
Franda menuruni tangga, ia berlari bergegas dan mencari tempat bersembunyi. Ia berhasil masuk tangki air yang berisi penuh. Sekuat tenaga ia menahan napasnya beberapa menit saja. Dia tidak berani bergerak agar air dalam tangki beriak. Sepasang kaki berjalan menyisiri tempat dengan teliti. Lamput dinyalakan untuk mencari keberadaan orang yang tengah diburunya. Terdengar suara benda berjatuhan sembarangan. Setelah kaki itu tak menemukan yang ia cari, Franda berhasil tak didapatinya. Lampu kembali dimatikan dan pintu kembali ditutup kembali.
“Huaaaaahhhh,” kepala Franda menyembul keluar menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Penutup tangki air tidak ia kunci, jadi ia bisa keluar dengan selamat. Badannya yang basah kuyup membuatnya tergelincir kala merambat. Bug, Franda terjatuh. Dan kakinya berkilir, dia kepayahan berjalan. Ada tombol di kalungnya jika keadaannya darurat. Bip, tombol itu ditekannya.
Saat membahasa pekerjaan tiba-tiba sinyal itu masuk di jam tangan Hikashi. Karena pertemuan ini penting, maka jam tangan itu diberikan Matsumoto untuk mendeteksi Franda. Tempat pertemuan Hikashi dengan dewan delegasi ini tidak jauh dari Villa. Dengan memaju kendaraannya melewati beberapa mobil yang berjalan normal. Matsumoto melihat sinyal itu berada di Villa. Takutnya, Franda hendak melukai Frayza lagi. Karena sekarang Hikashi tidak berada disana.
“Awas saja jika kau berulah Betina!” Geram Matsumoto Franda membuat ulah lagi.
Mobil itu sudah masuk pekarangan Villa, tampak Patrick dengan mengasuh Jade di taman. Bocah kecil itu melambaikan tangan kepada Matsumoto. Ternyata dia meminta agar bola yang menggelinding itu segera diberikan kepadanya. “Anak tampan, bermain bersama Paman Patrick ya. Paman Matsumoto mau melihat Mamamu.” Mengusap kepala Jade kecil, dia mengendorkan dasi warna hitam. Mulutnya sudah tersumpal permen lolipop. Langkahnya mulai rapat menjadi lari, masuk kedalam Villa.
Bersama anak buahnya, Matsumoto sudah siaga dengan pistolnya. Saat hendak mendobrak pintu kamar Frayza, tiba-tiba pintunya terbuka.
“Kalian sedang bermain agen rahasia ya?” Kenzo melongo dengan wajah memelas.
“Nona!” bentak Matsumoto.
“Nona ada didalam, baru saja perawat menyuntikkan obat.” Kepalanya berputar mengarah Frayza terbaring. Matsumoto masuk beserta anak buahnya untuk melihat keadaan Frayza.
“Kalian ini sudah keterlaluan, Nona sedang sakit masuk membawa senjata. Kalian pikir disini ada penjahat apa?”
“Kau sedang apa disini, kenapa tidak dikamarmu?”
“Aku kemari untuk menengok Nona Frayza dan menaruh bunga dinakasnya.” Tampak bunga berwarna ungu menghiasi meja.
“Baiklah, kau tetap disini jangan ijinkan siapapun masuk. Jika kau melihat Franda, langsung tembak kakinya.”
“Kau ini psikopat apa ya, heran ckckck.”
“Ini tugas, jangan protes!” sikap ketus dan angkuhnya tak pernah hilang.
Didalam kamar Kenzo memeriksa kondisi Frayza, ia mulai menstimulasi bagian tangan untuk digerakkan. Dan melihat responnya saat ia berbicara.
Villa ini memiliki bagunan yang cukup luas dan bersekat-sekat. Sebagai orang baru dan bukan pemiliki, ia tersasar dibeberapa tempat. Menyeret kakinya yang nyeri akibat salah urat. Walau jalannya pincang, ia tetap harus waspada bila bertemu dengan orang yang mengejarnya. Saat kepalanya mengintip dari sudut tembok, tiba-tiba ada tangan yang memegangnya.
“Hap,” Franda menutup mulutnya, ia sudah tertangkap basah.
“Kau,” suara Matsumoto.
“Ketua, ketua tolong aku!” rengek Franda ketakutan. Dia mencengkeram keras tangan Matsumoto.
“Apaan sih ini, lepaskan tanganmu itu!”
“Ada... Ada yang mengejarku, dia membawa senjata. Dia pembunuh, di-dirumah iniii.” Bibirnya bergetar karena kedinginan.
