
Diatas lantai sudah berserakan sembarangan baju tidur mereka. “Sayaang, aku sebentar lagii akan kkeeluarr!” mengejan kuat.
“Huuuussshhhh...” memeluk erat leher suaminya yang berada diatasnya.
Tok... Tokkk... Disaat puncak-puncaknya ada suara ketukan pintu disertai teriakan. “Mamaaaaa aku mauuu Mamaaaaa!!!”
“Seven?”
“Awhhh!” Hikashi terpentanl dari atas ranjang ditendang Frayza yang panik.
“Haiisssshh pasti ini ulah si Jade!” meremas kepalanya frustasi.
“Maas Sayang, sepertinya kita tidak melanjutkan lagi permainan ini. Pakai bajumu juga, jangan sampai pintu sudah terdobrak kita masih begini!”
“Haisssss sialll... Sialll...siallll!!!” mengamuk dengan keadaan.
Klak, pintu itu terbuka seorang pria hanya mengenakan celana pijama satin berdiri. Sepasang bola mata anak kecil yang bulat mencari keberadaan ibunya. Kepalanya sesekali menengok isi didalam kamar yang temaran lampunya.
“Seven, kenapa bangun lagi Nak?”
“Mama aku mau pipis.”
“Oh mau pipis ya, kemarilah Mama antar dirimu ke toilet.” Memondong Seven masuk kedalam kamar mandi.
Tampak tatapan permusuhan antara Hikashi dan putra sulungnya yang tampak santai.
“Sudah belum pura-pura mengantuknya?”
“Aku hanya menyeka mataku Papa hoammbb.” Berjalan masuk kedalam kamar. Ia begitu pintar menaiki ranjang panas dan menarik selimut. Bahkan Jade tak sungkan menyalakan lampu menjadi lebih terang.
“Cih bocah itu, kenapa jadi pengganggu orang tuanya saja sih!”
“Maafkan sayang Tuan besar, Jade memanggilku mengajak mencari Nyonya. Sebenarnya saya tidak terlibat, tapi...”
“Urusan kita belum tuntas Patrick, kau tahu betapa sakitnya mau selesai tapi terputus ditengah permainan!”
“Pasti sangat frustasi membayangkannya pffftttt.” Menertawakan malam na’as majikannya.
Blamm, Hikashi menutup daun pintu dengan keras. Ia tidak menyukai kesukaannya diganggu, sekalipun anaknya sendiri. Patrick mulai panik jika dirinya kena hukuman juga.
“Kenapa lampunya menjadi terang, Jade kau tidur disini Nak?”
“Hemmmbbb,” memejamkan matanya menjawab seperlunya.
“Hai anak muda, bangun dan pindah ke kamarmu!” Hikashi menarik selimutnya.
“Papa aku juga mau tidur disini bersama kalian.” Celoteh Seven.
“Kau maut tidur disini juga ya Nak?” ucap Frayza.
“Iya Mama, kamar ini kasurnya luas daripada punyaku dan Jade. Boleh ya Papa?”
“Haaaarggghhhh TERSERAH!” melemparkan tubuhnya keatas sofa. Hikashi ngembek merebahkan tubuhnya, belum turun juga senjatanya. Membuatnya sangat tersiksa hingga nanti.
Dalam hati Frayza geli melihat kesakitan suaminya yang belum tuntas. Tapi anak-anak mereka tidak bisa diajak kompromi. Alhasil mereka bertiga tidur diatas ranjang bersama. Sedangkan sang ayah tidur disofa dengan dahi mengernyit dongkol.
__ADS_1
Pagi harinya, permusuhan Hikashi dan Jade masih berlanjut diatas meja makan. Frayza duduk disebelah suaminya, sedangkan dirinya bersebelahan dengan Seven.
“Apa?” Hikashi bisa membaca gelagat Jade yang tertawa atas kemenangannya.
“Mama, Papa galak aku takut!”. Berjalan memeluk ibunya meminta pertolongan.
“Jade, kembalilah duduk. Kita bertukar kursi saja. Mungkin Papa tidak akan galak jika kau agak jauhan darinya.”
“Tidak perlu Seven, aku mau dipangku Mama.”
“Tapi Jade kau sudah berarti Nak, umurmu sekarang sudah beranjak 7 tahun loh.” Sanggah ibunya.
“Tidak Mama, aku mau dipangku olehmu saja.”
“Jade kau seperti bayi hahaha.” Cicit Seven terpekik.
“Huh, aku selesai sarapan!” melemparkan sapu tangan dengan wajah kesal yang belum reda.
Hikashi berjalan meninggalkan meja makan. Bisa-bisanya anak sulunya mensabotase istrinya sendiri. Yang paling parahnya ialah tadi malam. Hikashi benar-benar dendam kesumat dengan Jade.
“Nak, duduklah sebentar. Mama mau membenarkan dasinya Papamu.”
“Baik Mama.” Jade mulai mencomot roti bakarnya. Memberi ijin ibunya pergi menyusul ayahnya.
Langkah Hikashi dihentakkan dengan keras seperti kuda. Ia beberapa kali mengendorkan dan mengencangkan dasinya.
“Biar aku bantu benarkan dasimu.” Meraih pangkal belitan dasi.
“Heh!” memalingkan wajahnya.
“Nanti siang makan apa?”
