TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
SAHABAT ATAU CINTA?


__ADS_3

“Bibi Fang, selamat datang.” Julian bentangkan tangannya memperlihatkan dekorasi Butik yang semalam suntuk Julian kerjakan.


“Huaaahh, Julian. Aku hampir mau pingsang kau mendekorasi tempat ini. Dan kau sudah menyelesaikan desain baju-baju rancanganmu. Dan, walaupun belum semahir Ibu dan Fray. Ku harap kau jangan berkecil hati ya.”


“Tentu tidak Bibi Fang, aku akan mencoba belajar lebih giat lagi. Kemarilah, ada yang mau tunjukan padamu.” Julian memperlihatkan buku sketsa milik Frayza. Lembar demi lembar halaman bergambar Bibi Fang pahami dan telaah.


“Aku tidak menyangka jika Frayza yang menggambar ini, sangat menakjubkan. Apa dulu cita-cita Frayza?”


“Aku tidak tahu, karena dia dulunya hanya fokus dikehidupan asmaranya saja dan mengurus rumah.”


“Ku harap jika dia masih hidup, bisa menghasilkan karya yang jauh lebih bagus dari ini. Sangat disayangkan dia sudah tiada, gadis yang berbakat.”


Julian merogoh saku dalam celananya mengambil ponselnya. Dia menarik bar layar yang menampakkan wajah cantik gadis yang rambutnya tergerai. “Lihatlah dia, bagaimana menurut Bibi Fang?”


“Siapa dia? Rekan artis Franda bukan? Sepertinya aku tidak pernah dia datang ke Butik membuat baju. Apa jangan-jangan itu idola baru?”


“Bukan, dia adalah Frayza. Gadis yang memiliki naman dengan Kak Frayza.”


“Astagah, mana mungkin.” Menutup mulutnya.


“Kenapa Bibi Fang terkejut, dia orang yang berbeda.”


“Perhatikan lagi, senyum di bibirnya ini dan lesung pipit didagu ini mirip punya Frayza. Tapi cantika gadis ini jauh daripada Frayza, bahkan Franda sekalipun tidak bisa menandingi kecantikannya.”


“Jangan memujinya terlalu berlebihan, industri hiburan tidak pernah jujur dengan bentuk fisik semula. Bedah plastik sekarang lebih canggih, oleh karena itu jangan terkecoh.”


“Darimana kau mendapatkan foto itu?”


“Saat aku berlibur di Thailand dulu, hanya itu foto yang bisa aku ambil.” Meletakkan ponsel didadanya dan menarik napas lebih dalam.


“Julian, bukankah dia begitu cantik dan parasnya yang elok itu sangat aneh dengan gaya pakaiannya yang tomboi?”


“Dia lebih nyaman begitu Bi, kenapa kau begitu tertarik dengan Frayza?”


“Aku hanya merasa akrab saja, tatapan matanya seperti menyimpan rahasia besar. Senyumnya tidak tulus dari hati, merona dibibir saja.”


“Ahh~~~ Bibi suka melebih-lebihkan keadaan. Ayo kita awali hari ini dengan semangat baru, semoga Butik ramai pengunjung. Semangat!”


Untuk menambah semangat kerja, Julian memutar musik klasik yang tenang. Bibi Fang yang menjahit pola kain begitu teliti saat menggabungkan potongan kain agar menjadi sebuah karya busana yang Indah.


Kling, bel lonceng yang terpasang diatas pintu berdentang kala ada orang masuk. Seorang wanita memakai baju hitam dan kacamata hitam masuk ke Butik. Julian heran dengan tamu asing yang baru masuk ke dalam Butiknya ini.


“Selamat datang, ada yang perlu saya bantu?”


“Aku mencari pemilik Butik ini?” melepaskan topi hitam besarnya yang beraksen pita.


“Rrrrose!” pekik Julian kaget.


“Hahahaha, kejutan!”


Rose memeluk Julian karena sudah lama tidak bertemu, jantungnya berdegup hebat tatkala Julian mengusap punggungnya. Sentuhan ini menyalurkan energi listrik yang memanaskan gelora Asmara.


“Aku turut berduka cita atas meninggalnya Ibumu dan musibah yang terjadi dikeluargamu. Kau harus tegar ya,”


“Hu’um terimakasih atas dukungannya. Kemarilah, kita bicara didalam kantorku saja. Aku ada Kopi Aceh yang enak sekali untuk ngobrol.”

__ADS_1


“Ayuk,”


Bibi Frag diam-diam memperhatikan perlakuan Julian yang membawa masuk wanita kedalam ruangannya. Sempat berpikir bila gadis itu adalah pacar Julian yanh berada diluar negeri. Tapi, setelah mendengar panggilan nama masing-masing. Bibi Fang berkesimpulan bahwa Rose hanyalah teman lamanya.


