
Malam harinya Frayza membereskan ranjang untuk merebahkan tubuhnya, ia memilah rancangan baju yang cocok untuk Hiroshi kenakan. Kemuadian ia berjalan menuruni anak tangga, karena terlalu fokus.
“Ahh...”
“Sebaiknya kau perhatikan jalanmu.”
“Terimakasih...” berdiri dengan baik.
“Andai tadi aku tidak memapahmu mungkin kau bisa terluka dibagian badanmu.”
“Aku terlalu keras berpikir memilih setelan yang cocok untuk Hiroshi. Aku ingin mengirimnya lewat faxs, jadinya terburu-buru.”
“Kau harus waspada ketika bekerja, terlebih saat menuruni anak tangga.”
“Terimakasih Pangeran Takeshi, aku berhutang nyawa padamu.”
“Aku kemari untuk mengajak minum Hikashi, dimana dia?”
“Hohoho dia sudah tidak minum alkohol sejak kami pindah keyakinan agama.”
“Wauw waw waw... Sepertinya ini topik yang menarik. Bagaimana kalau kita bicaranya di tepi kolam renang?”
“Aku kirim gambar ini ke Hiroshi dulu ya, agar dia cepat menentukan pilihannya.”
“Baiklah, kalau begitu aku siapkan soda dan buah.”
“Setuju, tapi aku tidak minum soda. Bagaimana kalau susu rendah lemak saja?”
“Baiklah tuan Putri...” Takeshi mempersilahkan Frayza untuk pergi menyelesaikan tugasnya.
Sementara Frayza sibuk diruangan kerja suaminya. Ia menemukan sebuah foto Hikashi menunggang kuda dengan senapan panjang. Suaminya tampak begitu gagah saat berburu, sayang sekali ia tidak begitu suka cuaca terik di Afrika.
Takeshi yang memang dasarnya tidak bisa membedakan buah dan sayuran, akhirnya mengundang kerepotan Kenzo. Disiapkannya kudapan untuk menghabiskan waktu ditepi kolam.
“Darimana bakatmu itu kau dapat?”
“Aku?”
“Iya, kau bisa membedakan mana melon dan mentimun.”
“Itu mudah Tuan Takeshi, hanya 1 caranya. Maka kau akan serba bisa?”
“Benarkah?”
“Iya, kau hanya perlu melakukan 1 hal yg ini saja, maka kau akan bisa mengerjakan segalanya.”
“Beritahu aku cepat!”
“JADILAH MISKIN.” Bisik Kenzo membawa nampan.
“Haii... Kau tau sekarang bicara dengan siapa! Jangan berbohong kepadaku Kenzo.” Mengejar Kenzo yang berjalan menuju kolam.
“Aku serius Tuan Takeshi, apakah selama ini si kaya mengerjakan keperluannya sendiri?”
“Tidak!”
“Si miskin kan yang mengerjakan semuanya, otomatis orang miskin itu serba bisa. Dan orang kaya itu, pakai uangnya untuk memudahkan hidupnya. Masuk akal tidak?”
“Hai tapi kenapa harus miskin, kan semua itu bisa dipelajari?”
“Orang miskin secara alami nalurinya, sedangkan orang kaya perlu membayar pembimbing. Bukankan begitu mekanismenya?”
“Sial, kenapa aku dulu tidak lahir sebagai orang miskin ya.”
__ADS_1
“Sebaiknya Tuan Takeshi menyerahkan seluruh harta dan kekayaanmu kepada orang yang membutuhkan.” Mengedipkan matanya.
“Kau?” menunjuk Kenzo.
“Hemmbb...” memutarkan bola matanya.
“Lewat mimpi saja, aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa adanya uang bagaimana. Pasti sangat berat hidup dijaman sekarang sebagai orang miskin.”
“Tapi orang miskin serba bisa kan?”
“Iya juga ya, tapi kenapa orang kaya tidak bisa seperti orang miskin?”
“Sudah aku jelaskan tadi Tuan Takeshi, anda tidak perlu bersusah payah uang anda sudah melimpah. Bahkan ketika anda tidurpun, saldo rekening anda naik terus.”
“Hehehe kau tahu banyak ya ternyata.”
“Aku sudah lama ikut Tuan Hikashi, Matsumoto juga banyak mengajariku?”
“Eh kemana dia perginya?”
“Entahlah, sejak kajarian kencan butanya dengan Dannis gagal. Ia melarikan diri kemari untuk mengobati patah hatinya.”
“Siapa yang patah hati?” Potong Frayza.
“Matsumoto.” Jawab Takeshi.
“Hah, Matsumoto bisa patah hati? Yang benar saja!” terkejut.
“Nona Frayza sebaiknya tidak perlu kaget begitu. Bukannya dulu waktu kita menjadi bawahannya sudah tahu kebiasaan anehnya itu.”
“Kau benar, bahkan didalam dompetnya ia menaruh foto Dannis. Sangat mengesankan sekali.”
“Seberat itukah dia mengidolakan artis Bintang film panas itukah?”
Mereka bertiga menghabiskan waktu mengobrol hal-hal ringan sebelum tidur. Takeshi kesepian berada di Hotel, ia isenh kalau saja Hikashi mau diajak bermain. Eh taunya ketemu Frayza dan Kenzo. Jadilah sekarang mereka asik bercengkrama di tepi kolam.
