TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
SURGA MILIKNYA


__ADS_3



BUTIK,


Pakiran halaman butik dipadati mobil, tidak seperti pemandangan hari biasanya. Sudah seminggu Julian tidak masuk kerja. Ia sediki kikuk untuk menyapa para karyawannya.




“Julian, kemana saja kau! Mana Kak Fray tidak berangkat kerja beberapa hari ini lagi. Kami kewalahan mengurus pesanan.”


“Oh iya, aku akan membantu kalian.” Julian yang awalnya termangu berdiri kini melayani pembeli.


“Kau harus melihat pesanan yang sudah menumpuk dimeja kerjamu. Kak Fray sungguh luar biasa, dia merombak seluruh koleksi busana. Kau harusnya bangga memiliki saudara seperti dirinya.”


“Iya,” Julian sudah tekanan mental.


Karena sejak ia absen kerja, ternyata Frayza sudah memperbarui sistem dan pola rancangan busana untuk butik. Bahkan Frayza meninggalkan beberapa catatan penting ketika membuatnya. Julian sangat berkecil hati, karena potensinya hanya menyakin gambarnya. Dan dibantu karyawannya untuk menyelesaikan sampai jadi.


Julian teringat kepada bibi Fang yang sudah bekerja lama dan pengalaman. Ia berniat merekrut lagi bibi Fang agar bekerja dengannya lagi. Kan bibi Fang tidak memiliki keluarga. Mungkin sekarang dia juga butuh pekerjaan.


Tak ingin membuang waktunya, saat jam makan siang Julian mengajak bibi Fang bertemu.


“Bibi Fang, aku minta kau kembali untuk bekerja di butik lagi.”


“Tidak bisa Julian, aku sudah tua.”


“Sejak kak Fray mengelola butik, penjualan kami naik omsetnya. Maukan bantu aku lagi?”


“Hmmmmb,” menggelengkan kepalanya.


“Bibi Fang sudah seperti ibuku sendiri, dan bibi Fang harusnya bersyukur jika memiliki kegiatan yang tidak membosankan.”


“Kata siapa aku bosan dirumah saja! Kau berpikir aku kekurangan uang karena tidak mengasuh Seven. Hohoho kau salah paham Julian. Aku sudah menyetujui merawat Seven lagi. Kali ini aku sudah menerima tawaran dari orang kepercayaan Tuan William.”


“Apa maksudmu Bi?”


“Aku dipekerjakan lagi untuk mengasuh Seven, dan kebetulan sekali kau mengajakku keluar. Jadi sekalian aku berpamitan saja kepadamu. Lusa aku berangkat ke Inggris meneruskan pekerjaanku. Aku pikir-pikir mengasuh Seven jauh lebih menyenangkan dimasa tuaku. Jadi, kau ajak saja Franda untuk mengelola butik tersebut.”

__ADS_1


“Apakah bibi Fang hanya mencari alasan saja karena aku sudah jahat kepada kak frayza?”


Bukan tanpa alasan juga bibi Fang marah kepada Julian yang seenaknya saja menukar anaknya dengan Frayza. Saat Frayza diculik, bibi Fanglah yang kebingungan melapor ke Polisi. Sampai akhirnya ia bertemu Kenzo disana. Pengacara yang mengetahui laporan bibi Fang ini langsung menemui Kenzo.


Bibi Fang teringat betapa kacaunya mengingat Seven masih bayi. Sedangkan Frayza dibawa pergi penjahat kejam Frank. Tapi bersyukurlah Frank sudah mati. Dan Frayza kini membawa Seven ke Inggris. Dengan demikian ia bisa bernapas lega, sudah banyak kekecewaan terjadi disini.


“Julian, jadilah anak yang baik. Jangan libatkan kesusahanmu lagi kepada saudari sulungmu. Berpikirlah secara logis, bukan egois. Kau dan Franda sudah dewasa, jangan menggantungkan keuntungan kepada Frayza. Dia berhak hidup dengan baik, terlebih dia sekarang ingin berdamai dengan Tuan William. Ku harap mereka bisa rujuk lagi, dan aku pamit dulu.


