TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
ANDREAS MALAIKATKU


__ADS_3

Tiba di griya tawangnya, ia terkejut lampu sudah menyala. Yang tahu pin dan pasword rumahnya adalah ibunya dan Meghan.


“Siapa dirumah?” suara Andreas menggema mencari jawaban.


“Oh kau sudah pulang ya, sebelumnya ibu minta maaf karena lancang masuk kerumahmu tanpa permisi dulu.” Datanglah Meghan dari belakang mengisyaratkan sesuatu.


“Apa yang ibu cari disini?” meletakkan tas olahraganya.


“Ibu hohoho apa ya...” menggaruk kepalanya.


“Bibi mencari adakah penghuni lain disini, karena Bibi pula lah aku dibawa kemari dengan paksa huh.” Meghan meneguk air es seperti kehausan.


“Aku masih tinggal disini sendirian Bu, hanya petugas kebersihan itupun datang setiap pagi hari. Dan Meghan datang kemari bila aku menyuruhnya mengambil barang-barangku bila tertinggal saja.”


“Andreas anakku sayang, maafkan ibu ya yang sudah gegabah. Kalau bagitu ibu mau pulang bersama Meghan; Heh ayo kita pulang, biarkan Andreas istirahat. Besok dia kan bekerja!”


“Kenapa aku merasa seperti terusir ya, aku masih mau disini untuk makan coklat dan soda. Bibi pulang dulu saja ah.” Meghan menolak ajakan pulang Karen.


“Meghan kau pulanglah bersama Bibi Karen, karena ini sudah larut dan aku butuh istirahat.”


“Jadi kalian sepakat untuk mengusirku sekarang? Baiklah, aku akan pulang tapi dengan membawa coklat dan soda. Aku tidak mau rugi bandar kemari.”


Rumahnya tampak berantakan karena ibunya datang kerumah untuk mencari keberadaan orang yang tinggal bersamanya. “Aku butuh petugas kebersihan sekarang!” Andreas tidak bisa tinggal dengan keadaan rumah yang kotor dan berantakan. Usai dia mandi dan makan malam, ia bekerja lagi meninjau penyidikan kasus. Sudah jam 10 malam, tapi ia tidak mengantuk sama sekali. Ia sedang kalut dan banyak pikiran, dan petugas kebersihan sedang merapikan kamarnya. Ia lantas pergi melajukan mobilnya berkeliling jalanan. Tanpa terasa ia sudah memarkirkan mobilnya didepan butik. “Eh kok sampai disini, kan mau cari angin kenapa bisa sampai kesini. Ah salah ini salah,” Andreas memutar kendaraan nya dan melaju dengan kecepatan sedang. Ia kemudian belok kesebuah kawasan apartemen. Disana ia aneh lagi, turun dari mobil dan berjalan tanpa tujuan.


“Huft sampah hari ini banyak sekali,” Frayza baru saja membuang sekantong besar dari rumahnya.


“Fray ...” sebut namanya dengan lembut.


Frayza kaget karena sosok tinggi besar muncul dari kegelapan menghampirinya. “Jiaaaaattttt...” Frayza menendang dada Andreas.


“Awhhh sakit, ini aku Fray. Andreas!” pria itu terjengkang dan tampaklah wajah tampan Andreas.


“Ups maafkan aku Tuan Andreas, aku refleks tadi.”


Frayza mengajak masuk Andreas kedalam kediamannya. Alangkah terkejutnya Julian memondong seorang bayi yang terlelap.


“Bagi siapa ini?” Andreas kaget melihat bayi dirumah Frayza yang sebelumnya ia tak lihat.


“Oh ini Seven anakku,” jawab Frayza enteng.


“Frayza, kau sedang mengujiku kan?” memegang kedua lengan atas tangannya.


“Tuan Andreas, aku memang sudah memiliki anak dan statusku adalah janda.”


“Frayz, kau masih gadis bukan!” Andreas memakai nada yang tinggi.


“Tuan Andreas, maaf menyela omonganmu. Tapi ini sudah larut malam, dan seharusnya kau pulang.” Frayza membukakan pintu agar Andreas pergi.


Setelah itu Frayza meratap dibalik pintu karena sikapnya sedikit arogan mengusir Andreas. Selama ini ia menutupi statusnya yang janda beranak satu. Hal ini ia lakukan agar orang-orang yang menjumpainya tidak melecehkannya. Tapi kedekatannya dengan Andreas seolah membuat Frayza merasakan getaran rasa terhadap pria. Andreas ialah pria baik dan sopan. Selain itu dia memperlakukannya dengan baik, ia tidak mau Andreas menjauhinya karena ia memiliki anak.


