
Dari berita yang beredar ini Frayza memilih mengurung diri di kamar. Ditemani Hikashi tentunya, ia merasa sangat senang karena bisa berduaan dengan leluasa. Siapa lagi kalau bukan dirinya yang merasa diuntungkan dengan adanya berita ini. Dengan begini ia bisa bebas melakukan apa saja kepada istrinya.
“Sayang, apa mau aku pijit?” Sudah menenteng kemben untuk baju ganti istrinya.
Sembari tengkurap Frayza menggelengkan kepalanya. Kalau tidak mau, “Apakah beritanya masuk ke internet?” tanyanya pelan.
“Sebentar ya aku cek.” Menggulirkan layar ponselnya, tampaknya Dewi fortuna lagi memihak banyak pada Hikashi. Cepat-cepat ia memasang wajah sedihnya, padahal dalam hati dia senang sekali.
“Apa beritanya sudah menyebar!” sambar ponsel dari tangan suaminya.
“Yang sabar ya Sayang, aku sudah mengutus Matsumoto untuk menghapus berita ini.” Mengusap punggung istri berkali-kali sambil menarik pengait bra. Apa pengait bra? Iyalah apalagi coba usaha Hikashi kalau tidak demi itu.
“Aku benci orang-orang menilaiku buruk!” merebahkan kepalanya didada bidang Hikashi. Tentu saja, pria cabul itu terus mengompori istrinya dengan kalimat suportif. Padahal istrinya terguncang mentalnya akibat berita miring.
“Iya Sayang, aku ngerti kok kamu wanita yang baik-baik. Mereka hanya menjual skandal untuk makan nasi dipinggir jalan. Tenang saja Sayang, ya ada Suamimu disini. Aku akan membuat hatimu tenang dan damai.” Ucapannya tidak sesuai dengan tangannya yang bergerilnya mencari resleting kulot yang berada di samping pinggang istrinya.
“Tapi aku takut, anak-anak kita akan dicemooh Sayang.” Frayza memeluk erat suaminya, dirinya hanya bisa mengandalkan suaminya saja. Hanya suaminya saja, perlu dicatat ya.
“Iya Istriku, bergantunglah padaku. Orang yang membuat berita buruk tentangmu pasti akan kaya jalur haram. Oke?”
“Hu’um.” Kali ini Frayza mendongakkan wajahnya yang memelas. Wajah yang pasrah berada tepat dihadapannya.
Sial! Tangan Hikashi tidak bisa berbuat nakal lagi, sekarang ia merasa ada yang tegang. Bagaiman bisa tangannya nakal menjamah tubuh istrinya. Jika semuanya sudah terlucuti tinggal ****** ***** warna merah.
“Fra-Fray...” ia menjadi gugup melihat istrinya yang berdiri tegak dihapannya menempel erat ditubuhnya.
“Kenapa?” wanita ini terlalu bersedih hingga dia tak menyadari hanya memakai pakaian dalam.
Hikashi tak bisa memalingkan badannya. Karena pelukan Frayza begitu erat melingkari pinggangnya. Rasanya ia ingin melerainya tapi enak begini.
“Papa, besok aku ada perjamuan wali murid!!!” Jade masuk kamar tanpa ketuk pintu.
“JAAADEEEEEE!” bentak Hikashi dengan cepat melindungi tubuh istrinya.
“Ups!” menutup matanya dan merapatkan daun pintu kamar.
“Sayang, pakai kemben ini. Nanti kita sambung lagi obrolan kita.”
“HAHHHH!!!” menyadari dirinya hampir polos tanpa baju.
“Maaa maaf Sayang, aku urus Jade dulu.” Hikashi pergi daripada kena amukan Frayza.
Benar-benar suami nakal, cabul, hipersek dan hidung belang. Berani-berani mencoba mengambil keuntungan dari musibah ini. Kacaunya lagi, Jade yang baru pulang dari Sekolah asrama nylonon masuk kamar orang tuanya. Oh betapa malunya Frayza! Menepuk keningnya.
“Jade!” Hikashi datang melabrak anaknya.
__ADS_1
“Aku tidak lihat apa-apa Papa. Suer!”
“Hissss kau ini! Sekarang jawab jujur, apa yang kau lihat tadi!”
“Mama kulitnya mulus Papa, dan kau berdiri didepannya!” langsung kena mental kau Hikashi, kelar sudah keciduk anak sulungmu yang remaja ini. Kapok lah kau! Hahahahaha.
“Sekarang kau kemasi barangmu cepat!”
“Aku baru pulang Papa, aku mau tidur.”