“Kau habis darimana bajumu basah kuyup begini?” tetesan air masih berjatuhan dari baju yang dipakainya.
Sambil menoleh kanan dan kiri, Franda tidak begitu yakin jika keadaan sudah aman. “Bisakan kau membawaku ketempat rahasia kedap suara?”
“Kau mau sembunyi dari siapa hhhaaaa!” kesal dengan permintaan Franda yanh aneh-aneh.
Akhirnya Matsumoto menggelandang Franda, anak buahnya mengawal mereka dengan ketat. “Kau kenapa lambat sih!”
“Kakiku terkilir, sekarang rasanya patah karena Ketua menyeretku kasar.” Sambil meringis kesakitan.
“Mana kulihat,” pergelangan kaki Franda sudah memerah dan bengkok. Tak mau lama-lama menghabiskan waktu ia membopong Franda dibahunya. Seperti karung beras, sekali angkat sudah naik.
Anak buahnya tersenyum kecil melihat tingkah aneh Matsumoto yang begit spontan terhadap wanita. “Kalian tertawakan apa? Kakinya terkilir, apa kalian mau bergantian menggendongnya?”
“Tidakkkk!” jawab mereka serempak.
Lalu mereka membawa Franda ke markas rahasia, disini Franda diobati Matsumoto. Ia sudah begitu terlatih untuk keadaan terluka. Jadi untuk. Luka seringan ini dia hanya cukup melekatkan plester saja. Dengan pistol menempel dikepala, Franda mulai menceritakan apa-apa yang baru saja ia lihat.
“Aku bersumpah untuk kepala dan kakiku bila ternyata dusta yang aku katakan, silahkan ambil nyawa marga Lee.”
“Setuju!” jawab Matsumoto.
Franda mulai mengatakan dari awal keberadaannya, hingga menjadi seperti sekarang. Matsumoto mulai menangkap kejanggalan ini, disaat orang lain merasa keadaan pulih. Seharusnya ia harus waspada agar tidak terjadi hal ini. Tangannya mengepal dan matanya memerah. Segera Matsumoto menyusun rencana bersama anak buahnya. Dan operasi rahasia ini akan mereka lakukan nanti malam, saat semuanya lengah. Franda mengajukan diri sebagai sukarelawan agar operasi ini berjalan sukses. Tapi syarar yang diajukan Franda ini pasti ditolak Hikashi.
__ADS_1
“Aku mohon,” Franda berlutu dikaki Matsumoto.
“Tuan Hikashi, pasti akan marah besar jika aku menuruti idemu ini.” Padahal jelas ia sudah memegang remot kalung Franda. Jam tangan Hikashi dia pakai saat ini, dengan berat hati Matsumoto akan membuka kunci kalung Franda. Saat melakukan aksinya nanti malam.
“Aku mohon, belajarlah percaya padaku. Karena ini menyangkut nyawa seseorang, jangan lagi ada jiwa yang sia-sia saja.”
Sususan strategi dimulai, Matsumoto mengerahkan anak buahnya yang mahir bergerak dahulu. Sementara dirinya akan bersama Hikashi agar tidak menimbulkan kecurigaan. Karena Matsumoto malam ini akan ikut rapat penting petinggi Rumah Sakit.
*
*
*
Didalam kamar Frayza, Kenzo menceritakan kisah hidup Jade. Mulai dari keseharian Jade dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kenzo mengajak Frayza berkomunikasi seolah tiada jarak diantara keduanya.
“Permisi, saatnya saya menyuntikkan obat.” Ucap perawat yang datang membawa nampan.
“Oh iya silahkan,” karena terburu-buru bangkit dari duduknha. Tangan Kenzo tanpa sengaja menyenggol nampan yang berisi obat-obatan milik Frayza. Obat yang sudah disiapkan itu sebagian terjatuh dan kotor. Bahkan ada yang kurang jumlahnya. Karena tidak mungkin memberikan obat yang kotor, maka perawat mengambil obat racika baru.
Kenzo mencium obat yang terselio didalam gips tangannya. “Sepertinya aku kenal aroma ini, apa benar Dokter Kelvin memakai obat bahaya ini?” Kenzo mulai berpikir aneh-aneh.
Setelah pengambil obat yang baru, Perawat itu melakukan tugasnya seperti biasa. Tangannya gemetaran ketika Kenzo menatapnya terus. Gadis itu merasa salah tingkah, karena sejak ia bekerja baru kali diperhatikan secara teliti.
“Apa kau gugup?”
“Ti-tidak Tuan, hanya saja saya merasa kikuk ada orang diruangan ini.”
“Oh, baiklah. Kalau begitu aku pergi saja, kau lanjutkan pekerjaanmu.” Kenzo keluar kamar Frayza, karena sebentar lagi Hikashi tiba.
