TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
PETAKA TAMAN LABIRIN


__ADS_3

Dari balkon yang manghadap langsung hamalan, tampak iringan mobil Hikashi yang masuk pekarangan. Lalu disusul oleh utusan dari Hiroshi yang datang membawa undangan resmi, serta beberapa barang yang masih terbungkus rapi.


Kraussss... Krauussss (suara frayza makan buah apel) seperti ini ya undangan dari keluarga kerajaan?”


“Iya, kerana pihak kerjaan yang mengundang makanya segalanya dipersiapkan untuk tamu undangan istimewa. Kau harus tahu Damora adalah gadis bangsawan kerajaan Inggris. Sedangkan Tuan Hikashi adalah mantan pangeran mahkota, dan ibunya memiliki darah bangsawan Inggris juga. Makanya, perlakuan istimewa ini layak mereka dapatkan.” Jawab Kenzo menerangkan kepada Frayza.


“Jadi, secaea tidak langsung ini seperti undangan anggota kerajaan ya?”


“Hanya sekedar undangan saja, manusia yang terlahir dari keluarga kerajaan dan bangsawan itu sangat beruntung. Disamping keterbatasan yang lainnya. Ngomong-ngomong, aku heran kenapa Nona Damora tidak tahu ular seperti apa. Bukankah sejak sekolah dasar sudah dikenalkan aneka hewan-hewan?”


“Kenapa kau bertanya hal seperti itu kepadaku? Jika kai bertanya bagaimana isi perut katak, aku bisa jawab. Aneh saja kau ini.” Frayza memilih berpindah tempat.


“Huuuhhhhh dasar!” kesal Kenzo yang diabaikan Frayza.


“Apa kau!” menjulurkan lidahnya.


Dari baklon ini mereka berpencar untuk berjaga-jaga, karena ada kedatangan tamu dari kerajaan mengantarkan undangan dan kostum yang hendak dipilih oleh kedua tamu undangan. Damora yang antusias menyambut undangan dari Hiroshi. Dengan segera dia memilih baju-baju yang akan dikenakannya pada acara tersebut.


“Wah... Gaunnya cantik sekali, aku ingin memilikinya semuanya.” Berkaca melihat tampilannya yang anggun mempesona.


“Nona tampak cocok memakai segala apapun, bahkan baju yang aneh bila dipakai sangat Bagus.” Puji pelayan wanita yang menemani Damora bersolek.


Datanglah Hikashi lalu diikuti oleh Matsumoto dari belakang bersama pengikutnya. Pria tampan itu berdiri tegap dan melihat Damora mencoba pakaian yang baru saja dikirimkan dari pangeran Hiroshi.


“Apakah aku terlihat tidak cantik?”menanyakan pendapatnya kepada Hikashi yang memandanginya saat tiba dirumah.


Ekspresi datar Hikashi ini benar-benar membuat Damora bingung. Antara tidak tahu atau memang tidak tertarik, padahal Hikashi sering mengundang wanita penghibur kelas atas untuk memuaskannya. Sedangkankan dimintai pendapat tentang penampilannya, Hikashi lebih memilih dan saja.


“Tuan, muda.” Matrumoto menyerahkan undangannya.


“Panggil Ramon di ruang baca, aku mau memanggilnya.” Sanggah Hikashi yang enggan untuk membaca undangan.


“Ck!” Damora berdecit kesal dengan sikap Hikashi.


Lalu dia memilih kembali gaun yang masih belum dia coba. Dan memilah mana yang cocok untuk dikenakan di acara tersebut.


*


*


*


RUANG BACA,


Rak buku yang menjulang tinggi berisi buku-buku terbitan dari belahan manca negara. Kegemaran lain Hikashi selain berlatih bela diri, yaitu membaca. Dia biasanya melakukan kegiatan ini untuk menambah wawasannya. Beberapa lukisan yang terpajang merupakan hasil karya Hikashi yang disembunyikannya. Beberapa lukisan teronggok di pojokan karena belum memperoleh bingkai yang cocok.


Sembari menunggu Ramon tiba, Hikashi duduk dengan menyelonjorkan kakinya yang panjang diatas meja. Dia membolak-balikkan sebuah buku yang lumayan tebal. Matanya bergerak mengikuti alur kalimat yang dibacanya. Pria itu sesekali komat-kamit mengeja kalimat didalamnya.


“Tuan muda, pengawal Ramon sudah tiba.” Matsumoto membawa Ramon masuk.


