TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
TAK SANGGUP HIDUP TANPAMU


__ADS_3

Bangunan Universitas Tokyo ini seperti memiliki kekuatan magis yang kuat. Seandainya dulu dia memiliki kesempatan untuk belajar lagi. Mungkin ia tidak akan pernah menjadi bodoh.


“Aku ini apa, sekolah saja tidak sampai kekejar. Ya Tuhan...” ngenes sekali Frayza dulu menghabiskan masa mudanya untuk menyerahkan kepada Frank.


Dia melihat-lihat kontes yang masuk nominasi lomba, saat itu dia iseng membuka situs rancangan busana yang ia ikuti. Dia melihat gambar rancangan baju yang memakai nama samarannya. Dan parahnya juga, baju yang dirancang tersebut itu mirip dengan desain dibuku lamanya. Ini adalah hal yang tidak kebetulan, Frayza mencatat alamat surel pemilik gambar tersebut. Sedangkan ia tidak memiliki ponsel saat ini.


“Nona, Tuan Hikashi menginginkan anda menemuinya.”


“Baiklah,” menyusul Hikashi yang sedang bersiap-siap untuk berpidato.


Hikashi tengah mempersiapkan diri dengan membaca teks pidatonya. Suaminya benar-benar berkarisma dan terlihat berwibawa.


“Apa yang membuatmu begitu lama sampai kemari?”


“Aku melihat nama pemenang kontes terbuka ini, dan ternyata namaku tidak masuk hehehe.”


“Hal yang sia-sia tahu jika kau mengikuti kontes terbuka, mereka pasti sudah memiliki kriteria khusus.”


“Jika pesertanya melakukan plagiat karya, lantas apa yang harus aku lakukan?”


“Plagiat?”


“Iya, karyaku memiliki kemiripan dengan milik seniman lainnya.” Mengepal tangannya.


“Mungkin itu hanya kebetulan, Fray.”


“Mana mungkin bisa dikatakan kebetulan jika, judul, desain, dan namanya saja mirip.”


Barulah Hikashi memperhatikan omongan Frayza, jika istrinya mengalami kesulitan. “ Setelah aku selesai berpidato, kita lanjutkan lagi. Sekarang kau tunggu aku diruang ganti bersama Pengawal. Jangan kemana-mana sampai aku kembali.”


Para peserta yang terdiri dari anak-anak muda sudah berkumpul di Aula yang besar. Mereka riuh gempita memberikan tepuk tangan yang meriah. Kehadiran Hikashi menjadi pembuka pidato sangat berkesan dan singkat. Setelah itu Hiroshi memberikan pidatonya karena tamu kehormatan yang tiba. Aiko terus melontarkan tatapannya kepada Hikashi yang lebih menarik. Hatinya masih terpaut di Hikashi, dia benar-benar belum bisa melupakan Cinta pertamanya.


“Pangeran Hikashi,” tegur Aiko saat Hikashi berlalu didepan kursinya. Namun, Aiko harus menelan kekecewaan karena dia hanya memperoleh lambaian tangan Hikashi saja. Pria tampan nan berkarisma itu pergi masuk ke belakang podium besar. Saat Aiko beranjak dari kursi duduknya, Hiroshi menyorotnya dari atas podium. Dan akhirnya diurungkan niatnya mengejar Hikashi.


Didalam ruang tunggu Frayza mulai gelisah menunggu Hikashi kembali. Ia ingin tahu siapa perancang busan yang memiliki gambar yang sama miliknya. Sepertinya Frayza melupakan buku catatannya di masa lalu yang sudah ditemukan Julian. Ia pusing dan menekan kepalanya, sambil memijiti.


“Aku sudah selesai pidatonya, ayo kita lanjutkan lagi.”


“Itu, kepalaku pusing.” Hidung Frayza mampet dan sepertinya ada yang mengalir.


“Kau mimisan!” Hikashi melihat darah segar mengucur dari hidung Frayza.


Tangan Frayza membasuh mukanya, dan benar tangannya sudah berdarah. Ia menoleh ke cermin dan melihat wajahnya penuh darah. “Bagaimana ini?”


Hikashi berjalan mundur melihat Frayza mengeluarkan darah dari hidungnya. Ini sebuah pertanda bila kebersamaannya dengan Frayza tak akan lama lagi. “Cepat bawa Nyonya kalian ke Rumah Sakit, beritahu Dokter Kelvin kalau Frayza sedang darurat!” Hikashi terperanjat ketakutan setengah mati melihat darah yang sudah menetes dan menodai baju Frayza.

__ADS_1


“Sayang, aku tidak apa-apa kok.” Menarik lembaran-lembaran tisu untuk mengelap kucuran darah.


“Fray, lekas berbaring agar darahanya tidak keluar terus.” Hikashi masih ketakutan setengah mati melihat darah yang masih mengalir.


Mobil Ambulans sudah tiba, perawat datang membawa tandu membawa Frayza. Lalu diikuti Hikashi diiring mobil dari belakang. Frayza berpikir, kenapa suaminya mengabaikan dirinya dan tak mau menemaninya di mobil ambulans. Pasti hal yang tidak beres terjadi, sekarang dirinya merasa sudah tk berharga lagi. Sedih sekali hatinya, sudah didiskualifikasi dalam perlombaan desain busana. Sekarang suaminya seolah tidak mau dirinya.


“Aku sudah mempersiapkan pemeriksaannya, Tuan kau bisa menunggunya di ruanganku.” Dokter Kelvin meminta Hikashi menunggu diruangannya.