Pagi harinya seperti biasa, Frayza menyiapkan keperluan Seven untuk sehari ini sebelum bibi Fang datang. Sedangkan Julian membereskan rumah dan mencuci pakaian. Rutinitas ini mereka kerjaan agar bibi Fang lebih fokus menjaga Seven saja.


“Fray, kenapa kau membiarkan Tuan Andreas berdiri diluar!” suara bibi Fang ini membuat kaget isi rumah yang sibuk.


“Kak, coba liha!” perintah Julian saat menjemur baju di balkon.


Frayza melihat Andreas berdiri dengan mata yang sudah sayup dan gontay tubuhnya. “Huppp,” pria itu ambruk didepan Frayza. Bibi Fang meminta tolong Julian agar segera membantu memapah masuk Andreas yang tak sadarkan diri.


Sedari semalam usia diusir oleh Frayza, Andreas tidak langsung pulang. Tapi ia bersikeras untuk menunggu Frayza keluar dan memberikan penjelasan kepadanya.


“Frayyyyy..... Frayyyy huuuuuhhhhh.” Mulut Andreas meracau memanggil Frayza yang duduk disebelahnya memeras kain kompres.


“Kak, dia memanggil namamu.” Begitu Julian mengatakannya.


“Ayo kita keluar, jangan ganggu mereka.” Bibi Fang mengajak Julian keluar saja dari kamar Julian sekarang.


Bibi Fang kemudian mengasuh Seven seperti biasanya, tak lama setelah itu Julian berangkat bekerja. Tak lupa ia berpesan agar selalu mengabari jika terjadi sesuatu.


Didalam kamar Julian ini, Frayza merawar Andreas dengan sabar. Hampir menjelang siang kesadarannya pulih. Dipandanginya wajah Frayza yang lelah menjaganya, jemari Andreas mengusap lembut pipi Frayza.


“Tuan Andreas, kau sudah siuman.” Jemaei Andreas masih menempel dipipinya.


“Hu’um,” ia menyandarkan tubuhnya. “Maaf sudah merepotkanmu, setelah aku mendapat jawaban darimu aku akan pergi.”


“Iya,” pasrah dengan apa yang Andreas tanyakan. Hanya kejujuranlah yang bisa diterima seorang Andreas.


“Aku semalam meminta restu kepada Julian untuk mendekatimu. Sebagai bukti bila aku serius kepadamu, tapi aku tidak mau kau terpaksa menerimaku. Sebenarnya aku jatuh cinta kepadamu sejak pertama kali bertemu. Dan ini yang pertama kali aku rasakan, kau tahu tidak Fray. Jika Ibuku saja antusias hingga semalam ia menggeledah rumahku. Dia pikir aku sudah berhasil membawamu tinggal bersamaku. Padahal aku belum tentu juga kau terima kan.”


“Tuan Andreassss,” Frayza tersentuh ada pria yang begitu baik didepan matanya mengakui perasaanya.


“Fray, aku mencintaimu. Sebenarnya alibiku saja menjadi orang yang mencelakaimu. Agar bisa lebih dekat denganmu, padahal temanku yang mengemudi mobil waktu itu.”


Sebegitu nekatnya Andreas berkata jujur kepada Frayza. Dia rela mengakui hal yang seharusnya ia tutupi agar tetap terjaga citra baiknya. Karena bagi Andreas kejujuran adalah kunci membuka hubungan.


“Aku sebenarnya merasakannya Tuan Andreas, hanya saja aku memiliki anak dan janda. Sedangkan kau dari keluarga terpandang. Jujur, aku bersimpati kepadamu dan aku malu mengakuinya.”


“Benarkah?” Andreas menjadi tiba-tiba bersemangat dan bugar.

__ADS_1


“Tapi, aku tidak bisa berbuat lebih jauh selain berteman denganmu. Karena aku seorang janda beranak satu, sedangkan kau seorang pria lajang yang terhormat.”


“Begitu ya Fray, jadi kau menolakku ya?”


“Maafkan aku, Tuan Andreas. Semoga kau mendapatkan wanita yang sepadan dengan dirimu. Aku hanyalah wanita yang tidak bisa diterima oleh keluarga terhormat sepertimu.”


