
“Helena,”
“Seven, apa isi kotak itu?”
“Aku, tadi menemukannya dijalan he...”
“Seven, kotak itu masih baru. Jangan berbohong kepadaku.” Melotot.
“Helena, kau hanya kebetulan saja. Tidak lebih, ini kotak yang terbuang dijual toko loak.”
“Jade, aku tahu itu kotak jam tangan mahal. Darimana kau mendapatkannya, atau aku beritahu Frayza. Jika kau menemui pria asing?” mengancam.
“Helena, maafkan aku.”
“Seven,” Helena mengusap kepala remaja yang menundukkan kepalanya.
“Aku tanpa sengaja bertemu dengan ‘Paman Tongkat Panjang’ di perpustakaan. Singkat cerita dia hendak mengambil buku dirak. Kaki kirinya palsy, tubuhnya ditopang tongkat.”
“Astaga...” menutup mulutnya.
“Sejak awal pertemuan, kami bertukar kabar dan pikiran. Sehingga kami menjadi akrab dan sering mengirimi aku kado.”
“Seven yang malang, aku tahu hidupmu berat sejak orang tuamu berpisah. Kau pasti ingin memiliki hal yang sama dengan teman-temanmu bukan.”
“Mamak bekerja seorang diri, dan tempat tinggal kami begitu sempit. Aku harus berhemat selama program pertukaran pelajar ini. Terkadang jika akhir bulan, gajian telat. Kami hanya makan nasi dan sayur.”
“....hiks... Hiks... “ terenyuh.
“Tak apa Helena, jika kau menilaiku buruk. Aku menerima barang-barang mahal ini, suatu saat bisa aku jual kembali.”
“Seven, tidakkah kau ingin bertemu Ayah & Jade?”
“Tidak Helena, Mama pasti akan memarahiku. Bahkan Mama melarang menyebut nama mereka lagi.”
“Ketahuilah Seven, di dunia ini terkadang kau harus melawan tirani. Apakah tindakan membenci Ayah & Kakakmu ini benar? Jawabannya salah, kau harus mencari tahu fakta yang sebenarnya.”
“Tapi, aku takut Mama.”
Seven tumbuh menjadi anak yang penakut dan pemurung. Sejak perginya Hikashi ke Inggris tanpa berpamitan. Luka itu mulai tertoreh, sadar jika Yuki bukanlah sosok sebenarnya. Melainkan orang yang menyamar, dan dikabarkan tewas. Ia menjadi trauma dengan wanita, karena otaknya sudah tercuci oleh Franda. Saat menjadi Yuki ia mencoba menghasut Seven. Agar membenci seluruh keluarganya. Alhasil, bisa racun dari mulut ular Franda masih membekas. Itu sebabnya, Seven lebih senang menyendiri di perpustakaan & kamar. Ia menjadi kutu buku, hidupnya hanya untuk belajar dan belajar. Daya tahan tubuhnya sangat rapuh, sering sakit olehnya. Tubuh Seven kurus kering, serta memakai kacamata yang tebal karena silinder. Bisa dikatakan, Seven diet ketat karena uang makanya dihemat. Baju yang ia miliki hanya beberapa potong saja, bahkan ia memiliki sepasang sepatu nahasnya. Baik digunakan untuk sekolah, maupun harian.
*
*
*
Sore ini, di sebuah Restoran mahal tempat Hikashi menyantap makan siang. Helena memberanikan diri untuk duduk menghadap Tuan besarnya. Setelah Hikashi selesai mengelap bibirnya, barulah Helena diperkenankan untuk bicara sambil berdiri. Hikashi tetaplah menjadi pria yang tampan dan berkarismatik. Walaupun rambutnya mulai memutih dan kerutan diwajahnya tak mengurangi khas ketampanannya. Pria ini semakin menggairahkan dari tatapan mata, hingga aroma Wangi tubuhnya.
“Tuan Hikashi, didalam amplop ini berisi photo kehidupan putra keduamu. Kiranya kau bersedia, bukalah dan lihat kondisinya. Frayza sangat keras kepala dan arogan, mohon kesediaannya membantuku.” Membungkuk.
“Jika sudah selesai silahkan pergi!” ucap Patrick mengusir, ia paham kode lirikan mata oleh Hikashi.