Jika Hikashi tiba, maka dia akan mendapat jatahnya. Yaitu mengerjakan laporan keuangan yang manjadi bagian pekerjaannya.
“Ah sudah, akhirnya tugasku selesai juga; Selamat istirahat Nona Frayza.” Pamit Perawat setelah mengganti kantong infus.
Malam ini seperti rencana awal, Hikashi akan mengadakan rapat terbatas disebuah Hotel. Mereka membahasa masalah dan krisis di Rumah Sakit. Hampir 2 jam rapat ini berlangsung, dan Matsumoto tak bisa mengingkari kegelisahannya. Hikashi yang merasa Matsumoto tidak baik performanya. Setelah jamuan makan Hikashi menemui Matsumoto yang berada di kamar mandi.
“Ada apa?”
“Tuan,”
“Jawab!” Hikashi tahu jika jam tangannya tidak terkoneksi dengan kalung Franda.
“Maafkan aku Tuan Hikashi!” ia berlutut memohon ampun.
Bag big bug, suara pukulan menghantam Matsumoto. Pengawal setianya terjungkal dilantai mengerang kesakitan. “Sudah aku katakan jangan melawanku!” menendang wajah Matsumoto.
“Akhhh...”
“Apa!” Hikashi menuntut jawaban Matsumoto.
Hikashi terburu-buru mengakhiri rapat, mobil sudah terpakir di depan lobi Hotel. Siap membawa Hikashi pergi menuju Villanya.
“Ini semua salah saya Tuan Hikashi,”
“Kita lihat saja nanti.” Culas Hikashi duduk didalam mobil.
Semuanya sudah ia ceritakan, parahnya lagi ia menyetujui ide Franda untuk melepaskan kalung dari lehernya. Hikashi menyuruh Takeshi untuk mengirim bantuan anak buahnya. Dia tidak ingin kebobolan seperti sekarang ini.
“Cepat!” menendang kursi kemudi sudah menjadi kebiasaan Hikashi.
*
*
*
Sementara itu di Villa,
Franda merias dirinya semirip Frayza, ia kemudian menyalin baju yang dipakai Frayza. Dibantu anak buah Matsumoto, Frayza dimasukkan kedalam baju kotor tanpa selang dan alat bantu pernapasan.
__ADS_1
“Ini untuk berjaga-jaga,” sebuah remot kecil untuk mengirim sinyal bahaya.
“Tolong bawa pergi Kakakku ditempat yang aman.” Pesan franda kepada anak buah yang menyamas sebagai petugas kebersihan.
Agar tidak menimbulkan kecurigaan, mereka keluar dari kamar Frayza dengan wajah santai. Bahkan perawat yang bertugas membawa obat tidak menyadari bila petugas itu adalah lelaki yang menyamar sebagai wanita.
Lampu kamar dinyalakan kembali, ruangan yanh temaram. Kini menjadi terang benderang, seperti biasa perawat itu menyiapkan apa saja yang menjadi tugasnya.
Mata Franda terpejam dan berusaha mengantur napasnya pelan. Jika ia salah bersandiwara bisa berakibat fatal dengannya. Untunglah Franda adalah artis, jadi ia sudah sangat mahir dalam hal tipu-tipu.
“Tidurlah dengan tenang Nona hahahaha.” Menyuntikkan obat kedalam kantong infus.
Obat itu tidak akan bereaksi pada Franda, karena selangnya hanya menempel. Dalam hati Franda dia tersenyum behasil mengelabuhi Perawat gadungan.
Bip, sekali tekan tombol darurat itu semua anak buah Matsumoto menembak babi buta pengawal yang ternyata berkhianat. Mereka sudah menghafal wajah-wajah penyusup.
“Sial, ada apa ini.” Perawat itu menyingkap rok mininya dan merogoh paha kiri dan kanannya. Ternyata ada pistol dan selongsong peluru tersembunyi disana. Gila betul Perawat ini mengunakan senjata api.
Salah satu mata Franda memicingkan mengintip tindakan perawat ala agen rahasia. Dia merobek kemeja putihnya hingga tinggal tengtop warna hitam. Dari interkom yang terpasang ditelinganya, anak buahnya sudah dilumpuhkan.
“Damora!” panggil Hikashi dari balik pintu.
“Hah, apa!” Damora menempel ditembok ketakutan karena sudah diketahui oleh Hikashi.
