
Srakkk... Srakk... Sreng... Srenggg... Swoosshhh... Suara masakan yang diolah menimbulkan harmoni pagi. Suasanan didalam dapur begitu tegang kala Hikashi turun tangan. Sudah berapa piring dan mangkok pecah.
“Biar aku saja Tuan.”
“Ayolah ini hanya gelas, biar aku saja yang menaruhnya.”
Sluttt tiaaarrrr...selusin gelas pecah lagi. Pelayan dan para koki sudah kewalahan membereskan kekacauan ini.
“Apa yang kalian lakukan cepat bereskan pecahan beling ini!”
“Baik Pengurus Patrick.”
Nyuuuttt... Jarinya tertusuk pecahan beling tajam, jarinya mengeluarkan darah.
“Makanya kalau kerja pakai sarung tangan, cepat obati lukamu dan balut pakai plester!”
“Baik Pengurus Patrick.” Gadis itu pergi dengan menekan jemarinya agar darah tidak mengalir deras.
Hikashi yang penasaran dengan gadis itu mengikuti diam-diam. Matanya memperhatikan secara seksama gadis itu membuka kotak P3K. Ia juga ingat apa saja yang langkah yang harus dikerjakan. Terakhir ia membalut bekas robekan kulit dengan plester.
Setelah gadis pelayan itu pergi, Hikashi berdiri tegap dengan santai. Agar pelayan itu tidak curiga dengan keberadaan Hikashi. Yang sudah mengintipnya tadi. Gadis itu membungkuk dan berlalu, tak berani menatap wajah Tuan besar rumah ini. Hanya Patrick yang boleh mengangkat wajahnya dengan tegak. Hikashi tidak mau pelayan wanita dirumah ini membuat istrinya cemburu.
“Karena aku sangat tampan dan tiada duanya di rumah ini. Jadi jangan sampai kalian memperkerjakan wanita yang hobi mengagumi ketampananku! “ itulah kalimat yang pernah diucapkan oleh Hikashi pada Patrick.
Sejak saat itu, seluruh pelayan wanita pasti akan menjaga pandangannya jika berpapasan si tuan arogan Hikashi.
Sibuk berkutat dengan peralatan bantuan kecelakaan. Seluruh jarinya ia pasangi plester luka. Memang, bapak-bapak satu ini tidak bakalan mandeg idenya. Entah apalagi yang ia rencanakan. Tapi sepertinya, dia memiliki misi terselubung dengan membungkus seluruh jarinya memakai plester.
Ia membawa sarapannya masuk kedalam kamar. Dengan hati-hati ia meletakkannya diatas meja. Setelah itu, ia melihat istrinya memakai setelan jas dengan bawahan kulot lebar. Tidak membentuk tubuh dan terbuka. Ini adalah aturan mutlak dari Hikashi saat Frayza berangkat kerja.
“Kau sudah siapa?”
“Iya, hari ini aku harus ke Butik. Karena Helena sudah tiba di Jepang untuk melakukan lawatan bisnisnya.”
“Sarapan dulu, ini semua hasil olahan tanganku.”
“Tapi kenapa kau masak untuk sarapan kita?”
“Duduk dan nikmati saja, Istriku. Aku adalah suami pemanja istri, dan biar aku yang menyuapimu.”
Hikashi agak kesal sudah beberapa suapan dan teguk air. Frayza tak kunjung memberikan respon kekhawatirannya. Ia sengaja sedikit merintis dan menarikan jemari tangan.
“Isshh fuuuhhhh.” Meniup jemari agar Frayza melihat lukanya.
“Apa ini?” Akhirnya ditariklah tangan Hikashi. Bukan main senangnya ia dalam hati, setelah istrinya menyadari jika jarinya terbelit plester
“Aku terluka saat memasak, ini kena pisau, teflon, gunting, beling, kaca, air panas dan duri ikan Issshh linu sekali. entah bagaimana aku nanti bisa mandi dan sarapan sendiri, huffttt.” Cemberut.
