
#JAKARTA, INDONESIA.
“Kau lihat daratan itu?”
“Kenapa? Seperti daratan biasa tidak keren.”
“Kau harus tahu, Negara ini sebenarnya sangat kaya. Namun, pihak asing yang menguasi sebagaian besar asetnya. Dan kau tahu, jalur perdagangan lintas dunia menyebut negara ini tol laut. “
“Apa yang bisa aku harapkan dari sini, setahuku Bali tempat yang Indah.”
“Kau mengenal Negara ini dari berita buruknya, aslinya kau akan terkesima. Para gengster dan militan terbaik berasal dari sini. Makanya aku mau ajak kau mengenal lebih dekat lagi pekerjaan kita.”
“Sudahlah, aku mau mengemasi barang-barangku saja. Setelah mendarat aku mau belanja apapun. Bosan aku memakai baju-baju ini saja.”
“Dasar!” menoyor kepala Frayza.
Setibanya di Jakarta, Dokter Kelvin menyewa satu unit apartemen mewah di pusat kota. Kegiatan mereka diawali membeli peralatan elektronik untuk menunjang pekerjaan mereka. Sesekali mereka pergi ke hiburan malam untuk mengenal orang-orang penting. Tak jarang juga mereka bertemu dengan pejabat yang berpengaruh untuk menambah koneksi mereka.
“Kau terlalu bekerja keras selama ini, istirahatkan matamu.”
“Tinggal sedikit lagi, aku hanya ingin mencairkan uangku dalam rekening lain.”
“Memamg kau butuh uang berapa banyak?”
“Biaya hidup disini tinggi, aku hanya ingin berjaga-jaga saja.”
“Setelah urusan kita di Jakarta selesai kau boleh pergi ke Bali.”
“Benarkah?”
“Iya, tapi kau tidak boleh membantah bila aku mengawasimu. Aku melakukannya untuk kebaikanmu.”
“Siiiip,”
Mungkin Dokter Kelvin tidak tahu jika Frayza merasa sakit dan terkekang. Memang benar, dirinya kini sudah berubah sejak pindah. Beberapa tahapan operasi ia lalukan agar memiliki identitas baru. Karena tidak mungkin raganya yang lama nama baru dipakai. Lebih baik memakai nama lama, tapi ditubuh baru.
“Apa kau menyesal melakukan ini?”
“Mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur begini. Aku bisa apa.” Frayza tampak sedih melihat dirinya dari cermin.
“Hatimu, tetap yang dulu. Yang berubah hanya tampilan luarmu saja. Aku tidak ingin kau celaka, terlebih lagi masa lalumu begitu suram.”
“Iya Dokter Kelvin, terimakasih. Aku mau menyesuaikan diriku sendiri dulu.”
“Kau mau kemana?”
“Bukankah sekarang aku menjadi wanita, harusnya aku tidak memaki baju-baju tomboy ini lagi bukan.”
“Jadi kau ingin membuang bajumu ini?”
“Tidak, mungkin banyak orang yang mau memakai baju ini.”
“Kemarikan, biar aku saja.”
Baju-baju tomboy Frayza segera dikemasi dalam kardus. Mereka menuju tempat terjauh dari Jakarta.
“Pakai jaketku,” Dokter Kelvin memakaikan jaketnya.
__ADS_1
“Tidak dingin kok, aku baik-baik saja.”
“Sudah, jangan berdebat denganku. Aku tidak ingin kau masuk angin.”
“Ternyata ada tempat yang sunyi seperti ini ya disini.”
“Jangan salah paham dulu, tempat ini biasanya menjadi tujuan orang mendonasikan untuk anak-anak kurang beruntung.”
Seperti takdir yang masih terhubung, Frayza bertemu lagi dengan bocah yang pernah dibawa Julian dan Rose. Keadaan mereka sudah jauh baik dari pertama kali datang. Mereka berlarian dan bersenang-senang menikmati waktu. Setelah menyerahkan donasi dan bantuan Julian menyusul Frayza yang bermain ayunan. Disana, Frayza tengah asik berbincang dengan seorang wanita. Tampaknya mereka berbasa basi.
Cupphhh (mengecup pipi Frayza) “Sayang, ayo kita pulang.”
“O’,” Frayza mengelap pipinya yang usai dicium Dokter Kelvin.
“Oh jadi ini suami anda ya, tampan sekali.”
“Perkenalkan Namaku Kelvin,”
“Aku Rose, pegawai kedutaan Singapura.”
“Apakah aku mengganggu percakapan kalian?”
“Kami hanya berkenalan Tuan, urusanku kemari hanya sebentar saja kok.”
“Baiklah, Nona Rose kalau tidak keberatan aku akan bawa istirku pergi. Senang berjumpa denganmy dan selamat tinggal.”
Ucapan Dokter Kelvin yang angkuh membuat Rose untuk pergi secepatnya menjauhi Frayza. Apalagi sikap Dokter Kelvin yang begitu arogan kepada orang yang dekat-dekat dengan Frayza.
“Dokter, kenapa kau begitu. Tidakkah sikapmu ini sangat berlebihan?”
“Aku tidak suka orang terlalu lama berada disekitarmu, paham?”
“Fray, kau adalah tanggungjawabku. Dan karena kuasaku lah kau memiliki hidup lagi. Apa kau sudah lupa bagaimana pemalsuan kematianmu dulu?”
“Iya, aku mengerti Dokter.”
“Bagus, jangan buat aku jengkel lagi. Aku benci marah-marah denganmu, maaf.”
