
Tenda tempat mereka kemah sudah mulai dibongkari. Tinggal tenda milik Hikashi tidur semalam yang masih berdiri. Sepertinya ia kehabisan energi usai bertengkar dengan istrinya. Ia meraba tempat disebelahnya yang terasa kosong. Terus menggerayangi tempat-tempat yang mampu ia jangkau. Matanya pun terbuka, menyadari tubuh yang semalaman ia peluk tiada.
Lantas ia bangun melihat jam di ponselnya sudah jam 8 pagi. Sepertinya ia bangun kesiangan, dan tidak dibangunkan oleh Frayza. Ia duduk sejenak sampai pada akhirnya Jade menerobos masuk seperti kebiasaannya.
“Papa, tinggal tendamu yang belum dibongkar.”
“Hhmmb iya Jade, tunggu sebentar. Biar Mama mu yang bereskan perlengkapan kami dulu.”
“Sebaiknya Papa bereskan saja sendiri karena Mama sudah pergi jam 6 pagi.”
“Paling dia pergi didekat sini, ini ponselnya ketinggalan.”
“Benarkah, lalu kemana perginya? Ia meminta kunci mobil pada Matsumoto.”
“Ia perginya bersama siapa!”
“Dengan Helena, katanya mereka ada urusan.”
“Sial!” Hikashi meloncat keluar dan menelepon Patrick. Kalau saja istrinya pulang kerumah lebih dulu.
Ternyata benar, Frayza pulang kerumah mengemasi pakaiannya. Juga membawa komputer jinjingnya. Sekarang ia masuk kedalam mobil yang dikendarai bersama Helena. Dengan cepat Hikashi mengajak Matsumoto untuk meninggalkan liburan ini. Dipacunya kendaraan ini dengan kencang, disampingnya Matsumoto menelepon anak buahnya untuk bergegas melacak keberadaan Nyonya mereka.
“Dari pantuan GPS ponsel milik Helena, sekarang ini Nyonya menuju arah Bandara.”
“Sial!” menginjak tuas gasnya kebawah.
Ternyata pertengkaran semalam belum sepenuhnya selesai. Buktinya sekarang Frayza pergi lagi bersama Helena. Ia benar-benar menyesal telah melakukan kesalahan yang berakibat Fatal. Dan seperti itulah lelaki, ingin bermain-main tanpa peduli imbasnya.
“Ada apa ini?” Frayza panik tiba-tiba mobil yang membawanya kini dipaksa menepi.
“Entahlah Frayza, aku sendiri tidak tahu. Inikan bukan Negaraku.” Balas Helena kebingungan juga.
“Aku tidak ingin ketinggalan pesawat.”
“Mungkin ada memeriksa kendaraan tau ada operasi.”
“Huft sangat mengganggu.” Mengendorkan sabuk pengamannya.
“Tapi dari pakaian yang mereka kenakan bukan seragam polisi.”
“Hhhee iya juga ya, seperti pengawal khusus.”
Tok... Tokkk... Kaca mobil diketuk pria berkacamata. Helena menurunkan kaca jendelanya, tapi ditahan oleh Frayza.
“Jangan buka, kita tidak tahu siapa mereka. Naikkan lagi kacanya, aku akan telepon Polisi.”
“Hu’um.” Mengangguk paham.
Ccciiiittthhh... Suara rem berdecit menghentikan laju kendaraan mobil warna merah. Barulah Frayza paham siapa orang-orang yang mengerubungi mobilnya memakai setelan jas. Dan kacamata hitam, semuanya berperawakan tinggi.
Ternyata mereka anak buah Matsumoto yang diperintahkan untuk mengejarnya. Tampaknya Hikashi tadi pagi terburu-buru. Karena pakaiannya masih sama dengan yang ia kenakan semalam. Ia memakai sendal slop, celana training hitam dan kaos putih. Rambutnya yang acak-acakan karena tak sempat menyisir tertiup angin. Pria tampan itu tetap terlihat menawan keluar dari kendaraan. Ia berjalan mendekati mobil yang dibawa istrinya. Frayza yang ketakutan itu, menyalakan mesin mobilnya.
“Fray!” Helena menggelengkan kepalanya.