Pintu kamar itu tidak dikunci, ketika dibuka tembakan menghujani. “Lindungi A1!” Matsumoto memerintahkan anak buahnya. Lalu ia berguling masuk kedalam kamar, dan adu tembakan. Franda yang panik menjerit diatas ranjang, menyelimuti tubuhnya. Hal ini sungguh berbahaya karena ia bisa terkena peluru nyasar.
Matsumoto menembaki lampu kamar agar gelap, dan meraih tubuh Franda. Mereka berdua berguling dibawah ranjang.
“Ssssttt jangan berisik, berlindung disini.” Franda mengangguk dan menyumpal mulutnya dengan sepuluh jari digigitnya.
Dar dor dar dor tembakan itu terus berlanjut hingga kamar ini penuh asap dan bau mesiu. Keran air pendeteksi kebakaran mengeluarkan air membasahi seluruh isi Villa.
“Saat dia kehabisan peluru, kau lemparkan pistol ini masuk.”
“Baik Tuan Hikashi, tapi ini kosong.”
“Ketika dia melihat pistol ini dilemparkan, otomatis perhatiannya ke Matsumoto. Saat itu aku masuk, mengerti!
“Biar kami saja Tuan,”
“Didalam ada Frayza istriku, jalankan sesuai perintah Matsumoto.”
Klek, selongsong peluru milik Damora kosong. Ia mengambil isi lagi, dan pistol kosong ditempatkan ke Matsumoto. Mata Damora melihatnya dan ia kehilangan fokus. Dor... Dorrr... Doorrr... Beberapa tembakan sudah menembus dada dan perut Damora.
“Hekkkksss...” keluar darah dari mulutnya. Matanya mendelik nanar berair. Dia sudah terkapar seperti ikan diambil dari kolam.
Hikashi menyalakan jam tangannya yang mengeluarkan cahaya dan melihat wajah Damora.
“Bye!” memasukkan ujung pistol kedalam mulut Damora.
Dorrrr!!! Suara tembakan itu menggema diseluruh ruangan.
Selesai sudah sepak terjang Damora menjadi benalu bagi Hikashi. Setelah Robet nyawa Robet dihabisi begitu brutal, Damora menuntut balas dengan menyuntikkan obat pada Frayza. Hal ini diketahui oleh Franda yang diam-diam mengawasinya.
Lelehan airmata Damora menetes dilantai, dia melihat Hikashi untuk terakhir kalinya sebelum ajal menjemputnya. Terkadang cinta yang beaar tidaklah membawa kebahagiaan. Kecuali cinta itu terbalas, maka semuanya akan teruji oleh cobaan. Matsumoto menutup mata Damora, kemudian menutup jasadnya. Beberapa anak buah Damora yang masih hidup berhasil dikejar dan ditangkap oleh anak buah Takeshi. Mereka dimasukkan kedalam Sel penjara pribadi milik Takeshi.
Franda melihat Hikashi menembak dan membunuh Damora langsung pingsang ditempat.
“Kau urus dia, itu bagianmu.”
Hikashi memberikan pistol kepada anak buahnya, dan ia pergi membawa mobil pergi dari Villa. Malam ini, anak buah Matsumoto menyiramkan bensin ke penjuru bangunan Villa ini. Malam ini semua jasad yang mati dijadikan satu. Semuanya akan dibakar untuk menghilangkan jejak. Satu hal yang harus diketahui, sebenarnya Mafianya Mafia adalah Hikashi sendiri. Andai Damora tidak meneruskan aksinya dan mengusik hidup Hikashi. Mungkin ia masih hidup sampai sekarang. Dengan catatan pula, dia melupakan ambisinya. Namun sayang, begitula cinta seorang wanita kepada pria. Dia tak mampu mengalahkan egoisnya sendiri, padahal jika ia mau mengerti. Cinta itu akan datang dan pergi dengan sendirinya. Tak perlu dipaksa, apalagi bermain curang.
Dimobil yang sama, Patril memangku Jade yang tengah tertidur lelap di pangkuannya. Kenzo membawa pergi mobil ambulan yang berisi Frayza didalamnya. Sepertinya Kenzo akan membawa mobil itu ketempat yang aman. “Sebentar lagi kita akan sampai,”
“Ku harap, Tuan Muda selamat.”
“Dan Ketua Matsumoto juga.” Harap Kenzo yang masih menyimpan rasa istimewa.
Mereka membawa pergi mobil Ambulan disebuah tempat dipinggiran laut. Ternyata itu adalah kediaman Pangeran Takeshi selama ini. Pintu gerbang dibuka dan mobil Ambulan itu sudah tiba. Tampak Dokter Kelvin yang sudah siaga menyambut Frayza. Ia segera membawanya masuk keruangan cek laborat untuk memeriksa kandungan racun dalam tubuh Frayza.
__ADS_1