
Patrick sudah berdiri didepan pintu kamar Jade, tangannya menghadang pintu.
“Patrick, aku mau masuk kedalam.”
“Maaf Nona, anda sudah tidak diijinkan lagi masuk kedalam lagi.”
“Ada apa, dan kenapa? Apakah aku berbuat kesalahan?” kepanikan terjadi saat dirinya dilarang masuk kamar anaknya.
“Mulai sekarang tugas anda sudah berkurang, Tuan muda Jade sudah memiliki pengasuh baru. Untuk mengerjakan seluruh tugas anda.”
“Apa! Sejak kapan peraturan ini kau buat, aku adalah ibunya Jade. Bukan seorang pengasuh biasa, tahu kau!”
“Maaf sekali Nona, anda disini hanya bertugas merawat Tuan muda kami. Bukan menjadi ibu dari Tuan muda Jade, apakah perlu sata pertegas lagi?”
“Bicaramu omong kosong! Aku akan mencari Tuan William Hikashi agar ia tahu kau sedang berulah.” Franda menjauh dari kamar Jade dan berjalan menuju kamar Hikashi.
Ternyata yang ditemuinnya tak lain adalah Matsumoto, pria plontos itu membawa beberapa stel baju kerja dan baju santai.
“Apa kau!” gertak Matsumoto yang baru saja menutup pintu.
“Aku tidak punya urusan denganmu, dimana Tuan William?”
“Dia tidak ada didalam! Pergilah!” usir Matsumoto.
Franda menerobos masuk kamar dan mencari keberadaan Hikashi. Namun, kamar besar itu kosong tak berpenghuni.
“Dimana dia bersembunyi?”
“Bicaralah yang sopan, jika kau sedang bertanya.”
“Baiklah, baik. Dimana Tuan William berada sekarang?”
“Beliau sedang pergi berpesta, dia tidak akan pulang beberapa hari ini kerumah.”
“Kenapa, kenapa dia tidak pulang dan berpesta hampir setiap hari? Apa Jade tidak terlalu berharga untuknya? Katakan kepadanya, kembalikan hakku untuk merawat Jade. Atau aku akan membawanya pulang ke Singapura!”
“Hahahaha... Kau mengancamku?”
“Aku serius, dan jangan anggap remeh aku!”
“Jika kau ingin pulang ke Negerimu, dengan senang hati aku berikan tiketnya. Bahkan hari ini juga kau bisa mengemasi sampah-sampahmu!”
“Ketua Matsumoto, kau jangan keterlaluan merendahkanku!”
“Apa kau pikir dengan membentakku begini membuatku takut! Dengarkan aku baik-baik ya Nona Franda, kontrakmu diakhiri oleh Tuan Hikashi. Kemasi barangmu, dan ini tiket pesawatmu.”
Franda mengambil tiket tersebut dan merobek-robeknya menjadi remahan kecil. “Apa kau sedang mengujiku? Aku tidak akan mengangkat kakiku dari sini tanpa membawa Jade bersamaku!”
“Katakan itu pada dirimu sendiri, kau sudah menyia-nyiakan waktumu yang berharga. Ketika Tuan Hikashi sudah membuangmu, sebaiknya kau mencari kehidupan yang baru.”
__ADS_1
“Lihat saja, Ketua Matsumoto. Aku akan bertahan disini demi anakku Jade. Baik kau ataupun Tuan William tidak akan pernah sanggup memisahkan kami.”
“Oh iya?” tangan Hikashi melambaikan jemarinya. Dan anak buahnya datang menghampirinya.
“Ada apa Ketua?”
“Katakan padanya bila dalam waktu 3 hari ini dia tidak pergi, maka Tuan Muda Jada dan Tuan Hikashi tidak akan pernah menginjakkan kakinya kemari lagi.” Matsumoto menyenggol bahu Franda ketika berlalu.
“Apa yang baru saja ia katakan?” bertanya kepada pengawal yang diajak bicara oleh Matsumoto.
