
Pagi ini Hikashi sudah berada di ruangan rapat menemui para pengunjuk rasa. Yang merasa dirugikan dengan kebijakan merestorasi sumber daya manusia di Perusahaan tambang dan mineralnya.
“Tuan William saya memiliki anak dan istri, mereka butuh biaya banyak untuk kelangsungan hidup. Kenapa jabatan saya di lorot menjadi oegawai biasa?”
“Apa kau pikir aku tidak tahu, gaya hidup dirimu membuat keluargamu merongrong Perusahaanku. Lihat apakah ada yang salah dari surat hutang Bank yang kau atas namakan Perusahaanku! Masih berani mengelak dihadapanku!”
“Ini adalah fitnah, Tuan William. Aku dijebak!”
“Apakah ada orang yang sengaja menusukku dari belakang dengan berpura-pura menjandi temanku?”
“Aku tidak pernah menghianatimu Tuan William.”
“Jadi kau meragukan kemampuanku? Baiklah, aku akan memperpanjang kerjaku di Cape Town. Agar aku bisa lebih banyak menyodorkan bukti kecuranganmu. Tau jangan salahkan aku bila akhirnya kau berakhir di penjara untuk waktu yang lama. Bila kau tidak dapat mengembalikan uang yang kau curi dari brangkasku. Dan aku tahun juga kau menjual namaku untuk pelaku pasar ilegal yang dilarang.”
“Tuan Williammmm, ampuni aku!” penghianat itu tersungkur dalam penyesalan yang telah ia perbuat dibelakang Hikashi. Namun, Hikashi tak mau bergemin dan memberi kesempatan. Ia lebih tertarik untuk memperbarui peraturan dan sistem modern di Perusahaannya agar menuju transisi.
Terlihat ia tengah memberikan arahan kepada staff pegawai yang baru. Secara khusus didatangkan dari Jepang. Mereka sudah paham bila kondisi keuangan di Perusahaan ini harus segera diperbaiki atau runtuh. Hikashi juga memperpanjang masa kinerjanya, selama berminggu-minggu ia memperbaiki sistem mobilisasi Perusahaan mulai dari lapangan hingga perkantoran. Kejadian di Afrika membuatnya benar-benar lupa segalanya, bahkan jika dia memiliki janji untuk menjenguk putra semata wayangnya di Inggris. Bisnis Hikashi sangat banyak dan mencakup hajat hidup orang banyak. Oleh karena itu ia sedang berjibaku dengan pekerjaan, ai mengesampingkan kepentingan pribadinya.
“Ya Tuhannn, kirimkanlah aku hari cuti yang panjangggg.” Dia Kenzo yang stres dengan tumpukan kertas lemburan.
Hikashi datang dengan wajah yang senang sambil membawa tumpukan berkas dokumen. Dia sengaja mengerjai Kenzo beberapa minggu ini. Dan ternyata ia sudah membuat berkasnya sendiri, berikut dengan tanda tangannya. “Aku kasihan melihat rambutmu yang sudah mulai panjang dan gondrong. Apa disini kau tidak bisa menemukan tempat potong rambut yang cocok?”
“Oh Tuan Hikashi, maaf aku tidak tahu jika anda datang kemari.” Kenzo gelagapan Bos besarnya mendatanginya saat bekerja.
“Tidak terasa kita hampir sebulan berada di Afrika dan bekerja bagaikan kuda gila. Rasanya aku semakin kaya saja hehehe.”
“Jelas saja kaya, orang pencurinya memilih mengembalikan curiannya daripada berlama-lama di Penjara.”
“Jangan menggerutu begitu ah, apa kau belum tahu jika Matsumoto ikut andil dalam masalah kita ini. Dia sudah tiba di Jepang, apa kau tidak rindu dengan Kakak Seniormu yang hangat itu. Ayolah cepat selesaikan pekerjaanmu sebelum malam tiba. Aku akan keluar jalan-jalan keliling Kota, jika kau belum selesai. Maka jangan salahkan aku jika kau terlambat beberapa hari tiba di Jepang.”
“Apa aku tidak salah dengar tentang Jepang?”
“Untuk apa kita berlama-lama disini jika pekerjaan sudah beres semua.”
“Akhirnya aku bisa melihat Gunung Fuji, makan Ramen enak dan pergi memancing di sungai horeeeee.”
Tugas di Afrika sudah berakhir dan terselesaikan dengan baik. Hikashi cukup puas dengan keadaan Perusahaannya yang sekarang. Walaupun sebenarnya ia amat tega mengambil keputusan dengan memecat pegawai yang curang. Dalam hatinya ia memikirkan nasib pendidikan anaknya. Namun, namanya kebaikan harus ditegakkan walaupun menelan kekecewaan.
