
Sebuah rumah yang memiliki pagar yang tinggi mengelilingi bangunan. Membuat penampakan bangunan 3 lantau itu suli dilihat dari luar. Kecuali kaca di lantai 3 yang terlihat jelas dari luar pagar. Rumah ini berdiri di kawasan elit, jadi pemukiman ini sepi dari luar. Karena jarang sekali ada orang berlalu lalang. Suasananya begitu nyaman dan bersih untuk komplek mewah ini.
Salah satu keluarga yang beruntung tinggal dikawasan ini ialah bermarga Cha. Yang sedari turun temurun mewarisi bidang kesehatan. Mereka adalah sepasang suami-istri yang cukup harmonis. Memiliki 2 orang anak putra, dan tak lama kemudian hadirlah seorang putri adopsi mereka Cha Yung Hee.
“Thomas beritahu adik-adikmu, Sopir sudah siap mengantar kalian!” suara ibunya dari dapur.
“Cha Kelvin- Cha Yung Hee cepat turun!”
“Thomas, apakah Ibu pernah mengajarkanmu berteriak didalam rumah? Datangi mereka dikamarnya masing-masing!”
Thomas meletakkan pisau dan roti panggangnya kembali kepiring. Ia dengan malas menaiki tangga, memanggil satu per satu adiknya. Baru beberapa anakan tangga dipinak Thomas, turunlah Yung Hee yang berseragam anak SMA. Senyum cerianya sangat cerah, seperti hari dimusim semi. Matanya berbinar-binar menatap Thomas yang berjalan menaiki tangga.
“Pagi Kak,”
“Huuu!”
“Maaf, aku ingin tampil cantik hari ini. Lihat.” Menunjuk bando dikepalanya.
“Apa itu? Kain perca?” ledek Thomas.
“Haaaa Kakak... Ini bukan kain perca, ini bando kain Kakak.” Sambil memukul manja didada Thomas.
“Hihihi barang jelek begitu mana unsur bagusnya?”
“Tapi ini lagi tren Kak, katanya temanku. Semua gadis disekolah jika memakai ini agar tidak ketinggalan jaman.”
“Hal konyol!” celetuknya.
“Cih itu karena Kak Thomas anak kuliahan yang setiap hari belajar untuk wisuda kan. Berbeda denganku yang baru kelas 2 SMA. Mencoba banyak hal baru.”
“Turunlah, Ibu dan Ayah sudah menunggu kalian daritadi.”
“Hihihi, iya Kak.” Yung Hee berjalan dengan sedikit meloncat menuju dapur.
Thomas tersenyum dengan tingkah Yung Hee yang menggemaskan. Suasana rumah berubah menjadi meriah sejak ada anak perempuan itu. Benar kata orang, anak gadis itu sumber kebahagiaan. Sebuah angka didinding menunjukkan angka paling dasar lada lantai bangunan rumah ini. Thomas berbalik dan menuruni tangga lagi.
Ting, suara lift berbunyi.
Seorang pemuda tampan tengan membenarkan kancing di pergelangan tangannya. Jasnya digantung siku tangan kanan. Ia keluar dari lift, diikuti seorang pelayan rumah tangga. Membawa beberapa barang bawaan Kelvin yang lumayan banyak. Kelvin lebih senang menggunakan lift daripada tangga, itu membuatnya capek. Jika ia capek, maka semangat belajarnya menurun karena keletihan dan mengantuk. Oleh sebab itu, kedua orang tuanya memberikan fasilitas lebih kepadanya. Selain kecerdasan dan bakatnya. Kelvin muda adalah putra kebanggan keluarga. Setiap ada reuni keluarga, yang paling menonjol dan banyak mendapat pujian ialah Kelvin. Semua orang tahu, jika pemuda ini sangat berkompeten dan masa depan yang cerah.
“Ibu kenapa Kak Kelvin tidak memakai tangga saja. Dia kan masih muda.”
“Kakakmu sangat sibuk, jika ia memakai tangga kakinya nanti cepat pegal.”
“Itu kan salah dia kenapa memilih kamar paling atas!”
“Yung Hee, jika kau bosan menuruni tangga. Kau bisa pindahkan kamarmu dilantai dasar, dengan demikian setiap hari kau tidak perlu memakai tanggal.” Potong ayahnya. Ia kemudian menyudahi sarapan paginya, karena ada jadwal operasi penting.
“Ayah pilih kasih!”
“Sudah, hentikan ocehanmu.” Thomas menarik bangku kursi kebelakangm
Keduanya selalu duduk berdampingan dan saling melayani satu sama lain. Keduanya sangat rukun dan saling memahami. Aroma mint segar khas parfum Kelvin tercium, artinya si anak emas ini sudah berada diruangan yang sama.
“Kau tidak sarapan bersama kami?”
“Tidak Bu, aku ada kelas pagi ini jadi wakil Dosen. Materiku harus dipersiapkan terlebih dahulu.”
“Kalau begitu minumlah susunya.”
