
Sepulang dari hunian Andreas, gigi-gihi Frayza mengigit lidah dan rongga dalam mulutnya. Kiiiittt, lagi-lagi tergigit hingga berdarah.
“Ah ada apa ini, kenapa tergigit begini. Apa ada orang yang sedang menggunjingku dibelakang ya? Hemb sepertinya hidupku sekarang sudah berjalan lancar dan damai. Mengapa rasanya ada hal aneh ya pada diriku ini, hemmbb dubidudu biduuu du bidu-biduuu.” Frayza menikmati waktunya sendirian saat berada didalam lift sendirian.
Nampaknya Julian dan Meghan mengakhiri pembicaraan mereka saat menunggu didalam mobil. Tangan Julian ditampik Meghan saat langkah kaki Frayza mendekati mobil. Lalu sikap mereka kembali datar tanpa ekspresi.
“Maaf ya menunggu lama, hehehe.”
“Baiklah kita jalan kalau begitu.” Julian menginjak pedal gas mobilnya.
“Apakah kalian ingin mencoba menu restoran baru?” Frayza ingin mentraktir kedua orang yang duduk dibangku depan mobil.
“Kemana?” Meghan antusias.
“Untuk menghabiskan waktu kita, bagaimana kalau aku memesan tempat sekarang. Agar nanti malam kita bisa bersantap bersama-sama.”
“Ide bagus.” Julian melirik manja kepada Meghan. Dan dibalas senyuman kecil gadis yang duduk disebelahnya.
Malam harinya mereka tiba disebuah restoran yang baru saja dibuka. Karena terkenal dengan masakannya yang lezat dan tempatnya yang persis dipinggir laut.
“Seprtinya ada perayaan yang sangat meriah ya malam ini?” Frayza takjub dengan pesta kembang api yang disajikan oleh pihak restoran.
“Ayo Kak, kita masuk.” Ajak Julian.
“Iya sabar, Bibi Fang sedang mengeluarkan kereta dorongnya Seven.” Memeondong Seven yang sudah tumbuh semakin besar
Mereka berempat masuk kedalam restoran yang ramai pengunjung. Tak lama setelah mereka duduk di kursi yang sudah dipesan. Meghan datang dengan memakai gaun selutut warna pastel.
“Maaf semuanya, aku baru datang.” Sapa Meghan dengan menawarkan senyumannya.
“Duduklah,” Julian menyodorkan kursi dekat dirinya duduk.
“Fray, aku lupa mengambil tisu basah di mobil.” Pamit bibi Fang.
“Oh iya Bi, biar aku saja yang mengambilnya. Bibi jaga seven saja disini.”
Frayza menuju mobil terparkir dan mengambil sekotak tisu basah. Tak disangka ia bertemu dengan Rose bersama seorang pria yang menggandeng tangannya. Rose tampak cantik dengan sanggulan tinggi. Serta gaun panjang hitam memamerkan dadanya yanh terekspose.
“Kak, ups.” Rose keceplosan tak bisa menahan diri untuk tidak menyapa Frayza. Karena Rose yakin dimana ada Frayza pasti ada Julian juga.
“Eeekh Rose, kebetulan sekali.”
“Iya Kak, hari ini aku bersama keluargaku mengadakan pesta peringatan pernikahan kami hihihi.” Membanggakan hari jadi Rose resmi menjadi istri Frank.
“Oh begitu ya, selamat ya.” Rasanya sakit, seperti cemburu tapi tidak begitu besar. Apakah perasaan Frayza saja yang terbawa suasana jika kini hidupnya menjanda. Seperti apa rasanya memiliki suamin itu? Sampai-sampai ia menyadari sudah punya anak dan menjadi janda.
“Herrrmmmbb,” Frank berdehem memberi kode untuk diperkenalkan dengan Frayza.
“Oh Kak, ini suamiku Frank. Dan ini kakaknya temanku Julian.”