“Anda harus pergi meninggalkan kastil ini, sebelum keputusan Tuan besar kami berubah. Karena anda tidak memiliki waktu yang banyak lagi.”
“Tapi apa salahku, sehingga aku harus pergi?”
“Tuan Hikashi tidak nyaman anda berada disekitarnya. Bahkan rumah ini akan direnovasi untuk mendapatkan suasana baru. Saya sarankan agar anda tahu diri dan pergi. Lagipula anda kurang becus merawat Tuan muda Jade. Oleh karena itu, Tuan Hikashi kecewa kepada anda.”
“Hanya karena alasan itu ia mau memisahkannku dari putraku?”
“Selain itu, keberadaan anda mengingatkannya kepada Nyonya kami yang sudah pergi. Jadi, saya minta dengan kerendahan hatinya agar sadar posisi.”
“AKU TIDAK MAU PERGIIII,” Franda sudah mulai digelandang masuk kekamarnya. Dia dikurung daripada menyebabkan keributan yang lebih lanjut lagi.
Didalam kamarnya, Franda mengamuk dan mengeluarkan seluruh isi lemarinya. Dia juga mengacak-acak meja riasnya. Tak sampai disitu saja, dia menulis kalimat umpetan di dinding dan kaca. Ia merasa separuh hidupnya sudah menjadi bagian dari Jade. Ini tidak adil, mengingat selama setahun ini ia sudah menjadi bayangan Frayza. Bahkan ia tidak sefrontal dulu untuk menarik perhatian Hikashi lagi.
Klik... Suara pintu sudah terbuka kuncinya, Patrick masuk membawa amplop besar berisi kartu dan tiket pesawat yang baru.
“Ambillah Nona, dan pergilah dengan tenang. Aku doakan semoga Tuan Hikashi bermurah hati memberimu kesempatan. Untuk menjeguk Tuan Jade sesekali waktu.”
“Maafkan aku, Nona Franda. Melihat tabiat anda yang buruk seperti ini. Merusak kamar yang sudah anda tempati. Adalah tindakan yang tidak terpuji. Anda sudah tidak layak untuk tinggal disini lagi, pergilah dengan cara terhormat. Sebelum kami mengusir anda. Karena Tuan besar berpesan jika sampai ia kembali melihat anda berkeliaran disekitar sini. Maka nasib anda akan berakhir seperti Nona Damora. Ku harap ini bisa menjadi maklum.”
Dan akhirnya Franda luluh juga dengan nasehat Patrick. Masih ingat jelas wajah Damora yang harus meregang nyawa. Dia sudah mendapatkan kompensasi dari Hikashi. Dan jika beruntung dia memiliki kesempatan untuk bertemu Jade lagi. Walaupun itu sulit baginya menahan rindu.
*
*
*
Disebuah kamar hotel yang khusus disewa oleh Hikashi, banju dan gaun sudah berserakan dilantai. Ia keluar usai membersihkan dirinya.
“Ini upahmu untuk semalam,” mengeluarkan beberapa lembar uang di nakas.
“Hemmmb, aku bukan wanita dagangan Tuan. Aku melakukannya karena menyukaimu, tubuhmu, wajahmu, senyummu dan kejantanmu.” Berdiri walau hanya mengenakan selembar kain penutup bagian atasnya.
“Singkirkan tanganmu yang kotor itu! “ Hikashi menepis buaian lembut tangan gadis muda nan cantik itu.
“Tuan William, aku adalah putri dari keluarga terpandang. Walaupun jarak usia kita terpaut jauh, dengan senang hati aku tidak akan menolakmu.”
“Cih, anggapanmu terlalu tinggi tentangku. Kau hanya tisu yang aku pakai untuk mengelap ingus saja. Jadi sadarlah, kau bukan satu-satunya wanita yang naik ke ranjangku. Ambil upahmu dan bersenang-senanglah.”
__ADS_1
“Tuan William, aku pastikan kelak kau akan mencintaiku.” Gadis itu memakai pakaiannya kembali dan tidak mengambil uang yang diberikan Hikashi.