(Menggerakkan kepalanya) “ Duduklah.” Perintah Hikashi kepada Ramon.


Dengan kaku dan kikuk, Ramon bingung hendak duduk dimana. Karena dia sadar diri statusnya hanyalah pengawal kediaman Hikashi.


“Kau duduk disini! “ pundak Ramon ditekan kebawah oleh Matsumoto yang geram dengan polahnya yang gagu.


“Kau boleh keluar,” menyuruh Matsumoto keluar dan membiarkannya berdiskusi dengan Ramon.


Setelah pintu ruang baca ini ditutup, Ramon berlutut dan memohon ampun kepada Hikashi.


“Maafkan saya, Tuan muda.” Dia meminta maaf karena sudah berbohong mengenai gadis yang diakuinya kekasih dan menerima uang kompensasinya.


“Kau tidak melakukan kesalahan.” Hikashi bingung dengan sikap Ramon yanh tiba-tiba berlutut dihadapannya.


“Saya minta maaf soal, nggggg...” tak mampu melanjutkan kalimatnya.


“Aku akan mengajakmu ke Jerman, kalau tidak salah kapal ini yang terlacak terakhir singgah di pelabuhan terdekat.” Hikashi menunjukkan beberapa foto yang diambil di pelabuhan. Lengkap bersama orang yang seolah kesakitan memakai baju serba hitam.


“I-iniiii.” Ramon hampir tak percaya bila baju yang dikenakan itu seperti yanh diceritakan Frayza lada malam kejadian.


“Aku tidak tahu organisasi apa yang mampu menyewa mereka. Tapi aku pastikan, mereka adalah Ninja yang terpilih untuk melakukan misi khusus. Sepertinya kau berada di lingkaran yang besar?”


“Tuan Hikashi, aku mohon bantulah aku. Karena aku yakin hanya engkaulah yang mampu menolongku?” Ramon bersimpuh kepada Hikashi agar diberi bantuan.


“Aku tidak mau terlibat dalam masalah besar, karena aku baru dinobatkan secara resmi sebagai Bangsawan Inggris. Kau tahu bukan, aku susah payah memperoleh gelar ini dengan melakukan berbagai cara.”


“Aku siap mengabdikan diri kepadamu Tuan,” Tekat Ramon bersungguh-sungguh.


“Apa jaminannya?” Hikashi mukai tertarik dengan keberanian Ramon.

__ADS_1


“Nyawaku, iya nyawaku akan aku berikan.”


“Sepakat, sekarang kau akan mengabdi denganku apapun yang terjadi. Dengan demikian, aku akan membantumu mencari tahu siapa mereka.”


“Terimakasih Tuan Hikashi,” Ramon kembali bersimpuh sebagai penghormatannya.


“Besok pagi kita berangkat ke Jerman, persiapkan dirimu. Jangan membuatku malu.” Pesan Hikashi kepada Ramon ketika mengakhiri perbincangan mereka.


Setelah mendengar perintah Hikashi, Ramon meminta pamit keluar dan mempersiapkan dirinya untuk perjalanan jauh. Sedangkan, Hikashi masih sibuk di ruang membacanya dan melanjutkan membaca isi buku itu lagi. Sampai pada tengah malam, Hikashi mengambil buku disalah satu rak buku. Ternyata disana merupakan tempat rahasia milik Hikashi yang tidak ada seorang pun yang tahu.


Dalam suasana yang hening tengah malam, Frayza tengah berpatroli berjaga. Ria melihat sosok hitam yang mengendap-endap di lubang kunci ruang baca Hikashi.


Hap, pundak orang tersebut tersentak ada yang mengagetkannya. Crooottttt (menyemprotkan cairan gas air mata).


“Kyaaaaaaaakkkk!!!” pekik Frayza yang menutupi matanya sangat pedih.


Karena suara Frayza yang nyaring itulah Hikashi terganggu diruangan rahasianya dan keluar.


“Kau kenapa?” memapah Frayza yang kesakitan akibat matanya disemprot gas airmata.


“PENYUSUB TUAN!” Hikashi membulatkan matanya.


Jeduggg, kepala Frayza terbentuk kelantai. Dia dibiarkan tergeletak merasakan sakit dan perih di matanya. Hikashi lalu mengejar bayangan orang yang berlari, dia menuju taman belakang rumahnya.


“Sial, dia masuk di taman labirin!” Hikashi merasa kewalahan harus mencari sosok tersebut.


