TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
ADAM LEE MENINGGAL


__ADS_3

Diruangan Kepala Sekolah, surat rekomendasi diserahkan. Kepala Sekolah sedang memeriksa dengan seksama.


“Aku sangat puas dengan nilai yang kau peroleh, tapi aku ada sedikit pertimbangan yang ingin kau terima?”


“Mengenai apa Kepala Sekolah?”


“Hemmbb, beberapa hari ini aku mendapatkan undangan pelatihan untuk salah satu guru pengajar. Mereka menolak dengan alasan pribadi. Selain waktu yang tidak sebentar, jaraknya cukup jauh menempuh perjalanannya. Bagaimana?”


“Saya kurang begitu paham bisa dijelaskan?”


“Karena kau belum berkeluarga dan memiliki rekomendasi yang baik, aku ingin mengirimmu untuk misi ini. Aku sudah mempertimbangkannya dengan masak-masak. Selain itu, program ini sangat baik untuk karirmy kelak. Pihak sponsor siap mendanainya, kau hanya perlu berangkat saja.”


“Kapan rencana berangkatnya?”


“Paling telat minggu depan kau harus berada di sana.”


“Baiklah Kepala Sekolah, saya akan memikirkannya.”


Program pendidikan dan pelatihan di luar negeri. Hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dengan sepedanya dia mengayuh penuh tenaga. Menggenjot pidal sepedanya menyusuri jalan ke pantai. Hembusan angin mulai menyisir rambutnya yang terurai.


“Ayahhhh... Aku akan pergi ke luar negeri! Aku ingin Ayah tahu kalau aku merindukanmu dimanapun kau berada...” ia meneriakkan curahan hatinya di pantai. Diatas pasir putih dan deburan ombak yang berlomba-lomba.


Seluruh isi hatinya ia luapkan ditempat itu sampai meresa lega. Waktu yang ia habiskan dirasa cukup, karena sudah saatnya pulang memasak makan siang. Dan sorenya dia akan mengajar les bela diri secara pirvat hingga malam.


Frayza mendapati sepedanga sudah raib, hilang di tempat ia parkir. “Hah, dimana sepedaku? Tadi sepertinya aku taruh disini kok. Duh, dimana ya...” keluh Frayza mencari-cari dimana ia menaruh sepedanya. Dalam pencariannya itu, datanglah Matsumoto.


“Nona, mobil yang Tuan Muda sudah siap. Silahkan naik,” membukakan pintu mobil.


“Tunggu sebentar, sepedaku hilang. Itu satu-satunya alat transportasi yang aku miliki hehehe.”


“Atas perintah Tuan Hikashi, kami sudah membuangnya di tempat sampah.”


Ternyata pelakunya Hikashi lagi, satu-satunya kendaraan yang ia pakai untuk moda transportasi sudah dibuang?


“Kenapa dia menyusahkanku?” nadanya lemas mengetahui ulah anak buah Hikashi.


“Ada berita yang ingin saya sampaikan penting. Lebih baik masuk kedalam mobil dulu.”


Frayza sudah geram dan ingin meminta pertanggungjawaban Hikashi. Sepeda saja yang tidak bersalah ia buang,” Dimana dia?” tidak ada Hikashi di dalam mobil.


“Tuan muda sudah bertolak ke Indonesia tadi pagi menggunakan pesawat Kerajaan. Dia pergi bersama Pangeran Takeshi untuk urusan bisnis. Oleh karena itu, Nona masuklah terlebih dahulu. Saya akan membahas semuanya.”


Mobil berjalan meninggalkan pantai, dan Matsumoto mulai bercerita tentang berita penting yang harus ia sampaikan.


*


*


*

__ADS_1


----SINGAPURA----


Simon memperhatikan Barbara yang selalu telat pulang kerumahnya. Bahkan istrinya jarang melaporkan kegiatan dan keberadaannya akhir-akhir ini. Hal ini menimbulkan kecurigaan bagi Simon. Dia berasumsi bila Barbara menyembunyikan hal yang dirahasiakan darinya.


Klik ( lampu menyala) Simon sengaja menunggumu istrinya sampai pulang. Barbara yang terciduk oleh suaminya kini tak bisa berkutik. Kecuali melemparkan senyum.


“Istriku, aku merasa kau mulai sibuk hingga pulang sampai larut malam. Apakah pekerjaanmu begitu menyibukkanmu hingga kau selalu lembur diluaran?”


“Aku sedang mempersiapkan pameran busana untuk Festival akhir tahun. Apa kau mau aku buatkan mis instan?”


“Aku tidak lapar, duduk dan jawab pertanyaanku.” Menyuruh istrinya duduk.


Barbara tampak gelisah dan ingin segera pergi dari situasi ini. “Sayang, kita bicaranya besok saja ya. Aku benar-benar lelah bekerja seharian.”


“Barbara, kau sudah lama menjadi istriku. Bahkan kau tahu aku sangat mencintaimu, bukan?”


