
Seluruh pelayan sedang sibuk membersihkan kediaman Hikashi yang rumornya akan kedatangan tamu istimewa. Para pengawal yang sudah berlatih fisik dan mental berjaga di pos mereka masing-masing. Kendali ada ditangan Matsumoto, semuanya tengah sibuk berjaga menyambut tamu istimewa yang digadang-gadang seoarang Putri bangsawan dari kerajaan Inggris.
“Kenapa mereka banyak mengganti bunga ditaman dengan tanaman baru?” Ramon memperhatikan kesibukan tukang kebun yang berbenah.
“Ck, aku lupa memberitahumu bahwa ketua Matsumoto ingin kediaman ini menjadi lebih Indah dengan bunga yang bermekaran. Bahkan konon katanya, untuk mendatangkan bunga-bunga yang mekar ini Tuan Hikashi sengaja memesan dari luar negeri.” Kenzo bercerita.
“Wah, harum sekali aromanya.” Frayza memetik satu kelopak bunga Mawar yang tengah merekah.
“Ja-ja-jangannn haduhhh bisa apes nanti kau, Fred!” Ucap Kenzo ketakutan.
“Sembrono!” Ramon merebut bunga yang telah dipetik Frayza. Lalu dengan sigap memasukkannya kedalam saku jasnya.
“Fredd, satu bunga itu harganya puluhan ribu Yen. Aku tidak mau terlibat urusan ini dengan kalian. Aku mau berpatroli ah.” Kenzo lari terbirit-birit karena ada kera pengawas yang selalu menyala merekam kegiatan dilingkungan ini.
“Duh, apes aku!” Frayza menelangkup kepalanya menyesal.
“Sudah, ayo masuk kekamar. Matahari sudah mulai terik panasnya, jika kau terlalu lama berjemur kulitmu semakin hitam.” Ramon mendorong kursi roda Frayza.
“Sepertinya tamu yang akan datang orang yang begitu spesial untuk Tuan Muda kita, menurutmu bagaimana?”
“Entahlah, menurutku semua yang istimewa bagaimana kita memperlakukan manusia itu sendiri. Dengan takaran kemampuan kita, hanya saja untuk orang kaya mereka menggunakan uangnya jadi terlihat berkelas. Tidak sepertiku, hanya bisa memberikan kesetian dan dorongan untuk orang yang lumpuh ini. Mengesalkan bukan.”
“Ramon, kau baru saja keceplosan.”
“Tidak, aku bicara apa tadi. Aku sudah lupa, tapi aku tidak keceplosan. Semua frase kalimatku tertata rapi dan tidak ambigu. Mungkin kau terlalu lama duduk, sehingga otakmy pindah di dengkul.” Ramon rasanya malu ingin menarik waktu dan tidak mengucapkan hal yang konyol.
“Sudahlah, kau mengaku saja. Saat ini kau membuat perbandingan dua sisi pria kaya dan miskin bukan hahahahaha.” Frayza tak bisa menahan kelengahan Ramon saat berucap.
“Dengarkan aku, seorang pria itu sama. Mereka akan menyerahkan segalanya untuk wanita yang dicintainya. Jika perlu bukti, bahkan nyawanya yang berharga sekalipun akan diberikannya Cuma-Cuma. Hanya saja, perempuan itu suka menyalahkan pria ketika sudah bosan.”
“Pria tidak akan pernah bosan ketika memiliki pasangan yang diidamkannya. Beda halnya jika kita memiliki sesorang yang tulus, tapi tak nampak dimatanya. Karena dia akan menganggap diriku beban hidup. Dia akan membiarkan aku ada namun, tidak lebih sebagai pelayan.” Frayza tak sadar keceplosan juga.
“Frank sudah bertungan dengan adikmu Franda. Dan ayahmu sekarang menjadi Walikota yang sukses karir politiknya, sebentar lagi ibumu akan membuka butik pakaian dengan merk ‘Star’. Tapi, adikmu Julian kemaren dikeluarkan dari klub basket di Amerika.”
“Kenapa?” Frayza khawatir karir adik bungsunya.
“Terlibat perkelahian, sekarang dia berada di Bali bersama Frank. Sebelumnya dia tampak mengunjungi makammu. Tapi Kelvin berkelit, sehingga dia gagal meminta pemindahan kuburanmu.” Frayza terperangah mendengar penjelasan Ramon yang begitu detail.
