
JERMAN,
Pertemuan dan kegiatan organisasi menjadi lawatan Ramon yang mendampingi Hikashi. Selama melakukan banyak kunjungan ini Ramon semakin banyak tahu tentang rutinitas Hikashinyang padar dan mendatangkan setres.
“Terimalah,” memberikan berkas kepada Ramon untuk dibuka.
“Apa ini Tuan?” penasaran.
“Yang perlu kau ketahui, selama ini kau sudah melakukan pekerjaan dengan baik selama lawatanku. Itu imbalan karena kau menang kompetisi di Wihara suci. Aku besok akan berangkat pergi ke Inggris, jika kau mau melacak keberadaan mereka. Kuberi waktu dan ajaklah beberapa rekan perjalananmu.”
“Tapi bagaimana dengan Tuan Hikashi bila sayang mengabaikan tugas saya?” terenyuh mendengar perkataan Hikashi baru saja.
“Aku melakukan ini untuk membayar hutang janjiku padamu. Inggris adalah rumah pertamaku, jadi untuk apa kau khawatirkan aku. Hoaaaahhhh, rasanya aku mengantuk.”
Saat selesai rutinitas hariannya, Hikashi menghabiskan waktunya berada dalam kamar hotel hingga pagi baru keluar. Ramon yang membuka berkas dan melihat beberapa potongan rekaman video merasa janggal dengan beberapa potong bagian. Seolah ada orang yang sangat familiar bentuk tubuhnya. Namun sayang sekali, dia agak sulit mengingatnya. Malam harinya Ramon memutuskan untuk pergi memulai rute pencarian jejaj orang yang membunuh Digna.
JEPANG,
Suasana dalam kamar pasien Frayza dirawat masih sepi dan sunyi. Dokter Kelvin tengah pergi karena urusan penting. Dan saat ini Kenzo berdiri tepat di depan pintu. Dirinya ragu apakah harus masuk atay tetap berdiri diluar. Dari dalam Frayza tidur miring membelakangi pintu. Matanya masih terbalut perban, sehingga membuatnya tidak mengenal waktu ini.
“Fred, ku harap kita berjumpa lagi.” Kenzo meletakkan keranjang buah dan camilan untuk Frayza.
Dirinya tak tega melihat kondisi rekan kerjanya yang menjadi korban penyusupan. Usai dari rumah sakit, Kenzo mendatangi kuburan Rocky sang anjing pintar. Dia membelikan bola basbol, mainan kesukaan Rocky. Dibawah pohon kesemek ini jugalah, dulu Kenzo melatih dan bermain bersama Rocky. Sekarang tempat ini menjadi monumen mengenang Rocky. Rumah Hikashi sudah rata dengan tanah, sudah tidak ada lagi bekas kehidupan dan bangunan megah lagi disana. Hanya bekas puing-puing bangunan yang kemudian ditanami pepohonan.
“Kenzo, tadi kau bilang pergi menengok Agen Fred. Bagaimana keadaanya?”
“Dia sedang tidur, dan matanya masih berbalut perban. Aku tidak tega melihatnya, jadi aku putuskan pergi saja Ketua.”
“Kalau begitu aku akan mentransfer uang untuk dana pensiun dan asuransinya. Dia sudah tidak bisa lagi dipekerjakan lagi.”
“Ketua, tapi Agen Fred adalah orang yang cekatan. Berkatnya juga, dia menciduk penyusup. Kemampuannya juga Bagus dalam pertahanan hidup.”
“Aku tidak bisa memperkerjakan orang cacat. Walaupun dia luar biasa, tapi standar menjadi pengawal Tuan Hikashi bukanlah orang lemah.”
Keadaan Frayza memang tidak pernah baik selama bekerja disini. Bahkan. Dirinya seolah tak bisa merasakan hidup menjadi manusia normal. Selanjutnya, Kenzo menemui Damora yanh tinggal di sebuah Hotel.
HOTEL,
Gadis cantik yang menyanggul rambutnya tampak lebih segar usai mandi. Dia melihat pemandangan kota Tokyo dari jendela kaca.
“Nona Damora, saya sudah datang.”
“Oh agen Kenzo, terimakasih kau sudah datang kemari. Aku mau bertanya, kapan Hikashi akan kembali lagi ke Jepang?”