__ADS_1
“Baiklah.” Ia meminumnya sedikit, sambil berdiri.
Pemandangan ini tidak aneh lagi, karena Kelvin adalah primadona di mata para Dosen. Kepandaian dan kepiawaiannya sudah mumpuni untuk mengajar mahasiswa. Oleh sebab itu, ia sangat sibuk dan jarang memiliki waktu bersama keluarganya. Dan ia adalah anak yang irit bicara dan selalu menghabiskan waktunya dikamarnya. Jika tidak belajar ya menyalurkan hobinya yang banyak. Salah satunya, ia diam-diam menekuni seni gambar.
Katika masih muda, Kelvin hampir tidak memiliki teman. Karena ruang lingkup pergaulannya yang cenderung bersama orang dewasa. Bisa dikatakan Kelvin tidak banyak menikmati masa mudanya dan bersenang-senang. Tak jarang kenalannya adalah orang penting yang akan melakukan proyek dan penelitian. Ia sering diikutsertakan untuk mengembangkan kemampuan tekhnisnya.
Bukannya ia tidak memiliki daya pikat terhadap lawan jenisnya ya. Tapi Kelvin sudah lama terobsesi dengan gambar gadis yang ia lukis sendiri. Ia sering berimajinasi kalau sosok ada dan selalu menemaninya. Hanya saja, ia tak tahu bagaimana mewujudkannya. Sampai suatu hari, teman kecilnya memberikan kado berisi coklat dan surat. Bahwa ada seorang gadis yang menyukainya. Ia berdiri dan membuang kado tersebut. Lalu menginjaknya ditanah, sungguh angkuh. Berita itu cepat menyebar diseluruh perkumpulan anak muda. Sejak saat itu Kelvin dijauhi wanita, dan ia tidak peduli!
“Kau sedang apa?”
“A-aku hanya membersihkan kamarmy Kak.”
“Keluar!”
“Ba-baik.” Menyembunyikan sesuaru dibelakang tubuhnya.
“Berikan benda itu!”
“Apa?”
“Cepat!”
Matanya tajam menatap Yung Hee yang kepergok merobek gambar gadis didinding kamar Kelvin. Ketika Kelvin keluar mengambil paketan, Yung Hee yang berdiri didepan pintu kamarnya penasaran. Lalu gadis itu masuk secara diam-diam dan mencari harta benda milik si anak emas itu. Ternyata Kelvin sudah melukis beberapa gambar gadis yang sama. Yung Hee yang awalnya ingin memperlihatkan gambar curiannya kepada Thomas gagal.
“Jangan pernah keluar membawa barang pribadiku.”
“Maafkan aku, Kak.” Mengembalikan kertas yang ada gambar wanitanya.
“Dan ingat, kau hanya adik angkatku. Bersikaplah sopan dengan anak kandung!”
Kalimat yang sangat tabu ini tak disangka diucapkan oleh Kelvin. Hati Yung Hee sangat sakit mendengarkannya dari mulut anak laki-laki yang sudah ia anggap sebagai saudara kandungnya. Ia menangis dan berlari dikamar Thomas, saudara tertuanya.
“Hiks hiks... “ langsung masuk dan melemparkan tubuhnya diatas kasur.
“Hiks hiks Kak Thomas huaaa...” memeluk kakaknya.
“Ssstttt jangan keras-keras, nanti dikira aku menjahatimu.”
“Kak...” ucapnya parau.
“Kenapa?” menyisir anakan rambut Yung Hee.
“Apakah benar aku anak angkat, bukan putri kandung ayah dan ibu?”
Siapa orang yang berani mengatakan hal ini kepada Yung Hee. Dan, kenapa Yung Hee bisa menangis sesenggukan seperti ini? Mendengar cerita sepihak dari Yung Hee ini, darah Thomas mendidih panas. Tangannya mengepal, ia sudah cukup bersabar dengan tingkah pongah Kelvin. Ia yang merasa diistimewakan karena semua orang menyayanginya. Sehingga ia begitu mudah mengatakan hal yang tabu di keluarga Cha.
Bagh bugh bagh bugh! Suara pertikaian disertai bakum hantam dilakukan Thomas dan Kelvin. Seluruh isi kamar Kelvin hancur dan berantakan usai mereka bergelut. Wajahnya memar dan mulutnya mengeluarkan darah. Thomas yanh fisiknya jauh lebih kuat darinya. Keluar dengan perasaan lega sudah menang. Sedangkan Kelvin terbaring dilantai merasakan sakit akibat baku hantam.
Pelayan pribadi Kelvin membawanya berobat di Rumah sakit, ayahnya bekerja. Tuan Cha sangat marah mengetahui Kelvin babak belur. Beberapa hari Kelvin dirawat di Rumah sakit, Thomas diabaikan kedua orang tuanya. Jadi, sekarang Thomas hanya memiliki Yung Hee sebagai sandaran dan berkeluh kesah. Keduanya merasa anak pelengkap keluarga saja. Selebihnya hanya Kelvin, Kelvin, Kelvin dan Kelvin lagi.