“Lalu apa yang akan dia lalukan di Bali, bukankah impiannya menjadi Atlit basket. Bocah bodoh, aku harus menghajarnya. Agar otaknya yang geser itu kembali normal,” Frayza mengayuh roda, namun Ramon menarik tuasnya.
__ADS_1
“Dengarkan aku, kau sudah tiada bagi mereka. Namamu sudah dicoret dalam kartu keluarga. Untuk apa kau bersusah payah, Julian dikelilingi orang berpengaruh di Singapura. Lagipula adikmu memiliki tinggi badan yang proporsional dan wajahnya tampan seperti dirimu sekarang hihihihi.”
Plllaaakkkk, menggeplak lengan Ramon yang menertawakan dirinya. “Kau pikir aku lebih pantas menjadi pria apa, hai aku ini sebenarnya lebih... “ Matsumoto datang membawa pasukan penjaga berjalan ditempat mereka berada sekarang.
“Ketua.” Hormat keduanya saat Matsumoto lewat. Namun, Matsumoto tidak menggubrisnya dan bergegas berjalan dengan pasukannya.
“Gelagat orang itu benar-benar egois, disapa tidak membalasnya hiss.” Frayza geram dengan Matsumoto, selain itu dia juga masih kesal karena ikut pelatihan yang membahayakan nyawanya di jurang.
“Semakin benci, maka semakin dalam mencintainya. Uhuuukkk... Uhukkk.” Menyindir Frayza yang kepalanya memelintir melihat Matsumoto pergi.
“Tidak ada kisahnya dalam kamusku menyukai pawang malapetaka.” Frayza mematahkan peribahasa Ramon.
“Oke aku salah, aku menyesal. Aku tarik ucapanku, dan maafkan aku.” Mengangkat kedua tangannya sejajar bahu.
“Bagus, itu yang aku suka. Sebagai penebus rasa bersalahmu, maka doronglah dengan benar dan diam. Aku sudah saatnya minum obat.” Frayza berlagak sebagai majikan terhadap Ramon yang bersikap manis selama dia sakit.
Video rekaman Ramon bersama Frayza ini dilihat sesorang yang sedang duduk didalam mobil. Pria yang memakai setelan serba hitam dan kacamata sewarna juga. Tampak senyuman manis terkembang dari bibirnya yang merah merona. Pria yang menaiki mobil mewah itu, ternyata sudah mengincar Ramon dan Frayza. Entah apa tujuannya, tapi sepertinya dia mulai tertarik dengan kehidupan pengawal di kediaman Hikashi.
*
*
*
Berbekal pedang suci yang sekarang dia miliki, Hikashi tengah berlatih kemampuannya bela diri dengan pedang yang dikeramatkan.
“Bagaimanapun juga, aku sudah kehilangan kedua orang tuaku. Aku tidak boleh memutuskan garis keturunan.”
“Tapi, Tuan memiliki fetis yang harus disembuhkan lebih dulu sebelum rencana memiliki keturunan.” Ucap seorang profesor yang sudah berumur.
“Apa kau mau melihat kemampuanku?” Hikashi mulai menebar perabotan yang berada disekitarnya dengan pedang suci.
Semuanya rusak dan berantakan karena Hikashi dengan sekejap merusaknya. Pria yang sebenarnya kesepian ini sering memainkan pedang bila perasaannya sedang kalut. Usai pertemuan bisnis dengan kaum bangsawan dan kerajaan. Ada perkataan yang menggangu kepalanya.
“Katakan padaku, apakah kau bisa memindahkan rahim di tubuh pria?” seperti hilang akal, Hikashi mengatakan demikian.
“Apa maksut Tuan memindahkan?”
“Aku tidak tertarik dengan perempuan, cenderung membenci mereka. Karena wanitalah kedua orang tuaku tiada, makanya setiap aku melihat wanita aku ingin membunuhnya.”
__ADS_1
“Lantas Tuan Muda merasakan kepuasan itu ketika menyiksanya sampai sekarat?”
“Wanita hanya pura-pura lemah agar dia bisa mengelabuhi dan memanipulasi keadaan. Jika aku mampu, maka aku tidak sudi memperistri seorang perempuan di dunia ini. Mereka adalah parasit yang gila harta dan jabatan. Persetan dengan wanita, aku akan menyiksanya dan membuat mereka memohon hidup kepadaku.”
