TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
BERCINTA DENGAN MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

-LANJUTAN,


Sudah 30 menit tidak ada tanda-tanda dari Frayza. Andreas mulai khawatir terjadi hal buruk dengan tunangannya ini. Ia mengambil pistol dan menyembunyikannya dipunggung. Ia mendatangi nomor yang disebutkan oleh Hikashi.


Sepucuk pistol mengarah tepat di keningnya “Apa yang ingin kau lakukan? “ Franda membuka pintu langsung mendapatkan ancaman senjata api.


Andreas berjalan maju dan Franda melangkah mundur. Pria itu menelisik melihat ruangan nomor yang disebutkan oleh pria asing. “Dimana pria itu menyembunyikan tunanganku dan bayinya?”


“Andreas, tenang dulu.” Franda menenangkan Andreas yang yang sudah kalap.


“Dimana jawab!”pistol itu sudah menempel di kening Franda.


“Ahhhhh,” menjerit ketakutan.


“Franda, kenapa kau berada disini? Apakah kau terlibat?”


“Hiks hiks hiks... “ Franda ketakutan melihat pistol yang berada dikepalanya.


“Baiklah kalau begitu, katakan apa hubunganmu dengan pria itu!”


“Letakan dulu senjatamu!”


“Baik, cepat duduk dan bicaralah!” Andreas mendudukkan Franda dikursi untuk diintrogasi.


Pada saat Frank resmi memperkenalkan Franda sebagai tunangannya. Andreas sudah saling mengenal satu sama lain. Oleh karena itu, tadi Andreas tidak kelepasan menarik pelatuknya.


“Sebenarnya Frayza ialah mantan istri dari pria asing itu. Dulunya mereka sepasang suami-istri yang tidak pernah merasakan bahagia. Sampai suatu kejadiaan naas ketika terjadi penyerangan. Membuat keduanya harus terpisah seperti ini. Seorang Dokter membawa kabur wanitanya ke Amerika karena diracun. Tuan itu depresi berat, karena bayi yang waktu itu dilahirkan dinyatakan tiada. Setelah setahun lebih pencariannya, akhirnya wanita yang hilang itu siuman dan menjadi seperti sekarang.”


“Tapi Frayza tidak pernah bicara mengenai siapa mantan suaminya, dia hanya bilang kalau ingatannya hilang saat sakit.”


“Apa? Dia bilang begitu? Jadi kau memanfaatkan kelemahannya untuk mengelabuhinya begitu?”


“Aku bisa jelaskan kalau soal itu, karena ini menyangkut perasaan. Lalu apa tujuan pria asing itu datang kemari.”


“Tentu saja tidak lain ialah anaknya, pria itu dulunya melakukan apapun agar wanita itu menjadi miliknya. Dan kau tahu, bayi yang dilahirkan wanita itu adalah darah daging yang ia dambakan. Jadi wajar jika ayah biologis merindukan putranya bukan?”


“Apakah ia juga merindakan Frayza?” Andreas mulai khawatir bila tunangannya akan berbalik hatinya.


“Itu semua tergantung pria asing itu karena dia memiliki segalanya. Baginya wanita itu barang mudah untuk didapatkan. Sekarang yang terpenting ialah berikan mereka waktu untuk berkumpul dahulu. Baik kau dan aku hanya orang luar.”


Disela-sela perbincangan ini, Franda menyajikan bir dan anggur untuk menemani pembicaraan yang serius ini. Andreas minum terlalu banyak dan ia mulai mabuk. Franda lalu memberitahu Kenzo jika ia sudah berhasil mengatasi Andreas.


Esok paginya Andreas terbangun dan hendak pamit kembali ke tempatnya. Namun Franda memberikan secarik kertas. Itu adalah tempat yang disiapkan oleh Hikashi.”Datanglah tepat waktu, karena Tuan William ingin menyampaikan hal penting.”


“Franda, apa keterlibatanmu dengan pria ini?”


“Itu tidak penting, husssshhh.” Mengepulkan asap rokok.


“Baiklah jika kau keberatan, aku akan menemuimu lagi setelah urusanku selesai.”


Franda berdiri di depan jedela balkonnya menikmati pagi yang hangat. Beberapa kali ia menghisap rokok untuk meredakan setresenya.


Setelah semalaman menghabiskan malam yang penuh gairah. Hikashi tampak berbinar-binar matanya, dan senyumannya lebih lebar dari biasanya. “Tuan, bukannya hari ini akan pergi untuk menemui pria itu?” ucap Kenzo membawa sarapan Seven.


“Semenit lagi, aku sedang menyisir rambut putraku ini. Tolong perlakukan Steven dengan baik ya, aku titipkan hartaku ini kepadamu.” Hikashi mengoper gendongan bayi itu ke Kenzo.


“Baik Tuan Muda, lalu bagaimana dengan Nona Frayza?”


“Biarkan saja ia tidur sepanjang hari, jika ia lapar biarkan saja. Nanti aku yang menyuapinya ketika kembali.”