Nasehat bibi Fang ini seperti tamparan keras. Bahkan membuat Julian terduduk lebih lama sekitar satu jam. Ia menahan airmatanya agar tidak tumpah. Benar, dia adalah orang jahat bagi Frayza. Sejak kecil sampai dewasa ini, ia dan keluarganya sebenarnya benalu bagi Frayza. Jika saat ini Frayza pergi ke Inggris menyusul mantan suaminya. Adalah pelarian yang baik, karena Hikashi memiliki kekuatan dan kekuasaan. Pasti Frayza ingin anaknya anak dibawah perlindungan Hikashi. Entah nasibnya nanti setelahnya, sekarang prioritasnya ialaha anaknya. Dan bertemu dengan Jade, putra sulung yang belum ia temui.


*


*


*


- LONDON, INGGRIS.


Pesawat sudah mendarat dengan selamat, para penumpang kelas bisnis bersiap untuk turun dari pesawat. Kenzo mengambil barang bawaan yang ada di bagasi atasnya. Sedangkan Frayza memondog bayi Seven yang masih terlelap sepanjang perjalanan. Inilah pertama kalinya Frayza melihat Bandara London Heathrow pada siang hari.


Kenzo sudah sibuk mengurus dokumen penerbangan mereka. Frayza dan Seven berada ditempat istirahat khusus penumpang kelas bisnis. Saat Seven membuka bola matanya yang mirip Hikashi. Jantung Frayza berdegub kencang. Ia ingat mata itulah yang pernah menyetubuhinya dengan brutal.


“Astaga, aku kenapa berpikiran cabul begini!” Frayza menutup mata Seven yang tidak bersalah ini.


Tiba-tiba ada beberapa pasang kaki oria bertubuh tegap dengan sepatu mengkilat. Mereka memasang wajah ramah kepada Frayza yang mengambil Seven.


“Nona, selamat datang di Inggris. Kami adalah pengawal dari kediamana Alexander.”


Nampakanya Frayza tidak tahu jika marga Hikashi adalah Alexander. Jadi ia kembali duduk dan menenangkan Seven lagi. Datanglah Kenzo dari belakang membelah barisan pengawal yang masih berdiri.


“Nona, sedang apa kau?” Kenzo heran kenapa Frayza masih duduk santai saja.


“Aku sedang menunggumu bukan?” dengan polosnya wanita cantik berambut panjang itu menjawab.


“Ah iya, maaf Nona jika kau tidak mengenali mereka.” Mereka yang dimaksut Kenzo adalah pengawal khusus yang disiapkan oleh Hikashi.


“Mereka siapa memangnya? Apakah aku mengenal mereka sebelumnya.”


“Hehehe bukan Nona, mereka adalah pengawal khusus yang ditugaskan menjaga keselamatan anda dan tuan kecil.”


Terlalu berlebihan atau bagaimana, sebanyak ini! Mereka lelaki semua bertubuh tinggi dan tegap. Membawakan barang bawaan Frayza dan milik Kenzo juga. Ada sekitar 4 mobil yang menjemput mereka di bandara. Sehingga menjadi perhatian beberapa orang yang berada disana.

__ADS_1


Perjalanan yang lumayan jauh itupun menjadi tak terasa. Karena bayi Seven sangat antusias melihat pemandangan dari dalam kaca mobil. Bayi itu berjingkrak dan berceloteh mengagumi kampung halaman ayahnya.


Frayza tentu sangat malu dengan tingkah bayinya ini. Bagaimana tidak, bayi itu mengeluarkan kepalanya diatap kabil mobil. Dan berteriak kesenangan seolah ia mengabarkan kedatangannya.


Kenzo yang berada dimobil belakang Frayza tersenyum dengan Seven yang lucu. Ia terus menyalin dan menanda tangani berkas-berkas di pangkuannya. Pekerjaannya belum berakhir begitu saja.


Sampai akhirnya Seven capek dengan tingkah polahnya dan tertidur pulas dipangkuan Frayza. Sang ibu juga ikut juga ketiduran dalam perjalanan. Sampai akhirnya mobil itu harus berhenti karena sudah memasuki kawasan kastil milik Hikashi. Harus melewati beberapa lapis penjagaan yang super ketat. Frayza mengerjapkan matanya perlahan. Dilihatnya pagar setinggi 5 meter. Dengan ukiran besi hitam dan emas. Beberapa baris jenis pohon menjadi payung halaman luasnya. Udara sejuk sudah terasa ketika ia menurunkan kaca jendelanya. Ternyata jarak pintu gerbang utama ke garasi mobil sangat jauh. Dan mobil yang membawa Frayza dan kenzo harus berputar ke halaman teras utama.