Sejak itulah, Andreas menjadi patah hati. Ia bahkan tak masuk kerja, beberapa kasus dan persidangan yang ia pegang terpaksa diambil alih oleh Meghan. Andreas memantau Frayza dari kejauhan, ia selalu membuntuti dimana saja Frayza pergi. Hatinya hancur untuk pertama kalinya. Keadaanya semakin tidak membaik, karena mengabaikan kesehatannya. Nonya Karen dan Meghan menemukan Andreas pingsan didalam mobil karena kelelahan. Sampai dirawat dirumah sakit. Dia bahkan tak bicara dan menolak untuk membuka matanya. Nyonya Karen yang tak kuasa melihat putranya ini akhirnya bicara dengan suaminya.


Saat orang tuanya tidak ada, Meghan duduk menjaga Andreas. Yang waktu itu pura-pura tidur.


“Kau adalah anak tunggal keluargamu, jangan biarkan mati konyol!”


“Tahu apa kau!” Andreas menjawab ketus.


“Kau ini manusia bukan!”


“Tidak!”


“Oh baik, kau ini batu. Iya manusia batu, kepala batu dan hati batu.”


“Meghan! Kau itu tidak tahu kondisiku ini jadi jangan berkomentar yang tidak-tidak! Urus saja pekerjaanmu, aku sedang tidak ingin cekcok!”


Plakkkk, menampar Andreas yang sudah keterlaluan mengatainya. “Aku ini lebih dekat daripada baju yang menempel di tubuhmu. Bahkan deru napasku lebih dekat daripada suaraku ini. Jika kau ada kesulitan gunakan mulutmu, jangan menyakiti tubuhmu. Kau sudah melakukan tindakan kriminal terhadap tubuhmu!”


“CUKUP MEGHAN, KELUAR!”


“Jika kau ingin mati, setidaknya berikan keturunan untuk meneruskan generasi keluargamu!” Meghan menenteng tasnya dan memegang gagang pintu.


“Aku patah hati, Frayza menolakku karena ia janda dan memiliki bayi.”


“Hhhaaaa,” Meghan buru-buru duduk kembali dan mendesak Andreas untuk bercerita lagi.


“A-aku jatuh Cinta kepada seorang wanita yang aku pikir masih gadis. Ternyata dia sudah memiliki anak dan menjanda huhuhuhu.”


“Goblok!”


“Hei, aku lebih pintar dan cerdas dari pria yang pernah kau temui!” Andreas menghentikan tangisannya dan memaki Meghan.


“Tolol dan bodoh, apa masalahnya jika ia janda dan memiliki anak. Itu Bagus bukan, daripada kau mencintai istri orang atau wanita yang sudah memiliki kekasih. Perkara anak, kan bisa dibicarakan pelan-pelan. Lagi pula bibi Karen sendiri belum kau tanyakan sendiri kan bagaimana pendapatnya tentang wanita ini bukan.”


“Aku malu menyukai seorang janda beranak satu, Meghan!!!!” teriak Andreas seperti bocah yang rusak mainannya.


“Dasar tidak berguna, jika kau menyukai wanita maka jangan bilang cinta! Cinta itu mau menerima segala kekurangan dan kelebihannya, kalau suka artinya hanya simpati karena menarik!”


Andreas menutup tubuhnya dengan selimut seolah perkataan Meghan ini speeti kritikus bola.


*


*


*


“Sepertinya putraku mencintai wanita di butik itu.” Naluri seorang ibu tidak pernah salah. Karena hal serupa pernah ia alami saat suaminya mengejar dirinya dulu. Bahkam dulu suaminya rela melakukan apapun demi merebut hatinya.


“Bibi sudah tahu ya wanita yang disukai Andreas itu siapa?”


“Hemmb, bibi sudah tahu. Ayo bantu bibi menyelesaikan masalah ini.”


Meghan digelandang pergi untuk menemui Frayza. Bahkan ibunya Andreas memiliki data tentang Frayza. Akan lebih mudah dengan jabatannya sekarang untuk memperoleh alamat tinggal Frayza. Dan ia juga tahu kalau Frayza seorang janda dan memiliki anak. Ia juga tinggal bersama saudaranya laki-laki yang mengelola butik bersamanya.


*


*


*


Beberapa hari Andreas dirawat dirumah sakit, akhirnya ia diijinkan pulang ke griya tawangnya lagi. Dengan perasaan yang masih sakit dan ingatannya terakhir membuatnya berpikir macam-macam.


“Eh apa ini, kok ada lilin banyak dan apa ini bunga berserakan dilantai. Ini pasti ulah Meghan yang memberiku kejutan.”


“Ibu siapkan obat untukmu dulu ya,” Nyonya Karen pergi ke dapur menyiapkan obat untuk Andreas.


Andreas ingat jika hari ini adalah ulang tahunnya. Jadi wajar jika Meghan dan ibunya menyiapkan kejutan yang indah ini. Ia menyalakan lampu utama agar terang semua.