*
*
*
--- JEPANG ---
Seolah sudah menemukan dunianya yang baru, Frayza usai belajar dan les selalu menghabiskan waktunya untuk hobu barunya ini. Ketika hari sudah gelap dan larut, ia menghentikan semua kegiatan hariannya. Tidak ada ponsel ditangannya, hanya telepon rumah. Seperangkat komputer yang jarang dipakai. Diruangan kerja Hikashi ini nampaknya tidak bernyawa tanpa empunya. Sudah lama, bahkan lewat 2 bulan lamanya Frayza sendirian di istananya. Sikap pelayan dirumahnya juga tidak hangat. Mereka seperti hantu yang tak terlihat, usai mengerjakan tugasnya mereka menghilang. Sekalinya punya suami tidak mengirim kabar keberadaannya. Tahu kabarnya itupun dari liputan berita dan majalah. Benar-benar kehidupan yang sepi bila dijalani seumur hidup begini.
__ADS_1
Frayza usai mandi hanya minum susu lalu tidur, dia tidak selera makan sendirian tiada yang menemani. Semua jadwalnya sudah terkoordinasi sesuai waktunya. Jadi dia sampai hapal kapan waktunya tanpa Pelayan datang memberitahukannya.
“Hheeemmbb, guling ini kenapa bertekstur ya. Kenapa tidak empuk tapi kenyal seperti daging manusia?” dia meracau setengah sadar dari tidurnya. Malam ini Frayza ingin pipis, seperti biasa ia tidur memeluk guling di kiri-kanannya.
Klik, lampu tidur ia nyalakan untuk penerangan. Dia berjalan seperti zombi sempoyongan menuju kamar mandi. Setelah selesai ia masuk kedalam selimut dan tidur lagi. Sampai ketika pagi tiba, dia sebenarnya ingin bangun. Namun, Pelayan tidak segera mengetuk pintu kamarnya. Ini artinya belum jam bangun, jadi ia melanjutkan tidurnya lagi. Sampai akhirnya Frayza merasakan pegal karena terlalu lama tidur.
“Apa sudah jam 9 pagi, apa mereka lupa membangunkanku.” Ia melihat jam yang sudah agak siang.
“Tidur lagii, jangan berisik!” tangan Hikashi menoyor kening Frayza agar tenggelam di bantal.
“Kau!” ternyata semalam dia tidak meraba guling, tapi tubuh lelaki yang kulitnya kecoklatan.
“Kau, kau, tidak sopan!” Hikashi bangkit protes dibilang ‘Kau’ oleh istrinya.
“Sayangku Hikashi?”
“Hhheeee kenapa, aku tambah eksotis ya?” melebarkan senyumnya yang manis.
Frayza langsung bergelut dengan suaminya yang sekian purnama tiba juga. Mereka berguling-guling diatas kasur hingga spreinya koyak. Usai kangen-kangenan didalam kamar Hikashi mengajak Frayza untuk turun mengecek barang bawaannya dari luar negeri.
“Aku tidak pantai memberikan kado untukmu, tapi aku dengar dari Kelvin kau sibuk menggambar. Jadi aku belikan ini di Jepang saja.”
“Peralatan menggambar, wahhh.”
“Aku dengar kau banyak menghabiskan waktu di ruang kerjaku hingga larut, bahkan jarang makan. Lihatlah, kau ini sudah pendek. Kurus pula, semalam tidak ada enak-enaknya dipeluk. Besarkan sedikit bagian yang harusnya menonjol. Tapi kau malah mengempeskan semuanya, hisst dasar.”
“Iya Suamiku, bagaimana aku bisa makan dan hidup enak jika belahan jiwaku berada dibelahan dunia lain. Aku kan tidak istri yang makan dan tidur dengan nyaman tanpa Suamiku.”
“Apa aku tampak sedang membual tapi ketahuan payah?” memicingkan matanya.
“Bukannya begitu Sayang, sejak kapan kau bisa merangkai kata yang membuatku tersentuh. Itu saja.”
“Sebenarnya jika aku marah wajar, karena istri yang ditinggal pergi suaminya tanpa komunikasi dalam waktu yang lama itu siksaan. Bayangkan, dijaman modern ini bahkan aku tidak berkomunikasi denganmu. Sekedar tahu kau sedang apa dan bersama siapa, aku kan ingin begitu. Bukannya disibukkan dengan belajar dan bermain.”
“Ngambek ya, kecewa ya jadi istriku yang tidak bisa leluasa bertukar kabar? Jangan begitu Sayang, aku sengaja tidak melakukannya karena ingin menceritakannya langsung kepadamu. Jika setiap saat aku menceritakan kehidupanku. Bagaimana bisa aku fokus dan tepat waktu bekerjanya. Percayalah Frayza Istriku, tidaklah penting kau merisaukan suami yang bekerja sungguh-sungguh bila ada istri dirumah yang Setia.”
“Suamiku, sepertinya kau sedang mabuk anggur ya?”
“Hhheee aku tidak minum arak, aku hanya minum air putih saja. Memang aromanya ada? “
“Kau bicara sangat memabukkanku fiuuhhh.”
“Hahahaha kau yang lucu sekali Sayang, kemarilah. Akan aku jelaskan kepadamu, dan kelak kau jangan mengulangi hal membuatku jengkel. Kau harus tahu betapa istimewanya dirimu dalam hidupku. Setelah aku kehilangan kedua orang tuaku, kaulah segalanya bagiku.”