“Ta-ta-tapi Tuan Hikashi, ku mohon bukalah!” pengawal sudah menyeret Helena pergi.
Alasan terbaik untuk melupakan seseorang ialah abaikan semua yang berhubungan dengannya. Hikashi sudah terlanjur sakit hati, dan mencoba menerima keadaan yang sudah semakin parah ini. Sore ini ia akan mengadakan rapat. Dan malamnya ia akan mengunjungi Jade yang berbaring di Rumah Sakit. Saat ini fokus utama Hikashi ialah kesembuhan Jade, itu saja. Bukankah ini yang dimau Frayza, ia pergi membawa miliknya. Dan ia bersama apa yang tersisa untuknya. Dengan demikian, kedua orang ini akan saling menjauh dan menolak satu sama lain. Rasa sedih dan kecewa bersatu, hingga rasa bahagia sudah berubah menjadi hambar terasa.
Disebuah tempat hiburan diatas gedung, menyajikan panorama perkotaan modern ini. Para pemuda dihadiri gadis cantik dan seksi tengah memamerkan parasnya. Para pemuda kaya dari kalangan atas tengah mengadakan pesta pora. Suara musik terdengar begitu keras, beberapa pasangan asik berada di kolam renang. Semuanya larut dalam kesenangan dan hiburan. Tampak seorang pelayan, berlari sempoyongan menerobos pesta yang tengah berlansung ini.
“Jade! Tuan besar menuju Rumah sakit kau dirawat!”
“Sial!”
Pemuda itu beranjak dari tempat pesta yang tengah berlangsung. Jarak gedung dan Rumah Sakit hanya beberapa blok. Mobilnya sulit keluar parkiran, karena pengendara lain parkir melintang. Tak kunjung menemukan kendaraan jua. Jade keluar gedung hendak mencari taksi atau sejenisnya yang bisa membawanya melewati beberapa blok. Namun sayang kali ini Jade dalam masalah. Dilihatnya bocah sekolah yang mengenakan seragam, tengah melajukan sepedanya.
“Bocah, aku ambil sepedamu. Ini gelangnya sebagai alat tukaranya!”
“Ta-tapi aku mau pulang...” ucap bocah berkacamata tebal.
Jade mengayuh sekuat tenaganya, ia tidak ingin kedahuluan oleh ayahnya. Beberapa perawat yang ia suap tengah panik. Jika ketahuan pasien mereka kabur dari ruangan. Kini para perawat yang menunggu gelisah menebak. Siapa yang akan datang terlebih dahulu.
“Mo-mobil Tuan Hikaahi sudah tampak!” teriak Satpam.
“Aduh... Bagaimana ini aih!” ucap seorang perawat.
“Kau sih, tidak bisa menolak uang suap. Jadinya begini kan repot, kalau ketahuan bisa-bisa kita dituntut.”
“Kau juga tadi yang menyuruhku menerima uangnya. Jangan salahkan aku saja!”
__ADS_1
“Aku kan hanya itu...”
“Hanya apa! Kau juga menikmati uang dari sogokan itu juga kan!”
“Aku ingin beli tas baru, makanya khilaf.”
“Kau cegah Tuan Hikashi agar lama diluar.”
“Dan kau?”
“Aku akan cari cara untuk mencari Tuan mura Jade.”
“Cepat sambut Tuan Hikashi, beliau sudah masuk di parkiran!”
“Ba-baik...”
Pelayan pertama menyambut Hikashi, ia memberitahukan jika Dokter ingin berbicara. Mengenai perkembangan Jade yang akan melakukan cangkok wajah. Hikashi menunggu diruangan Dokter Hae Won, Spesialis bedah plastik. Dokter cantik ini masih lajang diusia matang. Ia memiliki rambut yang panjang, serta tubuh yang proporsional.
“Sepertinya Dokter Hae Won sedang diluar, mohon tunggu sebentar.”
“Hemmbb,” mengangguk.
“Apakah Tuan bersedia saya buatkan teh atau kopi.”
“Air putih hangat saja, terimakasih.”
“Sama-sama.” Pelayan itu bernapas lega Hikashi menurutinya.
Didalam kamar pasien, Jade udah memakai baju pasien dan membalut kepalanya dengan perban. Pelayan membantunya dengan tergesa-gesa.
“Apa kau sakit?” tangan Perawat itu tak berhenti tremor memegangi cangkir berisi kopi panas.
