TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
DIOBATI DULU YA, LUKANYA. BIAR CEPAT SEMBUH


__ADS_3

√LANJUTAN,


“Ah~~~~” menggeliatkan tubuhnya.


“Sssttt, jangan banyak bergerak Sayang. Aku belum selesai ah~~~~.” Terus menggoyangkan pantatnya maju mundur.


“Pegal Hikashiiiihhh sshhhhh ahh,” mendorong bahu Hikashi yang menindihnya.


“Sekali lagi Sayang, biar bersih tuntas bekasnya.”


“Milikku ini bukan mesin cuci yang bisa menghilangkan noda!”


“Hehehe sebentar lagi ya Sayang ya, jangan marah. Aku kan hanya memberikan kewajibanku sebagai suami hihihi.”


“Tapi kita sudah terlalu lama di gudang ini, aku harus kembali belajar. Atau Bibi Aciko akan memukulku dengan penggaris.”


“Nanti aku yang bilang kalau kau sudah aku pukul pakai penggaria pribadiku. Ini buktinya, enak kan hehehe.” Terus saja menusuk dari belakang sambil memegang anugrah Indah kembar.


“Sayang, sampai kapan kita begini? Tubuhmu mulai lengket di punggungku. Ini tidak nyaman sekali, hissssshhh ah.”


“Sabar ya Sayang, jangan buru-buru. Kita keluar petang saja ya, saat orang-orang masuk ke Asrama.”


“Apa petang? Dengan posisi ini kau menindasku?”


“Aku tidak menindasmu Sayang, tapi aku sedang membuktikan ketulusanku padamu.”


“Ya Tuhan, akal-akalan apalagi ini uhhh...”


Entah sudah berapa kali Hikashi ketagihan main di gudang penyimpanan barang ini. Sepertinya Frayza mulai capek dan mengantuk lagi, perutnya benar-benar sudah kelaparan dan tak berdaya. Kalau saja Hikashi mau berhenti 5 menit saja untuk tenang. Mungkin aksinya tak membuatnya tepar seketika.


“Sayang, hari sudah sore. Ayo bangun.” Hikashi membangunkan Frayza yang tertidur pulas.


“Ekhhh, sudah selesai juga akhirnya. Oh nyawaku masih menempel di badan.”


“Hehehe pedangku sudah menempel berjam-jam dipunyamu kok. Gimana, enak tidak Sayang hihihi.” Memakai bajunya kembali sambil terpekik.


“Auhh sakit sekali, rasanya mau rontok tulangku.” Memukuli punggungnya yang pegal.


“Kemari aku bantu memijitinya,” memegang bagian tubuh depan Frayza.


“Hikashiiii kenapa kau memegangnya lagi!” frayza kaget dikerjai Hikashi.


“Ups maaf Sayang, tanganku sudah tahu tempatnya dimana. Oh disini ya, punggungmu.” Beralih kebelakang.


“Haiiii kenapa kau lepaskan pengait bra-ku?”


“Aku lebih tertarik kau tidak memakai dalaman saja. Itu sangat mengganggu mataku yang butuh asupan pemandangan. Buka semua bajumu ini, sungguh merusak pemandangan mataku.”


“Aku mau memakai baju Hikashiiii, aku bisa kedinginan kalau katu melepaskan seluruh bajuku. Kau ingin aku jni seperti ikan apa?”


“Waw, kamu marah ya? Sayang, pulang ke Istanaku ya malam ini. Nanti aku minta ijin kepada Bibi Aciko untuk membawamu.”


“Bawa-bawa, main bawa. Kau pikir aku ini barang yang bisa kalian sewakan hih.”


“Yah itusih terserah kamu saja, kalau kembali ke Asrama pasti hukumanmu akan lebih berat. Aku kan suamimu yang baik, jadi sudah semestinya melindungimu. Kembali bersamaku dan tinggal bersama, apa dijajah Nenek tua?”


“Hemmmbbb,” mempertimbangkan tawaran Hikashi.


Tanpa pikir panjang, Hikashi menemui secara langsung Bibi Aciko yang memang mencari Frayza. Ditangannya sudah ada penggaris kayu ukuran besar yang biasanya dibuat memukul dayang tidak disiplin.


“Aku harap Bibi Aciko tidak marah jika Frayza mulai sekarang melayaniku.” Menyembunyikan frayza dibelakangnya.


