
Wali kelas memberikan pidato untuk beramah-tamah terlebih dahulu. Para undangan wali murid ini menjadi sedikit berbeda dengan kehadiran Hikashi. Pria itu terus mengawasi mata-mata sekelilingnya. Dalam hatinya ingin sekali mematikan mikropon wanita gendut yang terus bicara hal tidak menarik.
“Kau sedang apa?” bisik Frayza
“Melihat orang tua yang hadir.”
“Memang ada yang menarik?”
“Kau yang menarik, makanya mereka memelototimu.”
“Ayolah Sayang, kita sudah tua.”
“Kau fokus saja dengarkan ceramah wanita yang ujung-ujungnya minta sumbangan dan kenaikan biaya.”
“Kau ini!” mencubit perut suaminya.
“Awas kalau kebawah lagi kau mencubitnya, ku gigit telingamu.” Bisik Hikashi sedikit mendesah. Membuat leher Frayza bergidik, pria itu tersenyum puas akan ulahnya baru saja.
Selama pidato dan beberapa sambutan akhirnya sampai juga pada pokok pertemuan ini. Sekolah akan mengadakan pekan olah raga kenaikan kelas. Diharapkan orang tuan murid dalam ikut serta perlombaan ini hal ini bertujuan untuk melatih kekompakan. Dan menambah keakraban antar orang tua yang anaknya sekolah disana.
“Mama apakah kau bisa ikut?”
“Tentu saja Jade, Mama sangat menyukai olah raga.”
“Kau melupakan Papa?” menunjuk hidungnya.
“Bukannya Papa orang yang selalu sibuk.”
“Katamu mau menyelesaikan pekerjaan istana bersama Hiroshi?”
“Ada apa dengan Pangeran Hiroshi memangnya? Potonh Jade.
“Pangeran Hiroshi adalah adik sepupu Papa, Jade. Beliau akan meresmikan pertunangannya dengan Putri Aiko.”
“Wah berarti selama ini Papa salah satu keluarga kekaisaran dong?”
Si bapak narsis membenarkan dasinya, serta duduk lebih tegak lagi. Sikapnya keluarga ini didalam pertemuan menjadi sorotan bagi orang lain. Bagaimana tidak, yang lain hanya diwakili salah satu orang tuanya. Sedangkan Jade bersama kedua orang tuanya lengkap. Sepasang suami-istri yang serasi dari paras dan status materinya.
“Ssssttt jangan berisik, wali kelasmu mau memberikan pengumuman penting!”
Keduanya langsung diam memberikan tangan ‘OK’ di jari.
“Dan untuk menunjang sarana fan prasarana sekolah. Maka pihak sekolah akan membangun lagi beberapa bangunan dan menambah unit peralatan penunjang lainnya. Oleh karena itu sekolah ingin agar wali murid menyerahkan sumbangannya secara sukarela. Sesuai dengan lampiran didalam amplop masing-masing. Semuanya bisa menyesuaikan kemampuan donasinya. Tidak ada paksaan, hehehe.”
Beberapa wali murid yang penasaran membuka isi surat. Ternyata mereka mendapatkan jatah setor donasi sesuai kemampuan ekonomi. Sontak saja, mereka yang merasa keberatan langsung mengajukan keringanan.
“Mama kenapa angkat tangan?”
“Karena ini nominalnya sangat besar Jade. Ini hampir gaji Mama sebulan kerja di Butik.”
“Coba aku lihat sebanyak apa dananya.”
Hikashi melihat detail uang sumbangan sekolah yang diwajibkan. Bagi seluruh siswa yang menempuh pendidikan disana. Sekolah Jade berbasis internasional, karena menggunakan berbagai macam bahasa sebagai alat komunikasi. Belum lagi kapasitas siswa dalam saru kelas terbatas 20 orang anak saja. Itupung yang kelas reguler, belum yang kelas khusus dengan guru asing.
“Baiklah Nyonya yang berada disana, apakah anda keberatan dengan besaran yang kami tentukan?”
“Itu aku,” berhenti bicara.
Tangannya ditarik turun Hikashi yang melarang istrinya keberatan dengan pengumpulan dana. Suaminya malah berdiri dan membuat dirinya semakin bingun. Semoga saja Hikashi tidak ngajak ribut wali kelas Jade.