“Iya sayang, aku sangat berterimakasih kepadamu. Aku minta maaf jika sikapku ini benar-benar keterlaluan kepadamu. Tapi, aku benar-benar capek dan lelah. Besok saja yah,” Barbara tak mau beradu argumentasi dengan Simon. Dia belum menyiapkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan suaminya.


Keesokan paginya Barbara sengaja bangun kesiangan, supaya Simon tidak menanyakan perihal dirinya. Setelah agak siang dia hendak sarapan, tak ada suaminya dimeja makan. Masih mengenakan baju tidur, dia bertanya kepada pelayan yang mengambil piring bekas Simon.


“Dimana Tuan Simon?”


“Tuan Simon berangkat lebih pagi Nyonya, Tuan Simon berkata dia ada rapat jadi tidak menunggu Nyonya bangun dan sarapan bersama.”


“Owh begitu ya,” mengolesi slai pada lembaran roti bakar.


Barbara sangat menikmati sarapan pagi ini tanpa Simon. Nasib baik masih berpihak padanya. Rencananya hari ini ia akan membesuk Adam dirumah sakit. Sambil membawakan buah pisang kesukaannya.


Ternyata pria yang dirawar ini merupakan mantan kekasih Barbara ketika muda, Adamson. Simon sangat terkejut jika selama ini istrinya menyembunyikan pria lain. Jadi ini alasan Barbara menghabiskan waktu untuk mengurus pria yang menjadi saingan cintanya.


“Kau masih hidup Adamson Lee?”


“Simon, apakah kau Simon?” keduanya saling menebak satu sama lain. Setelah mereka mengaku jati diri mereka masing-masing. Barulah percekcokan diantara mereka. Dimulai, Simon menuduh Adam menggoda Barbara dengan sakitnya. Sedangkan Adam berkata kalau dia diculik dan disekap oleh Barbara.


“Aku tidak merebut Barbara darimu, aku disini diculik!”


“Apakah kau ini pria yang tidak tahu diuntung? Barbara sudah menikah denganku dan memiliki anak. Kau tidak berhak hadir kembali di kehidupannya lagi!”


“Anak? Kau pikir hanya kau saja yang memiliki anak dengannya. Dia juga memiliki anak denganku, tapi sekarang anak itu sudah mati!”


“Hoh jadi benar jika sulung kami ternyata putrimu, sudah aku tebak sejak awal. Seharusnya kau mati menyusul putrimu ke neraka!” mendorong Adam hingga kepalanya keluar dipagar pembatas balkon. Banyak mobil yang melintas dibawahnya. Jika Simon terus mencekiknya begitu, kemungkinan dia akan terjatuh karena kehilangan keseimbangan.


Adam terus melawan sekuat tenaganya, namun Simon begitu kuat. Dirinya sudah lemas dan kehilangan kesadaran. Simon seperti orang kerasukan setan, dan ajudannya melerainya. Namun sayang, Adam yang sudah terkulai lemas itu akhirnya terperosot jatuh. Tubuhnya membentur mobil yang melaju dibawah, dan terpelanting tepat didepan mobil.


“Apa itu?” ucap Barbara yang Sopirnya tiba-tiba mengerem mendadak.


“Didepan ada kecelakaan Nyonya, ada orang jatuh dari balkon. Tubuhnya menimpa mobil didepan kita yang sedang melaju.”


“Ya sudah, cari tempat parkir yang lain saja. Biar diurus oleh pihak Rumah sakit.” Perintah Barbara untuk mengabaikan kejadian yang baru saja terjadi.

__ADS_1


Perasaannya mulai gusar dan tak enak, seperti tidak tenang. Mungkin karena dia berhutang janji dengan Simon mengenai penjelasan dirinya.


Para medis segera melarikan diri Adam ke ruangan operasi untuk menyelamatkan nyawanya. Dan disaat kondisi rumah sakit yang kalang kabut itu, Simon keluar lewat pintu belakang. Agar tidak bertemu dengan Barbara, karena ajudannya melihat Barbara keluar dari mobil.


Dokter sudah berusaha sekeras mungkin untuk mengembalikan kesadaran Adam. Kepalanya harus dioperasi karena mengalami luka yang serius. Harapan hidupnya semakin tipis karena kondisi kesehatan organ dalamnya ikut rusak. Saat ini Adam bertahan hidup karena merasa ada hal yang ingin lakukan. Yaitu ingin disemayamkan disebalah putrinya, jika masih sempat. Matsumoto yang tahu kejadian ini, langsung mengajak Frayza terbang ke Singapura. Karena ayahnya sedang kritis dan membutuhkannya. Sepanjang perjalanan menuju Singapura, Frayza tak berhenti menangisi ayahnya. Dimana dia baru sebentar saja merasakan kasih sayang seorang ayah. Angan-angannya bertemu lagi dengan ayahnya semakin kecil. Perihal kecelakaan yang menimpanya sekarang. Matsumoto meminta Dokter Kelvin untuk turun tangan membantu operasi.


Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya Frayza bisa memegang erat tangan ayahnya. Pria yang kepalanya diperban dan dipenuhi kabel serta selang pernapasan tampak lemah.


