
Hari berikutnya, di kediaman Alexander.
Setiap makam masing-masing dari pelayan mengantar makanan di kamar Jade dan Seven. Kegiatan ini sudah berlangsung kurang lebih hampir satu minggu. Lebih tepatnya sejak Hikashi dan Frayza rujuk kembali. Keluarga ini sudah tidak mengfungsikan kembali meja makan. Sehingga Patrick berinisiatif mengirim makanan ke kamar masing-masing.
“Masih mengunci di kamar lagi?” sambil menunjukkan wajah kesal.
“Begitulah Tuan Muda, silahkan menikmati hidangan makan malamnya.”
“Apakah Jade sudah makan?”
“Tuan Muda Jade, sejam yang lalu menuju Restoran China Town.”
“Enak sekali ya jadi Jade, huft.”
“Tuan Muda Seven belum genap berusia 15 tahun. Belum mendapat ijin keluar rumah.”
“Dan kartu ajaib kan!” protesnya.
“Hemmmmbb.” Mengeringkan matanya.
Tok... Tok... Suara ketukan dari pintu, seorang pelayan membukakan pintu.
“Selamat malam Tuan Hikashi,” sambut Patrick yang masih berdiri.
__ADS_1
“Tugasmu sudah selesai?” tanya kepada keduanya.
“Aku akan mencuci tangan lalu makan, Papa.” Jawab Seven.
“Bagus.” Singkatnya.
“Saya ijin pamit keluar, silahkan Tuan.”
Duduklah dengan kaki bersila Hikashi William menatap putranya. Didalam kamar Seven ada sebuah ruang tamu yang menyambung ruang makan. Didalam kamar Seven ini terdapat dapur kecil jika sewaktu-waktu ia dapat. Hikashi memperhatikan putranya yang hendak makan. Sambil menunggu selesai Seven menyantap sup daging kesukaannya.
“Dengarkan Papa, Seven. Ini mengenai keluarga kita.”
“Baik, apa itu Papa?”
“Kapankah itu?”
“Secepatnya, Papa akan membuat janji dengan sepupu Hiroshi.”
“Papa...” gumam Seven lirih.
Wajah putranya nampak tak menyenangkan, seolah menyiratkan keberatan tentang rencana Hikashi pulang kampung.
“Ayah harus mengumumkan kepada pihak kerajaan bila Mama mu masih hidup. Dan lisensi legalitas kalian sebagai trah keturunan kerajaan resmi. Ini demi kebaikan kalian.”
__ADS_1
“Dewan kerajaan pasti tidak akan menggubrisnya, dulu hidup kami begitu sulit. Bahkan Mama harus bekerja untuk biaya sekolah. Untuk makan saja mengandalkan tunjangan negara.”
“Hal itu tidak akan terjadi Nak, jika saja.” Menghentikan kalimatnya, seraya tak ingin membuka borok luka keretakan rumah tangganya.
“Papa, bagaimana bila kita pergi ke Bali saja?”
“Rumah kita belum selesai direnovasi, Nak. Mama mu juga memiliki rencana kesana untuk bulan madu. Dia ingin memiliki satu lagi anak perempuan.”
“APA!!!”
Seketika, lampu kamar menjadi gelap. Karena tangan Hikashi mematikan saklar listrik. Ia keceplosan mengatakan hal konyol didepan Steven yang remaja. Ia hampir saja merusak kemurnian remaja. Secepatnya Hikashi meninggalkan kamar Seven dalam.kondisi gelap.
Sifat konyol Hikashi ini membuat Seven jengkel, karena ia ditinggalkan dalam kondisi gelap.
"Kenapa wajahmu memerah?"
Seorang wanita mengenakan baju malam transparan,berwarna merah menyala. Menyapa pria yang baru saja menutup pintu kamar. Merayap naik ranjang seperti macan yang mengendap kelinci.
"Jangan menerkamku lagi, Hikashi. Kau setiap saat merobek baju yang Aku pakai." Memalingkan tubuhnya.
"Aku mau lagi Sayang... tubuhmu begitu menggiurkan. Aku tak tahan lagihhh..."
percuma menangkis atau mengelak, Frayza sudah basah berpeluh. Dirinya tak bisa memungkiri, ada rasa nikmat luar biasa dipusatnta. Seolah paham, Hikashi memainkan kekuatannya untuk melemahkan wanita. Ia benar-benar memberikan kepuasan dan kenikmatan yang tiada tara. Seperti pengantin baru yang usai menikmati kegiatan penyatuan raga. Mereka saling mencintai dan mencurahkan seluruh emosi dalam jiwanya. Sehingga Puncak kenikmatan surgawi dapat mereka rasakan secara bersama-sama.
__ADS_1