Pengawal yang berdatangan segala penjuru mencari orang yang diduga masuk kedalam taman labirin.


“Kerahkan anjing pelacak dan aktifkan drone untuk mengintai dari atas!” perintah Hikashi untuk menyisir taman labirin.


Ketika Hikashi sibuk dengan penyusub yang lari di taman labirin, Matsumoto menemukan Frayza yang meronta-ronta kesakitan.


“Agen Fred?” menolong Frayza yang berguling-guling dilantai karena kesakitan.


“KETUAAAA MATAKU SAKITTTTTTTT!!!!”


“Cepat bawa agen Fred ke rumah sakit segera!”


Pengawal yang bersama Matsumoto membawa Frayza pergi ke rumah sakit untuk memperoleh pertolongan matanya.


“Hosshhhh... Hosshhh... Ketua Matsumoto, apa yang baru saja terjadi?” Ramon baru tahu kegaduhan setelah ada bunyi alarm.


“Lalu dimana Agen Fred sekarang?” Ramon tidak tahu jika kondisi Frayza sangat berbahaya karena gas air mata.


“Dia mengalami kecelakaan di matanya, rekanmu sedang membawanya ke Rumah Sakit. Semoga Agen Fred tidak mengalami hal buruk.” Menepuk bahu Ramon.


“Apa?” lidahnya kelu tak bisa berbicara.


“Kau bantu kami menyisir di taman labirin, supaya penyusup itu bisa cepat ditangkat.”


Sebenarnya Ramon ingin ke Rumah Sakit dan melihat kondisi langsung Frayza. Namun, karena tugas penting menemukan pengusup tak bisa lagi disepelakan.


“Tuan muda, saya menemukan ini.” Menyerahkan botol tak bermerk di taman labirin.


“Hemmm, dari aromanya ini mirip seperti racun.” Hikashi sedang mengidentifikasi temuan Kenzo.


“Sepertinya kru lain menemukan sesuatu lagi. Suara gonggongan anjing terdengar,” Kenzo berlari masuk ke taman labirin.


Baru saja kakinya menjangkau rumput, terdengar suara tembakan meletus. Doooorrrrr, doorrrrrr... Dentuman pistol memberondong sasaran.


Sreettt, Hikashi mengambil pistol dari dalam saku jas Kenzo dengan cepat. Dan masuk kedalam taman labirin,” Tuan muda!” Kenzo gagal menghentikan Hikashi yang masuk kedalam taman labirin.


“Dimana Tuan Muda Hikashi?” Matsumoto datang membawa pangawal yang lebih banyak.


“Kesana!” menunjuk ke taman labirin yang terdengar baku tembak.


“Sial, cepat selamatkan tuan muda Hikashi.” Mereka mengeluarkan senjata dan memakai kacamata infra merah.


Pengejaran di dalam taman labirin ini berlangsung sangat menegangkan. Karena sura tembakan terus berdentum, dan suara anjing pelacak yang terkena peluru.


“Tuan muda,” Matsumoto berhasil bersama Hikashi sekarang.


“Waspadalah, penyuspunya tidak hanya satu.” Matsumoto terbelalak melihat percikan darah di baju Hikashi.


“Tuan muda?” Matsumoto memegang darah segar yang masih basah di baju Hikashi.


“Itu bukan darahku,” ternyata itu darah anjing pelacak yang tertebak oleh peluru. Anjing itu sudah berjasa karena menyelamatkan Hikashi dari peluru penyusup.


Karena Fajar sudah datang dan tidak membuahkan hasil, maka Ramon berinisiatif untuk membabat habis pepohonan. Karena dengan cara efektif itulah taman labirin tidak memiliki tempat persembunyian lagi. Teman-temannya juga membantu Ramon memakai gerjaji maupun guntin tanaman. Apapun itu, asal bisa digunakan untuk menggunduli taman labirin.

__ADS_1


“Sudah, hentikan pencarian.” Perintah Hikashi.


“Tapi Tuannnn,” Matsumoto enggan berhenti mencari sampai dapat.


“Minggir!” Hikashi menempeleng kelapa Matsumoto dan menembakkan pelurunya tepar sasaran.


Duooorrrrr, sekali tembakan mengenai sasaran dan roboh karena timah panas.


“Buka penutup wajahnya!” perintah Matsumoto.


