
Atas inisiatifnya sendiri, Helena menawarkan bantuan merapikan meja kerja Frayza. Padahal dirinya sendiri tengah sibuk membuat desain pakian dari klien.
“Sebaiknya aku kerjakan ini sendiri, kembali lah ke meja kerjamu Helena.”
“Hehehe kau akan magang diperusahaan bergengsi milik suamimu bekerja. Aku harus membantumu supaya memiliki standar kerja dengan pegawai disana.”
“Hufh...” mendengus pasrah.
“Kenapa?” mendekatkan wajahnya.
“Aku rasa akan dibawah tekanan kerja yanh lebih berat.”
“Aku yakin, suami mu akan membantumu.”
“Aku tidak begitu yakin, kau tahu tidak?”
“Tidak.” Jawab spontan Helena.
“Aku serius Helena!”
“Hehehe iya-ya aku tidak tahu, coba ceritakan.” Sambil memasukkan alat yang sekiranya diperlukan untuk magang.
“Saat aku ikut rapat dengan Suamiku, wajah pegawai mereka begitu serius. Dari tatapan mata, serta mimik wajah mereka yang dingin. Pasti mereka pekerja keras seperti robot.”
“Dan suami mu bagaimana?”
“Oh tidak bisa ku terjemahkan dengan kata-kata yang baik. Dia hanya sedikit bicara yang membuat pegawai harus berpikir keras. Dan satu hal lagi, hitungan angka dan akurasinya dalam perhitungan sangat luar biasa. Aku merasa bersalah sudah menyepelekannya.”
“Hohoho dari ekspresimu, aku tahu kau pikir suamimu hanya orang yang tidak bisa apapun tanda asistennya bukan?”
“Huft begitulah, karena selama ini ia dikelilingi oleh Matsumoto, Kenzo, Patrick dan tidak hapal nama-namanya. Terlalu banyak pembantunya dalam bekerja, kepalaku pusing.” Memijat kepalanya.
“Bersyukurlah lau memiliki anak dari bibit pria yang berkwalitas. Sedangkan aku, hemmmbb entahlah.” Mengernyitkan dahinya.
“Kau ingin aku bilang dengan jujur apa tidak?”
“Tidak usah, banyak hal yang tidak menarik dari hidupku. Apalagi soal Asmara, huft sangat sial.”
“Apa kau yakin hehehehe.”
“Hai apaan sih, aku hanya merasa iri saja denganmu saja. Memiliki suami kaya, tampan dan memberimu keturunan yang rupawan.”
“Hai kenapa kau bida iri denganku Helena. Kau harus tahu, setiap wanita pasti akan mengalami hal tersulit bahkan terburuk dalam hidupnya. Aku sendiri kagum kepadamu, walaupun kau seorang wanita lajang. Tetapi karirmu di akui dengan baik.”
“Ah itu hanya bungkusnya saja Frayza. Tetaplah aku sebenarnya ingin menikah, memiliki rumah, dan suami yang melindungi. Bisa diajak hidup bersama, sarap bersama walaupun beda menunya.”
__ADS_1
“Aku sudah mulai paham arah pembicaraan kita. Nanti aku akan tanyakan langsung kepada Matsumoto, apakah dia bisa mentolerir perbedaan kalian.”
*
*
*
Saat ini Frayza menemui Matsumoto di kantornya, ia sengaja datang lebih awal tanpa sepengetahuan Hikashi. Jika suaminya tahu, pasti tidak diijinkan. Apalagi Matsumoto adalah tangan kanannya yang masih lajang.
“Saya tidak bisa Nyonya.” Mengangkat cangkir kopinya.
“Tapi Helena berharap kau bisa mempertimbangkannya.”
“Aku menyukai wanita yang bersikap lemah lembut, bukan brutal.”
“Cih, kau sendiri apa coba?”
“Saya adalah pemuda lajang yang sedang dicoba dipengaruhi wanita bersuami. Untuk menerima perjodohan dengan wanita berambut cepat sudah beruban.”
“Ck, sialan kau Matsumoto hehehe.” Kekeh Frayza.
“Walaupun ia berubah, saya belum bisa memikirkannya. Sifat aslinya yang seperti wanita Amazon tidak cocok dengan kepribadianku.”
“Sekarang saya sudah berubah menjadi pria yang lemah lembut.”
“Ya-ya-ya kau menang, aku menyerah.” Bangkit dari kursi duduknya.
Akhirnya Matsumoto lega, Nyonya nya keluar dari kantornya. Ia mengendorkan dasinya dan merebahkan kepalanya. Melihat pemandangan di luar jendela. Tampak langit yang cerah setelah beberapa hari turun salju.
“Kau baru saja ada tamu ya?”
“Haaah!” ternyata suara yang masuk kedalam kantornya adalah Hikashi.
“Sepertinya kau baru saja menerima tamu, kopinya masih panas. Siapa?”
Tidak mungkin kan, Matsumoto bilang jika istri Bos nya menemuinya. Mau dibuang ke India apa Afrika gitu?
