
#LANJUTAN,
“Selanjutnya kita harus apa?” Dokter Kelvin membenahi peralatannya untuk bergegas.
“Kita bakar perahu karet ini untuk menghilangkan jejak, Fray apakah keadaanmu sudah membaik?”melihat Frayza yang usai membersihkan badannya.
“Aku tidak tahu daerah ini, tapi saranku kita haru cari alat transportasi darat untuk keluar daru Negara ini.”
“Aku cek dulu sekitar tempat ini apa ada pemukiman warga.” Ramon mendeteksi pemukiman yang mungkin memiliki kendaraan.
“Kita cari rumah sakit, disana pasti ada ambulans yang bisa kita pakai.” Berjalan kaki menenteng ranselnya. Dokter Kelvin sepertinya mulai santai dengan keadaan ini.
“Hai mana mungkin mereka mau meminjamkan ambulan untuk orang tidak sakit?” Ramkn bingung dengan ide dadakan Dokter Kelvin.
“Tuh,” melengos ke Frayza.
“Aku?” menunjuk hidungnya.
“Masukkan ransel ini kedalam perutmu, dan olesi pelumas ini di paha sampai kakimu. Selanjutnya Ramon membopongmu seolah kau akan melahirkan. Dengan kartu Dokter ini, aku bisa mengambil tindakan medis dimana pun ehhheee.” Menunjukkan kartu saktinya.
“Kita ikuti saja keinginannya, siapa tahu dari ide bodohnya ini berhasil.”
Mereka berjalan mengikuti petunjuk peta elektronik. Setengah hari mereka berjalan dan kehausan akhirnya mereka tiba di perkampungann juga. Sebuah Hotel tua yang dijaga oleh pemiliknya sendiri. Akhirnya ketiga orang itu memutuskan untuk menginap beberapa jam untuk istirahat dan makan.
“Kita bayar pakai apa?”
“Ramon, kau yang membuat ide ini.”
“Fray, kau makan saja. Kelvin, ikut denganku.” Ramon mengajak Kelvjn bicara empat mata. Sedangkan Frayza melanjutkan makannya.
Ternyata Ramon berinisiatif untuk membayar Pemilik Hotel dengan pistolnya.
“Kau gila apa, mereka pikir kita yang akan merampok!”
“Aku tidak bawa uang,” nadanya pelan.
“Kalau tidak bawa uang harusnya mencari Rumah Sakit. Aku kan sudah bilang dari tadi.”
Mereka berdua sibuk beragumen dan saling menyalahkan. Dan datanglah Frayza melerai mereka. “Aku sudah membayarnya, ayo kita naik mobil dan pergi.”
“Apa? Membayar dengan apa?” tanya Dokter Kelvin penasaran, karena Frayza keluar dari gedung tanpa memakai apapun.
“Aku berikan cincinku sebagai jaminan mereka.” Menunjukkan jari manisnya yang tidak memakai cincin.
“Kau menjual cicin pernikahanmu?”
“Huum,” mengangguk.
“Bodohnyaaaaaaaa.”
“Sekarang Hotel ini dan Mereka berdua sudah menjadi milikku. Mereka tidak bisa menjual cincin itu, karena ada nama Hikashi dan kode unik. Aku menjadikannya sebagai jaminannya. Sebaiknya kita cepat pergi dari sini, waktu kita tidak banyak.
Sebuah mobil tua mereka tumpangi, beberapa jam lagi mereka akan tiba di Bandara Perancis. Didalam ransel Dokter Kelvin berkas-berkas palsu milik mereka disiapkan. Untuk melewati pemeriksaan Petugas Bandara.
“Kita tidak punya uang untuk membeli tiket pesawat juga lo. Jangan ngawur kalian!”
“Sudah ikuti kami saja, Frayza sedang mencari hanggar pesawat milik Hikashi.
“Dari informasi yang aku dapar Pangeran Hiroshi sudah membawa rombongannya menggunakan Pesawat kerajaan. Jadi Pesawat milik Hikashi masih disini seharusnya. Aku masih ingat dimana hanggarnya, apa ada diantara kalian ada yang bisa mengemudikan pesawat?”
