
Helena sangat terkejut mendapat kunjungan mendadak dari pujaan hatinya, Matsumoto. Kali ini ia datang membawa koper kecil yang membuat Helena bertanya-tanya.
“Apakah kau sudah nyaman datang kemari. Sampai lupa membuat janji terlebih dahulu?”
“Aku kemari karena perintah Bos besar, isi koper ini.”
“Oh Tuan William, ia membutuhkan apa memangnya? Perasaan Frayza tidak bilang ada barangnya yang ketinggalan.”
“Bukan barangnya Nyonya maupun Tuan, tapi isilah dengan barang pribadimu. Petang ini kita akan menyusul mereka ke Korea!”
“Oh begitu ya hehehe. Kenapa kau tidak menghubungiku lewat pesan singkat saja. Aiya aku lupa, kau kan tidak punya ponsel. Baiklah, jangan mulai berdebat. Tunggu sampai Asisten ku kembali dulu, dia sedang keluar membeli kopi.”
“Jika kau lama, maka aku robek saja tiketmu.”
“Eh kok main robek-robekan sih. Kenapa kamu ini tidak sabaran jadi manusia botak!”
“Diam dan segera ambil paspormu!”
“Cih, dasar Penyuruh!”
“Cepat!”
“Iyayaya galak sekali sih, baru juga merapikan meja kerjaku. Tidak usah menggertakku kenapa?”
“Jika karena urusan mencari lokasi baru toko kelontongmu mana mungkin Nyonya kami merengek kesana!”
“Jadi Frayza berhasil membujuk suaminya?” matanya berbinar.
“Ya!”
“Jadi Tuan William akan membelikan satu gedung, sepuluh gedung...” Mengocek terus.
“Ingat, jika kau bicara terus bukan lagi tiket yang ku robek. Tapi mulutmu!”
“Ups...” memegang bibirnya yang kelu.
Ponsel Matsumoto berdering, sebuah panggilan masuk untuk segera diangkat. Ia kemudian keluar dari kantor Helena dan bergegas menuruni tangga. Dirinya yang langsung belok tidak melihat ada Yuki datang dari arah berlawan. Datang menenteng kopi panas pesanan Helena. Menabrak Matsumoto yang sedang berbicara dengan Hikashi. Bajunya basah, terkena ketumpahan kopi panas. Yuki yang panik lantas pergi ketakutan bila orang tersebut marah. Biasanya kan pada minta maaf, gitu sekedar basa-basi. Eh ini Yukinya main kabur saja, dipikirnya Matsumoto ini mahluk astral gitu ya? Mungkin, karena perawakannya yang sangar dan ketus.
“Ah Yuki kebetulan sekali kau sudah datang.” Helena tampaknya sudah menantikan kedatangannya.
Dengan sedikit panik, Yuki langsung meletakan kopi diatas meja kerja Helena. “Maaf tadi aku terkena macet, serta antriannya panjang. Toko kopi ini enak dan terjangkau untuk semua kalangan. Jadi maaf sudah membuatmu menunggu lama Helena.” Berbohong menutupi alibi bertemu Hiroshi.
“Oh tidak apa-apa,” langsung menyambar kopi yang sudah tidak panas.
__ADS_1
“Kenapa meja kerjamu dirapikan?”
“Ah begini, hampir saja aku lupa hal penting ini. Beberapa waktu lalu, ada lelang tempat yang bisa dijadikan tempat usaha. Tapi kemaren aku batal ke Korea. Oleh karena itu, kunjungannya diganti petang ini.”
“Kenapa bisa mendadak seperti ini?”
Klak, suara pintu terbuka.
“Sudah belum?”
“Sebentar lagi, kau bisa menungguku diluar.”
“Untuk apa, kenapa kau memperlakukanku seperti kucing. Aku disini manusia, hargai aku jika tak ingin kehilangan kesempatan emas!”
“Cih!” berdecit kesal.
Yuki menolah, siapa pria yang menyebalkan ini. “Ups,” ia menyadari dari baju putih yang ternoda. Ternyata ialah Matsumoto, salah satu Direktur Alexander Holding. Ia memalingkan wajahnya dengan cepat sebelum dirinya terdeteksi pelaku tak bertanggung jawab.
“Ini karyawanmu?” tanya Matsumoto disebelah Yuki.
“Iya, dia asistenku namanya Yuki.”
“Aku ada perlu dengannya, setelah aku kembali kau harus siap dengan barang bawaanmu.
“Pilihkan baju yang tepat untukku!”
“Eh... “ terkejut.
“Apa kau buta?”
Iya, baju mahalnya ketumpahan kopi murahan. Tentu saja Matsumoto marah besar, pria beringat ini memang tidak ada sopan-sopannya. Yuki memilihkan beberapa baju termahal di Butik. Niatnya, ialah memberi pelajaran untuk orang kurang ajar ini.