“Ekhemb, sebelumnya saya mau memperkenalkan diri saya selaku orang tua dari Jade Dimitri Alexander. Jujur saya sangat mendukung pembangunan di lingkungan sekolah ini. Dan saya tidak segan-segan membantu segala prosesnya. Jika memang diperlukan.”
“Maaf, apakah anda sedang menawarkan sesuatu Tuan?”
“Hemmb betul sekali.”
“Menurutku anggaran ini terlalu riskan untuk disetor dananya ke akun rekening anda pribadi. Terlebih lagi, dari data yang saya peroleh. Seluruh dana dan pengaturan tentang pengelolaan sekolah ini sudah dikuasai pihak yayasan. Jadi bolehkah saya bertanya, dengan masuknya saldo ini ke rekening pribadi anda. Akan digunakan untuk sarana apa?”
“...” wali kelas Jade menjadi tegang wajahnya.
Beberapa wali murid berdiskusi tentang pernyataan Hikashi. Semuanya mulai ricuh mempermasalahkan pembangun apa lagi? Sedangkan sekolah ini adalah yang terbaik standarnya. Tidak mungkin menyuruh setor dana tapi masuk ke akun pribadi oknum sekolah. Lantas bagaimana kinerja pihak Yayasan jika tahu hal ini?
“Kau mau korupsi uang kami ya!”
“Apa uangnya mau kau pakai untuk sedot lemak?”
“Pantas saja dia membagikan surat ini ternyata ingin minta donasi.”
__ADS_1
“Kami akan melaporkanmu kepada pihak sekolah. Dan kau bisa dipecat!”
Orang-orang tua menjadi ricuh serta mencaci wali kelas yang sudah terpojok. Wanita itu kemudian menyudahi rapat dengan wali murid. Dan berpesan untuk tidak memperpanjang masalah ini. Ia berjanji akan merevisi lagi soal dana bantuan sekolah.
“Kenapa kau bisa tahu akan terjadi hal ini?”
“Apa kau tidak tahu dulu aku pernah besar disini?”
“Oh iyaya ya.”
“Papa kau keren.” Mengacungkan dua jempol tangannya.
“Hehehehe aku tahu itu Jade.” Dengan narsisnya mengusap rambutnya yang klemis.
Hari ini Hikashi menjadi pahlawan bagi orang tua murid. Hampir saja mereka menyetor uang itu ke akun pribadi Bank milik wakil kelas mereka.
Berita ini cepat menyebar diseluruh sekolahan. Bahkan kepala sekolah selaku penanggung jawab menjalani sidang dengan dewan pengurus yayasan. Ternyata benar diadakan penggalangan dana untuk sekolah, tapi nominalnya jauh dibawah yang tertulis. Ternyata pihak wali kelas Jade hendak melakukan keuntungan pribadi. Karena ia sudah memiliki data lengkap orang tua muridnya. Ia menyadari bahwa orang tua muridnya berasal dari kalangan orang mampu. Jadi ia menggunakan kesempatan ini untuk memanipulasi data keuangan.
Tapi sayangnya, ia harus bertekuk lutut dihadapan Hikashi. Pria itu berani dengan lantang menanyakan perihal dana pembangunan. Sehingga wali murid yang sudah ia giring menurut, menjadi melawan balik dirinya.
“Kenapa uangnya belum masuk ke rekening Bank ku!”
“Ma-maafkan aku Kak, tadi aku hampir celaka dikeroyok wali murid kelasku.”
“Apa! (Mendorong tubuh wanita berbadan tambun itu hingga Mentok ditembok) kenapa kau begitu bodoh Tamiko!”
“Ada seorang wali murid yang menyadari kejanggalan pada aliran dana yang masuk ke rekening pribadiky Kak. Jadi ia memprovokasi wali murid lainnya untuk mendesakku berkata jujur.”
“Bodoh! Dasar bodoh, adik tidak berguna kau Tamiko!” wanita yang disebut kakak tadi melemparkan bantal dan benda kecil lainnya. Ia melemparkan semua barang yang bisa diraih. Bahkan ia tak segan-segan untuk menyakiti Tamiko.
