
“Tuan muda, kita sudah tiba.”
“Ekkkhhhh, hooaammbb.” Menggeliatkan tubuhnya dan melihat sekitaran dengan mata yang sayup.
“Tuan muda kita sudah sampai di Jepang.”
“APAK KAU BILANG, JEPANG!”
“Hahahahahah, kena tipuan yeyeyeye.”
“Awas!” melempar bantal ke wajah Kenzo.
“Aduhhhh,” merintih.
“Berani-beraninya kau mengagetkanku. Turun dari pesawat kau jalan kaki!”
“Ampuni aku, Tuan Hikashiiiii.” Memelas.
“Tidak!” menggelengkan kepalanya.
“Yahhh, celakalah aku kalau begitu huaaaaaa.” Dalam bayangannya terlintas singa-singa lapar sedang menunggunya di meja makan. Dengan mengasah pisau dan garpu. Imajinasi Kenzo ngeri membayangkan bila dirinya disantap binatang buas.
“Cepat turun dan bawa barangku, jangan berjongkok seperti katak!”
“I-iyayaya, saya kerjakan.”
Hikashi memegang dagunya sambil menoleh lagi kebelakang. Dilihatnya langit malam ini sedikit mendung, sama seperti rindunya yang menggunung. Ingin rasanya berduaan dibawah selimut bersama istrinya. Menceritakan pengalaman kerjanya diluar negeri. Tapi apa daya, sekarang ini Hikashi berada ribuan kilometer jauh dari Frayza.
“Malam ini aku mau tidur lebih cepat, besok aku mau meninjau rapat tahunan dan pajak Perusahaan. Malam ini kau lembur, ck.” Ejek Hikashi.
“Malam ini, untuk rapat besok?”
“Ya!” bentak Hikashi sekali lagi.
*
*
*
Selama di Afrika Selatan, Hikashi tinggal di Hotel. Untuk memudahkan akses, dia memiliki separuh saham Hotel ini. Malam sebelum ia tidur, Hikashi berbincang dengan patrick menanyakan perkembangan kabar Jade. Hikashi sangat senang putra tumbuh mandiri tanpa asuhan orang tua lengkap. Patrick bercerita bila sekarang Jade demam karena tumbuh gigi. Dan Hikashi sedikit gelisah mengetahui kabar sedih ini. Ia berjanji pada Patrick usai dari Afrika Selatan ia akan mampir ke Inggris untuk menjenguk putranya sebentar. Dan Patrick sangat menantikan hal itu. Awalnya Hikashi ingin langsung pulang cepat ke Jepang. Tapi harus ditunda dahulu, ada Jade yang sedang sakit. Dan Hikashi akan banyak menghabiskan waktu bersama Frayza nantinya. Dan malam yang dingin ini membawa hujan deras, membuat lelap Hikashi dalam buaian malam. Di kamar lain ada seorang pria ditemani 4 staff Perusahaan menyeduh kopi pahit untuk menemani lembur. Benar-benar kesalahan yang tidak boleh diulangi lagi. Tubuhnya yang lelah terpaksa bekerja rodi.
*
*
*
--- PAGINYA,
Kantung mata yang tebal dan lingkaran hitam dimata tampak mencolok ketika Kenzo berada di ruang rapat. Hikashi mengamati laporan rutinan yang tidak menunjukan kenaikan keuntungan. Dia marah kepada pegawainya yang tidak dianggap becus. Mereka semuanya terdiam membisu dan menunduk.
“Karena kalian selalu menunjukkan penurunan kinerja dan mengakibatkan rugi Perusahaan maka jangan salahkan aku.” Hikashi menduga ada hal penyelewengan data dari laporan yang mereka buat.
“Tuan William, kami akan memeriksa laporan kami dengan teliti lagi.”
“Kenzo, selidiki akun rekening Bank mereka masing-masing. Dan hitung aset harta dan benda mereka. Jika mereka berbohong dibelakangku, bersiaplah menerima tuntutan Pengadilan.”
__ADS_1
“Baik Tuan William Hikashi, saya akan kerjakan sekarang.” Keringat bercucuran keluar dari wajah mereka yang duduk.
Hikashi menelepon tim Pengacara dan ahli Akutansi agar segera dihadirkan. Mereka semakin gusar dan saling melemparkan tatapan kecut. Tabiat mereka sudah bisa terbaca oleh Hikashi. Hal ini mereka lakukan saat dirinya dulu depresi selang waktu terdahulu.
“Apa kalian pikir aku bisa kalian kelabui? Hohoho, tidak semudah itu untuk mencurangiku. Hasil tambang dan mineral tidak sedikit ini. Apalagi aku sudah menyelinapkan mata-mata di lapangan. Jadi segera pulang dan baca surat gugatan dari Perusahaan. Kalian bisa keluar sekarang!”.