Kedua tangan mantan kekasih ini saling berjabat tangan setelah sekian tahun lamanya. Frank yang tidak terlalu menggubris perkataan Rose jika Frayza adalah kakak Julian. Orang yang sama tapi dengan wujud yanh berbeda.
“Senang berkenalan dengan anda Tuan Frank.” Frayza menyalami Frank yang terperangah karena kecantikannya.
“Senang berkenalan denganmu juga Nonaaaa... “ Frank belum tahu siapa nama wanita ini.
“Frayza, namaku Frayza.” Ia melepaskan tautan tangannya dengan bekas kekasih lamanya. Frayza bergegas pergi karena Bibi Fang menggendong Seven yang sudah menangis. “ Maaf, putraku membutuhkanku sekarang. Sampai jumpa daa.” Frayza berlalu begitu saja.
“Kak Frayza memang cantik, wajar jika putranya begitu menggemaskan.” Puji Rose yang mengagumi Frayza sebagai wanita.
__ADS_1
“Dia sudah punya anak ya? Suaminya siapa?” Frank penasaran.
“Aku dengar jika Kak Fray itu sekarang menjadi janda.”
“Janda?” Frank merasa tertarik dengan cerita istrinya baru saja.
“Iya, dia mengelola butik yang dikelola bersama adiknya.”
“Siapa adiknya?”
“Frank, aku sudah mengatakannya tadi jadi kau lupa!” Rose naik pitam.
“Maaf tadi aku tidak fokus, siapa nama adiknya dan butiknya?” agak memaksa ini rupanya si Frank.
“Adiknya bernama Julian dan butiknya St. Even. Kenapa?”
“Mustahil,” Frank ternyata tidak sadar jika gadis yang baru saja berkenalan dengannya bernama Frayza. Sedangkan saudara perempuan Julian yang masih hidup adalah Franda. Jadi, siapa gadis yang bernama Frayza ini. Kenapa dirinya merasa tidak asing saat melihat gadis ini.
“Sayang, kenapa bengong. Ayo kita masuk, jangan biarkan semuanya menunggu kita lebih lama!” Rose berjalan sedikit menarik suaminya yang mengalami konflik batin.
Selama jamuan pesta peringatan pernikahannya. Frank memutar kembali semua kenangannya dimasa lalu. Hingga akhirnya ia tidak tahan dan memutuskan untuk pamit ke kamar mandi.
Setelah ia merasa aman, kemudian ia menelepon Julian yang berada di lokasi yang sama saat ini. “Kebetulan sekali kalau begitu, aku tunggu kau di toilet pria sekarang!”
Julian tidak tahu jika Frank sudah menemukan Frayza baru saja. “Maaf semuanya, aku mau ke toilet sebentar.” Julian menyusul Frank yang sudah menunggunya.
Bughhhh, sebuah pukulan mendarat diwajah Julian. “Dasar pembohong kecil, ternyata selama ini kau sudah membodohiku ya!”
“Frank! Apa yang membuatmu beringas! “ mengelap bibirnya yang berdarah.
“Kau!” mendorong Julian hingga tubuhnya menempel ditembok.
“Apa maksutmu Frank!” Julian tidak mengetahui mengenai apapun yang dibicarakan oleh Frank.
“Ya Tuhan,” Julian terkejut saat Frank sudah menyadarinya.
“Siapa! Siapaaaaa diaaaaa Julian!!!” Frank kembali memukuli Julian yang sudah babak belur itu di toilet.
Orang-orang berhamburan menyaksikan keributan itu. “Ada perkelahian, tolong panggil Polisi!” suara itu membuat gaduh suasana yang awalnya tenang.
“Ya ampun norak sekali sih mereka, apa mereka tidak bisa berbicara dengan baik tanpa melakukan kekerasan.” Meghan mengiris potongan daging bakar dipiringnya dengan santai.