Hikashi tidak peduli dengan perkataan wanita yang menjadi teman tidurnya semalam. Baginya mereka seperti tisu yang bisa ia buang setelah ia pakai. Dirinya merasa tak lagi bisa menghargai wanita lagi. Baginya, wanita adalah sumber masalah dan malapetaka. Sejak ia kecil, hingga memiliki anak kecil.
“Tuan muda, hari ini Nona Franda sudah bersedia keluar dari Kastil.”
“Bagus,” ia mengenakan setelan baju kerjanya.
“Jadwal untuk satu bulan kedepan anda tidak padat. Apakah anda ingin berlibur di Swiss?”
“Tidak, aku tidak mau kesana lagi. Atur saja kunjunganku ke India.”
“Baik Tuan, akan saya kerjakan.”
“Matsumoto, suruh Kenzo untuk mengikuti wanita itu. Awasi gerak-geriknya, jika ia macam-macam. Beri pelajaran saja!”
“Baik,”
*
*
*
Kehidupan baru Frayza dan Seven dimulai. Setiap hari dan sepanjang waktu ibu-anak itu bersama selalu. Julian sebagai paman muda merasakan kehangatan keluarga saat Frayza kembali. Dia menjadi semangat bekerja dan menabung untuk membeli perabotan rumah.
“Kak, aku berangkat ke Butik dulu ya?”
“Iya, aku sedang memandikan Seven. Aku sudah menyiapkan sarapan dan camilan untukmu diatas meja makan.” Teriak Frayza dari kamar mandi.
“Terimaksih Kak, aku sayang kalian berdua hehehe.” Julian mengambil bekal hariannya yang selaly Frayza siapkan.
Keseharian mereka sangat bahagia, dimana Frayza bisa menimang bayinya. Setelah pekerjaan rumah tangga beres. Ia menidurkan bayi Seven, sambil menggambat koleksi terbaru Butik. Sesekali Bibi Fang datang membawa camilan dan buah segar. Keadaan ini tidak terlalu buruk untuk memulai keakrabpan lagi. Walaupun ingatan Frayza belum sepenuhnya pulih, tapi Frayza tahu bila Bibi Fang adalah orang baik.
“Bibi Fang, bolehkah aku minta tolong jagakan Seven sebentar?”
“Tentu saja, kau mau kemana?”
“Ponselku rusak dan sepertinya sudah tidak diperbaiki lagi. Semalam Seven bermain ponsel dan ia melemparkan. Lihatlah semuanya hancur berkeping-keping layarnya.”
“Baiklah, kau pergi saja beli ponsel baru. Aku akan jaga Seven dengan baik.”
Frayza pergi menuju pusat perbelanjaan elektronik, disana ia mencari ponsel yang harganya terjangkau untuknya. Karena sebagai orang tua tunggal dan pengangguran ia harus berhemat. Ternyata uangnya tinggal sedikit setelah membeli popok dan susu Seven.
“Huft, berat sekali menjadi orang tua tunggal.” Menyeka keringatnya dikening. Frayza berdiri didepan jalan penyebrangan sambil memperhatikan kendaraan yang lewat. Ketika lampu hijau, ia melihat sebuah mobil berkap terbuka. Wajah seorang pria yang tidak asing, kakinya mundur melihat pria yang juga menoleh lampu rambu lalu lintas.
Karena gaun yang dipakai Frayza bermotif bunga-bunga warna cerah. Ia mudah menjadi pusat perhatian orang yang melewatinya. Termasuk Frank yang sejak tadi ditatap oleh Frayza.
“Cantik sekali wanita itu, kenapa dia begitu berbeda ya? Apakah aku sebelumnya mengenalnya?” gumam Frank dalam hati melihat Frayza yang berdiri hendak menyebrang.
__ADS_1
Frayza pun merasa dadanya begitu gugup dan ketakutan ketika Frank menatap balik dirinya. Setelah lampilu merah menyala, ia segera bergegas menyebrang. Dengan belanjaan yang dikedua sisi tangannya.