Pegawai yang sudah duduk dan panas dingin ini tunggang langgang berebut keluar. Di dalam ruangan tersisa Hikashi dan Kenzo yang mencetak daftar kerugian Perusahaan.
“Hemmbb, jadi mereka mencuri uangku sebanyak ini ya ckckck.”
“Apakah kita akan meminta kerugiannya dilipatgandakan? “
“Kau pikir aku masih butuh uang?”
“Kan ini menyebabkan kerugian besar, seharusnya mereka dimiskinkan Tuan Hikashi.”
“Walaupun mereka membayar denda kepada Perusahaan. Lantas anak dan istri mereka dapat bertahan hidup kekurangan apa?.
“Baiklah kalau begitu aku tidak akan sekejam itu, silahkan Tuan Muda memastikan nominal angkanya.”
“Aku ingin mereka jera di Penjara dan malu menatap dunia. Sehingga keluarga mereka tahu kalau tindakan buruk pasti ada resikonya. Jangan kau habiskan harta mereka, biarkan keluarganya memperoleh sedikit uang untuk pegangan hidup.”
“Aneh sekali, sejak kapan Tuan Hikashi menjadi pemurah hati. Apa ada yang salah ya.” Kenzo berbicara sendiri sambil memalingkan wajahnya.
“Kalau kau menggunjingku sebaiknya jangan disekitarku bodoooooohhhh!”
“Oh iyayaya Tuan Muda, aku keluar saja kalau begitu.”
“Tidak begitu juga konsepnya Kenzo, namanya atasa itu hak vetonya benar. Tidak boleh protes!”
“Dasar makanan singa!”
“Tuan Hikashiiiii,” tidak berani melanjutkan takut dipelototin Hikashi.
“Berani membantah, ku tinggal kau disini.” Mengancam Kenzo yang tak berdaya.
“Baik, maafkan aku kalau begitu Tuan Muda huffttt.”
“Yang tulus jangan mengeluh, kau pikir aku tidak tahu heeee!”
“Tuan muda Hikashi yang tampan dan murah hati, istrimu sudah menantimuuuu.” Kenzo mengejek Hikashi dan lari terbirit-birit keluar.
“Haiiisssshh kau ini!” dirinya tersipu malu bila berkaitan dengan Frayza. Pipinya ia pegangi yang merasa hangat dan bercermin sambil tersenyum. Sepertinya Hikashi sudah rindu berat, ingin sekali mendengar suaranya yang imut dan menggoda.
Setelah rapat, Hikashi meninjau lokasi tambang yang kebetulan sudah masuk jam pulang kerja. Dia sedikit menjauhi para pekerja tambang yang lusuh dan kotor. Sambil menahan napasnya, dia mengenakan masker penutup wajah.
“Tuan muda, mari kita pergi saja dari sini.”
“Biarkan semuanya keluar dari lokasi tambang, aku mau masuk kedalam.”
“Tapi di dalam sangat bahaya kontur tanahnya tidak stabil, bisa terjadi longsor. Apalagi semalam turun hujan, sebaiknya kita kembali ke Hotel saja.” Bujukan Kenzo tidak mempan. Tampaknya Hikashi masih maih menjelajahi lokasi tambang miliknya. Dilihatnya masih ada seorang buruh tambang yang sedang menggaruk-garuk gundukan tanah. Dari belakang tampaknya pria itu masih muda.
“Apa yang kau sembunyikan disana!” tanya Hikashi mengagetkan pria yang menyembunyikan sesuatu didalam kaosnya.
“Tuan William,” buruh tambang itu merunduk dan membungkun.
“Kenzo, geledah dia!”
__ADS_1
Buruh berkulit hitam itu mempertahankan bungkusan kain dalam kaosnya hingga koyak baju yang ia kenakan.
“Jangan ambil milikku Tuan William,” pinta pria muda berkulit hitam dan kurus itu
Kenzo membuka belutan kain yang ternyata sebuah batu berlian langka. Diperhatikan baik-baik batu berlian mentah itu sangat cantik warnanya. Dengan tatapan tak rela, buruh pria itu melinangkan air matanya guna mengais belas kasihan.
“Waw, kau mengambilnya dari tanah milikku? Sungguh berani nyalimu!”
Kenzo memukul tengkuk pria yang tergeletak dengan sekali pukulan. Dia tidak mampu bangkit karena kaki Kenzo menginjak tubuh buruh tambang.
“Tuan William, aku mohon jangan kau ambil hartaku itu. Aku minta maaf tidak memberikannya kepada Petugas jaga. Karena istriku melahirkan secara operasi, bayiku juga ditahan sudah sebulan. Anak-anakku terlantar dirumah karena tidak ada yang mengurusnya. Aku mohon Tuan William, hukumlah aku. Tapi biarkan aku menebus biaya rumah sakit dan melihat keluargaku untuk terkahir kalinya! “
“DIAM!” Kenzo menekan lebih dalam injakan kakinya.