“Tapi gadis itu masih bodoh Pangeran Hikashi belum selesai belajarnya. Saya takut akan mengecewakan Pangeran Hikashi.”


“Aku sangat puas dengannya, Bibi tidak usah khawatir; Bukan begitu Frayza?” mengedipkan matanya.


“Hah puas? Memang apa yang sudah gadis ini lakukan kepada Pangeran Hikashi.”


“Oh mengenai kepuasan itu hanya kami berdua yang bisa merasakannya. Istilahnya tidak bisa dijabarkan oleh orang yang belum menemukan pasangannya.”


“Pangeran Hikashi, apakah anda sedang bercanda dan bergurau kepadaku?”


“Bibi Aciko, gadis ini datang untuk diriku. Dia menemuiku di Istana ini karena mau menebus kesalahannya. Aku mengusirnya dari Istanaku, kemudian kau menemukannya. Terimakasih sudah menjaga Frayza dengan baik, aku akan kirimkan bingkisan untukmu sebagai ucapan terimakasih.”


Bibi Aciko tidak bisa berkata-kata lagi, wajah Hikashi yang gembira tak mungkin ia kecewakan menjadi muram sedih. Bila keinginannya tidak dituruti olehnya, hanya seorang Frayza saja yang dipinta oleh Hikashi. Karena Bibi Aciko tahu sifat asli Hikashi yang dingin dan angkuh mendadak baik. Pasti Frayza adalah seseorang yang istimewa.


“Baiklah, aku ijinkan Frayza dibawa oleh Pangeran Hikashi. Bila dia mengecewakan Pangeran, mohon beri tahu saya. Agar saya disiplinkan lagi. Plakkk (menepuk penggaris ditelapak tangannya).”


“Bibi Aciko, kau tidak boleh kasar kepadanya. Aku memperlakukannya dengan penuuuuhhh kelembutan.” Mendengus leher Frayza yang tegang.


Dibawalaha Frayza kembali ke Istana pribadi milik Hikashi. Mereka berjalan beriringan disenja yang Indah.


“Hai berjalanlah sedikit cepat, jangan menjadi siput pemalas.”


“Hiiii apa kau tidak tahu, akibat siapa aku menjadi begini hhhhheee?”


“Heheh salah sendiri suka kabur, masih baik aku bikin susah berjalan. Kalau aku bikin kau hamil, bisa 9 bulan kau terpasung hahaha.”


“Bercandamu tidak lucu Pangeran Hikashi,” melengos acuh.


“Hai, jangan ngambek wahai Istriku sayangg... Aku hanya bercanda, kemari aku gendong depan. Kita bisa mencoba gaya baru sambil berjalan. Hai Istriku, ayo kita coba, sepertinya akan seru haiii.”

__ADS_1


Hikashi terus meneriaki Frayza yang berjalan jauh didepannya. Kedua telinganya ia sumpal dengan telapak tangan. Suaminya benar-benar seenakanya saja berfantasi. Apa dia tidak malu kalau ada orang yang mendengarkan perkataan mesum itu. Benar-benar Hikashi, sudah kembali sifat mesumnya yang parah.


“Aku tidur dibawah, selamat malam.”


“Kemari Sayang, aku sudah menghangatkan bagian. Sini tidurnya sebelahku, aku janji tidak akan berbuat onar lagi seperti di gudang. Lagipula ini sudah malam, aku sudah tidak bertenaga. Lihat ototku sudah layu dan kendor usai bercinta tadi siang hehehe.”


“Simpan saja trik palsumu itu Pangeran Hikashi, aku mau tidur!”


“Cihhh, tidurlah. Biar dimakan lipan dan ular kau. Ranjangku ini juga sempit tidak muat untuk bokongmu yang lebar. Tidak usah berharap aku akan memberikan tumpangan tidur lagi. Dasar keras kepala, hissss.” Hikashi mencoba memejamkan matanya yang masih mencuri-curi pandang. Tampaknya Frayza sudah terlelap tidur.


Hujan turun dengan deras, udara yang panas kini berubah menjadi dingin. Hikashi merasa gelisah tidur sendirian diranjang. Dilihatnya wajah damai Frayza yang tidur dilantai berselimut. Beberapa kali ia meniup-niup udara diwajah Frayza. Tetapi gagal, dia melempar bantan, guling dan terakhir dirinya dilempar menimpa tubuh Frayza.