Ada apa ini, kenapa perasaanku tidak enak dan ketakutan. Padahal aku sedang bersama orang baik. Kenapa aku merasa terancam begini,”Meghan, kenapa Julian begitu lama ya berada di Toilet?”
“Paling dia buang air besar hehehe.”
“Perasaanku tidak enak.” Frayza mulai khawatir terjadi sesuatu buruk pada dirinya.
Datanglah Julian dengan wajah berdarah dan babak belur. “Astagah, apa yang terjadu padamu?” Frayza mengelap wajah adiknya yang tak dikenali lagi.
“Siapa yang melakukan ini padamu?” Meghan juga ikut panik dengan kondisi Julian sekarang.
“Ayo bawa aku pulang sekarang Kak, sebelum orang gila menyerangku.”
Acara makan bersama ini gagal karena perkelahiannya dengan Frank. Sepanjang perjalanan kembali ke rumah, Julian meringis merasakan sakit luar biasa diwajahnya terutama.
\*
\*
\*
Beberapa hari kemudian,
Meghan datang untuk menjenguk Julian dan memastikan keadaanya. Bahkan ponsel Julian terus berdering memanggilnya.
__ADS_1
“Frank?” nama kontak telepon yang tengah menghubungi Julian.
“Abaikan saja, dia itu orang gila.”
Meghan yang kesal langsung bicara dengan Frank lewat telepon.
• Frank : Julian sialan, kenapa kau bodihi aku? Siapa wanita yang berada di butikmu! Lalu kenapa ada wanita bernama Frayza yang mengaku sebagai kakakmu! Apa kau memiliki saudara perempuan lain! Hai bodoh jawab aku!
• Meghan : Hai Tuan, bisakah kau lebih santai lebih sedikit. Pacarku sedang terluka diserang orang gila!”
• Frank : Katakan kepada pacarmu jika itu adalah peringatan pertama baginya.
• Meghan : Oh jadi kau manusia laknat yang sudah menghajar pacarku ya! Apa aku perlu mengirimkan somasi dan laporan penyerangan yang brutal?
• Frank : Lakukan saja, aku tidak takut.
• Meghan : Baiklah, kau yang memulai perang ini. Aku adalah pengacara dari kantor Firma terbaik yang sering memenangkan kasus. Bersiaplah bertemu di Pengadilan!”
• Frank : Lakukan saja, aku akan menantikan hal itu. Dan katakan kepada pacarmu yang pengecut itu, untuk menjawab pertanyaanku!”
Meghan memang pengacara yang memiliki keberanian dalam membela kaum lemah seperti Julian ini. Dia merasa tertantang untuk menyeret orang yang sudah bersikap arogan sampai penjara.
“Kenapa kau lancang sekali!” Julian kini marah kepada Meghan yang dianggapnya memperburuk keadaan.
“Kau takut karena gertakannya? Biar aku yang urus semuanya ini. Kau tidak perlu takut lagi.”
“Meghan, Frank adalah orang yang sangat kejam dan berbahaya. Dia bisa saja mencelakaimu.”
“Aku tidak takut dan aku juga bukan seorang pengecut. Kalau begitu, aku akan menyita ponselmu dan kembali ke kantor. Istirahatlah dengan baik.” Meghan memang wanita yang sangat berani dan energik. Ia tidak tahu jika Julian tengah menyembunyikan fakta jika Frayza adalah targetnya Frank.
Segera, setelah Meghan mengantongi beberapa bukti dan catatan medis. Ia langsung membuat laporan atas tindak kriminal yang ditujukan oleh Frank. Kali ini dia tidak akan melepaskan pelaku kekerasan terhadap Julian. Diruangan terpisah juga, Frank tengah berada dikantor Andreas untuk menemui sahabatnya. Namun sayang, saat ini Andreas tengah berada di Malaysia.