“Dan Jade.”
“Oh iya Jade, maaf hampir kelupaan. Efek punya anak 1 jadi tidak berasa kebapakannya hehee, bercanda Sayang.” Mimik muka Frayza cemburut.
__ADS_1
“Awas saja kalau punya wacana tambah anak lewat selir, aku minta cerai!” ancam Frayza.
“Aku tahu kau khawatirkan hal ini juga, Frayza jika kelak aku inginkan anak. Apa kau tidak keberatan bila... “
“Aku tidak mau!”
“Fray, kita belum mencobanya.”
“Aku tidak mau ada wanita lain mengandung benihmu dirahimnya!” Frayza berlari.
Hikashi mengejar istrinya yang menangis terduduk dibawah pohon. Sambil mengusap-usap kepalanya, Hikashi menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi.
“Aku berharap kelak kau bisa hamil buah Cinta kita. Tanpa melalui Selir-selirku lagi, tapi aku tidak tega melihatmu kepayahan dalam mengandung. Membesarkan anak itu berat Fray, jujur aku sangat mencintaimu. Bahkan aku rela membayar mahal selir-selirku jika bisa menggantikanmu.”
“Hikashi, aku akan meminta kepada Tuhan agar rahimku bisa sembuh. Aku ingin mempersembahkan bayi yang lahir dari rahimku adalah darah dagingmu sendiri. Aku tidak memintamu melakukan hal yang melebihi ketidakmampuanku. Tapi, aku ingin menunjukkan baktiku sebagai Istrimu, bahwa aku layak menjadi ibu dari anakmu.”
“Aku mencintaimu Fray, muaaaaaccchhh.”
Mereka berciuman dibawah pohon yang rindang, Hikashi menangkup pipi tirus istrinya. Dia memeluk erat tubuh Frayza yang dalam dekapannya. Cuaca yang terik ini membuat haus keduanya. Datanglah Pelayan membawa nampan berisi aneka jus dan kudapan. Hikashi tidur dipangku paha Frayza. Kepalanya mengusap-usap seolah mencari posisi yang nyaman. Frayza memijat pelan-pelan kepala Hikashi. Sesekali menyuapi buah masuk kedalam mulutnya. Frayza hampir terbius dengan warna merah bibir Hikashi yang mirip buah ceri.
“Sayang, kenapa kau begitu tampan sekali. Sedangkan aku buruk rupa begini, padahal aku sudah di operasi plastik.”
“Apa aku pernah bilang kau itu cantik, kalau bab cantik kau lihat sendiri kan Selirku semuanya cantik-cantik. Jangan berharap aku akan berkata bohong ya hahaha.”
“Iyayaya Suamiku sayang, biar kata aku muka pas-pasan. Tingginya juga sekurcaci juga masih hidup bukan?”
“Hahaha aku puas kau mengakuinya, lalu apa lagi kejelekanmu Sayang?”
“Aku merampas keperjakaanmu yang tidak berguna!”
“Haiiii, beraninya kau mengatai keperjakaanku yang tidak berguna. Aku hanya berusaha menjaga kesucianku. Hingga akhirnya kau menodaiku seperti sekarang, aku bahkan terikat olehmu. Ini adalah ganjaran yang harus kau bayar, menikahiku!”
“Iyaya Sayang, kau yang benar. Tidak usah emosi mencak-mencak begitu. Ayo rebahan lagi, ini pahaku siap menjadi bantalmu. Maafkan mulutku yang ngawur ini.”
“Kemarikan mulut nakalmu, hemmmbbb.”
Tengkuk leher Frayza ditarik kebawah dan mereka melakukannya lagi. Kali ini Hikashi berbalik berada diatas badan Frayza. Diperhatikan wajah istrinya yang putih bersih. Serta rambutnya yang sudah terurai panjang. Aromanya yang Wangi ini menjadi mantra Cinta untuk terus mencumbu istrinya dibawah pohon.
“Fray, apa kau tahu jika ada aku dibola matamu?”
“Hikashi,” tertegun dengan ucapan suaminya yang memandang dalam dirinya.
“Jangan kabur dariku lagi, atau aku akan mati.” Frayza mengangguk mengiyakan.
“Aku akan patuh padamu Suamiku,”
Hikashi kembali menciumi bibir Frayza yang mulai keringat. Kini lehernya digigit oleh drakura jadi-jadian. Mereka pemanasan dibawah pohon disiang bolong ini. Sepertinya kerinduan ini sudah cukup dalam. Bahkan Hikashi tak bisa menahan birahinya kala melihat istrinya yang semakin cantik. Yah, Frayza sudah berubah menjadi wanita tercantik di mata Hikashi.
__ADS_1
“Sayang, aku tidak nyaman disini.” Memalingkan wajahnya.
“Baiklah, aku gendong ke kamar kalau begitu.” Tangan Frayza merangkul pundak lebar suaminya yang kekar. Membuat mata yang memandang iri, terutama jomblo-jomblo ngenes. Maaf ya jomblo, eheee.