“Aku bisa, aku akan memakai auto pilot.”
“Hai Ramon, ini bukan permainan ya. Pesawat itu burung besi tahu!” cecar Dokter Kelvin.
“Aku dulu dari Angkatan Udara, sedangkan kau?”
“Huh!” bibirnya ditiup kesal.
“Hehehe kalian selalu begitu ya, ayo kita cepat ke badan pesawat untuk melakukan ijin penerbangan.
__ADS_1
Frayza masih ingat kode keamanan Hikashi jadi dia dengan mudah bisa memasuki akses hanggar dan membawa keluar pesawatnya. Didalam kokpit, Dokter Kelvin merasa sangat gugup karena ini pertama kalinya ia duduk di kursi kemudi yang banyak tombolnya. “Aku akan memberikan kau arahan sebelum kita terbang, kau hanya ikuti arahanku. Jangan sampai salah menekan tombol apapun. Mengerti?” Ramon bersiap-siap menuju landasan pacu terbang. Petang ini Frayza akan pergi bersama timnya menuju Singapura. Perjalanan jauh yang memakan waktu lama, dia berdoa agar bisa selamat sampai tujuan. Didalam kabin pesawat dia sibuk membersihkan luka-lukanya. Tubuhnya mulai deman dan menggigil, dia masuk ke kamar tidur dan meminum obat.
“Fray, apa kau merasa sakit?” Dokter Kelvin menyapanya dari luar.
“Aku mau tidur, Dokter sebaiknya kau tidur juga bila pesawat sudah di mode auto pilot.”
“Hemmb baiklah kalau begitu.” Dokter Kelvin itu sudah membawa nampan berisi makanan dan suplemen obat-obatan.
Di kokpit Ramon berkonsentrasi mengawasi perjalanan pesawat ini. Dia menahan lelah dan kantuknya. Sesekali ia ke kabin untuk membuat kopi pahit.
“Berapa lama lagi kita kan sampai Singapura?”
“Kita akan transit untuk isi bahan bakar, apa kau punya kartu?”
“Ini?”
“Bagus, itulah yang aku suka berteman dengan seorang Dokter. Selalu memiliki apapun yang aku butuhkan.”
“Ramon, aku sudah lelah beberapa hari ini kurang tidur. Aku seperti bola yang dilempar kesana kemari huh.”
“Kita memiliki resiko hidup yang besar, saat berada di Militer kau harus tahu. Menyelamatkan nyawa adalah tanggungjawab seorang Prajurit.”
“Ku masukkan dalam daftar hutangmu ya, kau pinjam untuk beli bahan bakar pesawat.”
“Hehehe iyaya, jangan khawatir.”
Puluhan jam dan Negara sudah mereka lewati. Pesawat berhasil mendarat dengn selamat di Bandara Singapura. Hal yang pertamakali akan mereka lakukan ialah kembali ke Apartemen mewah The Royal Golden. Didalam sana ada brangkas berisi uang milik Hikashi. Dengan bantuan Ramon, akhirnya brangkas itu bisa dibuka.
“Ini uang yang Ramon pinjam darimu. Terimakasih.”
“Hihihi sama-sama.” Menggendong uangnya dengan mata berbinar.
“Lantas apa langkah kita selanjutnya?” Ramkn bertanya pada Frayza.
“Aku akan menghadiri sidang pembacaan dakwaan terhadap Simon.”
“Aku akan ikut denganmu.”
“Virus?” untuk apa virus itu?”
“Aku ingin Simon menjadi inang Virus itu, agar dia merasakan sakitnya hidup.”
“Fray,” larang Simon.
“Biar dosa ini menjadi tanggunganku.”
“Fray, bukan karena Simon sudah membunuh ayahmu lalu kau menjadi jahat. Kau tidak boleh melakukan itu Fray!”
“Kenapa orang baik selalu ditindas? Sekarang aku ada kesempatan untuk membalasnya kau larang. Aku benci padamu Ramon!”
“Maafkan aku Fray, Simon adalah ayah tirimu. Suami dari ibumu dan ayah dari adik-adik tirimu. Biarkan dia mendekam seumur hidupnya dipenjara.”