“Kak, barang-barang milik Kak Kelvin di kemasi.”
“Kau serius, anak emas itu akan pergi?”
“Iya.” Mengangguk.
Thomas bergegas keluar dari kamarnya, ia tak boleh melewatkan kesempatan langka ini. Dan orang tuanya sendiri turun tangan mengatur pelayan yang tengah memasukkan barang.
“Ibu, kenapa barang Kelvin dikemasi. Apa kita akan pindah rumah?”
__ADS_1
“Bukan kita, tapi hanya Kelvin yang akan pindah.”
Hati Thomas lega karena yang pergi adalah Kelvin, artinya si anak emas itu tidak akan menjadi kesayangan lagi.
“Lalu kemana dia akan pindahnya Bu?”
“Ke...”
“Jika kau kemari untuk mengorek informasi keberadaan adikmu, lebih baik kau kembali ke kamarmu dan belajar lagi!” bentak ayahnya yang tak suka kedatanganya.
“Ayah... “ Thomas sedih mendengarnya, seolah ia lalat yang hinggap di makanan lezat.
Ia lantas keluar, sesaat kesedihannya sirna. Karena Kelvin keluar dari rumah ini, kalau bisa sih selamanya. Dan benar, setelah hari kepindahannya dari rumah. Kelvin tak pernah lagi menginjakkan kakinya dirumah orang tuanya itu. Sekarang ia sudah menghadap yang Maha Kuasa.
Selepas masa perawatannya di Rumah Sakit, Kelvin tinggal bersama pelayan pribadinya. Orang tuanya membelikan kondominium untuk ditinggalinya. Hal ini sesuai permintaan Kelvin yang tidak mau privasinya terganggu lagi. Ia juga tak suka bila ada orang tak menghargai privasinya. Sampai-sampai ia harus berkelahi dengan Thomas, lalu berakhir di Rumah Sakit.
“Kakak, apa kau tahu berita penting.”
“Apa?”
“Tadi aku melihat Ibu pergi berbelanja perabotan rumah.”
“Bukannya Ibu sudah biasa membelanjakan uangnya.”
“Bukan begitu Kak, pasalnya Ibu pergi bersama Kak Kelvin memilih perabotan rumah.”
“Untuk apa coba mereka membeli perabot baru?”
“Bukannya Kak Kelvin sudah pindah rumah, berarti sebentar lagi akan ada pesta syukuran pindah rumah dong. Hahahaha hore asik!”
“Ibu pasti menyewakan kamar kost untuknya.”
“Apakah sofa, ranjang, alat elektronik semua itu muat?”
“Apa?”
“Sepertinya Ayah dan Ibu merahasiakan sesuatu dari kita dech.”
“Mungkin mereka hanya membelanjakan seperlunya saja. Untuk keperluan Kelvin.”
“Tetap saja aku curiga!”
“Lalu apa motivasimu? “
“Aku ingin bertemu secara langsung dengan Kak Kelvin. Memberitahukan bahwa kejadian itu murni kesalahanku hiks.”
“Kejadian bosoh itu? Cih kekanak-kanakan.”
“Kak Thomas, Kak Kelvin tidak bodoh. Akulah yang salah, sudah lancang masuk kedalam kamarnya.”
“Lagipula hanya gambar animasi wanita, dia terlalu perasa! Padahal sejak kecil aku membohonginya jika orang pintar bisa mengubah keajaiban. Dan bertemu dengan Peri, hahaha bodohnya dia percaya.”
“Kak Thomas, kau...” Yung Hee merasa iba dengan Kelvin yang sudah ditipu sejak kecil. Seharusnya Thomas sebagai kakak bersikap dengan baik. Bukannya meracuni Kelvin yang polos.
*
*
*
__ADS_1
Kehidupan damai Kelvin ditempat hunian barunya dirasa cukup mumpuni. Walau bersama pengawal setianya tinggal berdua. Bagianya ini adalah kehidupan idealnya. Lambat laun keberadaan Kelvin tinggal diendus oleh Thomas. Karena tanpa sengaja ia pernah mendengar cerita dari temannya. Jika sesekali ia berpapasan dengan Kelvin di hunian mewah. Ternyata informasi itu benar, Thomas merasa dikhianati oleh keluarganya sendiri. Ia menyelesaikan pendidikan kuliah dokternya. Dan mulai merintis karirnya, jadi kesempatannya untuk dipandang orang tuanya terbuka lebar.
Namun, ia harus kecewa lagi. Sebab, ia tidak mendapatkan nilai terbaik. Sehingga ia merasa kurang puas, dan karena haus pengakuan. Thomas kembali melanjutkan pendidikannya lagi. Sampai akhirnya, ia tahu bahwa Kelvin memperoleh kesempatan emas. Direkrut oleh organisasi elit dibidang ilmu kesehatan modern. Jadi impian Kelvin semakin dekat dengan sosok Dah Yee, peri cantik yang ia idolakan.