TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
DENDAM DAN CINTA


__ADS_3

Franda benar-benar berada diatas awan, bahkan tawaran dari luar Negeri yang memakai jasanya memberikan gaji yang besar. Bahkan dia mematok nilai kotrak yang sangat fantastis dalam setiap penampilannya. Franda memang terlahir menjadi Dewi yang dipuja banyak manusia. Dibawah TV plasma besar iklan Franda diputar, dari jalanan Julian tak bisa menutupi rasa bangganya terhadap Franda.


“Harus aku akui, bahwa Franda berhak mendapatkan apa yang dia inginkan.”


“Apa kau tidak ingin menjadi Bintang seperti dirinya.”


“Hehehehe, aku? Yang benar saja, bahkan aku sudah tahu dipecundangi wanita nakal saja pasrah.”


“Tunggu, apa yang kau maksut itu adalah kegagalanmu dalam Asmara?”


“Iya, aku pernah salah menaruh hidupku pada wanita yang tidak benar. Dia hamil dengan pria lain, hanya karena aku pernah terikat dengan wanita yang bernasib malang seperti dirinya. Dengan polosnya aku menerimanya, seolah aku sedang membayar hutang di masa lalu. Aku membayangkan kehidupan wanita yang harus hamil dan membesarkan anak seorang diri begitu berat. Dia masih beruntung bisa menimang bayinya, sedangkan wanita yang aku kasihi dulu harus mengalami keguguran dua kali. Dan kini dia telah tiada, bahkan kuburannya tidak ditanah kelahiran kami.”


“Masih ada langit yang sama menaungi, sudah jadi nasib dan takdir. Berusahalah Julian, hidup ini layak diperjuangkan. Sebelumnya kau sudah menyelamatkan dua bocah terlantar, dan terakhir kau bertanggungjawab ibu-anak. Ini proses pendewasaanmu.”


Rose Dan Julian melanjutkan pertemuan mereka dengan menonton bioskop. Dan diakhiri makan malam disebuah kedai makanan Jepang.


*


*


*


#BALI,


Matsumoto marah besar atas pemberitaan Yang mencatut nama Hikashi. Ini adalah tindakan kriminal bila masuk kedalam ranah hukum. Pihak Hikashi bereaksi lunak dengan mengutus Matsumoti ke Singapura guna membahas kesepakatan dengan Franda. Guna meredam pandangan buruk umum kepada Hikashi, tak menunda waktu yang Lama Matsumoto terbang ke Singapura. Sedangkan Hikashi menyendiri dikegelapan kamarnya ditemani suara gemercik air kolam koi.


Niat hatinya ingin menawan gadis Yang diduga pacar Fred, justru berakhir dengan pengakuan Franda yany berbeda. Gadis itu mengerahkan kemampuan aktingnya untuk menarik simpati agar percaya dirinya gadis cantik yang menjadi rebutan para pria. Tidak dipungkiri pula, kecantikannyalah Yang menjadi senjata makan tuan Hikashi. Yang dulunya benci dendam dengan wanita ras Asia, kini dia harus bernegosisasi Demi memulihkan nama baiknya.


Kenzo yang mengerti kegelisahan tuannya itu hanya bisa memberikan perhatian seperlunya saja. Karena Hikashi orang yang dingin dan tak banyak bicara bila tk dikehendaki. “Tuan muda, Kerua Matsumoto sudah bertemu dengan Nona Franda. Dan hasil pertemuan mereka Nona Franda tidak akan melaporkan hal ini ke pihak Kepolisian karena dia masih memikiki hati nurani. Dan satu hal lagi...”


“Apa?”


“Dia ingin diakui sebagai gadis pujaan hati Tuan Muda dihadapan umum dan bersedia menjalani pacaran selama satu tahun. Jika tuntutannya tidak dipenuhi maka, dia akan menyebarkan rumor anda menyiksa wanita penghibur. Dia memiliki rekaman video itu dari ponsel pribadinya.”


Hikashi diam tak berucap apapun, dia hanya membatu dan membisu tak berkata-kata lagi. Tatapannya tertuju pada kolam yang berisi ikan. Clappp... Pedang itu menancap di badan ikan Koi berwarna hitam dan putih. Kenzo paham artinya Hikashi dengan mendapat ancaman. Dirinya lantah meninggalkan Hikashi, hingga namanya dipanggil lagi.


Damora yang sembunyi dibalik pohon Kamboja akhirnya keluar menghadang Kenzo.


“Kenzo, ayo ikut aku!” menarik paksa pria itu ditempat yang aman.


“Nonaaaa...”


“Sssttt... Pelankan suaramu! Ada yang ingin aku tanyakan. Soal gadis yang diculik Hikashi itu, apa benar Matsumoto sedang berunding dengannya?”


“Iya, dan sepertinya Nama baik Tuan Hikashi akan tercoreng dari daftar bangsawan karena skandal ini.”


“Kalau begitu aku titip Hikashi ya, tolong jaga dia.”


“Nona Damora akan kemana?”


“Menyelesaikan hal yang seharusnya aku lakukan ketika dia masih disini.”