__ADS_1


Nampaknya Hikashi masih kesal dan cemburu berat. Ia menghukum Frayza didalam kamarnya. Sedangkan ia akan menemui Andreas untuk membahas masalah ini.


Pengawal Hikashi sudah berjaga di Restoran yang sudah dipesan sebelumnya. Sembari menunggu Andreas ia mengecek beberapa materi pekerjaannya yang tertunda.


“Tuan muda, Pengacara Andreas sudah tiba.” Lapor pengawalnya. Hikashi mengibaskan tangannya tanda mempersilahkan tamunya itu.


Andreas duduk dan langsung disuguhi hidangan yang mewah. “Aku ingin membahas hal banyak denganmu, jadi sambil kita ngobrol. Alangkah baiknya jika kita sambil makan bersama.”ajak Hikashi.


“Tuan, anda sudah berbohong kepadaku. Semalam aku datang ke nomor yang anda sebutkan ternyata pemiliknya orang lain.”


“Cih, kau pikir dirimu saja yang bisa bermain trik kotor?”


“Apa maksutmu!”


“Kau adalah pengacara yang menjadi penjamin tahanan kota bukan? Dan dirimulah yang menyabotase Frayza agar luluh hatinya!”


“Apa yang kau tuduhkan padaku itu salah, aku hanya mengajukan keringanan masa tahanan. Dan untuk Frayza tunanganku sebaiknya kau lupakan dia. Karena sudah menjadi masa lalumu!”


“Bagimu begitu, tapi kami sudah memiliki anak. Dan itu akan menjadi ikatan yang tidak bisa dipisahkan. Walaupun aku sudah menandatangani surat perceraian. Tapi kami belum menjalani sidang resmi putusan. Artinya, kami bisa rujuk kembali dan menjadi keluarga yang utuh.”


“Mustahil, aku lebih baik darimu yang seorang mafia!”


“Kau boleh menilaiku seburuk apapun, tapi ingat. Seorang ibu akan melakukan apapun agar bisa bersama anaknya. Meskipun Frayza menyukaimu, aku pastikan dia akan meninggalkan mu demi anaknya. Dan kau tahu kepada siapa dia akan kembali? Hanya akulah yang pantas untuk dirinya.”


“Sekarang katakan dimana tunanganku sekarang!”


“Kau mau tahu dia sekarang ada dimana?”


“Bajangan! Jangan menguras emosiku!”


“Dia sedang tidur diatas ranjang menantikanku kembali menghangatkannya, kenapa?” Hikashi memprovokasi Andreas.


“Hissss kurang ajar, kali ini kau akan membayarnya lebih mahal!” tangan Hikashi menghentikan pendarahan pada lengannya.


Ia dilarikan ke rumah sakit dan menerima beberapa luka jahitan di lengannya. Beruntunglah hanya peluru melesat, tidak bersarang di lengannya. Sekarang Hikashi diperbolehkan pulang dan diberi obat pereda sakit.


*


*


*


Tangannya masih terborgol disisi ranjang, Frayza merasa sakit dan pegal diseluruh tubuhnya. Ia kehausan dan lapar, rasanya tidak mungkin baginya untuk berteriak meminta makan.


“Kenapa moster itu tidak membuka borgol ini uhhh.” Merintih perih dibagian pusatnya.


Ia mencoba menarik dan mengulur borgolnya. Namun gagal ia lakukan, hari sudah semakin siang dan terik. Terlihat dari jendela besar dari kamar Hikashi. Frayza mulai lemas karena kelaparan, sebab semalam ia kehabisan banyak energi.


Ketika ia mendengar Hikashi pulang ia bangun.


“Kau sudah bangun?” Hikashi masuk membawa semangkuk bubur.


“Ada apa dengan tanganmu?” ia penasaran kenapa lengan kiri Hikashi dibalut perban.


“Oh ini ya, aku baru saja diberi oleh-oleh tunanganmu. Hanya luka kecil hehehehe.”


“Seharusnya ia menembaknya tepat didadamu saja supaya aku bisa pergi.” Ucap arogan Frayza. Tapi Hikashi menahan amarahnya, karea Frayza lupa ingatannya.


“Makanlah, aku suapi.”

__ADS_1


“Fuihhhh,” memudahkan makanannya.


“Fray, jaga sikapmu!”


“Lepaskah aku bedebah!”


“Apa? Kau menyebutku bedebah!” menarik rambut Frayza kebelakang.


“Iya, kau orang jahat dan keji. Sudah melakukan tindakan kriminal dan penyekapan. Lepaskan akuuuu!” Hikashi marah kemudian melepaskan ciumannya yang ganas. Ia memainkan lidah dan menggigit bibir Frayza.