“Saya tidak tahu Nona, tapi menurut kabar terakhir dan Agen Ramon kepada Ketua Matsumoto. Sekarang ini Tuan Hikashi akan ke Inggris, mungkin beliau sudah mendarat sekitar 4 jam lalu.”
__ADS_1
“Apa?” Damora terkejut mengetahui Hikashi kembali ke Inggris lagi.
“Ini benar Nona, mungkin Tuan Hikashi tidak akan kembali ke Jepang untuk waktu yang dekat. Karena Tuan Hikashi adalah orang yang sibuk, jadi dia memiliki agenda yang padat.”
“Pesankan aku tiket kembali Ke Inggris di penerbangan yang paling awal.”
“Saya sudah menyiapkannya Nona, kelas Bisnis. Dua jam lagi di penerbangan selanjutnya.” Menyodorkan tiket pesawat Tokyo-London.
“Apakah ini sudah direncanakan?”
“Ini dari Ketua Matsumoto, yang diperintahkan langsung oleh Tuan Muda Hikashi kami. Mohon diterima tiket pesawatnya ini.”
“Hihihi, tentut saja. Aku akan mengemasi barang-barangku. Tolong siapkan mobil, dan antar aku kesana. Oiya, bagaimana dengan kabar agen Fred? Aku ingin berterimakasih kepadanya karena sudah mengawalku selama disini.”
“Dengan berat hati saya sampaikan bahwa, Agen Fred sudah diberhentikan bekerja karena dia mengalami kecacatan. Tuan muda kami tidak bisa mempercayakan keselamatannya pada orang cacat. Sekalipun dia adalah agen terbaik yang kami miliki.”
“Sayang sekali,” Damora turut bersedih atas kemalangan yang menimpa Frayza.
“Sebaiknya Nona dibantu pelayan untuk mengemas barang-barang agar lebih efisien waktunya.”
“Ah kau benar, kalau begitu aku berdandan dulu ya.”
Hari ini Kenzo berhasil membujuk Damora dengan dalih Hikashi sudah berada di Inggris. Gadis itu tampak kegirangan mendengarnya dan menurut begitu saja. Dan akhirnya Damora pergi mengejar Hikashi ke Inggris.
THAILAND,
Tanah kelahiran Ramon ini sudah banyak mengalami perubahan secara besar-besaran. Pusat hiburan sudah banyak tersebar diberbagai tempat. Banyak turis asing yang berlalu-lalang sibuk berwisata. Dia mencari suatu alamat yang di duga menjadi tempat titik terang dari rahasia penting.
Seoarang wanita paruh baya tengah mengelap meja, di kedai penjual mie ini dia membuka usahanya.
“Tu-tuan...” terperangah melihat Ramon datang.
“Kau, kau jangan lari!” wanita itu hendak melarikan diri dari Ramon yang mencari keberadaanya selama ini.
“Ti-tidak tuan... Maafkan aku.” Wanita itu memohon kepada Ramon agar diampuni.
“Atas perintah siapa kau mengirim perawat yang menjaga Digna!”mencengkeram kedua lengan wanita yang ketakutan.
“Aku hanya disuruh, aku tidak terlibat Tuan. Sungguh, aku hanya menjalankan perintah orang tidak dikenal. Agar merekrut orang menjadi perawat Digna. Aku mohon...” tangannya meraba garpu yang berserakan di meja.
Jlebbb! Menamcapkannya di leher tepat diurat nadinya. Darah mengucur dengar derah, karena aliran darah itu terputus oleh garpu yang sengaja digunakan untuk alat bunuh diri.
“Kauuuu, jangan mati Bibi!” Ramon memapah wanita yang merupakan Bibi dari Digna. Kekasihnya yang telah tewas.
Wanita itu banyak mengeluarkan darah, saat perjalanan menuju rumah sakit. Wanita itu membisikkan kalimat ditelinga Ramon dengan rintihan yang kemah.
__ADS_1
“Apa Bi, aku tidak bisa mendengarnya. Lebih keras lagi!” Ramon mencoba memaksa Bibi bicara.