Terlintas di benak Hikashi bila hal yang sama terjadi pada dirinya. Ia menjadi miskin, dan Frayza hamil hendak melahirkan. Sedangkan Jade menjadi anak pemulung sampah. Batu berlian itu terjatuh dari genggamannya, “Astagah, apa yang sedang kau lakukan Kenzo. Dia manusia jangan perlakukan ia menjadi binatang!”
Kali ini Kenzo heran lagi, biasanya Hikashi tidak memihak dan peduli dengan buruh tambang. Kenapa ini bisa terjadi hal yang aneh lagi. “Baik, maafkan saya yang sudah lancang.” Kakinya ia singkirkan dan membantu buruh tambang untuk berdiri.
“Jadi ini milikmu?”
“Benar Tuan William, rencananya saya hendak menyerahkan kepada Petugas Lapangan. Namun, mereka sering tidak jujur kalau ada barang temuan. Mereka sering membeli dengan harga yang murah. Jadi, ketika saya mendengar kabar kalau Tuan William hendak kemari. Saya memberanikan diri untuk menawarkan batu berharga temuan saya.”
“Jangan menjilat Tuan William!”
“Saya berkata jujur dan berani bersumpah demi wanita yang paling aku cintai. Jika aku berbohong, maka aku rela istri dan anak-anakku pergi mencampakkanku.”
“Memang seperti apa istrimu itu?”
“Dia adalah wanita yang baik dan hatinya sangat mulia. Sejak menikah dan menjalani pernikahan dia selalu mendukungku. Bahkan ia rela tidak makan asal anak-anak kami tidak kelaparan. Ini foto istriku, Tuan William.” Mengambil foto dari dalam dompetnya yang usang.
Seorang wanita dengan tatapan mata yang sayu dan kosong. Serta anak-anak kecil yang memeluknya dengan raut wajah kesedihan. Hikashi semakin sedih bila menyusahkan orang yang memiliki keluarga sengsara. Ia takut, bila Frayza kelak mendengar cerita buruk mengenai dirinya. Dia segera mengembalikan foto keluarga buruh tambang agar segera menyimpannya kembali ke dompetnya. Hikashi semakin sesak napasnya, membayangkan bila Jade bermuram durja wajahnya.
“Tidak, aku tidak boleh menjadi jahat. Aku seorang suami dan ayah, aku tidak boleh menindas orang!” tekat Hikashi untuk melawan sifat buruknya yang dulu.
“Tuan William, selama bertahun-tahun aku bekerja di tambang ini. Banyak sekali kesulitan yang aku alami, aku mohon jangan persulit keluargaku bila aku tiada.”
Tidaklah mungkin Hikashi tega menghancurkan impian sesama pria yang sudah berkeluarga. Hanya demi sebuah batu berlian yang tidak seberapa harganya. “Kenzo, kau urus segela keperluannya. Jika ia jujur berikan imbalan setara batu berlian ini. Namun, bila dia berdusta jebloskan dia ke penjara sampai membusuk!”
“Baik Tuan,” Kenzo membawa buruh tambang itu pergi untuk mengurusnya.
Dan Hikashi kembali ke Hotel karena hari sudah petang. Ia duduk dan terus memandangi batu berlian mentahan. Warnanya hijau, sangat langka di dunia ini. Bahkan harganya sangat mahal jika sudah diolah menjadi perhiasan.
“Ckckckck,” Hikashi meneliti memakai kaca pembesar untuk melihat batu murni alam.
Tak berselang lama, Kenzo datang bersama buruh tambang tadi. Kali ini wajah buruh itu tampak lebih ceria. Tidak terpancar rasa takut, kala Hikashi memergokinya.
“Apa hasilnya?”
“Dia tidak berbohong Tuan, dan dia juga membongkar rahasia permainan busuk para Petugas tambang yang nakal. Bisa dikatakan, Dia ini buruh yang jujur dan pintar.”
“Tuan William, saya siap menerima hukuman yang setimpal.” Menyodorkan kedua tangannya untuk menyerahkan diri.
“Kau,” gertak Kenzo yang kesal melihat buruh tambang yang pasrah.
“Aku lihat kau bisa baca dan menulis dengan baik. Walaupun kau tidak mengeny pendidikan tinggi, tapi aku lebih menghargai kejujuranmu. Sangat sulit memperoleh pegawai yang jujur. Oleh karena itu, mulai sekarang kau aku angkat resmi menjadi kepala pengawas tambang. Orang-orang yang kau laporkan akan aku tuntut secara hukum untuk diproses. Selanjutnya, selama satu bulan penuh kau akan dibimbing bersama pegawai baru yang datang besok. Kenzo, kuserahkan tugas ini kepadamu. Besok aku kembali ke Inggris, masalah hari ini ku serahkan padamu. Hoaammmbb.”
“Ja-jadiii aku akan ditinggal di Afrika Selatan selama sebulan? Tidak kkkkkkkkk!”
__ADS_1