“Dengan uang yang ia miliki, ia bisa nyaman hidup selamanya di Penjara!”
“Aku akan pikirkan caranya sendiri.” Ramon mengakhiri perdebatan daripada trus berselisih paham.
Dokter Kelvin yang bahagia uangnya kembali menghitung kembali jumlah uangnya. “Aku sebenarnya sungkan meminta ini padamu, tapi Fray mengatakan dia butuh virus untuk mencelakai ayah tirinya.”
“Hai serius ini?” Dokter Kelvin terperangah.
“Hemmmb,” Ramon tak bereaksi.
“Aku tidak bawa sih, kalau begitu aku akan kembali ke Jepang mengambilnya di Lab-ku.”
“Kau jangan ikutan gila kenapa, hai kau ini dokter jangan jadi psikopat!”
“Hehehee asal bayarannya cocok ya boleh-boleh saja lah.”
“Jangan, aku mau pakai cara lain untuk Simon. Selain membunuh, buat dia menjadi orang depresi saja.”
__ADS_1
“Untuk kapasitasku adalah medis, jika boleh saran saja. Kau harus buat Simon dan keluarganya bangkrut dan tidak memiliki sokongan.”
“Aku tidak lihai dalam hal itu.”
“Siapa yang bisa membantu hal ini ya.” Ramon dan Dokter Kelvin berpikir orang yang menguasai bisnis.
Malamnya mereka tidur sangat lelap karena kecapekan. Diam-diam Frayza menyelinap keluar dengan kendaraan sepeda motor. Dia pergi ke rumah Ibunya dan rumah Julian. Dari keterangan yang ia peroleh tenyata Julian dan Franda pergi ke Inggris. Dan Barbara sudah menjual rumah besarnya untuk mengurus kasus yang membelit suaminya. Sekarang Barbara tinggal di Butiknya untuk kelangsungan hidup. Frayza ingin rasanya marah kepada ibunya, karena selama ini dirinya tak pernah diperlakukan dengan baik. Terlihat Barbara tengah menikmati anggur ditengah malam. Seolah pikirannya yang berkecamuk terairat jelas.
“Bu, andai dulu kau menikahi orang yang benar. Mungkin aku bisa diasuh oleh Ayah, sekarang kau menuai karma bukan.” Ucap Frayza dari bawah menatap lurus Ibunya.
Usai dari rumah Ibunya, Frayza kerumah mewah Barbara dan Simon. Ia pernah ingat dulu Julian membobol brangkas milik ayahnya. Dengan bantuan alat milik Ramon, Frayza menggasak habis seluruh isi brangkas itu tak bersisa. Dia memasukkannya kedalam tas besar, sangat merepotkan menengkan 2 tas berukuran besar ini. Dia kemudian menaruhnya didepan dan belakang, langsung melajukan sepeda motornya untuk membawa uang hasil jarahannya ke Royal Golden.
Ramon merasa tidak tenang tidurnya dan bangun, dia melihat ada bayangan hitam menyelinap masuk membawa barang bawaan.
“Pencuri!” mengunci tubuh orang yang dicurigai.
“Uhuk, Frayza akkkkuuu uhuk.”
“Kau?” mendorong lepas Frayza.
“Aku dari rumah ibuku mengambil ini.” Memperlihatkan uang hasil jarahannya.
“Fray, kau mencuri?”
“Tidak, aku hanya mengambil yang sudah mereka peroleh selama ini. Ini ada uang mikik suamiku, dan uangmu. Aku ganti semuanya, sekarang kau sudah bisa bebas tugas. Sisanya biar aku yanh selesaikan.”
“Fray, jangan keras kepala. Aku sudah berniat dari awal untuk membantumu. Artinya kita lakukan ini sampai selesai, oke?”
“Baik kalau begitu, aku terima bantuanmu.”
