngilu telinganya ditarik.


“Apa kalian tidak mengerti kalau kandang singa itu berbahaya!” Hikashi membawa mereka masuk keruangan kerjanya.


“Tapi aku tidak melakukan apapun Papa. Seven yang memberinya makan, jadi jangan hukum aku.”


“Sudahlah Papa, lepaskan saja Jade. Aku yang salah sudah membujuknya masuk ke kandang.” Seven dengan santai bicara kepada ayahnya.


Hikashi jelas tidak mau meringankan hukuman keduanya. Kini ia mengambil beberapa buku tebal dari rak.


Brugh! Tumpukan buku tebal itu sekarang ada didepan mata kedua anaknya.


“Baca dan hafalkan, tidak akan ada sarapan pagi untuk kalian berdua. Papa akan kembali mengecek hafalan kalian. Sejauh mana kalian dapat menebus kesalahan kalian!”


“Papa tapi buku ini tebal sekali!”


“Itu benar yang dikatakan Seven. Jika kalian merengek terus, maka aku akan mengetes kalian dengan buku lebih banyak lagi.” Tantang Hikashi.


“Cukup Papa.” Jade mengambil beberapa buku didekapnya.


Kemuadian putra bungsunya mengambil buku dan duduk disofa. Hikashi memperhatikan keduanya sambil membaca buku juga. Tiba-tiba matanya melihat kertas di tong sampah. Gambar desain baju buatan Frayza yang dipesan secara khusus untuk Hiroshi.


“Hemmbbb...” memicingkan matanya. Pikirannya berkecamuk dan jarinya mengusap bibirnya. Tandanya Hikashi sedang penasaran apa yang akan ia lakukan.


Sampai terdengar suara ketukan pintu dari luar. Pelayan memberitahukan jika sudah jam sarapan pagi. Hikashi meminta si pelayan tersebut berada diruang kerja untuk mengawasi kedua putranya. Pelayan itu melihat kedua anak majikannya belajar dengan serius. Beberapa kali mulut mereka menguap karena terserang kantuk. Membaca buku yang tebal dan huruf kecil membuat mata berkunang-kunang. Rasanya ingin tidur nyenyak saja, karena jam makan siang masih lama.


Di meja makan sudah ada istrinya yang cantik menunggunya. Wajahnya sedikit gusar, mungkin memikirkan kedua anaknya.


“Sayang, apa kau memukul mereka?”


“Tidak,” jawabnya lembut.


“Aku mohon jangan keras kepada anak-anak ku.”


Menaikkan dagu istrinya, dan mencium bibir merona merah.” Mereka juga anak-anakku.”


“Lalu kenapa mereka tidak ikut keluar bersamamu?”

__ADS_1


“Mereka sedang belajar diruang kerjaku. Jangan khawatir keadaan mereka, aku tidak akan menyakiti anak kita.”


“Aku bawakan sarapan ya untuk mereka.”


“Tidak usah, sudah ada pelayan berjaga disana. Temani aku sarapan disini.”


Frayza mengiyakan ajakan suaminya, walaupun hatinya tak tenang. Ia ingin melihat sendiri keadaan kedua putranya. Sebagai istri pasti paham betul tabiat suaminya yang keras mendidik anak. Hikashi tidak sepenuhnya bersikap selunak dan selembut dirinya. Suaminya tetaplah seorang pria yang memiliki kedudukan tinggi. Sudah pasti Hikashi tidak akan segan menghukum kedua anaknya.


“Apa kau tidak selera dengan makanannya?”


“Aku sedang ingin makan buah segar dan yogurt.”


“Ingin makan rasa yang masam-masam ya?”


“Iya, itupun kalau ada disini.”


“Ayo ikut aku nanti pergi berbelanja, kita cari keperluanmu.”


“Lalu Jade dan Seven bagaimana?”


“Sebelum jam makan siang, kita akan pulang. Aku sedang ingin berkencan dengan istriku.” Hikashi menyudahi sarapannya.


Ia memutuskan jadwalnya hari ini untuk bersama istrinya tercinta. Ia menjadi dan memilih baju santai. Yang cocok dikenakan dinegara iklim panas. Memakai kolor pendek dan kaos berkerah membuat Hikashi seperti turis yang tengah melancong. Tak lupa ia menyemprotkan minyak wanginya. Memakai kacamata anti radiasi matahari. Jam tangan pintar yang terhubung dengn ponselnya. Tak ketinggalan juga ia membawa dompet slempang.


“Kenapa kau berdandan seperti itu? “


“Apakah aku terlihat buruk?”


“Kau seperti pria berusia 26 tahunan Sayang.”


“Hohoho kau pandai menjilat ya sekarang. Aku sudah menginjak kepala 4 Sayang.”


“Tapi serius kau sangat tampan Suamiku?”


“Berarti kau yanh beruntung memperoleh jodoh sepertiku?” Hikashi mulai besar kepala.


“Huuuuu...” cela Frayza.


“Sudahlah Sayang, jangan begitu. Ayo kita berangkat sekarang.”


Keduanya saling merangkul dengan mesra berjalan meninggalkan rumah. Hari ini Hikashi dan Frayza akan berkencan seperti pasangan berpacaran. Tampak begitu serasi, Kenzo dan Takeshi menyusun rencana mereka untuk berkemah di gurun. Sedangkan Matsumoto menggunakan hari-hari terakhirnya menyendiri di kandang unta.


“Aku sendiri bahkan tidak tahu Unta, kenapa sampai sekarang aku masih jomblo. Uang ada, rumah punya, kendaraan banyak, gaji tinggi dan rupaku ya pas-pasan lah ya.”


“....” unta itu seperti memahami curhatan Matsumoto.


“Dan kau tahu betapa sakitnya kenyataan? Harapan kadang berbanding terbalik dari apa yang aku dambakan hahaha.” Memukuli kepalanya frustasi.


“....” Unta itu mengunyah sambil mengedipkan matanya. Mungkin kalau ia bisa bicara pasti berkata. ‘Tidak semua jomblo itu sukses dalam hal Asmara.”

__ADS_1


Matsumoto lebih nyaman bercerita dengan unta, karena tidak ember. Dan rahasianya dijamin aman tidak bocor.


__ADS_2