
Para pengawal yang sudah terlatih seperti militer kelas elit mempersenjatai dirinya lengkap. Mereka merangkak untuk menyusupi pekarangan. Jika ada kamera pengintai yang di pasangan oleh penculik.
Disaat bersamaan Tamiko didalam rumah mengambil beberapa makanan. Sedangkan Ayako bermain-main dengan pisau belatinya. Ia mengasah benda tajam itu agar mengkilat.
“Apa pisaunya kurang tajam?”
“Pisau yang tajam akan mengurangi sakitnya.” Matanya terus mengagumi ketajaman pisau belati.
“Ku peringatkan, kita hanya butuh uangnya. Dan kabur menjalani kehidupan yang baru.”
“Apa kau berpikir aku akan menikmati uangnya tanpa memberikan kenang-kenangan?”
“Jangan gegabah Kak!”
“Ku peringatkan dirimu Tamiko, yang berkuasan disini adalah aku. Jika kau tidak ingin aku ikat didalam sana. Diam dan makan roti sampahmu!”
“Kau jangan mengancamku Kak!”
“Apa kau pikir aku pernah bercanda?” Ayako berjalan membawa belatinya menuju kamar Jade disekap.
“....” Tamiko menggelengkan kepalanya agar Ayako tidak melakukan hal yang gegabah.
Tapi seringai kejam itu terlanjur menyungginh di bibir Ayako. Tampak sosok anak kecil yang mata dan mulutnya tersumpal kain tergeletak dilantai yang kotor. Beberapa hewan pengerat lewat dan bercicit. Udara dalam ruangan begitu pengap serta panas. Keringat sudah mengalir deras menembus baju yang dikenakan Jade. Anak itu memojokkan badannya yang sudah terikat erat. Ia mendengar langkah kaki orang yang menculiknya.
“Hemmmmbbbb... Hemmbbb.” Jade mundur dan berusaha berteriak.
“Apa kau takut sekarang tampan? Tenang, pisau ini sudah tajam hahahaha.” Ayako memainkan pisau diwajah Jade yang mulus.
Air mata bocah itu mengalir deras menembus kain mengikat kepalanya. Napasnya mulai dalam dan berat, saat ini jantungnya berdetak berlipat ganda desirannya.
“Jiiiiaaaaaattthhh!” Ayako mengagungkan pisaunya ke udara dan mengumpulkan segenap tenaganya. Ia bersiap menghujam pisau itu dimulai dari ujung kepala Jade.
“...” Pasrah jika mati saat ini juga.
Seluruh kenangannya mulai terlintas lagi, dimulai saat ia balita berpisah dengan Kenzo. Kembali ke kastil Alexander sebagai putra tunggal. Memiliki ayah yang hobi menghukum dirinya. Kenangan ditabok bokongnya menjadi hukuman teringan bila dibandingkan keadaannya sekarang. Serta hadirnya ibu yang ia rindukan, bersama adiknya. Yang sekarang menjadi saingannya dimata orang tuanya. Jade masih terlalu muda dan ingin hidup lebih lama lagi. Tapi si penculik ini tidak menginginkan apapun. Kecuali kepuasan batin menyakiti dirinya. Jika hari ini adalah hari terakhirnya di dunia. Setidaknya sebelum hal naas ini terjadi ia merasakan dicintai orang tuanya. Bersabarlah Jade, kau tidak boleh putus asa. Karena sejatinya kematian ialah kodrat bagi yang bernyawa.
Dooorrrrr!!! Suara tembakan dari dalam rumah. Pengawal mulai kalang kabut masuk kedalam dan mendobrak pintu sampai jebol. Matsumoto memberitahukan jika sudah terjadi baku tembak dari dalam rumah sumbernya. Tangan Hikashi lemas menurun, ponselnya terjatuh. Didalam mobil ini ia menuju tempat penyekapan Jade berada. Wajahnya yang dingin dan beku tak bereaksi. Lelehan air matanya menetes lalu ia seka. Hatinya akan lebih hancur bila frayza tahu hal buruk terjadi pada putranya. Ia tak siap menjadi kepala rumah tangga yang gagal. Terlebih lagi, hari ini adalah momentum terbaik yang ia berikan kepada Jade. Tetapi menjadi malapetaka yang buruk.
Darah mengucur dilantai, pisau belati yang tajam ditangannya sudah jatuh tak jauh dari Ayako.
“Arrghhhh sakiiit, sialan!” umpatnya.
“Kak, tahan. Jangan bergerak, nanti pendarahannya makin banyak.”
“Cepat kejar pria itu, dan tusuk pakai pisau.”
“Ti-tidak Kak, lebih baik aku biarkan dia pergi. Karena kau mengeluarkan darah yang banyak.”
__ADS_1
“Sial, pria itu ternyata masih hidup!”
“Kak, aku ambilkan kain untuk menekan lukamu.”
“Harrrgghhhh!” mengerang kesakitan.
Brakkk!!! Baik pintu dan jendela sudah dijebol. Sekarang mereka berdua terekpung oleh pasukan Matsumoto. Semuanya menodongkan pistolnya, salah tindakan nyawa mereka melayang. Akhirnya Tamiko dan Ayako di ikat dengan ikat pinggang. Sampai rombongan polisi datang meringkus keduanya.
Hikashi yang masuk kedalam rumah tak bisa menyembunyikan kepanikannya. Sempat terbayang jika timah panas menembus putranya. Entah akan jadi apa dirinya nanti dihadapan Frayza.
