TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
KEMBALI PADAKU


__ADS_3

Jade terbangun dari bangsarnya, ia mengintip dari tirai jendela. Wanita berpakaian sedikit kumal itu menangis sambil berjalan. Ia mengepalkan tangannya, geram. Hikashi keluar entah kemana, sepertinya pria itu tidak mengejar Frayza. Jade kemudian menanggalkan baju pasien. Rasanya ia ingin mengejar ibunya, wanita yang telah lama hilang sosoknya.


Jade memutar tuas gas motor balapnya, ada beberapa pengawal yang melihatnya. Dan berhasil mengejar laju motornya, dan akhirnya kendaraan milik Jade ini berhenti dijalan.


“Tuan muda, silahkan kembali ke Rumah Sakit. Masuklah kedalam mobil,” pintu mobil dibuka.


“Enyahlah kalian semua!” bentak Jade.


“Tuan muda, silahkan masuk.”


“Kalian ini siapa berani memaksaku hah!”

__ADS_1


Salah seorang dari belakang membekap mulut Jade, hingga ia kehilangan kesadaran. Di tempat lain, Frayza tengah berada di taman bermain. Ia bersembunyi didalam rumah kurcaci. Ia meringkuk didalam, serta menangisi keadaannya. Semua kenangan Indah & saat bersama keluarga kecilnya melintas di benaknnya. Ingin rasanya ia kembali dimana perasaannya hidup. Sekarang ini hatinya mungkin sudah mati rasa, mati tak berupaya apapun. Frayza bahkan menyeka air matanya sendiri. Betapa sakit dan pedihnya keadaan ini, di usia yang sudah tidak muda lagi. Ia harus memasrahkan hidupnya tanpa pendamping.


Waktu sudah berlalu, Seven sudah dirawat dirumah milik Helena. Frayza dipromosikan bekerja di rekanan bisnis Helena. Disebuah toko bunga dipinggiran kota Seoul. Disana ia banyak menghabiskan waktunya dikebun bunga merawat tanaman cantik itu. Kesehatan mentalnya mulai disembuhkan. Hingga hari dimana ia merasakan ledakan emosional memuncah. Sebuah mobil sedan mewah berhenti didepan toko bunga. Beberapa pengawal keluar untuk membukakan pintu mobil si tuannya.


Seorang pria tampan memakai kacamata hitam, memiliki mata yang Indah berkilau bak batu zirkon. Bibirnya yang tipis serta basah, bagai diolesi madu murni. Siapa dia? Dia adalah Jade Demitri Alexander, putra sulung sang konglomerat dari Inggris. Ia datang dan dilayani oleh pegawai lain, namun Jade tidak puas. Ia melihat sepintas seorang wanita memakai apron puth baru saja lewat. Ia memegangi pot berisi bunga sukulen besar, peluhnya bercucuran membasahi keningnya.


“Mama...” sapa Jade.


Frayza tak menoleh, ia fokus merapikan tanah yang tumpah keluar dari pot. Hingga Jade datang mendekatinya, lalu menyeka keringat dengan sapu tangan warna emas miliknya.


“Put... Putraku!”

__ADS_1


Dipeluknya langsung si sulung Jade, selama apapun waktu memisahkan mereka. Akhirnya dipertemukan kembalikan jua, Jade mencari keberadaan Frayza di Korea. Setelah ia berhasil meyakinkan Hikashi sebelumnya. Jika ia akan membawa Ibu mereka kembalilah ke Inggris lagi. Ini sebagai penebusan dosa Jade karena sudah berdusta soal wajahnya.


Keduanya duduk di kursi yang memang disediakan ditaman bunga, toko ini. Frayza menyiapkan teh di cangkir putih, dan Jade melihat ibunya melayaninya. Sungguh ini kenyataan yang ia tunggu begitu lama. Kedua bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing selama terpisah. Jade sedih dan menyayangkan keputusan ibunya. Ia membujuk Frayza agar mau rujuk dengan ayahnya. Namun, Frayza malu jika harus mengakuinya kesalahannya. Ia sadar sudah menuduh Hikashi pembunuh, padahal yang menembak kepala Yuki adalah kepala keamanan Istana atas izin kerajaan.


“Mama, sebaiknya pikirkan lagi tawaranku. Papa sudah lelah menunggumu disana, di usia senja Papa. Ia memiliki keinginan untuk hidup berdampingan denganmu.”


“Ini sudah terlalu lama, kami berpisah dan tak saling tegur sapa. Mungkin rasa itu sudah hilang, atau kami merasa sudah tak saling terikat lagi.”


“Mama, hubungan suami-istri itu lebih kuat dari pada ikatana darah. Karena kalian yang asing pula lah, lahirlah kami darah daging kalian. “


“Jade... “

__ADS_1


“Mama, aku ingin meminta kembali lah di keluarga Alexander lagi. Aku mohon jadikan utuh kembali keluarga yang terberai ini. Papa sangat mencintaimu, bahkan aku berani jamin. Sampa sekarang Papa masih Setia menunggu Mama kembali kedalam pelukannya lagi. Papa tidak pernah marah sedikitpun kepadamu, ia kesal karena Mama susah menurut.”


Frayza mendengarkan nasehat putranya baik-baik, ia menyesap teh yang mulai dingin. Ia mencoba meluruhkan keegoisan hatinya. Mengatur kembali puing-puing hati yang telah rusak oleh peristiwa buruk.


__ADS_2