Sayup-sayup suara gelak tawa yang riuh itu masuk ke gendang telinga Hikashi. Ia terbangun dan menoleh jam weker. Sudah jam 10 malam, ia terbangun dari tidurnya. Segera ia turun dari ranjang, memakai kimono sutra warna merah hati. Ia menelusuri asal mula suara riuh itu berasal.
“Hahaha dia memang kejam.”
“Dan setiap pagi sebelum bertugas, ia selalu rutin mencukur plontos kepalanya.”
“Bahkan dia tidak segan-segan membuat kami kesulitan latihan fisik. Ckckck kalau aku ingat hampir saja mati masuk jurang.” Kenang Frayza.
Cuphh... Kecupan dibahunya membuat bergidik tubuhnya. Hikashi duduk menyilang didekatnya.”Dan aku datang menolongmu memakai seutas tali.”
“Dan bergantungan diudara, adegan itu sangat keren.” Kenzo mengingat kejadian yang mengerikan itu.
“Ssaa-sayang, kenapa kau bisa sampai kemari?” Frayza gugup suaminya sudah melingkarkan tangannya.
“Suara tertawamu membangunkanku tidur.” Meletakkan kepalanya dibahu Frayza dengan manja.
“Hikashi, apa kau demam?” tanya Takeshi.
“Tidak, aku normal.” Jawabnya semakin ketat memeluk istrinya.
“Lalu kenapa kau menggelayut seperti koala?”
“Ini istriku.” Jawabnya malas.
“Oh ya, aku istrimu?” ketus Frayza.
“Haiii!” Hikashi mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
“Aku mau mengiris buah lagi di dapur kalau begitu.” Kenzo mengambil langkah seribu.
“Aku kau belajar mengenal buah-buahan bersama Kenzo kalau begitu.” Susul Takeshi.
Sepertinya aura percikan amarah Frayza mulai berkobar. Setelah beberapa hari ia tahan-tahan. Ia mendorong tubuh Hikashi untuk melampiaskan kekesalannya.
“Fray!” geram Hikashi.
“Apa!” sahut Frayza kesal juga.
“Apa masalahmu!”
“Kau!”
“Aku kenapa?”
“Tidakkah kau tahu kalau kita kemari untuk apa?”
“Kita berlibur Sayang. Apa kau tidak suka?”
“Hohoho.” Berkacak pinggang mencak-mencak.
“Apa ada yang kau inginkan?”
“Iya ada!” melotot.
“Jangan begitu, kau tampak seperti istri-istri yang telat terima gaji suami.”
“Huft, sekarang kau takut kepadaku Hikashi!”
“Fray, kita sedang liburan oke. Kau sibuk bekerja dan mengotori ranjang. Aku tidak marah, oke.”
“Apa, jadi kau tersinggung aku mengotori ranjangmu yang terhormat itu? Jadi kau tidak suka? Baiklah mulai sekarang, aku akan bekerja di lonteng saja.” Frayza berjalan menghentakkan kakinya kesal.
Byuuurrr... hikashi yang belum sepenuhnya ngupul nyawanya. Kecemplung kedalam kolam renang.
Blubupp... Bluuubuppp..”Haaahhh tolong.... Tolong... Aku tidak bisa berenang!” teriak Hikashi dalam riak air kolam.
“Sial!” Frayza menoleh berlari masuk kedalam kolam renang. Ia menyelam dan menyelamatkan suaminya.
Dibantu Kenzo dan Takeshi keduanya diangkat dari air. Frayza tidak apa-apa, namun Hikashi harus dipapah untuk naik ke kamar. Sesampainya didalam kamar, Frayza mengganti pakaian Hikashi. Ia hanya mengenakan handuk kimono. Karena bajunya ikut basah kuyuh tadinya.
“Fray...” panggil lirih.
“Sssttttt...” agar Hikashi diam dulu.
“Dinginnnn...” menggigil.
“Kau sudah aman, sekarang udaranya jadi hangat.”
“Brrrrr...” semakin kuat menggigilnya.
Frayza tahu suhu air dimalam hari sangatlah menusuk tulang. Apalagi Hikashi tidak bisa berenang. Akhirnya Frayza masuk kedalam selimut, lalu memeluk suaminya. Jujur saja, tubuh Hikashi sangat dingin sekali. Ia semakin merapatkan tubuhnya agar bisa menyalurkan suhu hangat.
“Ekhhmmm.” Menggeliat.
“Kenapa?” wajah Hikashi sudah tepat berada didepannya.
“Terimaksih sudah menyelamatkan nyawa hidupku, muacchhh.”
“Aku...” tersipu malu.
“Biar aku yang memelukmu sampai pagi, aku merindukan istri kecilku yang nakal.” Mempererat dekapannya.
__ADS_1
Frayza akhirnya luluh dengan perlakuan Hikashi baru saja. Inilah bagian terbaik dari liburannya, seranjang bersama suaminya merasakan dekapan hangat. Pria itu tersenyum sembari menciumi wajah istrinya. Ia benar-benar sudah menjadi suaminya yang kemarin menjelma menjadi lajang.