Didalam ruang kerjanya, Rose melihat gambar desain baju di buku yang terbuka diatas meja.


“Sekarang aku meneruskan usaha mendiang Ibuku, yah dirumah bekas kami tinggal dulu inilah usahaku dirintis. Oiya, ada keperluan apa kau di Singapura?”


“Aku baru saja kembali dari upacara kremasi Ayahku, beliau sakit kangker. Dan segera kemari mencari keberadaanmu.” Air mata Rose menetes dan ia seka dengan jemarinya.


Tiba-tiba Julian memeluk Rose yang sibuk menahan air matanya yang hendak menetes lebih deras lagi.


“Kau tidak sendirian Rose, saat ini juga aku pun menjalani kehidupanku yang kosong.” Julian memeluk Rose dari samping. Aroma tubuh Rose sangat kuat dan pekat, bahkan tangan Julian tidak merasakan lemak tebal ditubuh Rose.


“Aku sangat kehilangan sosok lelaki dalam hidupku, Ayahku adalah pria yang mencintaiku tanpa syarat. Sekarang beliau sudah tiada hiks... Hiks... Hiksss...”


“Tenanglah Rose, aku akan menghiburmu. Percayalah, kau tidak sendirian di dunia ini. Masih ada aku yang menjadi temanmu.”


“JULIAAAANNNNN,” terharu mendengar ucapan Julian yang menyentuhnya kali ini. Pelukan Rose semakin erat dan kuat, sehingga membuat Julian agak repot melepaskan belutan tangan Rose di lehernya.


Karena keduanya sudah sama-sama hanyut dalam keharuan dan ikatan emosi. Keduanya setengah sadar mulai bertukan saliva yang sebentar kemudian dihentikan.


“Astaga,” Rose mengusap bibirnya yang baru saja mengecup bibir Julian.


“Kenapa?” tanya Julian sedikit kecewa.


“Ini tidak boleh Julian,” memalingkan wajahnya.


“Kau sudah memiliki orang yang kau sukai?” Rose mengangguk membenarkan.


“Tunggu Rose!” menarik tangan Rose agar terduduk kembali.


Tanpa ba-bi-bu dan ijin pemilik bibir masing-masing. Julian dan Rose saling menggandakan serangan rudal Asmara. Sehingga terciptakan percikan-percikan desahan dan cakaran kuku. Sambil mengambil napas sejenak, Julian menyeka poni Rose yang menutupi kening.


“Aku ingin membuat 1 kesalahan lagi seumur hidupku bersamamu? “


“Katakan itu,” Rose memilin kancing kemeja Julian.


“Ikutlah ke kamarku!” pinta Julian.


“Heh?” entah apa yang dimaksut Julian mengajaknya ke kamarnya.


“Kau tunggu sebentar disini, aku akan minta Bibi Fang mengerjakan tugasnya dirumah. Supaya tidak menggangu waktu kita.” Rose semakin tidak paham dengan ucapan Julian baru saja.


Sebelum keluar dari ruangannya, Julian merapikan penampilannya yang agak lusuh. Dia memberikan senyuman untuk Rose kala menutup pintu kembali.


Dilihatnya Bibi Fang tengah memasang payet kecil-kecil dikain. Wanita paruh baya itu memakai kacamata tebal agar membantu penglihatannya.


“Bi, hari ini kau pulanglah lebih awal. Karena temanku menawarkan diri ingin membantuku menjaga Butik. Kau boleh pulang lebih awal, dan bisa membawa ini pulang.”


“Aku sudah terbiasa mengerjakan inj, lagipula jika temanmu mau membantu. Memangnya ia bisa mengerjakan apa?”


“Yah, itu hanya alasanku saja. Aku ingin dia menemaniku sepanjang hari ini saja. Bibi paham kan maksutnya dan tujuanku, hehehe.”


“Dasar bocah nakal, aku lupa jika kau sudah dewasa. Hoooohhh, aku ini yang sudah pikun seharusnya sadar diri. Jika kalian butuh privasi dan ketenangan. Baiklah, kalau begitu aku pulang dan mengemasi barang. Dan ingat pesanku, selalu jaga diri dan antisipasi berjaga-jaga dari hal yang tidak diinginkan.” Kekeh Bibi Fang meledek Julian yang mengusirnya secara halus.

__ADS_1


Butik ia tutup, suasan dalam sudah sepi dan terkendali. Sebelum kembali ke ruangan kerjanya lagi, Julian membebaskan kamarnya. Membuang baju kotornya ke binatu. Mengganti sprei yang baru, menyemprotkan pembasmi hama aroma bunga. Serta menyalakan musik agar terkesan romantis dari ponsel. Dia kemudian bergegas menemui Rose yang sudah lama menunggu.


“Rose,” tegur Julian saat masuk kembali keruangan kerjanya. Tampak Rose yang panik dan kaget menutup sesuatu diatas meja Julian.