*
*
*
Paginya Dokter Kelvin bertolak ke Jepang untuk kembali bekerja. Diantar Ramon di bandara, sedangkan Frayza menghadiri sidang perdana Ramon. Ia memakai kacamata hitam dan rambut palsu pendek. Dikursi pengunjung ini Frayza tidak sadar bahwa Kenzo sudah mengawasi gerak-gerik orang aneh dalam ruangan. Ia duduk di barisan paling depan, dan Frayza di bangku paling belakang. Menyadari hasil sidang tidak memuaskan, akhirnya Frayza pergi keluar lebih awal.
“Bisakah aku meminta salinan rekaman ruang sidang ini?”
“Untuk apa Tuan Kenzo?” tanya pengacaranya.
“Aku melihat seseorang yang mencurigakan. Berikan aku salinannya,”
“Baik nanti saya akan lobi orang dalam.”
“Kalau begitu, kita akan berjumpa di agenda sidang berikutnya.” Pesan Kenzo kepada Pengacaranya.
Kenzo mencoba mengikuti dan mencari wanita yang berpakaian aneh itu, mulai dari dalam hingga halaman parkir. Simon tampak masuk kedalam mobil tahanan dengan tangan terbolgol. Dia menundukkan kepalanya seolah beban menampakkan wajahnya. Beberapa wartawan yang menanyainya tidak ia gubris dan memilih cepat-cepat masuk mobil tahanan.
“Ck! Siapa wanita itu.” Kenzo sudah kehilangan jejak Frayza yang menyamar.
Mobil tahanan yang membawa Simon sudah keluar dari halaman Pengadilan. Ketika Kenzo baru duduk dimobil, terdengar dentuman keras menggelegar. Seperti suara ledakan bom dari radius terdekat. Orang-orang mengalami kepanikan karena suara dentuman keras ini.
“Ada mobil terbalik!” teriak seorang saksi mata.
“Mobil terbalik? Dimana?” Kenzo keluar dari mobil dan berlari ke asal kebulan asap hitam.
Ternyata mobil yang membawa tahanan ini terbalik karena mengalami ban pecah. Dan menabrak truk pembawa tabung gas. Akhirnya terjadilan kebakaran hebat. Kenzo yang berada ditempat kejadian ini mencoba menolong pengumpan mobil tahanan ini. Karena kobaran api sudah membesar. Dia mengambil kunci mobil kunci belakang dan mengeluarkan Simon. Tapi memang Simon yang sudah licik ini berniat kabur dalam situasi genting ini.
“Simon Xi Huang berhenti!” peringatan dari Polisi.
“Hahaha aku tidak bersalah, weeeeweeeee.” Kecoh simon. Dia berlari ke seberang jalan, dan melompati pembatas jalan. Ternyata ada mobil yang sudah bersiaga untuk membantu Simon kabur.
Frayza yang sudah memantau pergerakan Simon itu menarik gas sepeda motornya. Ketika Simon hendak menyabrang lagi, Frayza menyerempet Simon hingga terpelanting jatuh.
“Serang bajingan tengik itu!!” Seru Simon diatas aspal jalanan terkapar.
Ternyata Simon membayar orang suruhan untuk melarikan diri. Dan benar Frayza dalam keadaan bahaya, anak buah Simon mengeluarkan pistol. Karena panik, Frayza mengendarai zigzag motornya agar tidak terkena tembakan. Anak buah Simon terus memberondong tembakan ke arah Frayza. Dan Polisi yang terluka itu akhirnya memberikan tembakan peringatan kepada anak buah Simon. Dan akhirnya terjadi baku tembak antara Polisi dan anak buah Simon. Sementara itu, Kenzo menarik tubuh Simon ke tepi jalan. Dibalik jasnya, Kenzo sudah menodongkan pistol agar Simon tidak melawan.
__ADS_1
“Masuk kedalam mobilku!” perintah Kenzo. Nasib sial Simon yang berencana kabur ini terendus oleh Frayza lebih dahulu. Kini Kenzo sudah menyandera Simon untuk diserahkan kepada Polisi.
Dalam benak Simon, apakah wanita itu pembelot atau musuh Simon. Hal yang patut ia selidiki. Dan Kenzo masih mengingat nomor kendaraan motor yang digunakan Frayza itu palsu. Tapi ia ingat sengan seri motor yang dipakai Frayza itu sangat jarang pemiliknya.