
Kedua kakak beradik itu segera meninggalkan Istana pribadi kediaman Hikashi.
“Sial, kenapa kau menahan Frayza duduk menemani kita minum!”
“Kau sendiri yang menyalahkan ia duduk bukan!”
“Aku hanya berbasa-basi Takeshiiii!”
“Kalau buat alasan lebih masuk akal lagi bisa tidak. Jelas-jelas kita yang berada ditempat Hikashi, kenapa kita yang menjamu tuan rumah!”
“Ekh iya juga ya, kenapa aku tidak berpikir begitu.” Linglung.
“Cepat, kita harus berganti pakaian untuk pesta dansa. Baju kita sudah kotor dan bau anggur.”
Sementara itu di lantai dansa sudah ada beberapa tamu undangan yang berdasarkan dengan pasangannya. Alunan orkestra mengirim lagu menciptakan harmoni keindahan setiap lantunannya.
Ini adalah kali pertama bagi Hikashi datang membawa pasangan resminya. Biasanya ia membawa Matsumoto disetiap ada kesempatan jamuan. Kini ia tampak gugup dan canggung menggandeng istrinya. Wanita yang sudah membuatnya bertekuk lutut tak berdaya.
“Ingat, selalu menoleh ke kanan!” bisik Hikashi ditelinga Frayza.
“Nanti leherku kram, Suamiku.”
“Lakukan saja, aku akan memijitnya usai acara.” Tambah Hikashi lagi.
“Hemmbb, kau ingin aku hanya melihatmu saja kan?”
“Hhhheee, disini banyak pria tampan.”
__ADS_1
Padahala Hikashi termasuk kategori pria tampan, tapi kenapa alasannya tidak masuk akal? Kan beberapa tamu ada yang usianya sudah tua. Mana ada tampan-tampannya juga kan. Benar-benar sikapnya mulai posesif.
“Lihat aku saja Istriku, jangan menoleh kiri. Lihat ke kanan, perhatikan diriku saja!” paksa Hikashi lagi.
“Tahu ah serah sana.” Memutarkan bola matanya kesal.
Para kerabat yang turut menjadi tamu undangan menyapa Hikashi dan bertukar kabar. Beberapa rekan bisnis yng potensial baginya di masa depan. Ada beberapa politikus terkemuka yang berbincang dengan Perdana Menteri. Mereka saling bicara dengan koleganya, sedangkan para wanita mencicipi hidangan.
“Suamiku apakah aku boleh ambil sirup?”
“Jangan sekarang Fray, nanti ya kalau aku selesai bicara dengan rekanan bisnisku.” Mengusap dagu istrinya.
Hikashi sengaja menjepit pergelangan tangan Frayza di sikutnya. Dengan cara ini Hikashi bisa membelenggu aksen istrinya. Ia lebuh tenang bila Frayza berdiri disampingnya. Selain takut istrinya hilang, ia juga wanti-wanti jika saudara sepupunya godain istrinya lagi. Memang kakak-beradik tidak bisa meleng lihay barang Bagus. Dan jujur saja, Hikashi masih cemburu ketika mendapati istrinya dipangan pria lain.
Walaupun Frayza kehausan, tetapi Hikashi tetap keukeuh mengekang istrinya. Sampai akhirnya ada kesempatan dansa. Hikashi mengulurkan tangannya, mengajukan diri sebagai pasangan dansa.
“Beri aku kehormatan untuk berdansa denganmu Nona manis.” Setengah membungkuk menawarkan dirinya.
“Mari kita berdansa istriku.” Tangannya sudah saling menautkan. Tinggal mengikuti ritma musik disetiap gerakannya.
Hikashi yang sudah mengenal tradisi ini ia tidak mengalami kesulitan yang begitu besar. Masalahnya ada di Frayza, ia adalah tipe wanita yang tidak pernah belajar dansa. Hikashi berjongkok melepas sepatunya, mempersilahkan kakinya untuk diinjak. Ini adalah metode yang sering digunakan bila pasangannya tidak bisa berdansa dengan baik. Berat Frayza tidaklah jadi masalah untuk Hikashi. Selain mungil, postur tubuh Frayza yang ramping begitu nyaman diajak berdansa.
“Kau sangat cantik wahai Istriku.”
“....” tersipu malu.
“Kau menggemaskan sekali, cuph.” Memberikan kecupan dikening.
__ADS_1
“Awas ada yang memperhatikan.” Lirih suara Frayza yang tertahan malu.
“Muaaaahhh hhmmmb.” Mendaratkan ciuman lembut di bibir merah merekah.
Hikashi memberikan ciuman yang lembut dan lama-lama menjadi brutal. Begitu bernafsunya, tanpa Frayza sadari. Kini ia berada di ruangan lain bersama Hikashi. Sebuah ruangan dengan sofa besar dan panjang. Didepannya ada beberapa buah dan kue lezat. Diantara kursi satu sama lainnya diberi pembatas vas bunga. Agar orang yang duduk di kurai sofa panjang ini bisa nyaman duduknya.
“Kita pemanasannya disini saja ya Sayang?”
“Disini?”
“Hu’um.”
“Tapi kenapa disini, di sebelah kita ada orang. Jangan ah malu!”
“Hilih kenapa malu, aku tampan dan berkarisma. Kau cukup memejamkan matanya dan letakkan tanganmu di leherku. Oke?”
Kalau sudah bilang gini artinya si Bos emang maunya begini. Si istri yang sudah masuk di permainan Hikashi terpaksa diam pasrah. Sesekali ia menyesap bibir suaminya yang tidak merokok. Pria yang bibir dan aroma rongga mulutnya terjaga kebersihannya. Membuat Frayza tak berdaya yang jatuh terebah diatas sofa yang empuk. Selanjutnya inti permainan, harus ia tunda. Karena adegan pemanasan ini di ganggu oleh kedatangan dua saudara sepupunya.
“Ternyata kalian disini.”
“Haiiiiih!” umpat Hikashi.
“Aku mencarimu untuk mengajak ancing di kolam istana.”
“Kau sudah memancing amarahku, sekarang kalian pergi!” usir Hikashi.
“Haiii...” protes Takeshi.
__ADS_1
“Kau ini macam bujang lapuk, segara cari wanita yang bisa diajak berumah tangga. Soal Cinta nanti saja hahaha.” Cibir Hiroshi.
Kegaduhan yang tenang sepanjang adegan pemanasan harus segera berakhir. Karena kedua sepupunya yang tidak tahu malu merusak moment hasrat. Hasrat birahi Hikashi naik, saat Frayza mempercantik dirinya. Pertama kali Hikashi berdansa denganya saja sudah membayangkan hal yang tidak-tidak. Bagaimana tidak bangga Hikashi memiliki istri bak Putri kerajaan. Perasaan dan kekagumannya terhadap istrinya tak pernah berubah sedikitpun. Dan Frayza menahan lapar, karena demi memakai gaun yang Indah menyatu dengan tubuhnya yang ramping. Terlebih lagi, Hikashi terus-terusan memujinya dengan kalimat yang membuat wanita candu. kau tampak lebih muda, lebih cantik, dan mengagumkan.