“Kita tidak boleh terlibat Helena.”
“Mungkin suamimu ingin mengatakan sesuatu.”
Hikashi berjalan semakin mendekati mobil mereka. Dan mengetuk kaca disebelah Frayza duduk. Ia membungkuk melihat jelas istrinya memegang kemudi. Sama sekali tidak melihatnya yang berada diluar.
“Pacahkan kaca mobil ini, dan keluarkan penumpang didalamnya!”
__ADS_1
“Baik Tuan.” Jawab pengawal yang membenturkan apar dan kunci inggris di kaca mobil. Helena ketakutan melihat keadaan yang menegangkan ini. Sedangkan Frayza tak bergeming sedikitpun mau menuruti Hikashi.
“Frayza, mereka berusaha memecahkan kaca mobilnya. Aku mohon bukalah pintunya!”
“...” dia saja menggigit bibirnya.
“Fray, jangan keras kepala. Jika mobil ini rusak apa tidak sayang?”
“Diamlah Helena, Hikashi tidak akan peduli dengan mobil ini.”
“Kalian ini pasangan yang aneh!” gerutu Helena.
Karena kacanya tebal, maka sulit untuk dipecahkan. Terpaksa Hikashi memanggil tukan derek jalanan. Kebetulan mereka punya Palu baja, beberapa kali pukulan kaca bagian belakan pecah dan bisa dibobol.
Frayza panik dan akhirnya membuka tuas kunci mobil. Ia meraih tas berisi tiket dan paspornya. Bahkan Helena tercengang melihat sikap Frayza. Keluar dari mobil dan berlari sekencang-kencangnya. Menyadari pintunya sudah bisa dibuka, Helena turun dan langsung dibawa Matsumoto. Sedangkan Frayza berlari menjauhi kepungan Hikashi.
Grab! Tubuh mungilnya sudah diraih Hikashi naik ke pundaknya. Ia memanggilnya lagi seperti karung beras. Dengan kesal Hikashi memukul bokong Frayza yang memakai celana jins.
Dilemparkan kedalam mobil, kedua tangannya diikat pakai dasi milik pengawal. Sekarang Frayza tidak bisa berkutit lagi. Mobil sudah berjalan berbalik arah dari tujuan awalnya, Bandara. Ia mendengus kesal melihat kebiasaan lama Frayza yang hobi kabur-kaburan.
“Kali ini sudah tidak ampun lagi untukmu Fray!”
“Ck!” berdecak kesal.
“Bawa kami kerumah sekarang!” perintah Hikashi kepada sopirnya.
Dimobil lain, Helena bersama Matsumoto. Pria ini terus menatapnya dengan mata yang melebar.
“Apa!”
“Beraninya kau pergi membawa Nyonya kami!”
“Mau kemana kalian!”
“Kami ada urusan ke luar negeri!”
“Kemana?”
“Huh!” memalingkan wajahnya.
“Jangan berlagak deh, wanita tua!”
“KAU!”
“Tampan kan, hehehe.”
“Sialan!”
“Terimakasih atas pujiannya.”
“Kau mau membawaku keman?”
“Kerumahku, kau kecewa?”
“Cih, lagaknya kayak orang kaya saja.”
“Dasar rambut es, sekaya apapun dirimu. Kau pikir aku tak mampu membeli baju di kiosmu!”
“Apa katamu! Kau bilang butikku kios! Botak, revisi kata-katamu!”
“Kita sampai, turun dan lepaskan alas kakimu. Aku tidak mau membayar tukanh bersih-bersih soalnya.”
__ADS_1
Sebuah rumah bergaya kuno, nan asri. Di kelilingi taman yang Indah, inilah rumah pribadi Matsumoto yang sebenarnya. Beberapa wanita berpakaian tradisional menyapa dirinya. Ternyata pelayan disini sangat cantik-cantik. Ia menyuguhkan teh dan tarian-tarian menyambut tuan rumah. Helena yang hidup di negara bagian barat. Terkesima dengan suasana kuno dirumah Matsumoto.
“Ini kamarmu, jangan harap kau temukan alat pengisi daya.”
“Cih miskin!”
