TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
AYAH PAYAH!


__ADS_3

TOKYO, JEPANG.


Seorang ayah muda menarik koper ditangan kirinya. Dibahu kanannya seorang bagi digendong. Memakai celana jins rebel robek-robek berwarna hitam. Kaos oblong warna putih yang tipis mencetak pahatan dadanya yang bidang. Semua wanita yang lajang maupun memiliku pasangan pasti tidak melewatkan kesempatan ini. Yah, pria ini sangat tampan. Sekalipun memakai setelan santai, dia bangga menunjukkan pada dunia. Bahwa dia memiliki kebahagiaan.


“Sayang, apa kau kerepotan?”


“Sediki sayang, bisakah kau bawakan ransel Jade dibawah kereta anak ini?”


“Tentu saja, kemarikan ranselnya. Biar aku pakai. Pasti kau keberatan waktu mendorongnya kan.”


“Hu’um.” Rambutnya diacak-acak suaminya dengan gemas.


“Jade,sudah nyamil coklat.” Mengambil bungkus kue coklat dari tangan Jade.


“Aku lapar Paapaaa...” menghentakkan kakinya dari kereta dorong.


“Jade, nanti kita makan nasi. Kalau kau makan coklat, gigimu bisa rusak Nak.” Bujuk Frayza.


“Aku tidak suka nasi Mama, aku mau roti atau spagetti.”


“Jade, makan nasi!” nada tegas.


“Papa...” mengeluarkan nanar matanya sebagai senjata.


“Sayang, kau harus terbiasa makan nasi.” Bujuk ibunya, tapi Jade terlanjutlr merajuk.


“Berhenti makan coklat, dan makanlah nasi walaupun sedikit saja.”


“Mama... papa suka memaksaku hiks hiks.”


“Sudah sayang, turuti ya perintah Papamu. Kemarilah Mama suapi akhh...”


“Nyum nyum nyum,” terpaksa mengunyah nasi.


“Nah begitu makan dengan baik, macam-macam saja mau makan roti.”


“Papah!”


“Jade!”


Tidak anak, maupun bapak sama-sama keras kepalanya. Frayza membujuk anaknya dulu agar mau makan nasi. Sedangkan Hikashi menyuapi Seven bubur. Sepasangan suami-istri ini kompak menyuapi anak-anaknya.


“Pangeran Hikashi, saya selaku sopir pribadi kerajaan datang untuk menjemput anda.”


“Hah apa?”


“Sayang, apakah kau meminta pihak istana untuk menjemput kita?”


“Tidak.” Mengernyitkan dahinya.


“Papa, paman itu siapa?” Jade bertanya.


“Perkenalkan saya adalah sopir pribadi istana. Pihak istana meminta saya untuk menjemput anda. Silahkan menuju mobil yang sudah dipersiapkan.”


“Maaf sepertinya anda salah orang, aku hanya seorang warga negara biasa.” Sanggah Hikashi lagi.


“Sayang, aku sudah selesai makan dan anak-anak.”


“Oh baiklah, kemari Jade kau biar Papa digendong. Adikmu mulai tertidur, biar gantian dia dikereta ya.”


Hikashi membawa pergi keluarga kecilnya agar si sopir tidak mengganggunya lagi. Merasa taksi yang ia tumpangi tidak diikuti, Hikashi menyerukan lokasi tujuan tempat tinggal mereka.


“Kau yakin mau tinggal disini?”


“Kenapa? Tidak masalah bukan?”


“Tapi rumah ini sangat kecil Sayang, kau dan Jade terbiasa hidup di istana megah?”


“Sssttt aku tahu dan pelan-pelan Jade akan mengerti kenapa dia tinggal dirumah yang kecil ini.”


Rumah yang mereka tinggali ini memiliki model seperti rumah Nobita maupun Nohara. Rumah dengan 2 lantai bergaya minimalis ini menjadi hunian baru.


“Hoammb Mama susu.” Teriak Jade dari atas kasurnya.


“Kau sudah bangun, susu dan sarapanmu sudah Papa siapkan dimeja makan. Lekas ganti mandi dan pakai bajumu.”


Jade kaget bukan main melihat ayahnya memakai celemek dan menggendong Seven. Yang benar saja, Jade sangat kaget ketika melihat isi kamarnya yang lebih sempit. Sebuah lemari baju, rak buku dan set meja belajar dengan lampu penerangan.


“Sayang, kau sedang melihat apa. Nanti bisa terlambat sekolah?” Frayza datang membawakan handuk.

__ADS_1


“Mama,” memeluk ibunya.


“Ini rumah kita Sayang, ayo mandi lalu kita sarapan bersama-sama.”


“Aku mau sandwich isi keju dan daging panggang.”