“Tidak mungkin,” wajah penyusup itu ternyata sudah rusak dan penuh luka. Bahkan wajahnya sulit dikenali, anggota tubuhnya terdapat banyak luka senjata dan bahan kimia.


Melihat jasad penyusup yang memiliki luka sekujur tubuh, Ramon ketakutan bila Frayza mengalami hal yang serupa.


“Simpan mayatnya, dan cari tahu asal-usulnya.” Hikashi berhasil menangkap satu penyusup di kediamannya.


“Tuan muda, ijinkan saya menjenguk agen Fred.”


Keinginan Ramkn tak diindahkan Hikashi, majikannya pergi masuk kedalam kediamannya.


“Sebaiknya kau bersiap bertolak ke Jerman bersa Tuan Hikashi. Waktumu tidak banyak, mengenai agen Fred. Aku yang akan bertanggungjawab sepenuhnya kepadamu.”


“Ketua,” Ramon masih bersikeras namun dirinya tahu kalau Hikashi tidaklah mudah dibujuk kedua kalinya.


Seperti malam sebelumnya, Ramon harus bertolak ke Jerman bersama Hikashi untuk waktu yang tak bisa ditentukan.


*


*


*


RUMAH SAKIT.


Dokter memeriksa Frayza yang mengalami luka dimatanya. Dokter tersebut tak diijinkan mendekat maupun menyentuh tubuhnya.


“Jangan mendekat!” Frayza menodongkan gunting bedah di lehernya untuk mengancam siapapun.


“Kau harus diperiksa, Fred. Lihat matamu sudah mulai membengkak besar!” Kenzo khawatir dengan kondisi Frayza.


“Aku tidak percaya dokter siapapun disini. Aku mau dokter Kelvin yang menanganiku!”


Dan pemberontakan Frayza ini diketahui Matsumoto, keinginan Frayza akhirnya disetujui oleh Hikashi. Dan menerbangkan secara langsung Dokter Kelvin yang berada di Singapura. Walaupun harus menahan sakit dimatanya, Frayza bersikeras tidak bisa dibujuk oleh siapa pun. Sampai keinginan nya terkabul.


Segera setelah Ramon memberikan pesan rahasia kepada Kelvin, maka sahabatnya mengerti. Jika Frayza tengah dalam pengejaran Hikashi, ketika menyamar wanita dan meloloskan diri. Jika identitasnya ketahuan perempuan. Maka misi balas dendam mereka akan berakhir sama seperti Digna.


“Kondisinya semakin buruk, dan darah mulai keluar dari matanya.” Kenzo semakin khawatir mengenai mata Frayza.


“Karena penyusup itulah Agen Fred dan Rocker menjadi korban.”


“Rocker anjing pelacak?” hewan peliharaan Kenzo yang pintar.


“Dia tewas tertembak 2 peluru ditubuhnya, untuk melindungi Tuan muda Hikashi. Dan Agen Fred lah yang menciduk penyusup yang mengintai ruang baca.”


“Benar-benar biadap penyusup itu!”


“Mayatnya sudah ditemukan, ternyata seorang ninja senior.”


“Sekarang kita harus menyelamatkan Agen Fred.”


“Betul, semoga dia tidak mengalami nasib buruk.”


Gadis yang matanya terluka itu sedang menahan sakit yang luar biasa. Bahkan dirinya seolah diujung nafasnya. Kali ini dia bertaruh nyawa dan menjadi korban oleh keadaan.


Tap... Tapp... Tapp... Derap langkah kaki yang cepat menuju ruangan Frayza berada.


“Fred!” Dokter Kelvin memeluknya erat.


Tim medis menyiapkan meja operasi dan membius Frayza untuk dilakukan pembedahan. Kelvin sengaja mempercepat kedatangannya, karena difasilitasi oleh Hikashi yang memiliki apapun di dunia ini.


*


*


*


Didalam pesawat pribadi Hikashi, Ramon murung dan membisu. Dia hanya melihawat awan yang beriringan di angkasa. Hatinya sakit ketika mendengar kondisi Frayza yang sudah menurun. Di dalam kabin pesawat ada sebuah kamar tempat Hikashi beristirahat. Punggung lelaki itu terluka oleh dahan runcing yang menancapnya ,ketika melakukan pengejaran di taman labirin.


-------

__ADS_1


Maaf ya, baru up date. kali ini babnya lebih panjang,selamat membaca dan jangan lupa tekan tombol hati dan ketik komentar kalian.Terimakasih.


__ADS_2