__ADS_1


Perkataan Damora seperti sebuah ancaman untuk Franda. Sebelum berangkat pergi, Damora masih menyempatkan diri untuk bertemu dengan Hikashi untuk berpamitan. Usai berlatih pedang, Hikashi menerima kunjungan Damora.


“Hikashi, aku akan membereskan gadis itu.”


“Jangan lakukan hal itu lagi, sekarang aku tahu betapa sakit hatinya ditinggal pergi mati selama-lamanya. Aku mengerti kenapa Ramon bersikeras untuk mengejar anak buahmu. Dia ingin mengimpaskan hutang nyawa yang telah kau renggut paksa.”


“Sejak dulu kau begitu lemah menilai wanita, makanya dirimu menjadikan selir sebagai boneka untuk kepuasanmu menyiksa mereka.”


“Memang apa yang bisa kau dapatkan setelah membunuh gadis itu? Apa kau tidak takut jika ada Ramon lain yang mencarimu?”


“Tidak, karena kau akan melindungiku. Kau adalah malaikatku, terlebih lagi kekasih Ramon adalah ras Asia bukan. Ras yang paling kau benci.”


“Kau tidak akan bisa mengembalikan nyawa orang yang telah mati, tapi perasaan orang yang mencintai tidak akan pernah mati.”


“Makstumu kau menyukai Fred pengawal pribadimu itu? Hikashi, sadarlah dia adalah lelaki. Kau tidak sedang sakit bukan, tolong jangan sebercanda ini denganku.”


“Kau jangan mengelak Damora, jika aku tertarik dengan wanita. Untuk apa kau membunuh Digna dan mencelakai Fred yang sedang memergokimu. Dan kau menyemprotkan gas beracun kematanya. Harusnya kau yang aku bunuh, bukan Franda gadis yang mengaku-ngaku pacarnya Fred.”


“Hi-Hikashiiii jadi kau sudah tahu cerita bohong yang menyeretku itu. Dengarkan aku baik-baik, tanganku ini masih bersih. Dan aku tidak mungkin melakukan hal yang mengerikan itu. Bahkan aku tak bisa membedakan mana cacing dan ular.”


“Tapi aku tahu kau bisa mengubah cemburu menjadi ajal.”


“Hikashiiiii!!!”


Tanpa sengaja Kenzo yang tengah memungut kunci mobil yang jatuh itu mendengar rahasia percakapan. Dia menutup mulutnya rapat-rapat dan sedih mengetahui iblis yang sebenarnya ialah Damora. Bukan Hikashi, pria malang yang selalu dikait-kaitkan dengan hal menyangkut dirinya. Kenzo mengajak ketemu Ramon usai mengantar Damora ke Bandara. Dan hal itu disetujui oleh Ramon, dia akan datang seorang diri menemui Kenzo. Karena Frayza sedang berkomunikasi dengan Rose menggali informasi tentang Julian dan Franda.


“Ramon, sebelumnya aku turut berduka cita atas kematian Fred dan Digna. Ternyata mereka berdua tewas ditangan Nona Damora. Aku tadi pagi tak sengaja menguping pembicaraan mereka. Dan Tuan Hikashi tidak terlibat, dia hanya menghapus jejak alibi yang mengarah ke Damora.”


“Kau pasti geram bukan, aku sangat merindukan bekerja bersama Fred. Kau pasti merindukan Digna juga kan. Atau jangan-jangan wanita itu sudah menggeser posisi Digna?”


“Aku akan membuat perhitungan dengan Hikashi baru Damora. Mereka berdua berkomplot menipuku. Damora membunuh kekasihku, dan Hikashi pula yang menjadi penyebab semua ini. Lelaki yang hobi menculik dan menyiksa wanita tidak layak hidup dengan baik!”


“Ramon, kau jangan gegabah!” teriak Kenzo yang memperingatkan Ramon.


Namun Ramon tak menggubrisnya dan memilih untuk menginjak gas mobilnya pergi. Dan Kenzo menyusul pergi, karena dia melakukan pertemuan rahasia dengan Ramon. Takutnya dia dicurigai membelot dari Hikashi.


Setibanya dirumah, Ramon yang tersulut emosi membanting pintu dan mengemasi kopernya.


“Kau harus bersikap kekanak-kanakan?” celetuk Frayza sambil bekerja di depan komputer.


“Sekarang aku tahu, Damora yang menjadi otak pembunuhan Digna dan peristiwa di taman labirin.”


“Serius?”


“Damora mencintai Hikashi, jadi siapa saja wanita yang berani menyukainya akan berakhir ajalnya.”


“Ramon, setahuku Digna hanya terpesona saja dengan Tuan Hikashi tidak lebih.”


“Damora itu iblis betina yang tidak bisa membiarkan wanita lain menyukai Hikashi. Dan dia jugalah yang menyemprotkan gas beracun dimatamu. Beruntung sebelumnya aku meminta Kelvin membuat laporan kematianmu. Agar si gila Hikashi tidak mencarimu terus. Sekarang Damora akan ke Singapura untuk membuat perhitungan dengan Franda. Gadis yang mengklaim dirinya sebagai kandidat wanita Hikashi.”