“JADEEEE!!” lagi-lagi suara ayahnya menggelegar dari dapur.


“Dengar Papamu sudah mengeluarkan suara petirnya, ayo mandi.”


Susah payah Frayza membujuk anaknya mandi dan bersiap. Lagi-lagi Jade harus lemas melihat nasi, entah kenapa ia sangat benci nasi.


“Sayang makan nasinya ya, nanti malam Mama buatkan spageti iga bakar.”


“Jangan terlalu dimanjakan, Jade makan dan terima berkah makanan dimeja.”


“Ini karena Papa bangkrut, setiap hari makan nasi hiks.”


“Maafkan Mama ya Sayang, besok Mama akan siapkan roti untukmu sarapan. Kau mau slai rasa apa?”


“Tidak perlu Mama, perutku akan terbiasa makan nasi dan rumput-rumputan ini.” Itu sayura Jadeee bukan rumput, etdah bener-bener anaknya Hikashi ini.


Hikashi sibuk menyuapi si bungsu dikursi bayi, si bayi yang mudah beradaptasi membuat mudah pekerjaan Hikashi.


“Sayang, aku sudah siapkan bekal makan siangmu. Jangan makan sembarangan.”


“Hah bekal untukku?”


“Aku suamimu, perutmu adalah tanggung jawabku.” Pernyataan Hikashi ini membuat Frayza tersipu malu.


“Dan sandwich isi tuna untuk putra sulungku.”


“Haaaa sendwich?” riangnya hati Jade.


Klakk... Keduanya membuka isi bekal mereka.


“Sayang, kenapa isi bekalku hanya susu kotak dan camilan kue serat kering?” Frayza pikir suaminya membuatkan bekal nasi, sayur dan lauk ternyata makanan jadi huh.


“Papa kenapa ini rotinya gosong huaaaa, dan ini apa meleleh kuning-kuning menjijikan?” itu ceritanya ayahmu mau bikin sanwid keju panggang Jade. Harap bersabar ini ujian punya ayah tanpa ketrampilan memasak. Author jadi sedih bayanginnya.


“Sudahlah Nak, nanti Mama jemput kamu ya. Sekarang kita bisa telat naik kereta.”


“Sayang, kami berangkat dahulu ya. Hati-hati dirumah, kau juga ya Seven jadi anak yang baik. Muach.” Mencium anak bungsunya.


Menyodorkan pipinya, “Hei!” berharap dia dicium pula.


“Ada Jade, aku malu.” Bisiknya.


“Jade hadap pagar!”


“Memang ada apa?”


“Ada layangan terbang itu!” Frayza menyambar pipi Hikashi saat Jade meleng membelakangi mereka.


“Mana Pah?”


“Layangannya sudah jadi burung, kau telat. Sudah sana pergi sekolah, dan belajarlah.”


“Ah Papa bohong, mana ada layangan berubah jadi burung.”


“Kau telat, makanya kalau Papa bilang lihat ya langsung toleh kebelakang.”


“Fiuuhhh,” mendengus kesal.


Hikashi mengantar anak dan istrinya sampai pagar rumah mereka. Pagi ini semuanya masih dapat dikendalikan. Sekarang saatnya menidurkan si bayi Seven. Dan membersihkan dirinya, lalu memesan makanan untuk sarapan.


Hari pertama Frayza bekerja di butik disambut dengan baik para karyawannya. Dia diajak berkeliling untuk melihat kondisi kerja dan para rekan-rekannya. Beberapa salinan dokumen sudah menumpuk diatas mejanya. Frayza mempelajari berkas ini dalam 2 bahasa yang berbeda. Untuk pasar setiap negara Frayza dituntut untuk menguasai bahasa. Sekarang ia lebih sering memakai bahasa Jepang dan Inggris. Ia merasa beruntung dulu pernah mempelajarinya dari Patrick. Sekarang ilmu itu berguna untuk kemajuan karirnya.


Hari sudah mulai sore, saatnya para pegawai perempuan pulang lebih awal. Mereka diberi kelonggaran agar bisa mengurus anak dan rumah tangga sedangkan karyawan pria memiliki jam kerja lebih lama.


“Jade...”


“....” diam saja.


“Nak, kau kenapa?” mengelus kening putranya.


Menyodorkan bekal buatan ayahnya.” Aku tidak bisa memakannya Mama, aku lapar sekali.”


“Ya Tuhan, anakku yang malang. Kemari, naik kepunggung Mama.”

__ADS_1


“....” menurut naik kepunggung.


“Jade kau mau makan Speggetti bukan?”


“...”Diam dan mengangguk.


“Baiklah, kita cari restoran Italia. Mama belikan makanan kesukaanmu, tapi ada syaratnya.”