“Geser sedikit,” menjejal masuk kedalam selimut.


“Ahhh jangan menarik selimutku, ambil selimutmu sendiri.”


“Ah tidak enak, selimutku robek.” Hikashi menarik selimut beserta tubuh Frayza kedalam pelukannya.


“Hikashi, aku capek huuuuffttt.”


“Iya Sayang, aku tahu kamu capek sudah melayaniku. Besok kamu boleh tidur sepuasnya, aku akan memberikan hari cuti khusus.”


“Terimakasih Sayang, aku mencintaimu muachhh.” Mencium leher Hikashi yang bagian sensitifnya.


“Frayza, kau mencium leherku tapi ada yang bergerak-gerak tuh ditengah. Kalau dia bangun kamu yang repot nantinya Sayang.”


“Katakan padanya kalau wahana bermainnya sedang tutup huuffttt.” Sedari tadi Frayza bicara sambil memejamkan matanya. Napasnya terasa berhembus dileher Hikashi. Tangannya diletakkan diatas jantungnya yang berdetak kencang seperti pria yang grogi.


“Frayza, terimakasih sudah menjadi hadiah terindah dalam hidupku. Aku akan anugerahkan segalanya yang aku punya.” Memandang penuh makna wajah imut istrinya. Hikashi tersenyum melihat istrinya sudah berada dalam pelukannya. Malam ini hujan menjadi alunan musik alami bagi keduanya. Mereka tidur dilantai seolah tidak peduli hawa dingin yang mulai merasuk. Saat Frayza meringkuk kedinginan, barulah Hikashi memindahkan tubuh istrinya naik keranjang. Disentuhlah perut Frayza dan diusap-usap perlahan agar tidak membangunkannya.


“Seandainya Tuhan mengambil separuh harta yang aku miliki agar kau bisa hamil. Pasti akan kuberikan semua yang aku miliki.” Hikashi memiliki harapan terdalam yaitu memiliki anak yang keluar dari rahim Frayza. Sebuah angan-angan yang sulit dicapai. Walaupun Hikashi sudah memiliki Jade, tetap saja rasanya beda bila bukan Frayza yang mengandungnya.


*


*


*


Pagi pun telah tiba, dia memeriksa bajunya. Kalau saja semalam Hikashi khilaf melakukannya lagi. Pinggang Frayza sangat sakit akibat gempuran yang terus menerus. Tubuhnya yang kecil tidak seimbang dengan proporsional tubuh Hikashi yang tinggi besar. Dia meraba tempat disebelahnya kosong, ternyata Hikashi tidak berasa di sebelahnya. Kemanakan pria itu berada, atau kejadian kemarin hanya ilusi Frayza semata? Tapi sekarang ia berada di kamar Hikashi. Berjalan tertatih dan membungkuk ia mencoba mencari tahu dimana keberadaan Hikashi. Dari kejauhan Hikashi sedang berada diruang kerjanya. Ada beberapa orang yang asing yang ia tak kenali. Dan seorang yang baru datang menyapanya pagi ini adalah Kenzo bersama 3 orang sekertaris pribadinya.


“Selamat pagi Nona, semoga hari ini menyenangkan. Ihiiik fuittt fuittt.” Setengah menyindir Frayza yang kepayahan berjalan.


“Hissss, kau masukkan aku kedalam kandang singa. Awas kau ya!”


“Singanya sudah jinak belum? Awas hati-hati biasanya kalau singa jantan sedang bergairah suka lupa waktu, ihiiikkk.”


“Diam kau, pergi kerja sana. Aissshh sakit sekali pinggangku haduuhh.”


Pelayan wanita sudah menunggu memandikannya. Mereka merawat dan melayani Frayza dengan baik. Hari ini dia benar-benar dimanjakan tubuhnya. Rasa ngilu dan pegalnya sedikit hilang.


“Bagaimana dengan keluhanmu, apakah sudah berkurang?” Jari Hikashi berjalan diatas punggung mulus Frayza.


“Ahh kau,” dia kaget kemudian terduduk.


“Kau belum menyapamu pagi ini Sayang, muaachh.” Mendaratkan ciuman dibibir.


“Sayang, kenapa kau menciumku didepan pelayan.” Mengelap bekas bibir Hikashi.


“Eits tidak boleh dilap lagi, muaacccchh.” Kali ini ciumannya lebih lama dan dalam.


