
Di gudang sedang dilakukan pembersihan dan pendataan barang. Frayza nampak sibuk mengecek barang yang ada. Beberapa tukang angkat dipanggil untuk mengangkat barang berat. Serta memperbaiki sistem sirkulasi udara dalam gudang. Agar bahan yang disimpan mendapat suhu yang terbaik.
“Yuki, jangan mengangkat barang berat. Biar pekerja lelaki saja!”
Frayza sedikit khawatir kepada Yuki yang ikut membantu kegiatan di gudang.
“Tidak apa-apa Nona, hihihi.” Celotehnya.
“Tapi itu berat, Yuki!” sekali lagi Frayza memperingatkan pegawainya yang keras kepala.
Nyuttt... Seolah merasakan denyutan di perut bawahnya. Yuki merasakan nyeri saat mengangkat kardos berisi alat jahit yang berat.
“Yuki, awas kau berdarah!” teriak Frayza.
“APA?” kejutnya.
Yuki melihat lantai dibawah kakinya sudah ada darah yang menetes segar.
*
*
*
LONDON, INGGRIS.
Pesawat jet pribadi berwarna hitam milik yang mulia Hikashi siap lepas landas. Meninggalkan langit Inggris Raya, dia keluar dengan tergesa. Di ikuti oleh Patrick yang hendak memberikan ponselnya.
“Istriku dalam keadaan gawat, aku tidak bisa menerima panggilan lain! “ berjalan mengabaikan Patrick.
“Tapi ini telepon dari Butik tempat Nyonya.” Masih berusaha melanjutkan pembicaraannya. Namun Hikashi mengabaikannya.
Begitu mendengar suara Frayza sedang berada di rumah sakit. Hikashi lari dari acara peresmian kantor barunya. Acara potong pita akhirnya di wakilkan oleh Jade. Putra sulungnya yang kebetulan diajak serta meresmikan kantor baru.
“Cih, kenapa aku harus menjadi dewasa sebelum usianya.” Kesal Jade.
“Tuan Muda tinggal potong pitanya, selanjutnya berikan senyuman terbaik.” Bisik Kenzo.
“Hmmmmm.” Menuruti bisikan Kenzo agar ia memberikan senyumannya.
“Nah, begitu kan baik.” Sambil tepuk tangan.
“Urusan potong pita saja pake undang banyak media, Papa lebay!”
“Husttt!” potong Kenzo.
Jade sekarang sudah tumbuh menjadi pria remaja yang rupawan. Ia mewarisi semua dari Hikashi miliki. Mulai dari rambut hingga tinggi badannya yang jenjang tinggi. Jade memiliki sifat tidak sabaran dan membenci media yang meliputnya. Ia merasa tidak nyaman berada dalam kerumunan orang yang mencari berita.
Acara peresmian kantor baru ini masuk dibeberapa media. Sehingga wajahnya terpampang nyata sebagai salah satu penerus sekaligus pewaris dari Alexander. Teman sekolahnya mulai segan terhadap Jade, yang mereka nilai awalnya hanya anak seorang pekerja asing. Karena memiliki perpaduan Asia – Inggris. Di lingkungan sekolah, Jade termasuk anak yang suka menyendiri ditempat musik. Ia jarang mau terlibat kegiatan sekolah seperti olah raga maupun klub pecinta alam. Ia hanya menyukai musik sepanjang waktunya.
Usai acara, Jade langsung pulang ke Kastil Alexander. Rumah tinggal kebanggaannya yang memberikan fasilitas hidup lengkap. Serta kenyamanan hidup yang memadai. Turun dari mobil, Jade langsung disambut oleh pelayan. Ia bagaikan putra Raja yang menjadikan dirinya merasakan hidup kecukupan. Dirinya dilayani sesaui keinginannya. Bahkan untuk mandi, ada seorang pelayan khusus yang melakukannya. Ketika ia malas makan, ada pelayang yang bersedia menyuapinya. Dan hal ini tidak akan terjadi, jika Hikashi berada disana. Semuanya harus ia kerjakan sebagaimana aturan resmi di Kastil.