“Sayang, kita kan punya koki. Apa mereka hari ini cuti massal?”
“Tidak, aku hanya ingin memanjakanmu. Ketika aku bangun tidur rasanya sangat bahagia. Terlebih kita sudah melewati malam yang begitu menggembirakan. Kau tahu kan semalam aku begitu menikmati permainan kita. Jadi ini sebagai ungkapan rasa bahagiaku, untuk semalam.”
“Ahhh kau ini.” Memukuli dada bidang Hikashi.
“Mandikan aku!” suaranya terdengar tegas.
“Hu’um.” Mengiyakan keinginan suaminya.
Dan pagi ini Hikashi dapat bonus ulang, ia mandi tapi masih bisa melakukan pemanasan kecil. Frayza yang sudah siap bekerja, akhirnya ikut mandi lagi. Alhasil keduanya telat berangkat ke kantor.
“Nanti siang aku jemput.”
“Hhheee?” terheran dengan perkataan suaminya.
“Aku tidak bisa makan dengan jari terluka Sayang.” Mempertontonkan kesepuluh jarinya yang diplester.
“Muuaaaaaaccchhh...” Frayza menciumi sepuluh jari itu sebelum turun dari mobil.
“Apa karena jemariku yang terluka kau lupa ciuman selamat bekerja untuk suamimu?”
“Muach untuk pipi kiri-kanan.”
Hikashi tak mau ciuman di pipi saja, ia menekan tengkuk leher Frayza. Dan melakukan ciuman ala Perancis yang panas. Ia memainkan lidahnya masuk kedalam mulut menyikat rongga. Hingga napas mereka menderu berpacu dalam gairah.
“Aku mau sekali lagi didalam mobil.” Pintanya.
“Tapi kita akan telat Sayang.”
“Ya sudah, usai makan siang kalau begitu.”
__ADS_1
“Aku tak bisa menolaknya hufrt.” Memutarkan bola matanya. Kemudian turun dari mobil masuk Butik.
Hikashi tersenyum menyeringai, memperhatikan tubuh istrinya dari belakang. Ia berfantasi jika istrinya memakai baju tidur super seksi. Apalagi ketika berjalan tubuhnya begitu elok gemulai. Ia menggigit jarinya seperti orang ngiler.
“Fray, kenapa kau datang terlambat. Helena sudah lama menunggumu, dan kalau tidak salah kau turun dari mobil sedan mewah itu ya?”
“Itu mobil suamiku Yuki.”
“Hah suamimu?”
“Iya.” Biasanya Frayza minta diturunkan dekat halte bis oleh sopir pribadinya. Ia tidak mau statusnya sebagai istri Hikashi terbongkar. Termasuk Yuki teman kerjanya inu.
“Suamimu apa tidak dimarahi bos nya jam segini baru berangkat bekerja?”
“Hehehe dia lebih galak dari Bosnya ditempat kerja.”
“Owh pantas, tidak heran kalau begitu. Saat Putri Aiko kemari ia tidak takut sama sekali. Suamimu benar-benar bertalenta sekali.”
“Suamiku memang punya aturan sendiri dalam hidupnya hehehe.”
“Aku akui, ketampanannya memaafkan segala keunikannya hahaha.”
“Itulah suamiku, orang yang tidak peduli dengan pandangan dunia terhadapnya.”
“Suamimu jika dirumah apa mau mengepel lantai?”
“Hah?” melotot heran.
“Biasanya pria yang galak diluar, lebih penakut dirumah.”
“Suamiku mengepel? Hahaha tadi pagi saja dia sudah melukai sepuluh jarinya. Gara-gara ingin menyiapkan sarapan untukku.”
“Hah!” terkejut.
“Aku menunggumu sudah 2 jam, apakah butuh waktu lebih lama lagi aku menunggumu?” Helena muncul.