“Aku rencananya mau makan siang bersamamu sambil memakai lingire warna ungu tua. Sambil makan salad buah mayonis. Dikamar berdua.” Berbisik sensual ditelinga suaminya.
Bulu kuduk Hikashi bergidik, yang benar saja. Makan siang Frayza mau memakai lingire warna ungu tua. Gluk, menelan salivanya dirinya merasakan denyut semalam bangun kembali. Matanya melebar.
“Menunya kalau diganti sosir bakar sayor mayonis bagaimana?”
“Jamuan makan siang dengan pegawai yang cantik biasanya diselenggarakan di restoran mewah bukan. Huftt,” menyelesaikan ikatan dasi suaminya yang kendor tadi.
“Aku hanya makan siang di kedai kecil didalam gangs sempit dan sepi.” Ia mulai panik mencari alasan agar tawaran istrinya tidak berubah.
“Padahal aku memiliki madu untuk olesan, pasti sangat manis jika menyesapnya sampai meluber.” Frayza memainkan fantasi Hikashi yang mulai melayang.
“Sssa-sayang, aku nanti pulang lebih awal usai rapat pagi ini. Jadi Matsumoto yang akan mewakiliku pergi jamuan makan siang nanti. Kau jangan makan sendirian ya, biar aku su-suuusuuaapi kau.” Mengelap bibir istrinya yang merona.
“Aku tidak ingin mengacaukan Citra suamiku yang baik. Jika memang jamuan makan bersama karyawannya sangat penting. Aku akan berjemur saja dikolam renang. Kebetulan Patrick membawakan baju renang kemari. Jadi aku bisa memakainya.” Menyeka poninya agar Hikashi makin terprovokasi rayuannya.
“Hah Patrick bawa koleksi baju renangmu?”
“Hu’um, yang kurang bahan dan menerawang. Kenapa?”
“Ka-kaaakauuu akan renang dimana! Dihotel mana!”
“Aku akan berenang dirumah awalnya, tapi karena pantai sedang ramai pengunjung aku mau kesana saja.”
__ADS_1
“Hah pantai? Tidak boleh! Banyak lelaki disana! Jangan harap kau bisa kepantai!”
“Kalau kau tidak mengijinkan aku ke pantai, aku bisa berenang dirumah ditemani Patrick; Iyakan kan Patrick, kau tidak keberatan?”
“Haissshhh, aku tidak berangkat ke kantor! Katakan kepada Matsumoto untuk menggantikanku rapat!” Hikashi mencopot jas dan dasinya kembali. Namun, Matsumoto sudah terlanjur keluar dari mobil.
“Selamat pagi Tuan dan Nyonya. Sudah saatnya kita berangkat sekarang.” Sambil menengok arlojinya.
“Sialan kau Matsumoto!”
“Eh kok aku yang kena semprot!” dirinya menjadi kambing congek baru tiba.
“Hehehe, bawalah pergi suamiku Matsumoto. Dia dirumah uring-uringan terus.”
“Sayang, mengenai makan siang tadi bisakah kau mengubahnya?” Hikashi mengiba.
“Apa?” pura-pura tidak tahu.
“Aku mau makan siang bersamamu, kan dua kecebong kita masih disekolah. Ya mau ya, plisss.”
“Hemmbb iya, pergilah bekerja. Nanti aku jemput aku dikantorku.”
“Jadi nanti kau ke kantor?”
“Iya, masih baik Helena tidak memecatku. Aku hampir satu minggu absen bolos kerja.”
“Hemb begitu ya, nanti aku jemput jam 11 siang.”
“Eh kok awal sekali? Tidak jam 12 saja?”
“Tidak! Jam makan siang khusus kita jam 11 sampai jam 3 sore hehehe.”
“Nakal sekali!” menggigit bibir bawahnya.
“Jangan bawa apapun, nanti biar aku urus lengire untukmu. Kita makan siang di hotel sekalian menginap disana.”
Frayza pikir dia bisa mengelabuhi Hikashi. Nyatanya sekarang ia yang masuk kedalam jebakan suaminya. Terpaksa ia mengiyakan ide mesum suaminya ini. Karena ialah yang memancingnya.
“Untung ada Nyonya, jika tidak pasti sepanjang rapat nanti Tuan Hikashi akan ngamuk besar. Terimakasih Nyonya atas pengorbananmu menjinakkan granat.” Bisik Matsumoto.
“Kau bicara apa ditelinga istriku!”
“Tidak ada Tuan, mari kita berangkat saja.”
“Bicara apa!”
“Sayang, Matsumoto bilang aku harus berdandan agar lebih cantik dari pegawaimu. Karena kau kan memilih makan siang denganku. Jadi aku tidak boleh mengecewakan dirimu bukan?”
“Benar begitu?” menatap Matsumoto.
“Iya Tuan, suerrr!”
“Awas saja kalau bohong, habis gajimu aku potong!”
“Sayang berangkatlah bekerja lebih dulu, nanti Jade dan Seven merajuk seperti semalam lagi.”
__ADS_1
“Baiklah Istriku sayang, tapi bolehkan aku menciummu dulu?”
Patrick dan Matsumoto membelakangi mereka berdua yang saling berpagutan. Percintaan semalam harus dituntaskan sebelum membatu. Dan suasana hati Hikashi akan buruk sepanjang rapat nanti.