Namun sayang, Bibi Digna melemah kesadarannya dan pingsan. Ramon tidak bisa menunggu lebih lama lagi, karena dia juga ada tanggungan nyawa lain. Yaitu Frayza, yang ikut terluka serius. Setelah Bibi Digna masuk ruang operasi, Ramon meninggalkan beberapa uang deposit untuk biaya operasi dan perawatan. Dia bergegas kembali ke rumah Bibi Digna. Didalam rumahnya inilah, Ramon menggeledah seisi rumah dan masuk kedalam kamar Digna dulu. Ramon mencari dan menfoto apapun yang ada, untuk dia selidiki lebih lanjut.
FRAYZA, TOKYO.
Semuanya gelap, entah siang maupun malam. Frayza hanya bisa mengandalkan Indra pendengarannya saat ini.
“Kenapa datang terlambat Dokter, aku haus seharian ini tidak ada yang menjengukku. Bahkan rekan kerjaku semua tidak ada yang datang. Ramon juga tidak mengabariku, aku disini seolah sudah mati.”
Jari telunjuk itu mengatup di bibir Frayza yang mengoceh agar diam. Mengambil gelas air putih dan beberapa obat untuk diminum. Frayza tampaknya lemah sekali, badannya mulai kurus sejak dirawat dirumah sakit.
“Aku merasa, kadang kakiku pegal-pegal dan linu bila terkena udara dingin isshhh.” Mengusap pergelangan kakinya yang masih meninggalkan bekas di kulit.
Dia merasakan kakinya mulai dipijit lembut dan merasakan hangat dioles krim. Terasa lebih nyaman dan tidak ngilu lagi. Dan perlahan perban pembungkus matanya diurai belitannya. Helai demi helai perban itu ditarik sampai habis. Kini tinggal kain kassa dan kapas penutup matanya.
“Apakah aku sudah boleh membuka mataku?” ucap Frayza yang girang lepas perban.
Dan perlahan dia membuka kelopak matanya untuk melihat. Dia buka lebar-lebar matanya, tapi hanya gelap. Iya, hanya gelap saja yang terlihat.
“Kenapa semuanya gelap? Ada apa dengan mataku, mataku? Kenapa mataku menjadi gelap, tolong berikan aku cahaya! Dokter Kelvin, berikan aku tanganmu, katakan kalau ini hanya mimpi hikssss hikssss hikksss.”
Pipi Frayza dipegang erat, bibirnya merasakan basah. Ternyata dia sedang beradu bibir dengan sesorang. Anehnya lagi, dadaknya begitu sesak. Bola matanya melebar, dan laki-laki yang menciumnya itu membanting dirinya kembali hingga terpental.
“Siapa kau!” teriak Frayza marah.
“Hah siapa? Siapa lagi, aku kan Dokter Kelvin. Kenapa kau membuka perbanmu, eh kenapa bisa lepas penutup matanya?” Dokter Kelvin mengais kain perban yang berserakan.
“Dokter, apa yang kau bicarakan tadi heh? Kau kan yang baru saja masuk, dan melakukan ini semua?” memegang bibirnya.
“Mana mungkin aku bertindak diluar prosedur medis. Aku baru saja tiba di Rumah sakit. Tempat yang aku datangi itu kamar mayat, aku mana sempat mengunjungi! “
Deg! Frayza sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Lantah siapa yang menyelinal masuk kedalam kamarnya, serta merawat kakinya. Dan parahnya lagi mencium bibirnya.
“Ah apa ini, ada kunci dan buku tabungan yang ditulis untukmu.” Frayza mulai menebak-nebak bahwa ada orang lain yang datang. Bukan Dokter Kelvin, namun orang lain.
“Apa buku tabungan dan kunci?”
“Oh sebentar ada suratnya, aku bacakan ya. ‘Terimakasih’ begitu tulisannya.”
“Hah terimakasih untuk apa?”
“Entahlah, tapi dalam buku tabungan ini ada nominal uang yang sangat banyak. Tapi nama yang tertera ini milikmu Fred.”
Siapakah orang yang menyelinap dikamarnya ini? Kenapa Frayza menjadi buta? Simak terus ceritanya ya, jangan lupa tap hati dan komentarnya. Sampai jumpa di bab terbaru besok lagi.
__ADS_1