Meghan persimpangan dengan Frank ketika ia hendak meletakkan berkas milik Julian di meja Andreas. Karena ia juga tidak mengenal sosok Frank yang sudah memukuli Julian. Jadi, baik Frank dan Meghan tidak menyadari musuh mereka berada ditempat yang sama.
Saat Andreas menerima kabar dari Meghan jika Julian dianiaya seseorang maniak. Andreas bergegas menyelesaikan urusannya dan kembali ke Singapura lagi. Untuk beberapa hal yang masih tersisa dikerjakan oleh Cici tangan kanannya.
Kepulangan Andreas tidak diketahui oleh Frayza, karena mereka sama-sama sedang sibuk. Frayza harus mengurus pekerjaan Julian dan tanggungjawabnya menjadi dobel. Walaupun akhir pekan, Frayza tetap bekerja dan membawa Seven bersamanya.
Karena sudah lama tidak bertemu dengan tunangan dan calon anak sambungnya. Andreas menyempatkan diri ke toko perlengkapan bayi. Awalnya ia hanya melihat-lihat barang lucu, lama-lama ia tergoda juga untuk membeli beberapa mainan dan baju. Hingga bagasi mobilnya penuh dengan belanjaan.
Berharap membuat kejutan saat ia tiba dirumah kekasihnya. Andreas hanya mendapati Julian yang wajahnya masih lebam.
“Kak Fray akhir-akhir ini lembur, mungkin nanti malam ia akan pulang dari butik.”
“Inikah akhir pekan, apa ia tidak mengambil cuti?”
“Tidak, dia tidak bisa berdiam diri jika pekerjaannya belum beres.”
Padahal Andreas sudah semangat memberikan kado-kado tersebut. Ia ingin membuktikan kepada Frayza bahwa ia sudah cocok menjadi ayah. Akhirnya, Julian dan Andreas berbincang-bincang mengenai kronologi kejadiannya. Dan Meghan pula yang memancing amarah pelaku. Setelah Julian menceritakan kronologi perkaranya, sekarang Andreas tahu posisinya harua bertindak sebagai apa.
“Kami pulang, Julian apa kau baik-baik saja?” itulah suara Frayza yang baru saja datang bersama Seven.
Andreas keluar dari kamar Julian dan menatap penuh haru wanitanya.
“Aku merindukan kalian berdua.”Pria tinggi berkacamata ini memeluk ibu dan anak.
“Kenapa tidak bilang-bilang kalau pulang?”
“Aku mendadak Sayang, tidak sempat memberitahumu. Dan kau juga sibuk bekerja, kemarikan Seven. Aku bawakan ia banyak hadiah. Dan kau mandilah, aku bawakan makanan untukmu. Oh iya, aku sudah menyiapkan susu dan vitamin. Jangan lupa diminum.” Mengerucutkan buburnya imut.
“Terimakasih Andreas,” Frayza merasa diperlakukan dengan manis oleh tunangannya. Ia memang wanita yang beruntung jika bertemu dengan Andreas.
Sekarang Andreas mengajak Seven membuka satu persatu kado yang ia beli tadi. Seven sangat lengket dan manja kepada Andreas. Hinga akhirnya bayi itu tertidur di gendongan calon ayah tirinya.
“Kemari biar aku letakkan di kamar,” Andreas menggelengkan kepalanya.
“Sssttt, nanti dia bangun. Kau makanlah bersama Julian, aku akan mengurus Seven.”
__ADS_1
Saat makan, Julian tak berani menatap mata Frayza. Dia makan dengan begitu cepat dan masuk kembali kedalam kamarnya. Dikamarnya Andreas tertidur juga bersama Seven. Tangan Andreas melingkar ditubuh gembul Seven. Kemudian Frayza menyelimuti keduanya agar tubuh mereka tetap hangat. Andreas mengeratkan dekapannya kepada bayi imut itu. Seven membalikkan badannya membalas pelukan Andreas. Frayza tersenyum, karena tersentuh dengan perlakukan hangat Andreas yang tidak memiliki hubungan darah.