“Patrick, apakah Papa nanti malam pulang telat?”
“Maaf Tuan Muda, sepertinya Tuan besar tidak akan berada di kediaman beberapa hari.”
“Kenapa Papa bisa pergi seenaknya begitu saja? Apakah sopan, seorang Presiden meninggalkan acara penting perusahaan?”
“Maaf, Tuan Muda Jade. Tadi yang menelepon ialah Nyonya besar langsung dari Jepang.”
“MAMA!” Jade tersentak berdiri dari kursi makan.
“Tenang dulu Tuan Muda.” Mendudukan kembali majikan mudanya.
“Katakan padaku, apa yang terjadi pada Mama! “
__ADS_1
“Eheeemmb.” Berdehem.
“Oke, aku akan habiskan makananku. Setelah itu kita bicara.”
Jade menelean beberapa suapan makanan kedalam mulutnya lalu menyudahinya. Ia ingin tahu pasti apa yang terjadi dengan Ibunya.
*
*
*
TOKYO, JEPANG.
“Langsung pakai Heli saja Tuan, biar langsung ke Tower Rumah Sakit.” Ucap si botak yang sudah berambut, Matsumoto.
“.....” wajah dinginnya nelonyor berjalan.
Setibanya di Bandar Tokyo, sudah ada unit Helikopter yang bersiap menerbangkannya. Dalam hatinya, Hikashi memangil ‘istriku.... Istriku... ‘ begitulan guman dalam hatinya yang tak berhenti. Saat Frayza berkata sedang di Rumah Sakit, ia menjadi panik dan takut. Pasalnya hampir setahun ini Hikashi berada di Inggris. Sedangkan Frayza di Jepang bersama Seven. Keduanya sepakat untuk berbagi tugas merawat buah hatinya. Rencanya Hikashi hendak memboyong Frayza ke London berikut butik-butiknya. Namun, keinginan itu ditahan dulu. Karena Seven harus menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya terlebih dahulu.
Frayza juga sudah nyaman dengan pencapaian kerjanya di Jepang. Butik yang ia kelola berjalan pesat dan maju. Sedangkan Helena merintis Butik di Korea sebagai pelebaran cabang bisnisnya.
Rumah sakit, dibuat kalang kabut. Pasalnya mereka melihat Pangeran turun dari mobil berlarian mencari-cari. Ia mengelilingi lobi rumah sakit, ia bingung dimana harus menemukan istrinya berada.
Puk... Puk... Tepukan tangan dari belakang mengagetkannya. Hikashi melihat seorang wanita memakainya sweater warna putih dan celana jeans. Rambutnya yang panjang di kepang samping.
“Sayang, aku sudah pulang!”
Langsung menyambar tubuh Frayza yang berdiri sedari tadi.
“Akhirnya kau pulang juga, Suamiku.”
“Aku sangat khawatir, apakah masih sakit?”
Cuppphh! Ciuman itu mendarat cepat dibibir keduanya. Pengawal yang berjaga memalingkan badan memberi ruang privasi.
“Sudah cukup, nanti dilanjut lagi.” Pinta Frayza.
“Oh baik, aku minta maaf. Ini tempat umum. Hehehe.”
“Kebiasaan!”
“Hhheeemm mau lagi, cari kamar yuk.” Bujuk Hikashi.
“Ihhh... Nakal!”
“Sayang... Katanya tadi rindu, ayolah.” Rengeknya.
“Iya tapi tunggu dulu, kita harus temui Dokter.”
“Ah iya, aku hampir lupa.”
Dijelaskan jika kandungan Yuki lemah dan terpaksa dilakukan tindakan. Yaitu pengambilan janin yang tidak berkembang dengan baik. Hikashi pikir Frayza yang hamil, dan hendak murka. Ternyata yang Dokter jabarkan ialah kandungan Yuki. Sempat berpikir kalau Frayza berselingkuh ketika mereka berjauhan. Ternyata ia salah paham soal masalah kandungan tadi. Sekarang Hikashi bisa bernapas lega, istrinya Setia menanti dirinya.