“Aku benci kehidupan modern, kau orang yang pertama aku bawa pulang. Jadi jangan banyak protes!”
“Kau mau kemana?”
“Aku tidak mungkin tidur bersama mu, kenapa kau kecewa dengan gaya hidupku?”
“Cih siapa juga yang mau menyodorkan diriku ini secara cuma-Cuma. Aku hanya takut ada setan ditempat angker ini.”
“Heh rambut salju es, kau pikir aku pelihara setan apa. Mereka juga sungkan enggan mengganggumu, mulutmu begitu kasar. Bicaramu merendahkan, setidaknya rumahku berdiri diatas bidang tanah. Bukan bata dan semen yang disusun hahaha.”
Matsumoto lupa kalau mulutnya dulu begitu pedas dan kasar. Sekarang ia merasakan karma diperolok orang. Atas perintah Hikashi ia membawa Helena kerumahnya. Agar bisa mengorek informasi rencana keluar negeri mereka.
*
*
*
Hikashi menutup kamarnya, yang dijaga ketat oleh pengawal berseragam. Kedua anaknya yang baru tiba tidak diijinkan untuk mendekat. Besok Jade akan masuk ke asrama lagi, dan Seven kembali ke kamarnya bersama Dokter Thomas. Guna memeriksa kesehatannya kembali. Bibi Fang yang awam tentang kehidupan rumah tangga Frayza. Kini harus paham jika Hikashi ketika marah menakutkan.
“Masih mau kabur lagi?”
“Tidak.” Menggelengkan kepalanya.
“Lalu kenapa mau pergi bersama Helena, cari apa kau?”
“Aku dan Helena ada urusan pekerjaan.”
“Oh ya kebetulan sekali ya, saat kita sedang ada masalah kau kabur.”
“....” memalingkan wajahnya.
“Jawab aku, kau masih marah”
“....” Diam saja.
“Baiklah kalau begitu, jangan salahkan aku jika akan mengurungmu dikamar sampai kau HAMIL!”
“Tidak Hikashi, aku sudah tua. Jangan kurung aku!”
“Kau pikir aku akan segan denganmu?”
“Aku mohon Hikashi, aku tidak mau hamil. Dua anak sudah cukup.”
“Sekarang kau memohon?”
“Iya, aku memohon.”
“Permohonanmu aku tolak!”
“Aku tidak mau hamil lagi Hikashi, lepaskan aku!” kakinya menendang apapun diatas ranjang. Kedua tanganya terikat di ranjang.
Dibuangnya semua pil penunda kehamilan didalam laci. Frayza menjerit agar Hikashi menghentikan hukuman ini. Ia bahkan berjanji tidak akan pergi meninggalkannya, sekalipun saat bangun tidur. Namun Hikashi terlanjur kesal dan marah. Ia trauma dengan Frayza yang hobi kabur-kaburan. Mengingat dirinya semakin paranoid dengan istrinya.
Padahal kedua memang benar-benar ada urusan pekerjaan yang mendesak di Korea. Helena bercerita kalau ada tanah murah yang dijual. Lokasinya di pusat bisnis dan wisata. Mereka ingin meninjau langsung, sekalian mengajak Frayza melihat Negeri Gingseng tersebut. Karena antusiasnya pergi keluar negeri. Frayza sampai-sampai lupa meminta ijin Hikashi yang masih tidur. Ia memilih untuk berpamitan saja kalau sudah tiba disana. Tetapi ia lupa juga membawa ponsel yang seharusnya ia bawa bersamanya. Penawaran tanah di Korea sangat murah, makanya ia ingin segera mendapatnya. Tapi sayang, niatan harus dicegat oleh Hikashi. Pria itu tak bisa diajak kompromi. Rencana pergi beberapa hari saja. Kini harus berubah hukuman beberapa bulan. Dan Hikashi mengatakan sampai hamil. Dia pikir wanita hamil itu seperti Ratu yang diam duduk manis. Frayza sudah kerepotan mengurus dua anak kecil dan saru bayi besarnya, Hikashi. Pria yang memainkan tubuhnya seenaknya sendiri. Pria tak akan pernah waras jika sudah tergila-gila dengan seorang wanita.
__ADS_1