“Ini, pakailah!”
“Jika ukurannya tidak pas, kubakar baju ini.”
“Ya ampun, tidak percaya bentuk anda ini Tuan.”
Mengembalikan baju yang memang dipilih kekecilan ukurannya. Sekarang Yuki memilihkan baju yang pas, tapi harganya 10 kali lipat dari baju sebelumnya.
Yuki menunggu dari luar kamar ganti, melihat penampakan pria yang menjengkelkan. Datanglah Helena menenteng koper kecil menghampirinya. Sepertinya ia sudah sial untuk segera pergi.
“Yuki beberapa hari ini aku akan ke Korea untuk urusan bisnis. Semua gaun rancangan penting sudah aku masukkan kedalam brangkas. Kerjakan saja pola yang sudah aku setujui. Jangan membuat desain baju, tanpa seijinku. Karena aku tidak mau kalian mengambil pekerjaan tanpa sepengetahuanku.”
__ADS_1
“Baik Helena, seperti biasanya. Kami hanya melayani tamu yang mengambil pesanan baju jadi. Dan membuat daftar janji bertemu setelah kedatanganmu kan?”
“Tepat sekali, tadi kamu melihat pria berkepala plontos tidak ya? Sepertinya tadi ia mengajakmu pergi?” sedikit nada menyindir.
“Tuan Matsumoto?”
“He’em,” kepala Helena mencari-cari keberadaan pria plontosnya itu.
“Itu dia.” Angguk Yuki sambil merapikan beberapa baju.
Keluarlah Matsumoto dengan setelah mahal, membuatnya berkarisma seperti pejabat penting. Baju mahalnya, menaikkan ketampanannya. Helena sampai terperangah karenanya. Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Pria yang berada dibelakang Hikashi, sekarang bisa menjelma model rupawan.
“Tagihannya di bayar dia!” toleh ke Yuki.
“A-apa kenapa aku?”
“Karena kau yang memilihkan baju ini, jadi terimakasih sudah mengganti bajuku. Itu adalah permintaan maaf yang setimpal.”
“Sejak kapan aku minta maaf woi!”
“Jika kau tidak mau minta maaf, maka kau akan aku tuntut!”
“Jangan bercanda begitu, ku berikan ini secara gratis untukmu.” Sela Helena.
“Siapa yang mau mengemis?” merasa harga dirinya direndahkan
“Hai, kenapa kau membentakku? Sudah baik aku memberikan baju ini secara Cuma-Cuma. Kau tahu harga baju ini beberapa bulan Yuki tidak gajian?”
“Masa bodo, pokoknya aku mau dia yang bayar baju ini lunas!”
“Kenapa kau mempersulit keadaan, jika kau mau baju ini ya bayar saja sendiri. Tugasku kan melayani tamu, bukan membayarkan baju tamu!”
“Hai rambut es, beri tahu pegawaimy ini yang sok bodoh! Aku menuntut ganti rugi bajuku yang dikotorinya ini. Jika ia tidak mampu membayar baju yang dipilihnya sendiri, bersiaplah ku jebloskan dipenjara!”
“Yuki, kau pergilah. Abaikan orang ini.”
“Tidak bisa!”
Kali ini Matsumoto menjebak rambut Yuki, gadis Malang itu meringis kesakitan merasakan tarikan kuat rambutnya.
“Kau ini gila ya, berbuat kasar dengan wanita?” memukuli Matsumoto yang sudah gelap mata.
Pergulatan sengit itu terjadi, sampai akhirnya alarm ponselnya berbunyi. Yuki dilepaskan dari tuntutan tagihan baju yang dipakai Matsumoto. Dengan syarat, ia akan bekerja sebagai pelayan pribadi. Selama 1 bulan masa percobaan, jika Yuki gagal maka Matsumoto berhak mendepak Yuki dari Butik. Sepertinya Matsumoto memiliki kebencian mendalam dengan orang-orang Butik, kecuali Nyonyanya.
__ADS_1
Didalam pesawat, kursi duduk Matsumoto bahkan ditukar dengan penumpang lain. Ia tidak sudi duduk disebelah Helena, padahal Helena tidak tahu apa-apa. Walaupun awalnya ia hanya ingin melerai perselisihan yang terjadi. Perjalanan yang biasanya ditempuh dalam waktu singkat, kini terasa lama dan membosankan. Mata Helena setidaknya jenuh dengan kondisi pesawat, melihat Matsumoto jauh lebih menawan dari biasanya. Pria terkadang bisa terkatrol fisiknya karena pakaian mahal yang dikenakannya. Mungkin ini slogan baru dari Helena, yang sudah jatuh hati kepada musuhnya.