Sontak tubuh Frayza yang sudah kecanduan oleh Hikashi ini secara spontan membalas ciumannya dengan ganas pula. Akhirnya Hikashi berhasil memancing sisa-sisa tenaga Frayza. Ia melucuti pakaiannya dan melakukannya lagi. Hingga beberapa kali membuat Frayza mengerang kenikmatan karena disirami. Ia merasakan tubuhnya begitu mendambakan serangan tambahan dari Hikashi. Bahkan desahannya menjadi seirama karena permainan yang mereka lakukan.


“Apa ini belum cukup menghukummu?” Hikashi melihat wajah Frayza sudah merah dan basah.


“Hsssshhhh ahhh,” mendesah terus karena menikmatinya.


“Baiklah,” Hikashi membuka kunci borgol tangan kirinya.


Sekarang ia berbaring disamping Frayza, matanya menatap lampu kristal. Tangan kecil Frayza merayap menjelajahi dada bidangnya. “Kau mau apa?” melirik tangan mungil merayap.


“Apakah ini perbuatan Andreas?” ia meraba lengan Hikashi yanh terbalut perban.


“Hemb, tidurlah.” Memiring ke kanan membelakangi. Lalu tangan kecil itu menelusup diselah lengannya ke perut. Ternyata Frayza memeluk Hikashi yang sedang demam. Sehingga Frayza menempelkan tubuhnya, agar panas Hikashi turun. Selama 1 jam inilah Hikashi merasa tubuh yang panas kembali ke suhu normal. Dilihatnya tangal kecil nan mungil itu masih melingkar diperutnya. Bahkan pipi Frayza menempel dipunggungnya.


Hikashi tersenyum kecil “Ckckck,” ia sedikit geli melihat Frayza spontan memeluknya. Ia membalikkan tubuhnya dan berpindah ke sisi yang lain. Sekarang ia berada dibelakang Frayza, memeluk dan mendekap wanita itu penuh sayang.


“Kau bangun?” ia merasa rambutnya dielus dengan lembut helaiannya. Ternyata Hikashi memainkan rambutnya yang panjang tergerai.


“Tuan, siapa namamu?”


“William Hikashi Alexander, dulu kau memanggilku suamiku sayang. Kenapa?”


“Apakah dulu kita sering melakukan ini?”


“Tentu, jika kau tidak patuh aka menghukummu dengan kasar!” wajahnya mendekat dan deru napas mereka saling beradu.


“Lalu siapa kau?” Frayza bertanya lagi.


“Aku adalah lelaki yang melingkarkan cincin dijarimu.” Hikashi menjawabnya dengan mendekatkan lebih dalam wajahnya.


“Lalu?”


“Kita adalah sepasang suami-istri yang bahagia, memiliki dua orang putra yang tampan dan sehat. Yang pertama namanya Jade, sekarang tinggal di Inggris. Yang kedua, anak yang bersamamu bernama Steven.”


“Pantas, aku pernah mengucapkan namanya karena tidak asing. Apakah Jade merindukanmu?”


“Sangattt... Sangattt merindukanmu.” Hikashi memeluk erat Frayza dibawah selimut yang sama.


“Tuan William, kenapa aku tidak ingat?”


“Ada wanita jahat yang meracunimu Sayang, kau tidak perlu mengingatnya lagi. Yang terpenting sekarang aku sudah menemukan kalian berdua. Aku berjanji akan melindungi kalian dari bahaya apapun.” Wanita ini merasa bahagia dan nyaman berada di dekapan pria asing ini. Bahkan jantungnya berdebar kencang, tubuhnya menjadi panas penuh gairah. Apakah ini perasaan yang buta, tapi jujur untuk siapa rasa ini.


“Oh tidak, lenganmu berdarah Tuan.” Akibat banyak bergerak, perban ini merembes merah.


“Aku akan meminta tolong Kenzo untuk mengganti perbannya.”Hikashi panik dan beranjaka dari ranjanh.


“Biar aku saja,” pinta Frayza.


Usai mengganti perbannya, Frayza mandi untuk membersihkan dirinya. Set baju sudah disiapkan untuk pakaian ganti dirinya. Ia melihat Hikashi kesulitan memakai kemejanya, lalu didekatinya. “Aku bantu,” tangannya memakaikan kemeja dan mengancingkannya.

__ADS_1


(Astaga pria ini, luar biasa sekali tubuhnya. Ya Tuhan biburnya kenapa bisa merah merekah seperti buah ceri. Ya ampun kumia tipisnya menambah kesan ke laki-lakiannya. Benarkah pria ini yanh sudah bercinta denganku beberapa kali? Oh Fray, otakmu sedang kau. Kau tidak tahu jika pria ini mafia atau bandar narkoba bukan? Kau harus kabur dari tempat ini bersama Seven secepatnya. Tapi kalau apa yang dikatakannya benar, apa aku tidak rugi sudah bercerai darinya? Ahhh sadarlah Fray, dia sudah melecehkanmu. Jangan terpesona dengan tubuhnya. Kau harus ingat siapa dirimu sekarang).


__ADS_2