Sikap dan wujud asli Dokter Kelvin mulai tampak. Seorang pria yang pandai dan bertalenta berubah menjadi budak cinta. Berawal dari lukisannya yang ia gambar, dia merubah wajah Frayza menjadi wanita imajinasinya menjadi nyata. Tidak ada lagi gadis buruk rupa atau gadis tomboy yang menyamar pria lagi. Sekarang dia sudah menjelma menjadi wanita nyata yang wujudnya bisa dia sentuh.
“Aku mau pergi jalan-jalan dan belanja.”
“Aku ikut.”
“Aku akan lama, kau pasti akan bosan.”
“Aku yang akan bayar semuanya, asal boleh ikut. “
“Tapi nanti kalau kau capek pasti ngomel-ngomel.”
“Aku akan diam dan bayar.”
“Kau janji?”
“Ayo segera belanja, habiskan uangku dan beli apapun yang kau mau.”
Dari Bogor, mereka menuju Jakarta dan berbelanja seperti keinginan Frayza. Gadis itu benar-benar tidak tahu berbelanja, semua yang dipilih dan diambil dari keranjang diskon.
__ADS_1
“Ck, jangan sentuh barang diskonan. Banyak kumannya,bahaya nanti kulitmu alergi. Aku tidak mau kulitmu sakit, ayo ke Butik saja.”
Dokter Kelvin gemas meremas jemari Frayza dalam gandengan jari tangannya. Dia menuju Butik merk mahal yang jarang orang masuk di dalam.
“Tunjukan kepadaku koleksi terbaik kalian untuk gadis ini. Yang baru datang dan edisi terbatas, belum tersentuh tangan pelanggan lain.”
“Baik Tuan,” segera diambilnya koleksi baju-baju untuk Frayza coba.
Dengan duduk santai dan menikmati teh, Dokter Kelvin menjadi juri untuk penampilan Frayza.
“Aku capek, ampuuunnnn...”
“Katanya mau jalan dan belanja, ya hayok lanjut lagi hehehe.”
“Dokter Kelvin, coba ganti posisi saja bagaimana.”
“Embbb tidak mau, aku kan hanya membayar dan mengantar. Lakukan tugasmu dengan baik, dan semangat hehehe.”
Kali ini Frayza benar-benar capek belanja seperti wanita, ternyata Dokter Kelvin sedang memplonconya.
“Lain kali kalau mau belanja ajak aku saja ya hehehe.”
“Tidak sudi, kau mengerjai aku. Mana belanjaannya banyak begini. Bantuin bawalah jangan Cuma cengar-cengir.”
“Oh no-no-no-no ... Pria sejati tidak akan membawakan belanjaan wanita yang sudah dia bayarkan. Sekarang kau jera bukan hehehe.”
“Tapi aku tidak minta sebanyak ini, kau yanh mengada-ada menambahkan belanjaannya. Jadinya banyak begini bukan.”
“BARU BELANJAKAM WANITA BEGITU SAJA KAU BISA CONGKAK BEGITU HAI, DOKTER GADUNGAN.” Ucap pria dari belakang yang mengekor.
“Hai pemuda miskin, jangan hanya berujar. Berapa harga lidahmu biar aku bayar kontan!! Dokter Kelvin tak mau mengalah.
“Apa kau yakin mampu membeli lidahku, sedangkan jariku saja menyimpan seluruh aibmu hehehe. Jangan macam-macam kau terhadap gadisku,” Ramon menurunkan kacamatanya.
“Haaaaahhh Ramon,” Frayza kegirangan bertemu Ramon lagi.
“Ah sial, katanya sibuk di Amerika. Dasar pembohong, ternyata nyusul juga kan di Jakarta.”
“Kenapa, tidak suka ya aku datang. Sudah habis waktumu menjaganya, sekarang giliranku.”
“Kau, awas ya.” Geram kepada Ramon yanh sudah muncul saja.
“Ayo ikut denganku, jangan bersamanya. Nanti kau cepat tua, banyak aturan seperti resep obat.”
Tanpa pikir panjang, Frayza ikut pergi bersama Ramon yang sudah mengambil tas belanjaan Frayza. Kali ini Dokter Kelvin harus gigit jari ditinggal sendirian. Alamat dia akan menjalani hari-harinya tanpa Frayza. Padahal dia sedang dalam usaha pendekatan. Dia menelepon pihak Restoran untuk membatalkan acara makan malam romantisnya. Rencananya Dokter Kelvin ingin melamar Frayza. Namun, hal ini harus kandas saat Ramon hadir. Dia tidak bisa membawa Frayza seenak hatinya lagi. Karena Ramon sudah seperti keluarga bagi Frayza, pasti tidak memberikan ijin bila hal itu terjadi.
*
*
*
#TOKYO, JEPANG.
Lemari sepatu dan baju yang sudah terisi untuk Fred, kini hanya menjadi koleksi tak bertuan. Hikashi hanya bisa meluapkan kerinduannya lada Agen lelaki yang ia sukai. Matsumoto masih mencari keberadaan Dokter Kelvin dan Fred. Namun, gagal juga dan jejaknya tidak dapat ditemukan.
“Ini pertamakalinya aku menyukai mahkluk lain selain wanita. Entah kenapa aku ingin memilikinya, saat aku bertemu dengannya seolah sudah lama.” Ucap Hikashi sambil mengabsen barang-barang yang sedianya untuk Fred yang sudah kabur.
__ADS_1
Walaupun Hikashi menyukai Fred, dia tidak permasalahkan ras Asianya. Dia hanya membenci wanita ras Asia yang seperti bibinya yang kejam. Andai Hikashi tahu kalau Fred seorang wanita, mungkin nasibnya akan lebih malanh dari selir-selir yang ia siksa.