“Ay-ayahhh, bangunlah. Putrimu sudah datang, dia masih hidup. Aku Frayza sebenarnya, selama ini aku menyamar menjadi sahabatnya. Karena dulu aku begitu tersiksa ketika masih hidup. Ayah, aku mohon bangunlah Yah, huaaaaaaaa.” Frayza menangis dan memegangi dangan ayahnya.


Adam masih belum juga menyadarkan dirinya, karena efek obat bius paska operasi. Pria itu hanya menitikan air mata saja. Seolah mengerti perkataan Frayza, dalam keadaan terpejam inilah Frayza terus menceritakan tentang masa kecilnya hingga sekarang. Dokter Kelvin yang berada disatu ruangan pun tak kuasa menahan air mata. Pertemuan tragis seperti ini harus terjadi.


Pihak rumah sakit menutupi kejadian ini, mereka mengklaim jika pasien mencoba bunuh diri karena penyakitnya tak kunjung sembuh. Hal ini karean perintah dari Simon agar pihak Kepolisian tidak mengadakan oleh kejadian perkara. Matsumoto membayar petugas kebersihan untuk memberikan baju terkahir yang dipakai Adam. Termasuk dia mencari sidik jari yang tersisa dikamar. Ketika kamar Adam ramai orang, Barbara memutuskan mengurungkan niatnya untuk menjenguk. Dia bertanya kepada perawat, kalau penghuni kamar itu mencoba bunuh diri. Dan Barbara sangat kaget, jika Adam mati. Maka kemungkinan Franda kembali padanya tidak ada. Adam adalah alat penukar yang Hikashi setujui. Jika terjadi hal buruk dengan Adam. Maka, keselamatan Franda dalam bahaya.


Setelah Adam sadar, dia mulai bicara kepada Frayza. Ia mampu mendengar semua yang Frayza ucapkan. Dengan terbata-bata dan berlinangan airmata Adam mengusap kepala putrinya.


“Si-Simon yang melakukan ini padaku,” sekuat tenaga ia mengatakan pelakunya.


“Suami Ibu sekarang?” Frayza menanyakan lagi kebenarannya.


Tapi semua sudah terlambat, ketika Adam mengangguk mengiyakan. Napas terakhirnya sudah berhembus untuk terkahir kalinya. Akibat sakit yang sudah parah dan fatal ini. Kini Frayza tak memiliki Ayah lagi.


“DOKTER KELVINNNNNNNNN,”


“Fray, maaf ayahmu sudah tiada.” Memeriksa denyut nadi Adam yang sudah tiada.


“Ayahhhh bangunnn Yah... Ayah berjanji padaku untuk hidup bersamaku. Ayahhhhhhh,”


Matsumoto yang mendengar teriakan Frayza langsung masuk dan menenangkan. Namun Frayza sangat emosional dan tidak stabil. Dia memberontak dan marah, kepalanya dijedotkan di tembok berulang kali hingga berdarah. Karena khawatir Frayza semakin nekat, Matsumoto menyuruh Dokter Kelvin untuk menyuntikkan obat penenang.


“Jika dia terus terguncang seperti ini, aku tidak yakin.”


“Kau seorang Dokter, kau harus membuatnya stabil!”


“Ketua, kehilangan orang tua itu menyakitkan.”


“Dokter Kelvin, jika Tuan Hikashi tahu Nona Frayza melukai tubuhnya dan cidera. Kita yang akan celaka, camkam itu!”


*


*


*


Setelah kematian Adam dikonfirmasi oleh Pihak Rumah Sakit karena bunuh diri. Kepolisian akan melakukan olah kejadian perkara mencari bukti-bukti. Simon ketakutan dan memanggil Pengacara terbaik. Dia sangat khawatir bila Polisi menemukan barang bukti dirinya ditempat kejadian. Namun, pihak Pengacaranya mengakatan bila dia akan menyuap petugas Polisi agar menghapus sidik jarinya. Dengan terpaksa Simon harus mengeluarkan uang lebih banyak lagi untuk menyelamatkan dirinya.


Barbara bersikap biasa, seolah tak terjadi apapun. Dia pulang ke rumah lebih awal dan tidur. Sedangkan Simon mabuk-mabukan diruangan kerjanya. Dia mengalami depresi berat, karena Adam menghantui dirinya.


“Pergi! Pergiiiiiii! “ usir Simon ketakutan.

__ADS_1


Barbara didalam kamarnya menangis, ia sangat kehilangan dua orang yang pernah berarti dalam hidupnya. Walaupun sudah menikahi Simon puluhan tahun, tapi Cinta Barbara masih utuh untuk Adamson Lee. Kini benan pikirannya semakin berat, dia harus mencari orang yang hampir mirip dengan Adam. Agar bisa menukar putrinya Franda. Karena Franda darah dagingnya, jadi upaya apapun yang bisa membawa putrinya kembali. Barbara akan lakukan, termasuk hal culas sekalipun.


__ADS_2