“Belum sarapan Tuan.”
“Oiya?”
“Iya.”
“Aku baru saja menghubungi Dokter Hae Won, pagi ini dia praktek di klinik pribadinya. Apa kalian sedang mempermainkanku?”
“Benarkah? Kau sudah menghabiskan waktuku seperti orang bodoh disini!”
Hikashi keluar ruangan penuh amarah dengan Perawat yang menahannya. Ia segera berjalan cepat menuju kamar rawat Jade.
“Tolong selamatkan Putraku, Dok!” tangisan wanita pecah.
“Putramu tidak bisa ditangani jika tidak ada uang jaminan.”
“Aku mohon Dokter, segera lakukan tindakan operasi. Putraku tertabrak mobil, sepedanya dirampok orang!” tangisan wanita itu semakin menjadi dan membuat gaduh.
“Ini satu-satunya benda berharga yang bisa aku berikan. Mungkin bisa lebih harganya.” Menawarkan cincin dari jari manisnya.
“Maaf, aku tidak bisa menerima perhiasan. Ini palsu atau asli, harus dites dulu. Sebaiknya kau jual dulu cincin ini, lalu serahkan uangnya dibagian Administrasi.”
“Dokter, nyawa putraku sangat berharga tolong selamatkan dia!”
“Maafkan aku, Nyonya. Tapi sebaiknya kau jangan menggangguku. Ada pasien yang harus aku tangani.”
“Hiks hiks... Seven putraku...”
Setelah sekian lama, kini Hikashi tanpa sengaja bertemu Frayza di depan Instalasi umum. Bajunya lusuh dan tubuhnya tak terawat. Inikah wanita yang pernah ia cintai sebelumnya. Bukankah seluruh kekayaannya di Jepang atas nama dirinya. Lalu kenapa ia seperti orang pinggiran? Ia sangat tak percaya, selama beberapa tahun bisa merubah orang drastis.
“Aku saya penuh seluruh pengobatan putranya, segera masuk dan tangani putranya!”
“Tuan, maaf bukannya aku menyepelekan nyawa manusia. Tapi ini instalasi umum, mereka harua ikut prosedur Rumah Sakit. Jika mereka tidak memiliki uang jaminan. Maka kami selaku Tim Medis enggan melakukan tindakan. Karena semua yang ada di Rumah sakit ini biaya operasionalnya tidak gratis.”
“Beri waktu aku 2 jam saja, seluruh Rumah sakit ini akan menjadi milikku!”
“Siapa Anda sebenarnya Tuan?”
“Beliau adalan Pangerang Alexander Hikashi, dan ini tanda pengenalnya.”
“Tidak mungkin, ini hal mustahil.” Dokter itu terperangah.
Sementara itu Frayza sudah menjual cincin pernikahannya. Ia kembali membawa uang untuk pengobatan Seven. Anak malang itu tertabrak mobil, saat mengejar Jade yang sudah merampas sepedanya. Frayza berjalan dengan tergesa-gesa, air matanya tumpah ruah membasahi pipinya.
“Maaf Tuan, bolehkah aku masuk kedalam Lift?”
__ADS_1
“Hai Bibi, aku juga terburu-buru. Sudah tidak muay, mengantri lah.”
Frayza keluar dan mencari kursi dudukan, ia begitu lelah dan berpeluh keringat. Di negara orang asing ini, dia mendapatkan kesulitan hidup. Apa jadinya jika Seven hidup bersamanya dalam kesusahan. Ia hanya melihat angka lift yanh terus bergerak, sambil berharap pintu lift itu terbuka.
Operasi berjalan lancar, tangan dan pinggang Seven sudah diperban. Sekarang ia ditempatkan diruangan umim bersama pasien miskin lainnya. Kacamatanya hancur tak bisa lagi untuk membantu penglihatannya. Perawat memberitahukan jika seluruh biaya Rumah Sakit sudah dibayar lunas. Berita ini agar segera diberitahukan kepada ibunya. Perawat itu juga mengatakan, jika orang dermawan itu berada di kamar rawat putranya. Jika hendak berterimakasih, begitu pesan perawat yang disampaikan tadi.
Frayza yang sudah terlanjur menjual cincin pernikahannya tak bisa menerima kebaikan orang dengan cuma-cuma. Uang tunai yang ada ditangannya akan diserahkan kepada orang dermawan. Yang tak lain ialah Hikashi, suaminya sendiri.