“Franda berarti dalam bahaya?” Frayza takut jika Damora membunuh adiknya.

__ADS_1


“Oleh sebab itu, Kenzo memberitahukanku bila Hikashi menyukai Fred dan Franda dia duga sebagai kekasih wanitanya. Sekarang Hikashi sedang berduka atas kematian Fred, jadi ini kesempatan kita untuk membalas dendam kematian Digna. Setelah itu, kita ringkus si gila Hikashi.”


“Ramon, aku bukannya meragukanmu dan Kenzo. Waktu aku menjadi pengawal Nona Damora. Dia tidak apa-apa, bahkan gadis itu tidak tahu mana ular dan cacing. Ini sepertinya Damora yang berlebihan mengancam Hikashi.”


“Terserah kau, tapi setelah aku membuat damora membayar hutangnya kepadaku. Aku akan membuat Hikashi tersesat jiwanya.”


“Ramon, aku peringatkan dirimu sekali lagi ya. Yang berbahaya itu Hikashi, kalau Damora ia adalah bangsawan wanita. Tidak sesuai dengan kodratnya sebagai wanita terhormat. Mengenai dirimu mau balas dendam, aku tidak setuju.”


“Fray, aku tidak memintamu untuk membantuku kembali. Tapi setidaknya percayalah padaku, itu saja.”


“Ramon, aku percayakan semuanya padamu. Tapi tidak untuk membunuh.”


“Aku akan tetap pergi ke Singapura, jika kau masih mau tinggal disini silahkan.”


“Pergilah, tapi kau harus kembali dengan selamat. Jangan menjadi pembunuh untuk membunuh seorang pembunuh.” Frayza menasehati Ramon yang siap berangkat ke Singapura.


Frayza tak mau mengantar Ramon ke Bandara, karena dia masih mengerjakan hal lainnya. Dia mengecek kegiatan Franda yang wara-wiri di dunia hiburan. Namun tiba-tiba ada bayangan yang menyergap dari luar. Bayangan hitam bergerak dan membuat takut Frayza.


“Ah apa itu barusan.” Dia mengusap tengkuknya yang mengekrut.


Lagi-lagi perasaannya mulai tak enak. Dia mematikan komputer dan mencoba menghubungi Ramon. Namun sayang tak ada respon. Bayangan itu tidak hanya satu tapi lebih. Seprtinya Frayza dikepung oleh kawanan yang membahayakan dirinya. Dia tak sengaja mengirim denah lokasinya ke Kenzo. Dimana saat itu Kenzo kebingungan, karena lokasi itu tempat tinggal Ramon.


“Sial, pasti terjadi hal buruk!” Ramon pergi membawa tongkat bisbol untuk berjaga-jaga.


Dirinya melaju cepat kendaraannya, perasaanya tidak tenang. Dia seorang tergerak untuk pergi, tak tahu alasan jelasnya. Hanya saja, Kenzo perlu melakukan ini.


Tiaaarrrrrr, kaca pecah dan beberapa langkah kaki masuk kedalam Villa. Frayza yang sembunyi dibawah meja kerja itu ketakutan. Orang-orang itu mencari sesuatu dari sesuatu dari satu ruangan keruangan lain.


“Kami tidak menemukannya Bos, tapi sepertinya masih ada orang lain disini.”


“Hemmbb, geladah dan cari sampai dapat!”


Brakkkk!!! Pintu kerja yang sekarang menjadi tempat sembunyi Frayza terbuka. Dan orang-orang berpakain preman itu datang. Berhasil menemukan Frayza yang sembunyi dibawah meja kerja yang ketakutan.


“Hai kucing manis, ayo keluar dan bermain-main dengan kami.” Frayza diciduk yang tengah ketakutan.


Kenzo datang sudah telat, seluruh isi ruangan berantakan. Dia mendapatkan ponsel yang sudah hancur berkeping-keping. Ternyata ini adalah ponsel yang mengirim pesan.


• Kenzo : Ramon, apakah kau tinggal bersama seseorang. Dan orang itu mengirim pesan bahaya ke ponselku?”


• Ramon : Maksutmu apa, kau berada di Villaku?


• Kenzo : Karena aku pikir kau dalam bahaya, aku datang kemari. Dan ternyata rumahmu sudah berantakan, seperti usai dijarah orang.


• Ramon : Ya Tuhan, Frayza.


• Kenzo : Apa itu nama wanita yang tinggal bersamamu?


• Ramon : iya, tolong kau cari bantuan mencarinya. Aku akan kembali ke Bali lagi.


Baru saja kaki Ramon menjejakkan di tanah Negeri Singa ini dia harua kembali ke Bali lagi. Dia mencari penerbangan yang paling cepat saat itu juga. Seorang pria melaporkan melihat Ramon di Bandara Changi dan pergi lagi naik pesawat.

__ADS_1


“Rencana sudah berhasil,” ucap pria berkacamata.


__ADS_2