Walaupun Tamiko memiliki tubuh tambun dan besar, ia tidak memiliki keberanian untuk melawan. Bahkan melawan kakaknya saja ia tidak berani.
“Sia-sia aku menyekolahkanmu hingga universitas. Untuk mencari keuntungan di sekolah kau mengajar saja tidak bisa!”
“Kak, lain kali aku akan lebih hati-hati.”
“Apa katamu? Hati-hati kepalamu!”
“Aku memang tidak berguna Kak.”
“Kau memang sampah tidak berguna Tamiko!”
“Jadi kau hanya di skorsing saja ya?”
“Iya Kak.”
“Hemmb bagus, artinya kau masih bisa bekerja disana. Aku ada ide......” membisikkan rencana busuknya yang baru.
Malamnya Tamiko bersama kakaknya ke toko yang menjual keperluan pertukangan. Ia membeli beberapa alat yang dibutuhkannya. Setelah itu mereka memasukkan data siswa dari kalangan berada. Termasuk Jade, karena orang tuanya tinggal dikawasan elit dan mahal.
“Apakah dia siswa yang paling kaya, kenapa kau melingkari namanya?”
“Ayahnyalah yang membongkar kejanggalan saat rapat. Begitu arogan dan tidak tahu diri!”
“Hemmb, namanya tidak begitu asing.”
“Kalau tidak salah aku dengar, ia salah satu anggota keluarga kerajaan.”
“Hikashi, dunia ini begitu sempit!” meremas tangganya penuh amarah.
Ayako sejak dikeluarkan dari istana, ia diasingkan oleh Bibi Achiko. Selain mengandalkan gaji adiknya yang sebagai guru. Ia bekerja sebagai penipu ulung yang sering menyamar sebagai agen konsultasi keuangan. Berbekal wajah yang cantik dan paras yang sempurna. Ia menyembunyikan kedoknya sebagai kriminal. Karirnya di istana sudah berakhir, karena kebodohannya sendiri. Ayako terlalu tamak, dan kini ia ingin membalas dendamnya. Dengan menculik Jade sebagai sandranya.
*
*
*
Perayaan pekan olah raga sudah meriah pelaksanaannya. Untuk menyiapkan staminanya, Hikashi sengaja latihan rutin. Ia memesan baju seragam khusus untuk dipakai perlombaan.
“Papa kenapa ada tulisan ‘Aku bangga punya ayah keren’?”
“Dan ini apa lagi Hikashi, kenapa tulisannya ‘Aku Cinta mati suamiku dan sayang anakku’ hah?”
“Sudahlah pakia saja seragamnya.” Tak menggubris protes anak – istrinya.
“Mama, aku tidak mau berangkat ke sekolah!”
__ADS_1
“Aku akan pakai baju olah raga biasa.”
“Hai kalian harus pakai baju seragam kita. Atau kau dan ibumu tidak aku ijinkan berangkat perlombaan sekolah.”
“Papa!” protes Jade lagi.
“Suamiku tapi ini norak, ada tulisannya aneh.”
“Memang kau mau aku menulisnya apa?”
“Polosan saja jauh lebih baik kan.”
“Ah tidak, tidak akan aku setujui. Intinya aku adalah yang terbaik mengarahkan konsepnya.”
“Mama aku pasti akan menanggung malu selama hari panjang ini. Jika orang-orang melihat tulisan ini.”
“Sudahlah Jade, lebih baik kita pakai saja kaos ini.”
“Aku mau menutupnya, tulisannya sangat narsis sekali.”
“Mama pun merasa Papa mu terlalu membanggakan dirinya.”
“Eh kalian sedang apa dengan kaos itu? Mau mencoba menutupnya pakai lakban ya? Tidak boleh! Aku bilang tidak boleh ya tidak boleh!”
“Papa, tulisannya begitu norak. Aku malu Papa jika teman-temanku mengejekku!”
“Pakai Jade!”
“Papa... “
“Pakai 1,2,3!” kaos itu dipakai Jade dengan terpaksa, daripada dihukum.
Akhirnya Hikashi bisa berpose memakai baju seragam oleh raga yang sudah ia pesan khusu hari ini. Ia sangat antusias menyambut pekan oleh raga bersama orang tua murid. Tampaknya Seven puas melihat Jade yang tak semangat memakainya. Ia bahkan memakai jaket agar tulisan di kaosnya tidak terlihat.