“Meghan-Ibu kalian semua ya yang menyiapkan ini semua, terimaksih ya.”


Andreas menoleh kebelakang ada kue dikelilingi lilin diatasnya, perlahan-lahan turun. Suara tepuk tangan terdengar mengisi ruangan menyorakinya yang tengah berbahagia.


“Selamat ulang tahun Tuan Andreas,” Frayzalah sosok yang membawa kue ulang tahun Andreas.


Nyonya Karena dan Meghan menyuruh Andreas untuk meniup lilin segera. “Eits berdoa dulu!” Ayahnya.


“Baiklah, Tuhan ketika umurku bertambah aku ingin ditambahkan cinta. Kalau bisa wanita didepanku ini yang membawa kue ulang tahun ini menjadi istriku. Dan ayah – ibuku mau merestuinya.” Andreas sengaja mengeraskan doanya agar semuanya mendengar dengan jelas.


“Ayah setuju!” mengacungkan jempol.


“Ibu setuju, kau Meghan?” menoleh ke Meghan yang ikut bahagia.

__ADS_1


“Aku setuju hehehe.”


“Aku setuju Tuan Andreas.” Ucap Julian menggendong Seven.


“Fray, sekarang giliranmu?” seorang pria yang baik dan lembut kini berlutut memohon Frayza. Andreas memasang wajah memelasnya agar Frayza mau menerimanya.


“Baiklah Tuan Andreas,” Frayza mengiyakan permintaan Andreas.


“Iyesssss horeee... Aku diterima!” Andreas menumpahkan kue ulang tahun yang belum ia tiup lilinnya. Dia sangat antusias dan bahagia karena sudah memperoleh restu dari orang-orang. Ia langsung memeluk Frayza dan mengangkat tubuh wanita ini memutar saking bahagia.


“Andreas, kau baru sembuh kasihan Frayza.” Nyonya Karen memperingatkan anaknya yang kelewat bahagia.


“Oh maaf-maaf.” Andreas menurunkan tubuh Frayza lagi.


Kini mereka duduk dimeja makan sambil menyantal hidangan mewah diatasnya. Andreas mulai tidak canggung lagi bersenda gurau dengan Seven. Bagi Frayza ini tak apa, asal Andreas mau menerima Seven. Bukan hanya perkara ia saja, karena Seven adalah bagian dirinya yang tidak bisa dipisahkan.


“Ayah-ibu dan Julian, karena kalian sudah berada disini semuanya. Aku akan mengatakannya sekarang. Dan kau Fray, semoga tidak kaget.” Andreas masuk kedalam kamarnya dan mengambil kotak perhiasan. Kotak yang tidak asing lagi bagi Nyonya Karen. Karena itu adalah kotak perhiasan kalung saat suaminya melamarnya dulu.


“Fray, walaupun belum lama aku mengenalmu. Tapi aku mau mencintaimu dan Seven selama hidupku. Maukan kau bertunangan denganku mulai sekarang?” Andreas nyata-nyata melamar Frayza tanpa harus menunggu lama.


“Tapi aku kan butuh waktu untuk berpikir,”


“Fray, aku dan ayahnya Andreas sudah merestuinya. Kami juga bisa menerima Seven sebagai cucu sambung kami. Kau hanya perlu menjadi pendamping Andreas. Karena kami percaya Andreas sudah memilihmu dari sekian wanita yang hadir dihidupnya.


“Kak Fray, Tuan Andreas adalah yang terbaik.” Mengedipkan matanya. Julian tahu jika sudah saatnya Frayza memiliki pelindung yang waras.


“Baik,” jawab Frayza mantap.


Ini adalah hari ulang tahun terindah Andreas. Tepat 7 hari ia sudah bisa mengikat Frayza menjadi tunangannya. Bagi Andreas untuk apa menunda jenjanh serius jika ia sudah yakin cintanya kepada Frayza ini serius.


Untuk merayakan bersatunya Andreas dan Frayza. Mereka berencana liburan bersama di Malaysia. Negara yang dekat dengan Singapura, karena Seven masih kecil tidak boleh melakukan perjalanan jauh.


“Apakah sudah tidak ada yang ketinggalan?” Andreas mengabsen personilnya.


“Paman-bibi Karen-bibi Fang-Seven-Frayza-Andreas...” Meghan menghitung orang-orang yang ikut piknik.


Dari kejauhan Julian berlari kepayahan, “Hoi tunggu aku!” pemuda itu berlalu karena ketiduran dalam bis travel.


