TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
DIGNA TERPANA


__ADS_3

---BALI,


Pagi menjelang siang, Digna masih asik terlelap dalam mimpinya. Tiba-tiba dia merasakan basah.


“Ekh... (Apakah aku sedang pilek kenapa tidak ada gejala flu ya)” Digna menyeka hidungnya sambil memejamkan matanya.


“Sayang, kau mimisan!”


Teriak Ramon yang baru saja kembali joging dari pantai. Darah yang keluar dari hidung Digna, bukanlah ingus yang ia pikirkan.


“Apa?” Digna terbangun.


“Kau mimisan, ayo ke Rumah Sakit secepatnya!” Ramon mengemasi barang-barang milik Digna.


“Tidak, aku tidak mau di rumah sakit. Aku mau melihat pertandinganmu malam ini, kumohon.” Serka Digna dengan memegangi tangan Ramon.


“Sayang, kau tahu kalau semua yang aku lakukan ini untukmu? Untuk kesembuhanmi? Bukankah kita saling berjanji untuk berlibur keliling dunia. Ayolah turuti kemauanku kali ini saja, aku akan memenangkan pertandingan ini.”


“Apa kau menggunakan cara licik seperti kemaren?”


“Tidak, tapi bila dia gegabah mungkin akan bernasib sama dengan yang kemaren.”


“Ramon, aku tahu kita melakukan pekerjaan yang tidak benar. Tapi kita harus jujur satu sama lain, katakan padaku. Darimana kau dapatkan obat perangsang itu?”


“Aku akan mengatakannya asal kau mau ku antar ke rumah sakit.”


“Ramon!”


“Sayang, STOP. Aku tidak suka kita berdebat, aku sayang padamu jadi aku mohon turuti kemauanku. Maka, aku akan jawab semua pertanyaanmu. Jadi kita impas, oke?”


Ketika seorang pria sudah memiliki dunianya, maka perasaannya sudah tidak bisa lagi dikalahkan. Logika dan nalar pria tidak seperti wanita yang selalu rumit dan berbelit-belit. Ramon bukannya tak mau membagi ceritanya selama di Bali. Apa saja yang ia kerjakan, hanya baginya yang utama ialah. Memperoleh uang sebanyak-banyaknya dan menghabiskan waktu bersama Digna.


“Baik, aku akan pergi.”

__ADS_1


“Bagus, itu yang aku mau. Ayo kuantar ke Rumah sakit.”


“Aku tidak butuh rumah sakit, aku akan kembali ke Batam.” Dengan nada kesal.


“Digna, apa kau sedang melawanku? Apa kau pikir penyakitmu ini akan lebih membaik dengan kembali ke Batam?” Ramon mencengkeram kedua lengan kekasihnya. Hinga tubuhnya terayun-ayun.


“Dasar lelaki egois! Apa kau pikir aku mau sakit-sakitan seperti ini. Aku memiliki kekasih tapi seolah aku seorang diri. Kau sibuk dengan duniamu, seolah aku menginginkan segalanya. Saat aku kesakitan, sentuhan dan kehadiranmulah yang menjadi penenang jiwaku. Bukan obat-obatan yang kau berikan! Aku butuh kasih sayangmu juga Ramon!”


Koper dan paspor Digna di bawa pergi keluar Hotel. Di dalam kamar, Ramon tak berpikir apapun kecuali memenangkan pertandingan nanti malam. Obsesinya adalah menang dan menang.


“Percuma mengejar wanita yang sudah marah, bukan semakin membaik emosinya. Malah semakin meledak-ledak saja huh!”


Dasar Ramon yang sudah tidak peka terhadap wanita. Dia pikir hubungan yang semakin lama dianggapnya semakin santai tidak perlu drama. Namun Digna yang sudah kecewa nekat kembali ke Batam dengan penerbangan pada waktu itu juga.


Kesal dan kecewa dengan Ramon yang tidak mengejarnya, membuat tekat Digna ingin segera mengakhiri hubungan asmaranya. Sekarang Digna sudah di Bandara Ngurah Rai, dan tiket pesawat sudah di genggamannya.


“Emba masih dua jam tapi Ramon tak kunjung juga menjemputku. Awas kau Ramon, jangan tanya kalau aku akan mengusir adikmu Fred.”


Di sebuah kedai kopi yang terkenal enak, Digna memesan segelas kopi espresso untuk dinikmati sambil menghabiskan waktu tunggunya.


“Apa? Orang gila macam apa yang memesan semua kursi kosong disini? Aku sudah membeli minuman disini, jadi aku punya hak untuk duduk di salah satu kursi ini.”