“Oh maaf mengagetkanmu saat aku hendak masuk, ayo kita ke kamar tidurku?”


“Hehehehe bbbaaa-baaaiklah,” sedikit canggung dan menuruti ajakan Julian untuk kekamar. Walaupun Rose tahu, ujungnya mereka akan melakukan apa. Sudah kepalang tanggung untuk menolak Julian, karena Rose tidak menolak sejak awal tawaran itu ditawarkan.


“Apa kau gugup Rose?”


“Seeesseeedikit, kenapa?”


“Aku janji akan melakukannya dengan pelan agar kau tidak kesakitan, ku harap ini bukan yang pertamakalinya bagimu.”


“I-iyaa Julian, aku sudah pernah kok. Kau jangan khawatir, aku tidak akan membuatmu kesal hheee.”


Pintu ditutup dan terkunci, mereka berdua melakukan hubungan terlarang. Persahabatan mereka kini dikorbankan demi sebuah kesalahan yang sudah mereka sepakati. Baik Julian maupun Rose sudah mematikan akal sehatnya saat ini. Mereka sedang menikmati perasaan hampa dan kosong. Mencoba merasakan hal yang lain agar membuat senang. Sebenarnya Julian sangat canggung melakukannya, tapi Rose kali ini sangat cantik. Bahkan lebih cantik dari sebelum-sebelumnya.


“Rose,” panggil pelan Julian.


“Hmmmm,” membalikkan badannya. Tampak punggung mulus Rose yang putih ini tersingkap oleh selimut.


“Baiklah, kau pasti lelah. Lanjutkan tidurmu kalau bagitu.” Julian keluar kamar membiarkan Rose melanjutkan tidurnya.


Hari menjelang sore, ada pesan masuk kedalam surelnya. Pengajuan desain baju yang ia ikutkan lomba berhasil menang kontes. Keberuntungan awal Julian sudah didepan matan.


“Yay!” teriakannya terdengar sampai kamar Julian dimana Rose sampai terusik tidurnya.


*


*


*


Rose menyusul Julian ditempat kerjanya, dia sudah mandi dan bersih. Ia hendak berpamitan untuk pulang dan mengucapkan salam perpisahan untuk Julian.


“Julian, entah apa yang baru saja kita lakukan. Ku harap kita masih menjadi teman baik kedepannya. Dan bila kita sudah memiliki pasangan hidup, ku harap ini akan menjadi rahasia kita sampai mati.”


“Rose,”


“Aku tidak ingin menjadi orang jahat bahi siapapun, Julian.”


“Rose, ini semua salahku yang sudah mempercayaimu. Maafkan aku Rose yang sudah memaksamu melakukan kesalahan fatal ini.”


“Jangan bahas itu lagi Julian, kau semakin mengingatkan kejadian yang sudah kita lakukan.” Memalingkan wajahnya menolak beradu wajah.


“Rose, maafkan aku. Semoga kau bahagia dengan pria idamanmu.” Lalu rose pergi meninggalkan Julian tanpa sepatah katapun.


Kepergian Rose ini membuat Julian merasa bersalah karena sudah berbuat hal yang tidak senonoh. Tapi, jika Rose menolaknya pasti Julian tidak akan mengikuti hawa nafsunya. Maka hal tabu itu tidak akan terjadi, namun sepertinya Rose tak menolak tau mengiyakan. Hanya saja Julian masih ingat, jika Rose selalu memeluk erat dirinya dan terus menyebut namanya. Julian menyeka bibirnya yang mengering, dan menyaksikan Rose masuk kedalam mobil.


Persahabatannya dengan Rose sudah ternoda. Mereka saling kehilangan akal sehat dan memilih melakukan hal yang semestinya dilakukan sepasang kekasih.


“Bodohhh, bodohhh, boooodoohhhh!” Rose menggebrak kemudi mobil. Dia tidak begitu menguasai kondisi jalanan yang turun hujan deras. Hampir saja ia mengalami kecelakaan karena meleng saat mengemudi. Akhirnya ia turun dari mobil dan hujan-hujanan. Dia seolah menghukum dirinya yang telat untuk menyesal. Rose tak menampik bila ia menikmati kejadian Indah bersama Julian. Separuh hatinya masih tertinggal di Julian, namun cincin di jari manisnya sudah melingkar cincin ikatan Cinta pria lain.


Niat awalnya Rose mendatangi Julian untuk menengok keadaannya saja. Tidak sampai sejauh ini kejadiannya, kini Rose bimbang memikirkan pengampunan dosa. Dia sudah menghianati kekasihnya yang tak tahu hal yang baru saja ia lakukan. Dengan berat hati kembali kerumahnya. Rose masih basah kuyup tak peduli badannya menggigil segera mengambil bir dalam lemari pendingin. Dia minum-minum sampai mabuk, kemudian ditemukan adiknya tertidur di sofa.

__ADS_1


__ADS_2