Slap, pedang itu masuk kedalam wadahnya dan diberikan kepada pengawalnya. Hikashi pergi meninggalkan Profesor tanpa mendengar solusi untuk penyakitnya.
“Tubuhnya bak malaikat, tapi jiwanya dikuasai iblis. Pemuda yang tersesat, dendam sudah mengubah mahkluk kecil yang manis menjadi beringas.” Kenang profesor Edward tentang Hikashi kecil sebelum orang tuanya tiada.
Sejak lahir, Hikashi digadang sebagai putra mahkota dari anak Raja. Namun semua berubah ketika terjadi pembantaian yang kejam oleh pihak dalam istana. Sehingga dirinya harus terusir dan terkatung-katung menjadi anak yang dingin.
“Kapan dia akan tiba dirumahku?” Hikashi sudah berganti pakaian dan bersiap kembali ke kediamannya yang tengah menyambut tamu istimewa. Dia bercermin memperbaiki penampilannya agar terlihat lebih baik.
“Nanti malam Tuan, apakah kita perlu kembali?”
“Buat penyambutan yang baik, aku akan bersiap kembali sejam lagi usai rapat perdagangan.” Hikashi melanjutkan pekerjaanya yang sudah menanti. Pria yang dulunya terbuang bagaikan sampah, mampu berubah menjadi berlian. Hikashi kecil adalah anak yang kekurangan kasih sayang. Bahkan dia pernah hidup di kerasnya jalanan ketika remaja. Saat itu, dirinya hendak mengalami penculikan saat pulang sekolah. Dan dia ditolong oleh preman jalanan, yang kemudian mengadopsinya. Dari sanalah Hikashi dididik menjadi petarung jalanan, dan menjalankan bisnis gelap. Dari segala perdagangan yang ilegal dan legal sudah ia pelajari. Sehingga dia cepat memperakaya dirinya dan membuat jaringan luas kekuasaanya karena menjadi kepercayaan gengster terkuat di Jepang kala itu. Selama beberapa tahun hidup di dunia gelap, akhirnya Hikashi kembali dan memutuskan pindah ke Inggris mencari keluarga ibu. Yang kebetulan ibunya memiliki garis keturunan Bangsawan. Nah, garis inilah yang menjadi jalan untuk Hikashi mesuk di trah bangsawan inggris.
*
*
*
KEDIAMAN HIKASHI,
Air mancur yang dihiasi lampu warna-warni serta bunga yang bermekaran Indah menyambut tamu istimewa. Nampak kaki jenjang dan putih itu mengenakan sepatu berhak tinggi. Jari jemarinya yang lentik dan kutek kukunya yang senada dengan warna bibirnya yang merekah.
“Selamat datang Nona Damora.” Bagitulah kepala pelayan menyambut tamu istimewanya Hikashi.
Para pengawal lelaki yang melihat gadis pirang itu terpesona dengan kecantikan paras wanita berkebangsaan Inggris yang baru tiba. Dari atas atap, tempat Ramon berpatroli dia melihat sosok Damora seolah tidak asing lagi baginya. Walupun ini pertama kalinya dia melihatnya, namun Ramon merasa tak begitu takjub.
“Cih, dasar mata keranjang begitu saja terpesona.”
“Memang kau tidak akan pernah terpesona dengan wanita. Kau kan selama ini berkencan dengan Fred.” Sahut kenzo lagi.
“Apa kau bilang?” Ramon gelapan dengan penilaian Kenzo terhadapnya.
“Itu benarkan, kau tampak malu ketika aku menyebut nama Fred. Sudahlah, aku akan merestui kalian jika ingin menikah.” Tambah Kenzo lagi.
“Merestui? Menikah?” Sepertinta Ramon sudah kehilangan otaknya dan mulai membayangkan menikah dan hidup bahagia itu seperti apa.
__ADS_1
Padahal helikopter Hikashi sudah tiba dan akan mendarat. Keduanya bersiap menyambut tuan rumahnya datang. Ramon membukakan pintu untuk Hikashi yang sudah berpenampilan luar biasa dan wangi. Seperti sihir yang menghanyutkan siapa pun yang menjumpainya. Sebuah anugrah yang indah, tapi memiliki masih dikuasai dendam.