“Nona, maaf mengganggu kenyamanan anda. Saya mengembalikan uang anda, dan minuman ini gratis. Silahkan anda mencari tempat yang nyaman, karena seluruh barisan kursi di sini sudah dipesan oleh tamu khusus. Maafkan kami Nona, bukan maksud kami untuk mengusir. Karena seluruh pengunjung juga bersedia untuk pindah tempat, mohon kerja samanya.”


“Berapa harga sewa seluruh tempat ini aku bayar 2x lipat!” tantang Digna kepada pelayan dan manajer.


“Maaf Nona, anda hanya akan menguji kesabaran kami. Jika anda tidak bisa diajak kerja sama, terpaksa anda kami usir secara kasar.”


“Hoh apa kau pikir aku tidak tahu berapa gaji kalian. Hai lihat baik-baik berapa banyak kartu Debitku hah!”


Pyakkk... Dengan arogan Digna menyiramkan kopi ke lantai. Sehingga cairan pekat itu mengotori sebagian perabotan kursi dan meja.


“Huh dasar payah, baru terima tamu saja penyambutannya semewah ini.”

__ADS_1


Tap... Tap... Tapp... Suara sepatu yang beriringan semakin nyaring dari pendengaran Digna. Nampak sepatu kulit berwarna hitam yang tersirat noda kopi. Mata Digna mengintai setiap inchi dari penampakan yang baru saja ia saksikan.


“Bukankah aku sudah katakan untuk mengosongkan tempat ini lebih awal satu jam sebelum Tuan kami tiba?” Pria tinggi besar itu marah dengan ulah Digna.


“Maafkan kami Bos, Nona ini tidak mau diajak kompromi sehingga terjadi kekacauan ini.”


“Aku akan segera mengambil lap pel dan membersihkannya.” Pelayan berhamburan pergi mengambil alat kebersihan.


Digna yang masih memegang gelas kosong itu berdiri mematung tak bergerak. Ternyata bukan orang sembarangan yang baru saja ia lihat. Ternyata pengawalnya semua bule tidak ada orang lokal.


Waduh payah aku payah, kenapa bisa buat musibah seperti ini. Usai bertengkar dengan Ramon, sekarang aku melampiaskan kekesalanku dengan orang besar. Apes aku... Apessss ah hemmm.


Pengawal berjumlah sepuluh orang itu semuanya berdiri berbaris rapi. Dan tanpa di duga ternyata, tamu istimewa tersebut datang lebih awal dari jam yang.ditentukan. Disekelilingnya di apit pengawal bertubhb tegap dan atletis, dari otot dan urat wajahnya yang garang. Mereka sangat ahli dalam ilmu bela diri. Mata Digna terus mengagumi para pengawal yang mengapit pria muda yang hanya memakai kemeja putih. Sembari menyibakkan rambutnya agar tidak gerah. Walaupun memaki kacamata hitam, alis pria itu terukir Indah dan tebal rapi. Kulitnya yang putih mulus dan tinggi ramping tampa timbunan lemak.


“Nona, cepat pergi atau kau akan dalam masalah.” Bisik pelayan yang usai mengepel lantai.


“Oh, iyaya.” Digna keluar dari tempat tersebut dan terus memandangi pria tampan seperti malaikat turun dari kayangan.


Para pengawal yang sedianya berdiri tegap dengan bersamaan membungkukkan kepalanya memberikan hormat. Dan pria berkemeja putih itu berjalan dengan mempesona melewati barisan lelaki tegap dan tinggi.


“Wah artis dari mana itu kok aku baru saja melihatnya?”


“Duh Mak, anakmu sudah ketemu jodohnya. Tapi itu jodohku apa jodoh orang tuh. “


“Ya ampun, sempurna sekali jodoh orang ckckckck.”


“Kalau tidak bisa memilikinya, setidaknya punya gambarnya buat bahan halu ah.” Kreteg, suara ponsel yang retak diremas oleh salah satu pengawal yanh mengetahui kegiatan ilegal.


“Hebat sekali orang itu, baru jadi artis saja lagaknya seperti anak Raja saja huuuu.” Cibir Digna dari kejauhan.


Setelah memesan beberapa camilan dan kopi favoritnya pria itu duduk sambil membaca beberapa majalah asing. Dia masih mengenakan kacamata hitamnya. Hingga salah seorang pengawalnya datang dang berbicara dengannya.


“Pangeran,” belum sempat melanjutkan ucapannya pengawal itu diam.

__ADS_1


“Jangan panggilan aku Pangeran, ingat aku sudah bukan putra mahkota lagi.”


__ADS_2