“Uhuukkk... Uhukkk,”


“Lanjutkan lagi kesenanganmu, aku mau bekerja kembali.”


“Sayang,” menarik jemari lentik Hikashi.


“Mau apa?” dengan manja Hikashi menanyai istrinya.


“Semangat bekerjanya ya Suamiku tampan hehehe.”


“Kau menggemaskan sekali kalau lagi manis begini, rasanya aku ingin uuhhhh. Tidak bisa, aku sudah lama menunda pekerjaan ini karenamu.”


“Da-da Sayang,”


“Yah,” melambaikan tangan dan menutup lagi pintu.


Sejak kejadian semalam pelayan yang membereskan kamar tidur Hikashi menyebarkan gosip.


“Kau tahu tidak kalau Pangeran Hikashi punya kebiasaan aneh, dia tidur dilantai. Seperti rakyat biasa, iuh jauh-jauh datang dari Inggris hanya untuk tidur dilantai hihihi.”


“Maklum saja, dia kan mengalami gangguan mental. Aku pikir semua orang kaya memiliki kepribadian buruk tertutupi karena uang dan ketampanan ternyata benar.”


“Aku setuju, untung dia bukan Putra Mahkota lagi. Coba bayangkan jika kita memiliki Raja seperti dia. Mau jadi lelucon apa Negara ini.”


Dalam Istana pun dayang masih bisa mencari kekurang dan kelemahan. Mereka tidak tahu dengan pasti apa yang terjadi semalam, dengan cepatnga membuat asumsi yang negatif tentang cita diri. Di Istana ini, tidak ada orang yang tulus menutupi aibmu. Mereka hanya bersikap patuh di depan, tetapi menusuk dari belakang.


“Kenzo, kapan aku bisa menempati rumah baruku?”


“Kami sedang mencari interior yang cocok Tuan.”


“Hemmb, aku hanya perlu kamar tidur dan tempat bekerja yang sial terebih dahulu. Bagian yang lain bisa menyusul.”

__ADS_1


“Untuk kamar tidur, kami sedang berunding warna selimut dan sprei ya g sesuai selera Tuan dan Nona muda.”


“Aku akan kirimkan contohnya, dan kau belikan semuanya. Rasanya aku sudah mau mengemasi barang-barangku kelaur dari Istana ini.”


“Jika Tuan mau, 2 hari lagi semuanya selesai.”


“Tambahkan pegawai kalau begitu, aku mau pindah besok ke rumah baruku.”


“Hhhhhaaaa?”


“Aku berikan bonus jika kau kerjakan dengan cepat. Istriku lebih baik tinggal di rumah membuatnya nyaman. Terlalu banyak orang membuatnya canggung saat aku bermesraan. Ini sangat mempengaruhi perasaanku.”


“Ya Tuhan, perilaku ini ada-ada saja. Apa mereka ini tidak kenal waktu melakukan ini. Benar-benar ya, hemmb. “ Kenzo menggerutu dengan lirih.


“Kau mengataiku?”


“Aih mana berani saya, Tuan Muda. Saya sedang berpikir kapan mulai mengerjakannya saja hehehe.”


“Pakai kartuku ini, lebih cepat lebih baik.” Melemparkan kartu hitam untuk membelanjakan keperluan pindah rumah.


Usai Kenzo melaporkan tugasnya, Hikashi kembali menggelar rapat dengan pegawainya. Ternyata selama sakit, Hikashi sudah banyak menunda beberapa proyek penting dia harus mendengarkan laporan penting dan mengoreksi surat yang akan ia tanda tangani. Sebagai orang yang kompetitif menanda tangani tidak boleh sembarangan atau terjadi masalah besar dikemudian hari.


Sampai larut malam Hikashi masih meladeni tamu yang silih berganti datang. Mereka kadang memakai bahasa yang berbeda-beda. Frayza juga melihat kefasihan suaminya berbicara dengan orang asing. Ia sangat mengerti kenapa Hikashi memberikan les bahasa asing banyak kepadanya. Ini sangat menunjang dirinya untuk ikut mengerti pekerjaan suaminya. Terkadang Frayza ketahuan mengintip oleh Hikashi. Walau sudah ketahuan, Frayza mengulanginya lagi. Karena bangga melihat suaminya gigih dalam bekerja.


“Hai, jangan nakal ketika aku bekerja.”


