
“Pelatih, apakah aku melupakan sesuatu?”
“Apa? Semua kru ada disini, memang ada oranglain lagi?” clingak-clinguk mencari tahu keberadaan yang dimaksut Ramon.
“Entahlah aku sepetinga merasa ada yang kurang saja, tapi seperti apa begitu hemmm.” Berpikir keras.
“Dasar lelaki, kalau mengejar saja hujan badai dan perang diterjang. Giliran sudah dapat, sudah seenaknya saja!”
“Mungkin Ramon sibuk, apa kau sudah mengirim pesan lebih dahulu kepadanya?”
“Cih, tidak sudi aku mencariny lebih dahulu. Sudah hukum alam kalau pria harus mengejar wanita. Tidak ada dalam kamusku untuk mengalag huh.”
“Apakah hubungan kalian seperti ini? Dalam mencintai pasti ada rasa takut kehilangan. Bohong besar jika mengandalkan rasa percaya namun tak ada komunikasi yang baik.” Ucap Frayza yang menjadi Fred.
“Hai Fred, aku rasa kau lebih waras daripada Ramon.” Frayza memundurkan wajahnya saat Digna mendekatinya.
“Jauhkan wajahnmu nafasmu bau. Itu data pria yang sedang kau cari. Sudah keluar dari mesin cetak.” Frayza mengalihkan pembicaraan yang mulai mengarah yang tidak-tidak.
“Hahahaha Fred, kau malu ya kepadaku? Padahal aku hanya menggodamu.” Pekik Digna nakal.
“Jangan ulangi lagi, aku mau buang air besar. Jangan mengintip!”
“Dasar Fred, sayang sekali kau lebih muda dariku. Mungkin kau tidak tertarik dengan wanita yang lebih tua. Hehehe,” matanya mulai molotot siapa lelaki istimewa yang ditemuinya di Bandara.
“Ah bukan barang,” Ucap Ramon.
“Sudahlah, kalau pun bukan barang apakah orang. Tentu bukan kan hahahaha.”
__ADS_1
“Pelatih! Aku baru ingat, pacarku sekarang. Aku pamit dulu mencari pacarku, sepertinya dia akan tersesat jika berkeliaran.” Ramon beranjak dari kursi tempat berpesta mereka.
“Hai hai ini hadiah tiket pesiarmu akan kau berikan kepada siapa?” teriak Pelatih.
“Oh hampir kelupaan, terimakasih sudah mengingatkanku.”
Rencananya Ramon hendak mengajak Digna berlibur, sekaligus meminta maaf karena sudah membuat kesal. Dan tentunya si obat nyamuk Frayza, gadis malang yang ia pungut sebelumnya.
“Pasti Digna memaafkanku,” dengan mantap Ramon menuju kamar hotelnya.
Tak ada Digna disana, bodohnya Ramon berpikir kalau Digna hanya mengancam dan tidak nekat. Ternyata Digna benar-benar sudah berada di Batam. Usai mengecek CCTV yang terpasang di Apartemen.
“Sial, kenapa sih wanita susah diajak senang. Tidak bisa apa sedikit saja mengerti lelaki juga tidak suka di kekang dan dicurigai.” Sambil mengemasi baju dan barang ke dalam koper.
Saat keluar dari kamar hotel, ada orang-orang berbadan tegap berdiri. Ternyata mereka adalah utusan Hikashi yang mengundang Ramon untuk makan bersama.
“Untuk apa, aku tidak kenal dengan Bos kalian. Maaf aku sedang sibuk, pacarku kalau marah bisa meledak.” Tolak Ramon.
“Maaf, tapi anda tidak bisa menolak.” Pengawal itu membawa Ramon dan memaksanya ikut pergi.
“Hai ini bisa dibicarakan baik-baik tidak perlu memakai pemaksaan. Kalian bisa aku tuntut!”
“Lebih baik anda diam dan bekerjasama daripada gigimu rontok!” Ramon terdiam mendengar ancaman pengawal.
Pengawal yang mengapitnya terus-terusan membuatnya susah merogoh ponselnya didalam saku celananya. Ramon mulai gelisah, apakah dia akan dibunuh tanpa sempat menemui Digna. Dan mengembalikan semangat hidup Frayza yang kelam. Ramon kini merasa melankolis, yang jago bergulat diatas ring. Kini berbinar sedih meratapi hidupnya yang mungkin sudah tidak lama.
Memasuki Puri peristirahatan yang megah dengan gaya arsitek Bali. Tanpak beberapa pohon diterangi sorot lampu taman yang remang-remang. Setelah melewati 3 gapura yang menjadi pintu gerbang menuju sebuah bangunan yang dijaga ketat oleh penjaga bertubuh tegap dan gagah. Seorang pria yang dengam tenang menyemprotkan air pada pohon bongsai yang langka. Beberapa patung giok dan lukisan banyak menghiasi tempat yang asing bagi Ramon.
__ADS_1
“Awh,” akhirnya lengan Ramon yang diapitpun dilepaskan Pengawal.
“Tuan, Mr. X sudah tiba.” Hikashi berhenti dari kegiatannya merawat tanaman bongsainya.
“Oh Mr. X sudah tiba, silahkan duduk.”
Yang awalnya berpikir bos yang kejam dan sadis musnah. Hikashi yang menyapanya begitu ramah dan senyum bersahabatnya. Ramon tertegun ketika pertama kali melihat wujug Hikashi yang sempurna. Dirinya yang seorang pria saja tertegun. Ini manusia apa boneka, kulitnya Asia. Tapi perawakannya seperti orang Eropa pada umumnya. Rambutnya coklat, matanya biru, bibirnya basah seperti buah ceri yang ranum. Bulu matanya yang lebat dan lentik. Jari jemarinya yang lentik dan kukunya yang bersih. Sejenak Ramon membandingkan kukunya yang kotor. Kulitnya yang kusam, rambutnya yang acak-acakan. Serta gigi putih dan rapi Hikashi seperti model iklan pasta gigi.
“Mr, X apakah pengawalku sudah bertindak kasar?”
“Bu-bukan,” gagap.
“Mari duduk dan berbincang santai.”
“Ba-baik Tu-tuan,” gugup menjawabnya.
Wanita cantik datang membawa nampang dengan berbagai hidangan. Lalu pemain musik gamelan memainkan alatnya dengan nada yang Indah beberapa penari menampilkan keahlian dan luwes gerakan tari mereka. Ramon yang tercengang karena dijamu sedemikian rupa baiknya oleh Hikashi.
Awalnya Ramon malu-malu mencicip hidangan, takutnya diberi racun. Dan diambil organ tubuhnya, dan jasadnya dibuang untuk dimakan buaya.
“Aku mau memberimu segala, asal kau bersedia mengabdikan hidupmu kepadaku.”
Itulah pernyataan Hikashi yang sebenarnya, jadi Ramon yang sudah berpikiran buruk. Akhirnya bisa bernafas lancar, tidak tersengal-sengal seolah dikejar tagihan hutang bulanan.
Pengawal yang berdiri dibelakang Hikashi memberikan ringkasan cara kerja dan imbalan yang akan diterimanya dari Hikashi. Seperti meraih mimpinya yang pupus, Ramon berharap dengan uang sebanyak ini bisa mengobati Digna hingga sembuh dari kangker.
“Baik, saya terima tawarannya.” Jawab lantang Ramon yang sudah terpana dengan tawaran Hikashi.
__ADS_1