“Setelah keluar hasil tes darah dan DNA nya, segara ambil tindakan.”
“Baik Tuan Besar,” Kenzo menaikkan lengan kemeja panjang Hikashi.
“Tuan, ada seorang wanita ingin berterimakasih.”
“Suruh ia masuk, Kenzo sebaiknya kau masuk ke Toilet!”
“Hah Toilet?”
“Turuti saja,” Hikashi berdiri didepan jendela.
Jade yang sudah berada diatas bangsar pura-pura tertidur pulas. Padahal ia sangat keletihan saat mengayuh sepeda.
“Tuan, pertama-tama saya ingin memperkenalkan diri. Putra saya yang tertabrak mobil, dan sekarang sudah mendapatkan perawatan dari Rumah sakit. Serta saya ingin mencicil biaya yang sudah Anda keluarkan, terimalah niat tulusku.”
“Siapa nama putramu?”
“Alexander Steven.”
“Golongan darahnya apa?”
“AB positif,”
“Aku baru saja mendonorkan darahku, stok rumah sakit kurang. Bisakah kau membayarnya?”
“Tuan, hanya ini yang aku punya. Uang yang sekarang aku miliki hiks hiks.”
“Lantas apa yang bisa kau berikan untuk mengganti darahku?”
“Saya bisa mengerjakan pekerjaan apapun.”
“Oiyakah?”
“Tuan, tidak ada yang lebih penting dari nyawa putraku di dunia ini. Dialah yang aku miliki satu-satunya paling berharga.”
Jade terbelalak, mendengar nama Alexander yang melekat pada putra wanita yang berbicara dengan ayahnya. Ia pura-pura memejamkan matanya, hanya bisa mendengar suara wanita yang tidak asing.
“Tuan terimalah uangku ini, saya tidak bisa menerima dengan Cuma-Cuma.”
“Awalnya aku meragukan jika ia adalah Steven putraku. Sampai aku harus melakukan tes kecocokan!” ia membalikkan tubuhnya dan menatap Frayza.
“Hikashii...” kaki Frayza lemas dan bersimpuh dilantai lemas.
“Jadi seperti ini kau membesarkan anak kita hah!”
“Ma-maafkan Aku hiks hiks...”
“Maaf? Apa kau sedang meminta maaf ku!”
“Maafkan aku sudah hadir dihadapanmu, aku pergi.”
Frayza meninggalkan uangnya dinakas, lalu berlari keluar kamar rawat Jade. Mata Jade sedikit terbuka untuk mengintip. Dan byarr... Segepok uang dilempar Hikashi di pintu kelaur. Sehingga uang itu berhamburan seperti guguran daun.
“Keluar selangkah lagi, kupastikan tidak ada pertemuan terakhirmu dengan Steven!” ancam Hikashi keras.
“Jangan pisahkan aku dengan Seven, aku tidak memiliki apapun yang tersisa didunia ini.”
“Kau tahu sekarang seluruh bangunan Rumah Sakit ini akan menjadi milikku dalam hitungan menit. Jika kau masih bersikeras ingin menghindariku, sebaiknya turuti kemauanku!”
“Tidak, jangan paksa aku!”
“Jadi kau masih menuduhku sebagai pembunuh?”
“Urusanku sudah selesai, terimakasih atas belas kasihanmu Tuan Hikashi.”
“Dasar keras kepala!” ucap Hikashi melihat Frayza menghilang dibalik pintu.
Frayza menangisi keadaanya yang terpuruk saat ini. Ia sangat malu dengan keberadaannya, terlebih lagi Hikashi bagaikan langit ketujuh yang tidak mungkin ia raih lagi. Tatapan matanya kosong, ia berjalan tanpa tujuan. Separah inikah rasanya bertemu dengan masa lalunya? Ia sangat malu, harga dirinya seolah sudah tak berharga lagi. Mungkin Hikashi akan mengambil Steven darinya. Karena ia tahu, Steven bersamanya hanya hidup sulit dan susah. Hikashi tentu saja memiliki hak, karena ia adalah ayah biologisnya. Hal yang paling Frayza takutkan, akhirnya terjadi. Dimana ia dipertemukan dengan Hikashi lagi.
__ADS_1