“Pagi Helena, maaf pagi ini aku datang terlambat.”
“Baiklah Fray, ini yang terakhir kalinya. Aku mau bahas konsep baju Pangeran Hiroshi yang sudah memasuki tahap akhir. Kenapa kau tidak mau membuat gaun untuk Putri Aiko?”
“Aku rasa sudah jelas menolaknya.”
“Pihak Istana sudah menyiapkan perancang busananya. Jadi aku tidak mau menghambur-hamburkan waktu dan tenagaku. Jika pada akhirnya, istana memutuskan pakaian yang hendak ia pakai.”
“Lalu kenapa kau membuat baju Pangeran Hiroshi?”
“Karena Pangeran Hiroshi membuat baju untuk keperluan pesta dansa setelah upacara resmi. Jadi, rumor yang mengatakan bila aku yang membuat baju acara pertunangan itu salah besar.”
“Yuki, kau lanjutkan pekerjaanmu. Aku ingin bicara empat mata dengan Frayza!”
“Baik Helena.” Menutup pintu.
Situasi ini sudah bocor hingga masuk berita gosip. Jika Hiroshi membuat baju diluar konsep istana karena memiliki hubungan khusus dengan perancang busana. Helena marah besar, karena reputasi merk dagangnya ikut menjadi jelek. Ia harus menutup penyebaran berita yanh buruk ini. Karena citranya yang baik tengah dibangun di ketatnya persaingan bisnis di Jepang.
“Aku dan Hiroshi adalah ipar sepupu, suamiku masih saudara dengan dia.”
“Tapi berita ini begitu cepat menyebar, aku tidak bisa membayangkan jika sentimen pesaing akan menumbangkan koleksi musim dingin.”
“Helena, kau bisa tanyakan langsung kepada wartawan yang membuat berita ini. Maaf aku tidak ingin berdebat dengan berita sampah murahan ini! “
Brakkk! Frayza membanting pintu pimpinan dengan keras, semua orang melihat Frayza keluar. Ia membawa majalah gosip yang terkenal untuk menutupi wajahnya. Mereka bertatapan mata bicara lewat telepati.
Ia benar-benar merasa muak dengan tulisan wartawan yang menyatakan dirinya penggoda pewaris tahta. Ia ingin merobek-robek majalah ini.
“Sayang... Sayang! Ada apa, hai kenapa kau berjalan buru-buru begini?”
Ini adalah jam makan siang, Hikashi sengaja datang lebih awal untuk menjemput istrinya. Tak disangka ia melihat Frayza keluar butik dengan terisak kecil.
“Hikashi hiks hiks hiks.” Merangkul leher suaminya erat-erat.
“Cup cup Sayang, menangislah dulu. Tidak apa-apa Sayang, sudah ada aku disini. Kemari kita masuk kedalam mobil.” Sopir membuka pintu mobil.
Para pekerja butik melihat jika suami Frayza bukan seorang pengemudi mobil mewah. Yang berprofesi sebagai supir, melain ialah majikan sebenarnya. Karena seorang supir membukakan pintu untuk dirinya masuk.
“Gila! Pantas saja dia arogan. Mobilnya saja kelas mewah keluaran terbatas.”
“Aku pikir sopir dengan tampang selebritis itu bayarannya setarif atlit.”
“Aku rasa suami Frayza itu bukan orang sembarangan. Apa jangan-jangan sebenarnya ia hanya simpanan ya yang ngaku-ngaku sebagai istri?”
__ADS_1
“Eh bisa jadi kan lagi jamannya nih,wanita cantik ngaku-ngaku jadi istri untuk menutup aibnya sebagai Pelakor.”
“Apa itu Pelakor?”
“Ya wanita yang bekerja secara khusus menggaet para pria kaya untuk dijadikan tambanh emas.”