Frayza semakin sedih, karena tak sepatah kata pun terlontar dari bibir Hikashi untuk mendukung keadaanya.


“Sayaaang,” lirih Frayza menyebut nama suaminya saat didorong masuk unit darurat.


“Ada aku, Fray. Jangan khawatir.” Dokter Kelvik sudah memakai baju medis dan memegang suntikan, saat itu Frayza mulai tak sadarkan diri.


Lampu menyala, tanda tindakan lanjutan diambil. Matsumoto yang memperoleh kabar tersebut berlari dan tak menemukan Hikashi berada di kursi tunggu.


“Ketua, Tuan muda berada di ruangan kerja Dokter Kelvin.” Ungkap pengawal.


“Terimakasih, aku akan segera kesana.”


Seperti naluri kakak terhadap adiknya, Matsumoto mencari keberadaan Hikashi. Ternyata benar, Hikashi seolah tertekan tak bergerak sama sekali.


“Tuan muda!”


“Matsumotoooo!”


“Aku tidak tahu,” matanya berkaca-kaca menahan air mata.


Matsumoto merangkul Hikashi yang duduk. Dia berdiri didepannya sembari mengusap punggung Bosnya yang sedang rapuh.


“Aku hanya meninggalkannya sebentar, tau kenapa dia bisa begituuuu.”


“Kita percayakan keadaan Nona Frayza kepada Dokter Kelvin. Semoga Nona Frayza tidak mengalami masalah serius.”


“Aku takut melihatnya mengeluarkan darah, dia pasti kesakitan selama ini hiks hiks hiks.”


“Menangislah Tuan muda, disini aman.”


Bayangan kematian itu semakin nyata, Hikashi belum siap bila Tuhan mengambil Frayza secepat ini. “Apa aku terlalu egois memaksakan diri untuk memiliki Frayza?”


“Tuan adalah pria yang pemberani, sepertinya jalannya saja yang salah.”


“Aku menginginkan dia melebihi hidupku, jika Tuhan mengambilnya dariku lebih cepat. Untuk apa aku melakukan semuanya ini. Kalau pada akhirnya akan percumaaa hhhhhaaaaaah!”


“Jangan bicara gegabah Tuan Muda, kita doakan Nona Frayza sehat.”

__ADS_1


“Aku tidak ingin kehilangan dirinya huhuhu.”


“Tidak akan aku biarkan hal itu terjadi Tuan Muda. Aku pasti akan melakukan segala cara apapun agar Nona Frayza bisa selamat.”


“Apa ini sebuah konspirasi?”


“Ini pasti ada campur tangan pihak lain yang iri dengan anda. Nona Frayza adalah wanita dari kalangan biasa. Tentu saja banyak orang yang tidak suka.”


“Kasihan istriku yang Malang, hiks hiks hiks.”


“Sudah, jangan diteruskan. Takutnya nanti tiba-tiba Dokter Kelvin datang.”


Hikashi menyeka matanya agar kering, kemuadian bersikap tetap tenang. Sampai pemeriksaan yang dilakukan selesai.


“Maaf, membuat menunggu lama. Dari hasil pemeriksaan yang sudah aku lakukan. Ada orang yang sengaja mencampurkan racun didalam minuman atau makanan yang Nona Frayza konsumsi. Ini jenis racun yang sudah aku teliti, untungnya dia segera dilarikan ke Rumah sakit. Telat 10 menit, mungkin peluru panas akan bersarang dikepalaku.”


“Ya Tuhan, ada yang berani melakukan ini?” Matasumoto kaget membaca hadil laporan medis milik Frayza.


“Tuan muda, apa kau tidak berminat membacanya juga?”


“Untuk apa, sekarang dia sudah melewati masa kritisnya. Aku mau menjenguknya.” Bicara acuh,tapi aslinya rapuh.


Dokter Kelvin heran kenapa Hikashi biasa saja, tidak sekaget Matsumoto. Apakah ada hal lain yang membuat Hikashi menjadi berubah?”


Dan benar saja, Hikashi tak berani masuk ke kamar pasien. Dia memantau Frayza lewat kaca di pintu. Seperti anak kecil yang menunggu Ibunya siumana. “Bangun Sayang, ayo kita pulang ke Inggris. Kita besarkan bersama-sama anak kita Jade. Jangan tiduuuuuurrr, ayo bangun cintaku... “ ucap lirih Hikashi yang tak terasa meneteskan aor mata.


Pengawal yang berjaga menundukkan kepala, karena mereka menganggap tidak melihat apapun termasuk Hikashinyang menangisi Frayza. Mereka berjaga diluar dan memeriksa siapa saja yang masuk. Sampai beberapa jam Hikashi belun memberanikan diri untuk menyapa Frayza. Ia lebih memilih berdiri melihat istrinya didalam sedang tidur. Akibat obat bius yang disuntikkan.


“Tuan Muda, jangan berdiri nanti kakimu kram.”


“Tidak,”


“Aku bawakan kursi ya.”


“Tidak,”


“Atau kita bisa saja masuk kedalam sana?”


“Tidak,”


“Tuqn muda, saat ini Nona pasti senang jika anda berada didekatnya saat siuman.”


“Tidak Matsumoto, aku mau memantaunya dari sini.”


Hikashi tak bergeming dengan ajakan Matsumoto, seperti anak kecil yang akan kehilangan induknya.

__ADS_1


“Selidiki, jangan lengah.”


“Baik Tuan, akan saya kerjakan.”


__ADS_2