“Kalau ada syaratnya tidak usah Mama, aku mengantuk.”


“Ah ternyata anak Mamak mengambek ya, syarat mudah. Kau rahasiakan ini dari Papamu, oke?”


“Serius?”


“Iya, Mama merasa bersalah kepadamu Jade. Jadi biarkan Mama membelikanmu makanan kesukaanmu.”


Makanana barat sangat mudah ditemukan dijalanan kota. Oleh karena itu Jade bisa leluasa memilih makanan kesukaannya. Frayza sangat senang akhirnya Jade makan dengan lahap.


“Mama mau?”


“Tidak, Mama sudah kenyang.”


“Sepotong untuk Mama.” Menyuapi kedalam mulut ibunya. Pemandangan yang romantis.


Mereka pulang kerumah sudah petang, perut Jade sudah penuh dengan makanan. Sewaktu jam istirahat ia hanya makan jus dan buah-buahan saja. Kehidupan dimanapun yang terberat adalah adaptasinya.


“Kami pulang,” jawab keduanya saat tiba dirumah.


Jreng... Jrenggg.... Keadaan rumah tak ayal bak pasar tumpah. Semua manian dan baju kotor berserakan dilantai. Bahkan popok ganti bertebaran sembarang tempat. Frayza terperangah dengan kejadian yang baru saja ia lihat.


“Mama rumah kita kemalingan.”


“I-ini seperti rumah orang purba.”


“Apa tadi baru saja terjadi perampokan ya.”


“I-ini seperti jauh dari peradaban manusia modern.” Lidah Frayza sudah kelut melihat rumah berantakan.


Hikashi keluar dari arah dapur, dengan menggendong Seven didepan ala kanguru. “Kalian sudah pulang ya,” seolah tak terjadi hal aapapun. Hikashi melenggang dengan santai naik ke lantai 2 menuju kamar Seven.


“Suamiku, apa yang seharian ini kau kerjakan?!”


“Aaiya aku seharian mengurus Seven, rencananya aku mau memasak untuk kita bersama. Tapi sayang kompornya rusak tuh.”


Lebih baik baik diam dan mengurus anak-anaknya. Setelah menidurkan keduanya Frayza berendam di air hangat menghilangkan penat akibat suaminya.


“Fray, apakah aku boleh ikut mandi bersamamu?”


“Aku sudah hampir selesai, silahkan mandi sendiri.”


“Sayang, kau kenapa? Kenapa sikapmu dingin kepadaku?” ia merasa diabaikan oleh Frayza saat melewatinya.


“Aku kaget melihat rumah berantakan.”


“Tapi kan kita bisa mandi bersama, tidak ada hubungannya.”


“Hikashi, aku hargai dedikasimu merawat Seven. Tapi janganlah kau meletakkan benda sembarang tempat kau kan tahu kalau Seven sedang belajar berjalan. Aku takut kalau kakinya menginjak benda tajam.”


“Tapi tidak terjadi kan?”


“Belum terjadi.”


“Nah kan itu hal yang belum pasti. Kenapa kau mengambek Frayza.”


“Sudahlah Hikashi, kau mandilah. Pasti seharian ini kau lelah menjaga Sseven.”


Wajah Hikashi berubah muram sedih dengan perkataan istrinya baru saja. Ia merebahkan tubuhnya dibak mandi. Berendam di air panas. Sedangkan Frayza memunguti mainan milik Seven masuk keranjang. Kemudian ia kedapur membereskan semua peralatan. Tak lupa juga ia membuat makanan dingin supaya bisa dihangatkan bila hendak memakannya.


Dari belakang Hikashi memeluk pinggangnya. Tangannya sudah merembat keperut Frayza. “Maafkan aku, beri waktu aku untuk belajar menjadi ayah yang baik.”


“...” mengedipkan matanya.


“Terimaksih istriku, kau lah yang terbaik.”


Mereke berdua berpelukan satu sama lain. Rasanya ketegangan dan percikan kecil bisa diredam. Di dapur, Frayza mengajari cara memakai kompor dan oven. Karena dua alat ini sangat penting. Dan Hikashi mencatatnya untuk dihapal.


“Nah, untuk kompornya tekan tombol nyala. Setelah itu tekan tombol ini.. Ini.. Ini...”


Belajarlah yang tekun ya Hikashi, semoga kau bisa menjadi Hot Daddy. Dan keluargamu tidak kelaparan karena kau belum menyelakan kompor dengan benar. Frayza tak segan-segan mengajarnya Prakter langsung. Hikashi mencatatnya supaya tidak lupa. Karna besok dia akan membuat istrinya bangga.

__ADS_1


__ADS_2