“Ah masak Frayza kayak gitu? Kayaknya ia wanita yang lempeng-lempeng saja.”
“Hai namanya kebutuhan Shay, orang alim bisa jadi liar hahahaa.”
“Wah kita bisa minta ajar sama Frayzalah tutorial jadi Pelakor.”
“Ahahah ide Bagus, nanti kita pepet saja tuh Si Fray.”
“Ckckckckc tikus-tikus pencuri jam kerja sedang bergosip. Bubar kalian semua bubar!!!” Helena mengamuk.
Mereka kembali bekerja ditempat semula, Helena keluar Butik menuju sebuah Restoran yang berada tak jauh dari tempatnya. Ternyata yang ditemuinya sekarang adalah Matsumoto.
Tlak.. Meletakkan cangkir kopinya, ia duduk menyilangkan kakinya dibawah meja. Pria plontos itu sudah memiliki kemajuan kumis dan jampang. Sedikit macho sih tapi sayang botak.
“Kenapa kau yang datang, kemana Tuan William?”
“Sedang bobo’in Nyonya kami dirumah.”
“Haih,” mendengus kesal.
“Kenapa? Kepengen ya kalau tidur ada yang pok-pok?”
“Najis!”
“Sok kecantikan ah kayak masih ada yang doyan saja.”
“Apa kau bilang?” tak terima ucapan Matsumoto.
“Mulai bulan ini, Tuan William menghentikan investasi di bisnismu. Ia menarik seluruh sahamnya.”
“Apa!” tubuhnya menjadi dingin seketika.
“Berikut hutangmu akan ditagih bulan ini sebagai jatuh tempo pelunasan.”
“Tunggu kenapa aku yang kena imbasnya?”
“Kau tahu siapa aku? Jika ada yang membuat Bos ku tersinggung dan marah, artinya berurusan denganku juga. Terlebih kau sudah melukai istri kesayangannya. Wanita yang menjadi penentu baik-buruknya sikap Bos kami yang arogan.”
“Oke... Oke, baiklah aku paham. Ini salahku yang salah bicara dengan Frayza. Aku akui membawa emosi pribadi ketika menegurnya.”
“Dan kau membuatnya menangis sedih. Suaminya tidak terima, makanya aku buat perhitungan mewakili Bos ku.”
“Ta-tapi kenapa Tuan William langsung memutuskan kerjasamanya kepadaku? Aku mohon, karir bisa hancur bila ia lepaskan investasi ini.” Berlutut dilantai.
“Hemmmbb gimana ya, kayaknya Tuan Hikashi paling tersinggung jika istrinya mengalami masalah.”
“Aku mengaku salah, aku bodoh, aku tidak berguna.” Menampari wajahnya berulang kali.
“Heleh Helena oh Helena, sekarang baru nyesel. Lah tadi kemana saja? Makanya jadi orang itu jangan sok tinggi dan paling benar.”
“Aku tahu aku salah, aku benar-benar menyesal.”
“Cepat temani aku bertemu wartawan yang sudah menyiarkan berita bohong ini.”
“Baik, aku bersedia.”
“Apa ini?” tangan Helena menarik pergelangan tangan Matsumoto.
“Ups kebiasan, habis sih kamu botak kayak orang tua hihihi.”
“Garing bercadaannya, dasar wanita salju!” maksutnya rambut Helena yang sudah berubah.
“Hihhhhh.” Ingin sekali mencakar-cakar punggung Matsumoto yang menyebalkan.
“Hai ayo, jangan banyak gaya. Sudah tua banyakin baca doa!”
“Hai aku belum tua, aku masih gadis tauk!”
“Tidak tanya gadis atau bukan bagiku sama. Kau sudah berumur, tidak ada pria yang tertarik dengan wanita sepertimu.”
“Awas kau kacang kedelai!”
“Apa rambut salju!” mata mereka adu melotot seperti orang tersulut emosi.
__ADS_1