Gambar ilustrasi.


Dua mobil itu sudah ditunggu oleh para penghuni kastil. Dan tak ketinggalan si punggawa rumah kediaman ini adalah Patrick. Kepala bagian urusan rumah tangga. Pria itu dengan senyuman ramahnya membukakan pintu mobil. Khusus untuk Frayza.


“Selamat datang kembali Nona Frayza dan tuan kecil Alexander.” Sambutan Patrick itu diikuti oleh para pelayan.


Frayza yang masih belum selesai mengagumi kastil milik itu, harus terkejut dengan perlakuan sopan para pelayan disana. Mereka menggendong Seven dengan ceria dan ramah. Sehingga bayi itu tidak takut bertemu orang asing. Dan seorang pelayan lagi meminta tasnya untuk dibawakan. Lalu muncul lagi pelayan yang meminta jaketnya. Sehingga Frayza diperlakukan istimewa dikedarangannya.


“Nona? Apakah Nona mau aku buatkan teh atau air hangat? Kami juga sudah menyiapkan terapis pijat. Anda tinggal pilih ingin apa tolong katakan.”


“Siapa nama anda Tuan?” bukan begini konsepnya Frayza, kenapa kau panggil Patrick ini Tuan! Dia ini pelayanmu, kacau ternyata ingatannya belum kembali sempurna.


“Heih, Tuan? Maaf Nona, panggil saja namaku Patrick. Aku disini kepala rumah tangga, disini hanya ada satu tuan besar yaitu Tuan Hikashi William. Dan tuan muda Jade yang sekarang tinggal di asrama sekolah.”


“Oh begitu ya,” Frayza tercengang mengetahui ternyata mantan suaminya lah pemilik bangunan megah ini.


“Pfffttt, Nona Frayza masih amnesia Patrick. Harap maklum,” Kenzo menepuk pundak Patrick yang merasa ada hal yang aneh pada diri Frayza.


Didalam kastil ini ruangan utamanya begitu luas. Lalu ada tangga yang meliuk-liuk naik ke atas. Namun ada lift khusus yang tidak sembarang dapat dinaiki oleh siapapun. Karena lift ini khsusus digunakan oleh penghuni inti.


“Mari saya tunjukan kamar anda Nona,” dua orang pelayan wanita yang membawa jaket dan tasnya menunjuk arah tersebut.


Ternyata Frayza dan Seven kamarnya dipisahkan dan saling berjauhan. Kastil ini seperti hotel yang memiliki banyak kamar. Bedanya kamar disini tidak memiliki nomor. Jadi dapat dipastikan Frayza akan nyasar mudah.


“Kami sudah menyiapkan air hangat dengan taburan bunga. Serta kami menambahkan minyak dan parfum aromaterapi. Mari saya bantu untuk melepaskan pakaian anda Nona. Kami akan memandikan anda.”


“Aaaa-apa! Tidak usah aku bisa mandi sendiri.” Frayza menyilangkan tangannya didadanya.


“Tidak apa-apa Nona, jika anda menolak kami maka Pengurus Patrick akan menghukum kami. Karena tidak melayani anda sebagaimana mesti.”


Kedua pelayan ini membantu Frayza untuk mandi, tak ada perasaan jijik atau sungkan. Mereka memperlakukan badan Frayza seperti memandikan tubuh mereka sendiri. Setelah itu mereka memijat Frayza dibagian kaki dan kepala.

__ADS_1


Datanglah pelayan bawa troli berisi buah-buahan dan kue-kue. Saliva Frayza berdecak takjub melihat berlimpahnya makanan yanh datang. Bahkan untuk makan saja, Frayza disuapi. Jadi dia tinggal menunjuk dan meminta apa.


Mungkin Frayza sedang bermimpi di surga sekarang, setelah melewati kehidupan yang sangat berat. Tapi ketika ia membuka matanya, sudah ada Seven yang memeluk dirinya. Ternyata ini bukan mimpi belaka. Ini adalah kenyataan, ia terbangun masih berada di kastil milik Hikashi.


__ADS_2