“Tidak. Tidak! Kemasi barang-barangmu dan malam ini kau akan menginap di Villa bersama adikmu Seven. Dokter Thomas juga ikut kesana, aku akan menyuruh Kenzo mengawasimu.”
“Papa!!!”
“No protes-protes klub Jade!”
Senjata Hikashi akhirnya keluar lagi, yah kali ini ia akan mengirim kedua anaknya untuk berlibur ke Villa. Parahnya lagi, si sulung Jade melihat siluet tubuh Indah istrinya. Ini sangat membuatnya frustasi, awalnya ia pikir pas suasananya untuk melakukan ****. Tapi Jade, datang tiba-tiba dan memporak-porandakan agendanya. Rasanya Hikashi ingin mengirim Jade ke Inggris lagi. Dia bisa gila kalau anaknya masih begitu menempel.
“Pergilah bersenang-senang di akhir pekan kalian. Aku dan Frayza mau menenangkan diri dari berita buruk.”
“Baik Tuan.” Kenzo langsung memboyong pasukan perusuh itu pergi ke Villanya.
Hatinya yang sudah tak karuan ini berjalan lemas. Ia berusaha sekuat tenaga menetralkan kewarasannya agar bisa lanjut lagi.
Mohon maaf ya pembaca kalau merasa kurang suka sama sikapnya Hikashi. Ya emang kek ginilah kehidupan pria kalau udah sayang banget sama bini. Apa-apa maunya ngajak kelonannnn mulu deh.
“Kalian kenapa bisa datang bersama? Sudah jadian ya?” tebak Hikashi.
“Aku alergi dengan kacang kedelai Tuan William.” Sindir Helena.
“Aku bukan odiplus komplek yang nagsu dengan wanita tua. Sebentar lagi menepous, sangat disayangkan keperjakaanku.”
“Tapi kau kan mengidolakan Bintang film biru, bekas orang banyak malah.”
“Itu bahan berfantasi Tuan Hikashi, beda dengan bahan praktek berkembang Biak.”
“Ooooo...” mengerucutkan bibirnya paham.
“Hai rambut salju, kemari!”
Helena yang mengagumi bangunan modern tak berhenti takjut. Walaupun sudah mal tapi kemegahan rumah ini bisa tergambar jelas.
“Eh keren juga ya rumahnya.”
Jawabannya tidak nyambung wahai Helena. Kau jangan norak, plis. Biar Matsumoto saja yang norak, kamu jangan!
__ADS_1
“Jika kau mau diluar, berjagalah dikandang anjong sana!”
“Hessttt jangan bicara kasar pada Helena. Nanti Frayza bisa marah kalau tindakanmu tidak sopan!” mengingatkan Matsumoto agar lebih baik lagi bicaranya.
Demi menyenangkan hati Bosnya, Matsumoto meminta maaf karena telah memakin Helena. Dengan begitu Helena tidak akan bicara macam-macam jika diadukan kepada Frayza.
Dari hasil penelusuran mereka berdua ternyata Putri Aiko lah dalang dari berita ini. Ia membayar wartawan majalah untuk menyebarkan isu palsu. Kenapa Aiko tega melakukan hal ini, jelas motifnya ialah balas dendam.
“Apakah aku boleh menemui Frayza, aku ingin minta maaf.”
“Minta maaf sana sama rakyat!” celetuk Matsumoto.
“Dia masih dikamar.”
“Aku pikir Nyonya ikut rombongan pergi berwisata, Tuan. “
“Frayza akan tetap bersamaku selama berita itu masih di beritakan. Kesehatan mentalnya harus disembuhkan. Aku takut ia depresi dengan pemberitaan miring ini. Jadi aku habiskan waktuku bersamanya saja.” Ia memainkan alibi lagi agar bisa berduaan dengan istrinya. Sampai-sampai mengungsikan anak-anaknya sampai ke Villa agar tidak terganggu.
“Baiklah kalau aku tidak menemuinya secara langsung. Tolong sampaikan permintaan maafku.”
“Iya.”
“Dan Tuan William mengenai pinalti bagaimana?”
“Apanya yang gimana kok ada adu pinalti? “
“Kalau kalian butuh lapangan bola, sewa saja stadion. Aku mau tidur dulu!”
Ternyata, Matsumoto hanya memanipulasi Helena jika kena pinalti. Ia melirik Matsumoto yang memelototinya balik.
“Apa kau!”
“Suka bilang Bos!”
“Najis!”
“Gumoh huek!”
“Menjigongkan!”
“Membagongkan!”
“Kisut!”
“Reot!”
__ADS_1
“STOP!” Keduanya kabur sekali mendengar bentakan Bos besar.