Saat ini Seven tengah belajar dirumah dengan guru privat yang berpengalaman baik. Anak itu sangat menyukai belajar dirumah. Karena dengan demikian ia bisa bebas meminta materi pelajaran lain.
“Seven, kemampuan belajarmu sangat baik. Kau bisa mengikuti ujian kenaikan kelas akselerasi bila ikut tes.”
“Benarkah?”
“Iya, kau bisa naik kelas sesuai tahapan tes yang mampu kau kerjakan.”
“Bisakah Guru membantuku?”
“Tentu saja Seven, bukankah kau ingin menjadi Profesor?”
“Hehehe.” Mengangguk.
Dan Seven lebih banyak mempelajari materi-materi sulit agar bisa lolos tahapan tes. Ia berkeinginan menjadi Profesor yang hebat di masa depan. Membuat penemuan hebat untuk orang banyak.
*
*
*
PEKAN OLEH RAGA.
Hari pertama pekan olah raga sekolah ini, seluruh orang tua akan diikut sertakan dalam beberapa cababg olah raga. Mereka akan menjadi tim yang memenangkan setiap perlombaan. Hikashi yang semangatnya bukan main, beberapa kali menjuarai perlombaan. Hari ini adalah kenangan terindah sekaligus menjadi hari ter naas untuk Jade.
Dari kejauhan Ayako dan Tamiko mengawasi keluarga bahagia itu. Saat Jade berada di kamar mandi, Tamiko yang berjaga mengawasi keadaan. Dan Ayako menculik Jade dari dalam toilet dengan memberikan obat biusnya. Jade dimasukkan kedalam mobil boks warna putih. Mereka menyamar sebagai penjual es krim keliling.
“Jade hilang!!!” teriak murid yang terkahir bersama Jade.
“Jade tidak ada dimanapun!!!” teriak bocah kecil seusia Jade.
“Jade hilangggggg!!!” teriak orang-orang menghebohkan.
Saat itu orang tuanya yang tengah bersantai dibawah pohon oak. Diatas tikar yang empuk istirahat menunggu giliran. Ketenangan Hikashi tidur dipangkuan istrinya terganggu kala putranya dikabarkan hilang.
Seketika itu, Frayza mencari putranya diseluruh sekolahan. Namun tidak berhasil, akhirnya kejadian ini dilaporkan oleh pihak Kepolisian. Dari rekaman kamera ada sosok orang mencurigakan membawa tas besar. Sebelumnya di area sekolah ini tidak pernah mengijinkan penjual berdagang. Plat mobil boks putih itu palsu, serta perawakan orang yang masuk mobil diselidiki.
“Hikashi, aku takut.”
“Semoga Polisi lekas menemukan Jade.”
“Apakah kita memiliki musuh?”
__ADS_1
“Tunggu sebentar, aku akan hubungi Matsumoto untuk mencarinya dilapangan.” Mengangkat ponselnya menyambung dengan pengawal pribadinya.
Kini saatnya Matsumoto turun tangan, pria plontos itu mengambil beberapa perlengkapan. Dan mengerahkan anak buahnya mencari informasi keberadaan mobil boks warna putih. Berbekal pengalamannya yang sudah bidang hal ini. Matsumoto mendapatkan sinyal keberadaan Jade jadi jam tangan yang dipasangi mikrochips. Ternyata alat pemindai ini sangat beguna akhirnya mereka lantas menuju ke lokasi. Dan anak buahnya sudah dipersenjatai lengkap. Mereka mengepung tempat menjadi lokasi penyanderaan si sulung. Mobil boks putih berada didepan rumah kosong. Sepertinya penculik itu ada didalam bersama Jade. Semoga Jade tidak disiksa, mengingat Ayako Cinta mati dengan Hikashi. Ia memiliki kelainan orientasi tentang penyiksaan. Terlebih Jade memiliki perawakan mirip Hikashi waktu remaja. Sontak kegilaan Ayako menggila, Tamiko beberapa kali menasehati agar Ayako menjauhi Jade yang sudah terkulai lemas dan ketakutan.