“Jade masih syok Tuan, aku akan membawanya ke mobil medis.”
“iya,” mengikuti Matsumoto yang menggendong Jade.
Hikashi tak berdaya melihat kondisi putranya yang mengenaskan. Hatinya sangat sakit, orang yang ia kenal lama ternyata dalang semua ini. Tatapan Ayako yang tak berubah ketika melihat dirinya. Seolah membuatnya jijik dan inging mencongkel bola mata mesum itu. Wanita gila itu tersenyum, padahal pahanya tengah tertembus peluru panas.
Kini Tamiko tahu, kenapa Kakaknya begitu tergila-gila dengan ayah Jade. Ternyata pria ini adalah mantan putra mahkota kerjaan yang hilang. Dirinya pernah masuk kedalam kamar Ayako. Ia menemukan banyak poster Hikashi muda ditempel. Bahkan Ayako tak malu mengedit foto pernikahannya dengan Hikashi. Saking terobsesinya akan menjadi istri masa depan seorang Hikashi.
Kali ini, Hikashi akan membuat terhitung berat dengan Ayako. Ia bersumpah akan membuat penculik Jade membusuk di penjara bawah tanahnya. Ia sudah salah mencari musuh, kali ini tamatlah riwayat Ayako.
“Tembakannya begitu rapi, bisa mematahkan tulang pahanya. Perhitungannya sangat akurat sekali, aku yakin orang ini sudah terlatih.”
“Maksutmu anak buahku melepaskan tembakan tanpa perintah dariku?”
“Aku hanya berasumsi saja, karena anak buahmu memakai senjata kan.”
“Aku harap kau bisa menghargai pekerjaan kami sebagai Polisi. Sebelum pemeriksaan jenis peluru yang ditembakkan tadi. Saat ini yang berpotensi dicurigai adalah dirimu.”
“Hai kenapa aku?” Matsumoto menolak tuduhan Polisi.
“Aku akan menahanmu sebagai penanggungjawab lapangan. Kau membawa anak buahmu dengan memakai senjata api. Apa kau tidak melihat Penculiknya mengeluarkan darah terus?”
“Tapi bukan dari pengawalku pelakunya!” membantah Polisi yang menjalankan tugasnya.
“Sayangnya, sanggahanmu harus kau tunggu sampai peluru itu dikeluarkan oleh Dokter bedah.”
“Kau tidak bisa membawaku, aku harus bersama Tuanku!”
“Tidak bisa, ini adalah aturan resmi. Memakai senjata api dan menyebabkan orang lain terluka bisa dikenakan sanksi.”
“Kampret!” mengumpati Polisi.
Setelah memasang garis Polisi, rumah itu langsung diadakan penggeledahan. Dan dijaga ketat, beberapa anjing pelacak dikerahkan untuk mendapatkan bukti tambahan.
*
*
__ADS_1
*
RUMAH SAKIT,
Saat ini kondisi mental Jade sedang ditangani oleh Dokter Thomas. Ia melakukan beberapa tahap tes untuk memeriksa kondisi Jade. Obat penenang terpaksa diberikan agar Jade bisa memulihlam kondisinya paska trauma.
“Apa putra kita akan baik-baik saja?”
“Dokter Thomas sedang memeriksanya didalam.” Hikashi menepuk tangan istrinya yang berada dipundaknya.
“Siapa pelakunya?”
“Orang lama yang pernah bekerja di Istana.”
“Aku akan menuntut mereka pasal berlapis!” mengepal tangannya yang dipenuhi amarah.
“Istriku, maafkan aku yang tidak bisa menjaga putra kita lagi hiks hiks.” Memciumi tangan Frayza yang diletakkan dipundak kanannya. Dia duduk menunggu Dokter Thoman memeriksa.
Frayza baru tiba dirumah sakit, karena sebelumnya ia kerumah dahulu. Mengamankan kediaman mereka, dan membawa Seven ke bangker. Frayza bersembunyi disana agar dirinya dan putra bungsunya aman.
“Sekarang Seven dimana?”
“Bersama Kenzo, aku meminta ia datang kerumah untuk menjaga Seven. Karena aku mau kemari melihat kondisi Jade.”
“Baiklah, kehadiranmu bisa menjadi obat bagi Jade.”
“Dimana Matsumoto?”
Tumben sekali, orang yang selalu mengintili suaminya tidak terlihat bersama.
“Dia digelandang di Kantor Polisi, untuk menunggu hasil pemeriksaan.”
“Lelucon apa yang telah ia lakukan?”
“Dia bersikeras bahwa bukan dari timnya yang melepaskan tembakan itu.”
“Jika bukan Matsumoto ya pihak Kepolisian lah.” Celetuk Frayza.
Wajah Hikashi terangkat dan menyadari, jika polisi datang bersama dirinya. Jadi ada orang yang sengaja menolong Jade pada saat drama penyiksaan akan dimulai.
*
*
*
Sementara ini Ayako menjalani operasi, tulang pahanya patah. Jadi ia mengalami kelumpuhan separo. Dia mendapatkan karmanya, yang setimpal. Sedangkan Tamiko berada di sel penjara wanita. Ia ketakutan didalam sel, bertemu kriminal senior. Kejahatan yang ia lakukan bersama kakaknya selain merusak karirnya dan masa depannya. Kini tuntutan hukuman berat sudah menantinya. Bayang-bayang kelam dipenjara akan membuatnya menderita.
__ADS_1