“Aku hanya khawatir kepadamu jika kelelahan.”


“Waw, sejak kapan istriku ini menjadi perhatian. Kemari, biar kepeluk dulu Istriku tersayang.”


“Suamiku?”


“Iya Istriku Sayang, sejak kapan kau bisa bicara bermacam-macam bahasa asing?”


“Hahahaha, sejak aku sekolah dasar Sayang. Sejak dini aku masuk sekolah terbaik, hanya orang-orang tertentu saja yang mampu bersekolah disana. Karena murid disana sangat dibatasi jumlahnya.”


“Jadi begitu ya,”


“Hu’um, semakin Bagus kwalitas pendidikan. Maka berapapun biayanya tidak masalah. Kenapa?”


“Aku bodoh dan miskin, kenapa kau mau aku?”


“Karena... Karena tubuhmu yang menarik bagiku, selebihnya tidak ada hahahah.”


“Kauuuuuuu!”


“Hahahaha itu benar kan, kau punya apa selain tubuhmu ini? Sudah jangan tanyakan hal bodoh lagi, kau tidak perlu tahu kebiasaan orang sepertiku tidak akan bisa dinalar orang normal.”


“Sombong huft,”


“Jika aku sombong wajar, karena aku kaya, tampan dan berpengaruh. Tetapi jika miskin belagu dan sombong, itu namanya kurang ajar hehehe.” Menggelitik pinggar Frayza.


Mereka bercengkrama dan saling berlarian didalam ruangan. Dan kejadian intim terjadi lagi diatas meja.


“Darah darimana ini?” tangan Hikashi sudah terbalur warna merah.


“Aduhh... Ishh... Isshh perih.” Frayza meringis sambil menekan perutnya bawah.


“Sayang, itumu berdarah.”


“Apa berdarah?”


Hikashi lekas membaringkan Frayza diranjang, terjadi pendarahan pada bagian intim Frayza. Dipanggillah Dokter Kelvin dan Seorang perawat perempuan untuk mengecek.


“Hemmmbb,” menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Jangan menakutiku!”


“Ini benar-benar diluar kebiasaan.”


“Cepat katakan jangan bertele-tele! “


“Tuan muda, kau terlalu bar-bar dan tidak memberikan waktu jeda. Akhirnya terjadi pendarahan, untuk beberapa minggu ini kau harus puasa. Bersabarlah wahai kaum suami yang nasfuan sama istri.”


“Kau ini mau aku pecat? Berikan obat terbaik, ku beri waktu 3 hari untuk sembuhkan dia.”


“Sayang,” panggil Frayza lemas.


“Aku disini Sayang, mana yang sakit?”


“Hadeh, sudah tahu dia penyebabnya. Masih saja bertanya, ya sudah aku tinggalkan obatnya; Perawat, selanjutnya ini tugasmu ya.”


“Baik Dokter Kelvin,”


Hikashi memgompres perut Frayza yang kram dan linu. Wajah istrinya pucat kesakitan karena pendarahan. Sesekali Frayza merintih kesakitan nyeri dibagian intimnya. Hikashi menjadi bersalah sudah mengatakn hal salah. Waktu 3 hari terlalu singkat untuk kesembuhan Frayza. Dia berjanji akan memberikan waktu sampai sembuh betul. Dia tidak akan menyentuh istrinya sampai sehat lagi.


“Tidur ya Sayang, jangan banyak bergerak. Aku temani disini, jangan takut ya. Kamu pasti akan lekas sembuh,” menimang-timang Frayza seperti bayi. Dalam hati kecilnya Frayza tak menyangka jika suaminya begitu kebapakan. Sampai akhirnya Hikashi tertidur masih memegangi kompres diperut Frayza. Sesekali Hikashi terbangun mengecek suhu tubuhnya. Kemudian memeriksa pendarahan tang dialami Frayza. Tidak jijik sama sekalipun, karena sudah seperti darahnya sendiri.


“Sayang jangan, biar aku sendiri yang mengganti pembalutnya.”


“Aku saja, kau jangan bergerak. Ini semua karena perbuatanku. Akhirnya kau jadi begini, tenanglah.”

__ADS_1


Hikashi merawat Frayza dengan baik, membuat perawat yang berjaga menjadi tersentuh. Seandainya saja Dokter Kelvin melihat ini pasti dia akan menarik ucapannya yang salah.


__ADS_2