“Hah kau ini memang keterlaluan sekali!” Meghan marah karena Julian memperlambat kunjungan mereka ketempat wisata.


“Maaf, semalam aku banyak minum hehehe.”


“Kau ini menyebalkan!”


“Iyaya maaf hehehe,” menyenggol bahu Meghan yang melipat tangannya.


“Sayang, apakah kau tidak peka jika Julian itu cocok dengan Meghan. Seleranya Meghan kan yang tinggi atletis begitu.”


“Hahaha benarkah itu Meghan?”


“Apaan sih kalian ini, aku tidak suka pria yang suka minum dan bangun siang!” mencubit perut Julian.


“Kau lihat sendirikan sayang, kalau Meghan sudah berani menowel Julian. Itu artinya mereka sudah dekat.”


“Hemmmb sepertinya kau akan punya Ibu angkat Seven hehehe.”


Andreas sudah miliki sifat kebapakan kepada Seven. Setiap kesempatan dialah yang menggendong dan merawat Seven. Tak jarang ketika Seven mandi dan makan, Andreaslah yang mengurus Seven sendiri. Bibi Fang hanya membantu menyiapkan seperlunya saja. Frayza beruntung menerimanya Andreas sebagai tunangannya. Selain itu Nyonya Karen sangat baik terhadap dirinya dan Seven. Mereka bisa mencintainya putranya seperti cucunya sendiri.


“Sayang, Seven sudah tidur. Ayo masuk kedalam, nanti kau masuk angin.”


“Iya baiklah,” Andreas menyelimuti Frayza yang sedari tadi berdiri dibalkon kamar.


Liburan mereka di Malaysia adalah kado ulang tahun Andreas yang dirayakan secara kecil-kecilan dengan orang terdekatnya. Hari terakhir mereka berlibur Andreas ijin untuk tinggal lebih lama di Malaysia karena ada beberapa kasus yang tengah ia tangani.


“Sayang, kau kembali dahulunya. Aku ada pekerjaan lagi disini. Nanti kalau semuanya sudah beres, aku akan menemuimu dan Seven.” Andreas merapikan berkas pekerjaannya.


“Apakah kau bersama Meghan?”


“Tidak Sayang, aku akan bersama asisten dan rekan pengacaraku. Meghan mengurus kasus di Singapura, kanapa?”


“Apakah kasus ini besar?”


“Iya Sayang, ini soal perusakan lingkungan dan pembalakan lahan. Ada perusahaan yang ingin membuka tambang mineral secara besar-besaran. Masyrakat memintaku sebagai perwakilan mereka agar lingkungan mereka tidak dirusak.”


“Kenapa ada manusia yang merusak alam begitu keji.”


“Mereka berpikir secara tamak Sayang. Oiya mengenai Seven anak kita, aku sudah merenovasi kamarnya di griya tawangku. Dan aku juga menyiapkan kamar tambahan untuk bibi Fang kalau ia menginap. Untuk isiannya kau belanja bersama Ibuku ya?”


“Andreas, kenapa kau begitu baik kepadaku?”


“Aku? Sayang, kau jangan kaku begitulah. Aku senang memberikannya untukmu. Memangnya hartaku untuk siapa kalau bukan untuk kalian hahaha. Ada-ada saja kau ini.” Andreas selesai mengemasi berkas dokumennya.


Frayza melihat ikatan dasi Andreas tidak rapi dibenarkan lagi. “ Kau cantik, oh tidak maaf kalau kau pikir aku menggodamu.”


“Muaacchh, terimaksih sudah mencintaiku dan Seven.” Frayza memberikan hadiah untuk Andreas berupa ciuman.


“Sayang, tiba-tiba aku bersemangat bekerja lagi. Aku janji akan memenangkan gugatan pembela lingkungan dan masyarakat!”

__ADS_1


“Semangat Sayang, hehehe.” Frayza mengantar kekasihnya sampai depan pintu kamar hotelnya.


Hari ini ia dan rombongan akan kembali ke Singapura lagi. Menjalani kehidupan baru sebagai tunangan Andreas. Frayza memperoleh banyak Cinta dari keluarga Andreas. Walaupun statusnya seorang janda dengan anak tak menjadi kendala lagi. Sekarang Frayza bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Nyonya Karen sebagai calon ibu mertua ikut mempromosikan butik miliknya. Hingga sekarang menjadi butik langganan para koleganya. Secara tidak langsung ekonomi mereka menjadi baik. Dan tidak perlu waktu lama, apartemen mereka sudah dibayar lunas. Julian dan Meghan diam-diam menaruh hati tapi masih terhalang gengsi.


__ADS_2