“Sayang, apa kau tahu siapa ayah dari janin itu?”
“Aku tidak tahu,” menggelengkan kepalanya.
“Syukurlah bukan kau, jika tebakanku tadi benar. Sudah ku runtuhkan seluruh gedung di Jepang ini.”
“Tebakan apa!”
“Eh itu anu ituloh eng...”
“Hikashi!”
__ADS_1
“Ituloh gempa Sayang, tidak kok hhhee.”
“Apa, cepat katakan!”
“Aku pikir kau yang hamil, lantas menggugurkan kandunganmu untuk menghilangkan jejak perse-ling-ku-han-mu...”
“HIKASHIIIIIIII, YANG BENAR SAJA KAU INI!”
“Ah iya-iya Sayang, maafkan pikiran burukku ini. Aku mohon ampun...” ia dipukuli istrinya yang kesal.
“Aku mana sempat berselingkuh, semua staff dan pegawaiku kau ganti wanita. Bahkan pengawalmu berjaga radius 2 meter dariku. Selalu merekam dan memfoto kegiatanku. Apakah kau belum cukup gila memantauku!”
“Yah siapa tahu aku bisa kau bohongi, dan mereka kecelongan.”
“KAU INIIIIIII.” Frayza makin geram.
“Iya Sayang, aku semburu padamu.”
“Aku sebal kau curigai, keterlaluan sekali kau fitnah aku yang hamil dengan selingkuhan.”
“Tapi nyatanya kan tidak, ayolah Sayang. Jangan marah ya...”
“Tidak, kau sudah lancang mencurigaiku!”
“Maafkan aku ya Istriku, kau kan wanitaku. Jadi wajar kalau aku berpikiran begitu jauh.”
“Kau!”
Sejenak suasana hening, keduanya berhenti berdebat.
“Fray, ayo kita punya anak lagi.” Tiba-tiba Hikashi bicara diluar nalar lagi.
“Apa?”
“Aku butuh anak lagi darimu, sedikitnya 2 atau 3 lagi. Kasihan Jade dan Seven kalau kesepian.”
“Coba ulangi, apa aku salah dengar?”
“Aku mau membawamu pergi liburan dan beranak-pinak.”
“Hikashi, apakah tadi kau mengalami guncangan keras di awan?”
“Iya, rasanya aku ingin membuat ranjang kita berguncang lebih hebat daripada di awan.”
Tassss... Memukul lengan suaminya keras. “Awwwww! Kau ini punya fetish ya!” rintih Hikashi.
“Seharusnya kau periksakan diri dulu, bicaramu ngawur. Baru selesai tuduhanmu itu, sekarang kau meminta anak padaku.”
“Aku serius Sayang.”
Hikashi mulai mepet betinanya yang murka. Ia memeluk erat istrinya, serta menghembuskan napasnya didaun telinga. “Mau ya lahirkan anak lagi untuk adik Jade dan Seven. Kasihan mereka pasti kesepian.”
“Ahh Sayang, kita sudah punya 2 anak yang sebentar lagi dewasa dan remaja. Kalau teman-teman mereka tahu kita memberinya adik bayi. Sudah pasti mereka akan di olok-olok teman-temannya. Kasihan ah, tidak usah. 2 anak cukup.”
“Aku mau kau hamil dan lahirkan bayi lagi.”
“Sayang, kenapa kau tiba-tiba ingin punya anak lagi?”
“Buatnya enak hehehe.”
“HIKASHIIIIIII.”
“Ah iyaya maaf Sayang, keceplosan. Itu tidak benar, begini Sayang. Kalau kita punya banyak uang, Jade dan Seven tidak sanggup menghabiskannya. Jadi kita tambah anak lagi biar mereka ada teman menghabiskan uang begitu.”
“ALASAN!”
__ADS_1