“I-itu tadi ada tamu seseorang menawarkan barang tua.”
“Barang tua kalau antik Bagus, nilainya sangat tinggi. Memang apa barang yang ditawarkannya?”
Lah kok Hikashi malah kepo tanya-tanya perihal bab tamu Matsumoto. Apa enggak lihat itu wajah Matsumoto sudah kebingungan cari alasan.
“Tuan Hikashi ada kepentingan apa yang harus saya kerjakan?”
__ADS_1
“Oh iya aku baru ingat, begini. Hampir saja aku lupa dengan tujuanku, begini Matsumoto. Aku mau Frayza masuk ke Devisi desain dan teknik perencanaan. Bisakah kau pilihkan pegawai yang kompeten. Kalau bisa bukan lelaki, ya kalau suami-istri justru lebih Bagus sih.”
Eh kenapa agak njelimet ya kriteria yang dimau Hikashi ini. Macam pesanan yang amat sulit bisa dilaksanakan.
“Apa sebaiknya anda diskusikan saja dengan Nyonya dulu. Bagaimana baiknya ia nanti saat bergabung di tim. Karena anda sendiri kan yang membuat peraturan 90% karyawan primer adalah laki-laki. Sedangkan karyawan wanita dibagian administrasi saja.”
“Oh jadi begitu ya, aku pikir bagian HRD yang berwenang. Hehehe.”
“Anda sedang ngaco Bos.”
Padahal Hikashi sendiri yang mewanti-wanti Perusahaannya merekrut wanita. Alasannya mulai dari kinerja lelaki tidak akan berpengaruh ketika sudah menikah. Sedangkan pegawai wanita akan banyak melakukan cuti hamil dan melahirkan. Belum lagi kerepotan mengurus anak dan keluarga, pasti tidak bisa fokus bekerja. Selain itu keryawan lelaki tidak akan mengganggu atasannya untuk memperoleh keuntungan. Yaitu bisa saja terjadi perselingkuhan ditempat kerja. Hikashi pernah sudah belajar dari pengalamannya terdahulu. Yaitu saat kedekatannya dengan Dannis. Yang membuat dirinya mencari pelarian karena merasa kesepian. Ia sangat trauma bila harus berpisah dengan istrinya. Karena tergoda dan menjalin hubungan terlarang dengan wanita manapun. Ia sudah memiliki kebaikan hidup, tak mungkin ia menukarnya keharmonisan keluarganya. Lebih baik ia menikmati anugrah ini dan menjaganya dengan baik.
"Mungkin beberapa bulan ini aku akan sibuk di Pemerintahan. Mengingat Hiroshi akan menikah sebentar lagi. Jadi beberapa tugasnya akan diserahkan kepada Takeshi."
"Apakah anda perlu turun tangan, Kerajaan memiliki banyak orang yang kompeten. Bagaimana kalau ada hal penting yang mendadak. Saya tidak bisa mengambil keputusan tanpa arahan Anda Bos."
"Selama aku tidak ada, sebaiknya kerjakan uanya seperti target biasanya. Setiap akhir pekan ku usahakan evaluasi mandiri dirumah. Kali ini aku akan dibantu tim audit ekonomi, jadi kau bisa terbantu oleh mereka."
"Heeessshhh aku sudah memiliki banyak pekerjaan, dan Anda akan masuk ke Pemerintahan. Kenapa tidak sekalian saja Anda minta jatah jadi Perdana Menteri."
"Anggap saja aku bergotong-royong di tanah kelahiran Ayahku."
"Apa Anda yakin akan tenang bila Istri kesayangan Anda berkeliling bebas disini?"
"Hmmmb," berpikir sejenak.
"Perusahaan kita ini banyak Pria nya lo Bos. bisa dikatakan anda memasukkan mangsa ke sarang Srigala jantan."
"Jangan menakuti ku, Frayza tidak akan akrab dengan siapa pun disini! Aku akan terus memantaunya dan menghubunginya setiap detik!"
"Apakah setiap detik Anda akan terpecah fokusnya mengurus Negara dan memikirkan para Buaya?" di kompori Matsumoto lagi.
"Aku...aku batal menyuruhnya magang kalau bagitu!"
"Pfffttt, padahal aku tadi bercanda. Anda tidak usah membatalkannya, bukankah Anda sendiri yang sudah mengumumkannya sendiri ketika rapat. Tidak ada yang berani mendekati istri Anda. Kecuali ia mau ditendang dengan kasar dari pekerjaannya."
"Gara-gara kau ini, sekarang aku kepikiran dengan Frayza. Ucapanmu membuat hatiku tidak enak, sudah cukup aku dengar bualanmu!"
"Hehehe maaf Tuan Hikashi." godanya.
"Sialan!" umpatnya kesal terpancing emosi.
+++++
Hallo Semuanya, terimakasih ya sudah memfavoritkan novel ini. Jangan ketinggalan juga klik jempol dan tulis di kolom komentarnya. Author bakal senang bisa menyapa kalian, salam kenal.
__ADS_1